03 Juni 2013

[030613.EN.LOG] Freight Train Crash Renews US Concerns Over Decaying Infrastructure

THE crash of two freight trains at a rail intersection in Missouri's Scott County and the derailment of a dozen rail cars caused the extensive collapse of a highway overpass, highlighting concerns over America's decaying infrastructure.

The pre-dawn crash caused one train to T-bone the other one, these in turn caused the derailed train to hit a pillar and the overpass to collapse, said Scott County Sheriff Rick Walter.

The impact of the crash between the Union Pacific locomotive and a south-bound BNSF train of 75 cars caused a diesel fuel leak which in turn ignited fire in one of the engines, Reuters reported.

Seven were hurt during the crash of which two were train workers and five occupants of automobiles on the overpass though none sustained life-threatening injuries.

The accident follows on just two weeks from a commuter train derailment in the evening rush hour which caused injury to more than 70 people. Washington state was the location of a truck hitting an Interstate Highway bridge triggering the partial collapse of the structure and sending two cars plunging into the Skagit River.

Source : HKSG.

[030613.ID.BIZ] Cerita di Balik Karakter Line

Jakarta - Pengguna Line pastinya akrab dengan empat karakter sticker di messenger ini. Ada Brown si beruang coklat lucu, Cony si makhluk mirip kelinci yang enerjik, Moon si kepala bulat dan James yang identik dengan rambut kuning lurus sebahu.

Dari semua karakter tersebut, Moon boleh dibilang adalah yang paling difavoritkan pengguna. Karakter yang satu ini memang menggemaskan, berkepala bulat sempurna dan berwarna putih seperti bulan purnama. Sssstt... ada cerita menarik di balik si Moon.

"Anda mungkin sudah sangat familiar dengan Moon? Tahukah Anda, itu berasal dari... saya!," kata Jinny (Jin-hee) Kim, Manager of Global Line Business. Dia mengungkapkannya, bertepatan saat layar di belakangnya memperlihatkan fotonya.

Media yang hadir di acara Line di Ritz Carlton, Selasa (28/5/2013), sontak terkejut dan tertawa. Ditambah lagi pembawaan pria yang bertanggung jawab meningkatkan kesadaran akan merk Line ini memang menghibur audiens.

Berkali-kali audiens dibuat tertawa karena Jinny berkali-kali berusaha menyampaikan presentasinya menggunakan bahasa Indonesia. "Saya berlatih keras berbicara ini," ujarnya seraya disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Diceritakannya, karakter Moon tercetus saat dia dan timnya sedang iseng berkumpul. Saat memikirkan karakter apa yang akan ditampilkan di sticker Line, wajah Jinny rupanya memberikan inspirasi.

"Karakter itu dibuat berdasarkan bentuk wajah saya. Lalu dibuatlah desain karakter tersebut," kisah Jinny seraya tertawa.

Hal menarik lain soal karakter ini, Line boleh dibilang sukses menemukan cara mempromosikan aplikasinya. Selain menjadi maskot Line, Moon dan kawan-kawannya bisa ditemukan juga di game, social media dan merchandise.

Terbukti, cara ini manjur dalam mendorong popularitas Line. Keunikan maskot Line dengan penampakannya yang lucu sepertinya mampu meluluhkan hati pengguna.
Line pun cerdik, menjadikan merchandise maskot sebagai aksesoris untuk promosi. Nah melihat antusiasme seperti ini, kira-kira apakah Line berniat membuka toko merchandise resmi?

"Terimakasih, kami dengar merchandise kami banyak disukai. Tapi untuk saat ini kami akan lebih fokus meningkatkan kualitas layanan. Mengembangkan berbagai inovasi untuk memuaskan pengguna. Namun jika Anda memang sangat menyukainya, suatu saat mungkin saja kami akan membuka toko merchandise resmi," tutupnya.

Sumber : detikNet, 28.06.13

02 Juni 2013

[020613.EN.SEA] CMA CGM back in black with US$102 million profit as revenues rise 6pc


MARSEILLES ocean carrier CMA CGM has posted a first quarter net profit of US$102 million, and a six per cent increase in revenues year on year to $3.8 billion against last year's quarterly loss of $240 million.

The carrier's first quarter EBITDA (earnings before interest, taxes, depreciation and amortisation) came to $258 million. The carrier said it obtains an EBIT margin of 5.1 per cent, one of the highest margins in the industry.

CMA CGM, the world's third largest container carrier, attributed revenue gains to a three per cent growth in container volumes - up 2.7 million TEU - as well as a three per cent rise in freight rates.

Additionally, the company was able to reduce debt to $4.2 billion at the end of first quarter, which was $1.1 billion less than a year ago and $0.4 billion less than the debt recorded at the end of 2012.

Looking ahead, the carrier is confident in having a "better-than-average results thanks to the diversity of its geographic exposure and its ability to effectively manage its cost structure". But it is less optimistic about the outlook of the market and expects the market to remain volatile, especially in the Asia-Europe trade as its freight rate have dropped seriously since the Chinese New Year in February.

Source : HKSG.

[020613.ID.BIZ] Kominfo Tidak Kaget Jika XL Jadi Beli Axis

Jakarta - Spekulasi tentang XL Axiata yang dikabarkan akan membeli Axis Telekomunikasi Indonesia sejatinya bukan cerita baru. Isu lama ini kembali hangat setelah salah satu media asing melempar wacana dari sumber internal sang operator.

Rumor hangat ini pun sudah sampai ke telinga para petinggi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Faktanya, Kominfo tidak kaget mendengar kabar ini karena telah jauh-jauh hari memprediksi hal semacam ini bakal terjadi.

"Sejak 2006 kami sudah memprediksi, cepat atau lambat para operator telekomunikasi akan mengalami konsolidasi akibat persaingan bisnis telekomunikasi yang makin ketat," kata Gatot S Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo, kepada detikINET, Jumat (24/5/2013).

Perlu diketahui, Indonesia dalam hal industri telekomunikasi memang sangat berbeda dengan negara lain pada umumnya. Meskipun hanya memiliki populasi 250 juta penduduk, jumlah operator yang memiliki izin telekomunikasi mencapai 11 perusahaan.

Bandingkan dengan negara-negara lainnya. Mayoritas rata-rata hanya memiliki tiga operator. Bahkan untuk negara sebesar China, India, bahkan Amerika Serikat. Mereka tetap menjaga jumlah operator tak terlalu banyak agar spektrum frekuensi yang tersedia tetap besar.

Masalah ini belum dipahami Indonesia saat awal-awal menghapuskan rezim duopoli yang digantikan rezim oligopoli. Dampak dari kompetisi bebas dengan membuka peluang sebesar-besarnya untuk menambah operator agar tarif bisa terus ditekan turun ternyata kebablasan.

Imbasnya, cash flow operator tak lagi sehat dan harus berdarah-darah dalam memenangkan kompetisi, atau setidaknya agar bisa tetap eksis bertahan. Jika pada akhirnya kalah dan menyerah, maka jalan terakhir yang mungkin bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri lewat aksi merger maupun akuisisi.

Dibandingkan cuma merger, operator yang duitnya lebih banyak, tentu dalam posisi yang lebih menguntungkan untuk akuisisi. Tujuannya jelas, mereka butuh tambahan spektrum frekuensi untuk terus ekspansi. Namun sayangnya, akuisisi pun tak semudah itu. Ada ribuan karyawan yang harus ditanggung nasibnya, dan itu jelas jadi beban tambahan di kemudian hari.

Kominfo sendiri mengharamkan jika akuisisi ini hanya akan jadi alat transaksi jual-beli frekuensi. "UU Telekomunikasi tidak memperbolehkan pemindahtanganan kepemilikan izinnya kepada pihak lain," tegas Gatot.

Dengan demikian, lanjut dia, cara yang sering diantisipasi oleh dua operator yang ingin merger ini hanya sebatas merger di level holding company saja. "Karena ada pasal yang harus mereka hindari," tutur juru bicara Kominfo tersebut.

Belum Lapor

Sejauh ini, ditegaskan oleh Gatot, Kominfo dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) belum mendapat laporan dari kedua belah pihak, baik XL maupun Axis, terkait kabar soal akuisisi ini.

"Seharusnya mereka kirim surat pemberitahuan resmi soal itu, dan juga ke KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha). Isinya adalah latar belakang, tujuan merger akuisisi, dan bagaimana pengaturan alokasi frekuensinya," tukasnya.

Surat itu juga harus menjelaskan konfigurasi proporsi kepemilikan sahamnya. Sebab, hal itu diatur dalam Peraturan Menteri Kominfo (Permen) tentang Penyelenggaraan Jaringan telekomunikasi.

"Saat ini BRTI sedang menyusun RPM (Rancangan Permen) yang mengatur tentang merger dan akuisisi. Namun meski RPM itu belum selesai, tidak ada halangan bagi operator untuk melakukannya. Boleh jalan asal tidak melanggar ketentuan yang ada. Kurang lebih seperti Mobile-8 Telecom dan Smart Telecom," pungkas Gatot.

Isu Hangat

Rencana XL membeli Axis sejatinya sudah santer terdengar sejak beberapa tahun lalu. Namun isu itu sempat tenggelam hingga beberapa hari lalu, Bloomberg menerbitkan kabar yang membuat geger industri.

Disebutkan, Axiata Group Berhad, perusahaan telekomunikasi asal Malaysia yang memiliki XL, tengah mengevaluasi rencana membeli Axis. Penawaran pembelian terhadap Axis ini akan dilakukan langsung melalui XL.

Axiata Group sendiri mempunyai anak-anak usaha di banyak negara di Asia. Selain memiliki XL di Indonesia, kelompok usaha ini juga memiliki saham mayoritas operator Celcom di Malaysia, operator Robi (Bangladesh), Helllo (Kamboja), dan Idea (India).

Perusahaan ini juga memiliki saham operator MTCE di Iran, Multinet (Pakistan), M1 (Singapura), SIM (Thailand), dan Dialog (Srilanka). Pada 2012, Axiata Group mencatat pendapatan usaha 17,7 miliar ringgit Malaysia, dengan laba bersih 2,5 miliar ringgit. XL dan Celcom tercatat memberikan kontribusi terbesar atas kinerja Axiata Group.

Sementara itu, kepemilikan Axis 84% dikuasai Saudi Telecom Company (STC). Sisanya dimiliki oleh Maxis Communications Berhad. Saudi Fransi Capital memperkirakan nilai Axis sebesar USD 1 miliar, sementara saham Saudi Telecom diperkirakan bernilai USD 880 juta.

Sementara pada 2012, Axis juga mencatat pendapatan usaha sekitar Rp 2,4 triliun, naik 70% dari pendapatan 2011 yang Rp 1,4 triliun. Jumlah pelanggannya mencapai 17 juta nomor dengan jumlah Base Transceiver Stations (BTS) 9.700 unit.

Menurut sumber Axiata Group yang dituliskan Bloomberg, pembelian Axis akan menguntungkan bagi XL Axiata, sebab perseroan dapat menambah jumlah frekuensi yang dibutuhkan untuk melakukan ekspansi layanan selulernya.

Tambahan spektrum frekuensi akan memperkuat posisi XL Axiata untuk menambah layanan dan memperluas jangkauan layanan. Apalagi pada kuartal pertama 2013, laba XL Axiata turun 52% menjadi Rp 315 miliar dari periode sama 2012.

Sumber tersebut juga mengatakan bahwa konsolidasi XL Axiata dan Axis harus membutuhkan persetujuan dari pemerintah Indonesia.

Dibantah

Saat dikonfirmasi langsung oleh detikINET, kedua belah pihak, baik XL maupun Axis, membantah kabar yang beredar tentang isu rencana akuisisi tersebut.

Anita Avianty, Head of Corporate Communication Axis menyatakan, pihaknya sejauh ini masih menjalankan bisnis seperti biasanya meski diterpa isu akuisisi tersebut.

"Di internal sendiri, tidak ada informasi terkait dengan hal yang ditanyakan. Jadi kami masih melihat kabar tersebut sekedar rumor atau spekulasi," kata Anita kepada detikINET, Jumat (24/5/2013).

Pun demikian, Axis menegaskan jika operator GSM tersebut tetap membuka diri untuk konsolidasi dengan pihak lain dalam mengarungi bisnis telekomunikasi Tanah Air.

"Kami terbuka untuk bekerjasama dengan pihak manapun. Tentunya yang bisa memberikan value untuk stakeholder," imbuh Anita.

Dari pihak XL sendiri, yang diwakili Vice President Corporate Communication Turina Farouk, tidak mengamini secara tegas soal isu akuisisi tersebut.

Ia hanya menuturkan bahwa berbagai kemungkinan konsolidasi di industri telekomunikasi begitu terbuka, dan jika dilihat itu sebagai langkah tepat tentu bisa saja dilakukan oleh XL.

"Banyak yang harus dipertimbangkan, tidak cuma terkait strategi perusahaan, tetapi juga soal posisi keuangan," ujar Turina menandaskan.

Sumber : detikNet, 24.05.13.