KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengelola gerai restoran Pizza Hut di Indonesia PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA) mencatat penurunan laba yang drastis sepanjang semester I/2020.
Per 30
Juni 2020, Sarimelati Kencana hanya meraup laba Rp 10,47 miliar atau turun hampir
90% dibandingkan dengan periode 30 Juni 2019.
Secara umum, pendapatan emiten
bersandi saham PIZZA itu mencapai Rp 1,82 triliun atau turun 6,06% secara
tahunan. Penjualan di wilayah di Jakarta masih menjadi mesin uang bagi
Sarimelati Kencana kendati di wilayah tersebut diterapkan pembatasan sosial
berskala besar (PSBB).
Penjualan di Jakarta mencapai
40,24% dari total penjualan PZZA. Sementara itu wilayah lain yang juga memberikan
kontribusi adalah Jawa dan Bali. Kontribusi dua wilayah itu mencapai 30,81%.
Namun, beban pokok penjualan dan
beban operasi yang meningkat, tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan
operasi lainnya akhirnya membuat laba bersih perseroan anjlok.
Direktur
Sarimelati Kencana Jeo Sasanto
menjelaskan, selama pandemi covid-19, terutama di kuartal II, ada sebagian
besar outlet PZZA di mall alami penutupan yang mengakibatkan sales tidak
maksimal, belum lagi ada pengurangan jam operasional & maksimal hanya 50%
untuk alokasi tempat duduk.
"Agar bisa tetap melayani pelanggan setia kami dalam kondisi yang berat bagi pelanggan kita, Pizza Hut & PHD melakukan banyak promosi dan menggencarkan layanan delivery dan take away termasuk melaui partner aggregator seperti Gojek & Grab.
Semua ini dilakukan untuk
meminimalkan dampak penutupan outlet dan pengurangan jam operasional &
kapasitas tempat duduk," ujar Jeo kepada kontan.co.id, Rabu (5/8).
Jeo menyebut, dalam kondisi
sekarang ini, pelanggan PZZA membutuhkan produk dengan harga terjangkau
sehingga promosi dari PZZA mendapatkan respon yg baik dari pelanggan, terutama
banyak terjual paket promosi yang memang costnya lebih tinggi.
"Selain juga banyaknya
tambahan biaya operasional dalam rangka menjalankan protokol kesehatan secara
disiplin untuk kesehatan dan keamanan kita semua," katanya.
Menurutnya, promosi dan strategi
yg dijalankan sejauh ini cukup bagus hasilnya karena sales hanya turun 6%.
Dengan begitu, pihaknya bisa mempertahankan pelanggan, karyawan dan supplier.
"Tidak mudah untuk mencari
dan melakukan training lagi untuk karyawan baru serta mencari pelanggan
baru," papar Jeo.
Selain itu, PZZA juga mencatatkan
lonjakan dari pos liabilitas sebesar 44% dibandingkan dengan periode akhir
tahun lalu menjadi Rp 1,1 triliun.
Sekretaris
Perusahaan Sarimelati Kencana Kurniadi Sulistyomo menambahkan, kenaikan liabilitas dengan jumlah
sebesar Rp 338,49 miliar tersebut disebabkan oleh faktor dampak pemberlakuan
PSAK 73 serta penarikan fasilitas utang perbankan oleh perseroan.
“Perseroan melakukan penarikan
fasilitas pinjaman utang bank jangka pendek dari MUFG
Bank Ltd, cabang Jakarta yang
ditujukan untuk modal kerja perseroan dengan jumlah sebesar Rp 50 miliar,” kata Kurniadi.
Perseroan juga melakukan
penarikan fasilitas pinjaman utang bank jangka pendek dari PT Bank CIMB Niaga Tbk. yang ditujukan untuk penerbitan surat kredit
berdokumen atas unjuk (Sight Letter of Credit – L/C) dengan jumlah sebesar Rp
19,5 miliar.
Sumber : Kontan, 06.08.2020.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar