31 Juli 2020

[310720.ID.BIZ] Induk Perusahaan Google Catatkan Penurunan Pendapatan Pertama Dalam Sejarah

KONTAN.CO.ID - CALIFORNIA. Di akhir kuartal pertama lalu, induk perusahaan Google, yakni Alphabet Inc., telah memperingatkan adanya penurunan pendapatan di kuartal kedua. Kekhawatiran tersebut akhirnya terbukti. 

Dikutip dari The Verge, total pendapatan Alphabet di kuartal kedua adalah $38,3 miliar, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi yang ada di angka $37,4 miliar. 

Walaupun berhasil melampaui ekspektasi, tetapi pendapatan mereka turun 2% jika dibandingkan dengan pendapatan di periode yang sama tahun lalu. 

Penghasilan bersih Alphabet turun menjadi $6,9 miliar dari $9,9 miliar di tahun lalu. Penghasilan dari Google Search juga ikut menurun, menjadi $21,3 miliar dari $23,6 miliar di tahun sebelumnya. 

Meskipun secara keseluruhan mengalami penurunan, pendapatan Google cukup terbantu lewat YouTube yang pada periode ini menyumbang pemasukan yang cukup baik.

YouTube mencatat kenaikan pendapatan dari iklan menjadi $3,81 miliar, berbanding $3,6 miliar di tahun 2019. Divisi Google Cloud juga menunjukkan tren positif dengan kenaikan pendapatan dari $2,1 miliar menjadi $3,01 miliar. 

Dalam pengumuman pendapatan kuartal kedua ini, CFO Alphabet, Ruth Porat, menegaskan bahwa saat ini perusahaan masih percaya diri untuk menghadapi krisis ekonomi dunia. 

"Kami percaya ini terlalu dini untuk mengukur daya tahan perusahaan di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian," ungkap Porat seperti dikutip dari The Verge. 

Sejalan dengan itu, sang CEO, Sundar Pichai, juga mengungkapkan optimismenya akan ekosistem Alphabet yang akan bisa kembali membaik. 

Pichai melihat adanya tanda-tanda stabilisasi pendapatan saat banyaknya pengguna yang kembali ke aktivitas komersial online.

"Langganan YouTube dan Google Play menunjukkan tren yang baik di kuartal kedua, dengan unduhan aplikasi dan game naik 35%. Layanan Cloud juga mendapat manfaat dari jumlah orang yang bekerja dari rumah selama pandemi," ungkap Pichai.

Alphabet jadi salah satu dari empat raksasa teknologi AS yang saat ini sedang berada di bawah pengawasan pengadilan atas tuduhan monopoli layanan digital.

Alphabet juga jadi satu-satunya perusahaan yang melaporkan penurunan pendapatan pada kuartal kedua kemarin.

Sumber : Kontan, 31.07.2020.

30 Juli 2020

[300720.EN.SEA] OOIL Sails Through H1 With Volume Down 2.6pc And Revenue up 3.2pc For OOCL


ORIENT Overseas International Line (OOIL), the parent company of Orient Overseas Container Line (OOCL) and a subsidiary of Cosco, has announced figures for the first half of this year, which show that total volumes carried by OOCL's vessels were down 2.6 per cent year on year to 3.29 million TEU, but its revenues increased 3.2 per cent to US$3.12 billion.

The Hong Kong-based company saw volumes on the Asia to Europe trades decline by 2.3 per cent, from 691,815 TEU in the first half of 2019 to 675,657 TEU in the same period this year. Revenues, however, jumped 8.1 per cent in the trade from $613.23 million to$662.91 million in the same period.

The first half figures released by OOIL give further support to claims by European shippers that the lines are manipulating capacity to drive up rates, reports Container Shipping.

A less pronounced percentage increase in revenues was seen in the company's intra-Asia income with revenues increasing 5.6 per cent to $990.37 million, from the previous year's $937.69 million.

First half volumes on the Transpacific trade decreased 0.3 per cent to 941,316 TEU from 943,691 TEU, with a revenue increase of just 0.1 per cent to $1.181 billion from 2019 income of $1.80 billion.

In what can only be seen as an anomaly the smallest of the four regional trades on the Atlantic saw an less edifying increase of 5.4 per cent in volumes, 253,279 TEU from 240,294 TEU, but the company saw revenue decline 1.9 per cent to $289.16 million from $294.86 million in 2019.

During the second quarter, OOCL transported a total of 1.69 million TEU, a decrease of 4.6 per cent on the 1.77 million TEU carried in the same period last year. However, revenue in the three-month period to the end of June saw an increase of 1.1 per cent from $1.56 billion to $1.58 billion in the same period this year.

Source : HKSG.


[300720.ID.BIZ] Ini Tujuh Strategi Pemerintah Untuk Pulihkan Sosial-ekonomi di Tahun 2021

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berharap penanganan corona virus disease 2019 (Covid-19) dapat terselesaikan di tahun ini. Sehingga tahun depan menjadi momentum bagi Indonesia masuk dalam proses pemulihan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis pemulihan di tahun depan bisa membawa ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 5%-5,5%. Prediksi ini naik dari estimasi sebelumnya yang hanya tumbuh 4,7%.

Untuk itu, pemerintah lewat Kementerian Keuangan menjalankan tujuh strategi untuk mempercepat pemulihan sosial-ekonomi di tahun depan, sekaligus sebagai reformasi untuk transformasi ekonomi menuju Indonesia sebagai negara maju di tahu 2045.

Berdasarkan pemaparan Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu saat berkunjung ke Redaksi KONTAN, Rabu (29/7) secara virtual, seperti dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2021 ketujuh program strategi yang dimaksud antara lain;

1. Reformasi Kesehatan; penguatan fasilitas kesehatan, alat kesehatan, dan tenaga kesehatan, efektitas program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), penyiapan health sequrity preparedness, dan penguatan sistem kesehatan yang terintegrasi antara pusat dan daerah.

2. Reformasi Program Perlindungan Sosial; melanjutkan social safety net untuk recovery baik berupa Program Keluarga Harapan (PKH), sembako, dan Pra Kerja. Kemudian, efektifitas program melalui integrasi dan sinergi antar program, dan mempersiapkan social safety net yang adaptif terhadap bencana atau resesi ekonomi.

3. Reformasi Pendidikan; digitalisasi infrastruktur pendidikan, penguatan kompetensi guru, simplifikasi dan penguatan karakter. pengukuran berbasis standar global. link and match dan penguatan PAUD, serta koordinasi pusat, daerah, dan masyarakat.

4. Dukungan Industri; insentif fiskal untuk pemulihan dunia usaha. Omnibus law Cipta Lapangan Kerja dan Perpajakan untuk mendorong investasi dan kesempatan kerja, serta dukungan transformasi ekonomi.

5. Reformasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD); penguatan quality control terhadap TKDD agar berbasis hasil, dan bisa mendukung percepatan pemulihan.

6. Reformasi Perpajakan; pemberian insentif fiskal untuk pemulihan, relaksasi prosedur untuk percepatan pemulihan ekonomi, perluasan basis pajak, pemberian insentif di bidang vokasi dan litbang, serta perlindungan untuk masyarakat dan lingkungan. Terakhir, ekstensifikasi barang kena cukai.

7. Reformasi Penanganan; efisiensi kebutuhan dasar melalui efisiensi belanja birokrasi, fokus terhadap program prioritas, berorientasi pada hasil, dan menyiapkan strategi untuk antisipasi ketidakpastian yang lebih solid.

Sumber : Kontan, 30.07.2020.


29 Juli 2020

[290720.EN.BIZ] Risk Management Concerns Rising at Ports in Area of Compliance


COVID-19 and its resulting trade disruption has prompted port managers to examine ways to improve risk management through digitisation, according to the latest Remy InfoSource survey.

The 2020 iSpec Ports Industry Survey revealed that 51 per cent of port executive respondents now identify risk management as the key area they would like to improve on in the future, up from 32 per cent in the previous iteration of the iSpec Ports Industry Survey in 2018, said the press release.

In 2018 the top two areas for improvements noted by ports and terminal executives were shorter lead times and more standardisation.

Risk management was also the leading reason pinpointed by respondents when asked to identify the most problematic issues they encounter when managing complex outsourced projects, said the release.

Project compliance and delivery was the most problematic area identified by respondents, it said.

"I think it's no surprise that in such an uncertain world the importance of risk management has increased dramatically," said Remy InfoSource CEO Pieter Boshoff.

"Disruption to supply chains has increased across the globe causing operational and investment uncertainty and, with social distancing rules, also changing the way we all conduct our business," said Mr Boshoff.

"Managing that risk has become a major challenge at ports, particularly when it comes to managing outsourced equipment tender and procurement projects that are often complex in nature and frequently involve multiple vendors."

Source : HKSG / Illustration : Project Times.

[290720.ID.BIZ] Pandemi Mulai Mengganggu Laba Perbankan


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berlangsung sejak awal tahun, imbas negatif pandemi baru dirasakan perbankan pada kuartal II-2020. Dus, laba perbankan selama semester I-2020 turun meski masih ada beberapa bank yang tercatat meraih pertumbuhan positif.

Di kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU) 4, ada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Panin Tbk (PNBN) yang sudah mempublikasikan kinerja semester I-2020. Keduanya sama-sama mencatat penurunan laba.

Laba BCA turun 4,83% (yoy) menjadi Rp 12,24 triliun. Menggunungnya biaya pencadangan yang dibentuk BCA akibat restrukturisasi kredit terimbas pandemi jadi salah satu alasan penyusutan laba.

Sepanjang semester I-2020, bank swasta terbesar di tanah air ini telah membentuk biaya provisi Rp 6,54 triliun, meningkat 167,3% (yoy) dibandingkan periode serupa tahun lalu. Adapun sepanjang kuartal II-2020, BBCA telah menerima permohonan restrukturisasi kredit senilai Rp 115 triliun dari 118.000 debitur. Dari total tersebut, senilai Rp 69,3 triliun telah disetujui.

“Kami melihat ada potensi peningkatan restrukturisasi hingga 20%-30% dari portofolio kredit kami yang berasal dari 200.000-250.000 debitur,” kata Presiden Direktur BCA Jahja Setiatmadja, Senin (27/7) kemarin.

Meski demikian, fungsi intermediasi BCA sejatinya masih cukup mumpuni. Penyaluran kredit BCA masih tumbuh 5,29% (yoy). Jahja pun masih optimistis hingga akhir tahun BCA masih dapat mencetak pertumbuhan positif, apalagi kini ketentuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai melonggar. “Kami berharap dengan adanya transisi PSBB ekonomi bisa kembali ke level 30-60% pada kondisi normal,” imbuh Jahja.

BUKU 4 lainnya yaitu Bank Panin juga mengalami hal serupa. Laba BCA pada semester I-2020 turun 19,46% menjadi Rp 1,34 triliun. Presiden Direktur Bank Panin Herwidayatmo bilang penurunan laba seiring permintaan kredit yang juga melemah.

Kredit Bank Panin juga turun 9,04% (yoy) menjadi Rp 139,63 triliun. Padahal pendapatan bunga bersih tercatat meningkat tipis 2,43% (yoy) menjadi Rp 4,45 triliun, serta beban bunga juga menurun 14,96% (yoy) menjadi Rp 3,80 triliun. Adapun penyaluran kredit juga merosot 9,04% (yoy) menjadi Rp 139,62 triliun.

“Penurunan kredit tersebut sejalan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya risiko akibat pandemi. Dengan kondisi seperti ini, masih bisa mencetak laba sebenarnya sudah cukup baik,” katanya kepada Kontan.co.id, Rabu (29/7).

Tak cuma bank besar, laba bank menengah di kelas BUKU 3 juga turun. Ada PT Bank BTPN Tbk (BTPN) yang labanya turun 12,63% (yoy) menjadi Rp 1,23 triliun pada semester I-2020.

Laba BTPN tertekan akibat meningkatnya biaya kredit alias cost of credit sebesar 63% (yoy) ditambah merosotnya pendapatan bunga. Sementara pertumbuhan portofolio kredit BTPN sebesar 5% (yoy) menjadi Rp 150,5 triliun.

Kinerja tersebut juga tak terlepas dari dampak pandemi. Hingga Juni 2020, BTPN telah melakukan restrukturisasi kredit akibat pandemi mencapai Rp 4,1 triliun atau setara 3% dari portofolio kredit.

Masih positif

Biarpun secara mayoritas laba perbankan turun, ternyata masih ada beberapa bank yang dapat mempertahankan tren yang positif. PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) misalnya masih mencatat pertumbuhan laba 1,75% (yoy) menjadi Rp 1,56 triliun pada semester I-2020.

Presiden Direktur Bank OCBC NISP Parwati Surdaudaja mengatakan, salah satu penopang berasal dari pendapatan non-bunga, terutama dari komponen pendapatan operasional lainnya yang tumbuh 23,56% (yoy). Pertumbuhan ini ditopang oleh pendapatan transaksi valas dan surat berharga, terutama dari kanal digital OCBC.

“Secara keseluruhan nilai transaksi di e-channel Bank OCBC NISP meningkat 69% (yoy) hingga Juni 2020. Total pengguna internet banking dan mobile banking masing-masing meningkat lebih dari 45% (yoy). Nilai transaksi di mobile banking juga meningkat 2 kali lipat, sementara frekuensinya bertumbuh sebesar 69%,” ujar Parwati.

Meski demikian Parwati mengaku aspek intermediasi OCBC memang cukup terdampak pandemi. Ini terbukti dari kredit yang turun 1,40% (yoy) menjadi Rp 117,57 triliun.

Selain itu adapula PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat Tbk (BJBR) yang juga mencatat pertumbuhan laba tipis sebesar 0,66% (yoy) menjadi Rp 807,92 miliar.

Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldy juga masih optimistis dapat mempertahankan kinerja yang positif hingga akhir tahun. Apalagi Bank BJB juga baru saja menerima penempatan dana dari pemerintah Rp 2,5 triliun dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

“Kami akan bergerak cepat menjalankan fungsi intermediasi seiring dengan prinsip kehati-hatian. Sesuai arahan, kami akan menyalurkan dana tersebut kepada pelaku usaha, terutama skala mikro dan menengah,” ujar Yuddy.

Sementara di kelas BUKU 2 ada PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) yang juga mencatat pertumbuhan laba yang positif sebesar 126% (yoy) menjadi Rp 9,70 miliar. Meski demikian, Direktur Bank Oke Efdinal Alamyah bilang hingga akhir tahun, sejumlah target yang dicanangkan perseroan cukup sulit dicapai akibat pandemi.

“Sampai semester I-2020 masih sesuai target, sampai akhir tahun juga masih optimistis kinerja kami positif meskipun akan meleset dari target karena dampak restrukturisasi akan lebih terlihat pada semester II-2020,” ungkapnya kepada Kontan.co.id.

Sumber : Kontan, 29.07.2020.

28 Juli 2020

[280720.EN.AIR] DHL Express Expands Fleet Capacity With Four Converted B767-300Fs

WORLD's leading express service provider DHL Express is to add four B767-300 Boeing converted freighters (BCF) as part of its efforts to continue modernising and growing its fleet.

DHL said the move was a step towards "modernising its long-haul intercontinental fleet in order to fly eco-friendlier and more cost-efficiently".

"We are excited to introduce additional B767 freighters to the DHL Express air network," explains Geoff Kehr, senior vice president global air fleet management at DHL Express.

"The freighter type offers a proven versatility and we appreciate the opportunity to further enhance efficiency while simultaneously improving our environmental footprint."

The 767-300BCF has virtually the same cargo capability as the 767-300F production freighter with approximately 50 tonnes structural payload at a range of approximately 5,556 km and 186,880 kg maximum take-off weight.

DHL Express expects further growth of cross-border e-commerce trade and, as a result, increased demand for intercontinental delivery services.

"With a burgeoning e-commerce sector and the continued lack of belly space in passenger aircraft, there could not be a more opportune time to add these freighters to the DHL Express air network," said Sean Wall, executive vice president, Network Operations & Aviation, DHL Express Asia Pacific.

"The 767-300F is a proven model that we have operated across our global fleet for many years and it will continue to help us deliver excellence with greater efficiency and at a lower carbon footprint."

Even before the Covid-19 pandemic, the rapid growth of e-commerce was expected to exert pressure on supply chains and the airfreight transportation space.

Since 2019, DHL Express has also added 14 B777Fs to replace older B747-400s. DHL Express operates more than 260 dedicated aircraft with 17 partner airlines on over 3,000 daily flights across 220 countries and territories.

Source : HKSG.

[280720.ID.BIZ] Penjualan Suram, Saham Mitsubishi Terjun Ke Level Terendah Sejak 1988

KONTAN.CO.ID - TOKYO. Saham Mitsubishi Motors Corp anjlok 13% ke level terendah sepanjang masa sejka listing tahun 1988 pada hari Selasa (28/7). Terjunnya saham peruahaan ini setelah membukukan penjualan suram di pasar utamanya yakni Asia Tenggara akibat pandemi Covid-19.

Suramnya penjualan di Asia Tenggara membuat Mitsubishi Motors Corp menghadapi keraguan tentang percepatan pemulihan pasar otomotif. Produsen otomotif ini memperkirakan akan mengalami kerugian besar untuk tahun ini.

Sehari sebelumnya, Mitsubishi Motors, anggota termuda aliansi Nissan Motor dan Renault SA, melaporkan bahwa penjualan di negara-negara Asia Tenggara, yang biasanya merupakan seperempat dari penjualan globalnya, anjlok hampir 70% menjadi hanya 17% dari total penjualan selama April-Juni.

Mitsubishi Motors mempertaruhkan pertumbuhan di Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Di empat negara ini, Mitsubishi mampu mengalahkan saingannya yang lebih besar. Dampak pandemi di negara- negara ini juga lebih lambat dibanding China dan negara lainnya.

Hal ini membuat beberapa ahli menilai bahwa pemulihan penjualan Mitsubishi mungkin tertinggal dari produsen mobil lain dan memperumit rencana restrukturisasi yang dirinci pada 27 Juli 2020.

Mitsubishi Motors juga telah memprediksi akan mencatatkan kerugian operasional sebesar 140 miliar yen atau sekitar US$ 1,33 miliar untuk tahun fiskal 2020 yang akan berakhir pada 31 Maret 2021. Itu bakal jadi kerugian terbesar setidaknya 18 tahun terakhir.

Mio Kato, Analis LightStream Research mengatakan, hasil penjualan Mitsubishi Motors cukup mengejutkan akibat pasar Asia Tenggara sangat memprihatinkan.

“ASEAN ditargetkan menjadi pendorong pertumbuhannya dan bahkan diposisikan sebagai titik menarik utama bagi Aliansi Renault-Nissan. Penjualan ASEAN turun dan sekarang menghasilkan kerugian,” kata Kato seperti dikutip Reuters, Selasa (28/7).

Secara global Mitsubishi Motors hanya menjual 139.000 kendaraan pada kuartal April-Juni, 53% lebih rendah dari tahun lalu.

Hisashi Arakawa, wakil kepala manajemen investasi di Aberdeen Standard Investments di Tokyo, mengatakan kesulitan Mitsubishi Motors berbeda dengan beberapa pembuat mobil Jepang lainnya, terutama Toyota Motor Corp, yang relatif baik di pandemi dengan meningkatkan pangsa pasar di beberapa pasar.

Beberapa analis optimistis tentang prospek jangka panjang perusahaan dan mendukung strategi pemulihannya.

"Dalam jangka pendek Asia Tenggara tidak akan bekerja dengan baik untuk mereka, tetapi dalam jangka panjang itu adalah hal yang tepat untuk mereka lakukan," kata Chris Richter, wakil kepala penelitian Jepang di CLSA.

Sumber : Kontan, 28.07.2020.