22 Januari 2011

[220111.ID.OTH] Mengapa Wanita Menikah Senang Goda Pria Lain

VIVAnews - Saat lajang, Anda pasti dengan mudah dan tanpa beban menggoda banyak pria. Saat menikah, karena sudah memiliki komitmen, menggoda pria lain harus dihentikan.


Tetapi bagi sebagian wanita, pernikahan tidak membuat mereka lantas berhenti menggoda pria lain. Meskipun hal ini dianggap "kesalahan" tetapi ada beberapa alasan biologis dan psikologis mengapa hal itu bisa terjadi.
- Ketidakpuasan
Tampak logis bahwa wanita menikah yang menggoda pria lain merasa tidak puas dengan pernikahannya. Tetapi bukan hanya itu, menurut laporan dari majalah Time banyak wanita yang mengaku menggoda pria lain tetapi tidak ingin meninggalkan pernikahan. Itu disebabkan karena mereka hanya tidak bisa menahan getaran dan ingin mengejar perasaan gairah muda untuk menggoda dan mencari tantangan.
- Respon biologis
Kemampuan dasar untuk menggoda adalah bawaan biologis. Dorongan ini berakar dari asal-usul spesies, ketika manusia pertama harus bekerja keras untuk memastikan bahwa mereka direproduksi. Termasuk ketika seorang wanita sudah menikah, mereka masih memiliki keinginan naluriah untuk membuat diri mereka membentuk ikatan romantis.
- Tantangan
Beberapa wanita menganggap menggoda pria lain adalah sebuah tantangan. Terutama ketika mereka menggoda di depan umum, untuk mendapatkan sensasi tertentu. Ketika mereka terlibat dalam perilaku yang dilarang, justru merasa bersemangat dan tertantang pada saat yang bersamaan.
- Kebosananan
Kebosanan adalah alasan emosi yang paling sering membuat wanita menikah menggoda pria lain. Seperti dilansir "Psychology Today Magazine," ketika wanita merasa bahwa mereka telah menemukan semua yang perlu diketahui tentang pasangannya, mereka sering menjadi bersemangat untuk mencoba menggoda pria lain yang baru dikenalnya.
Untuk menjaga hal ini, Anda dan pasangan sebaiknya menjaga "misteri" agar tetap saling mengundang rasa penasaran. Sehingga, keinginan untuk menggoda pria lain bisa diredam. (umi)
Sumber : vivanews, 18.01.11.

20 Januari 2011

[200111.EN.SEA] Eco-damage Done By Shipping, Says Massachusetts Professor

Commercial shipping policies cut cost at the price of the environment said a report by public policy professor of the University of Massachusetts Dartmouth and a graduate student.

Policies such as "foreign-flagging" are cheap shipping "subsidised through environmental degradation" and skirt around environmental laws through an open registry system said report authors Professor Chad McGuire and Lisbon-based Helen Perivier, graduate of University of Massachusetts (Umass) online environmental policy certificate programme.

This allows "ship owners to shop for a flag state with little to no environmental standards or enforcement," said the peer-reviewed paper to be published in the International Journal of Sustainable Development in February, citing Panama, Liberia and the Marshall Islands' high rates of vessel owners.

By restricting registration to an owner's home town the number of ownerships to developed countries will decrease. However, the tightening environmental standards will require consumers to meet higher costs as a result, said a report from the Fall River, Massachusetts, Herald News.

The dismantling of a ship, "shipbreaking", of obsolete vessels for recycling was also raised by Prof McGuire and Ms Pervier for its harm to the environment through release of hazardous waste into the ocean of asbestos, oil and other chemicals.

Source : HKSG, 14.01.11.

[200111.ID.SEA] Serangan Perompak Capai Jumlah Tertinggi Tahun 2010

Kuala Lumpur (ANTARA/Reuters/AFP) - Serangan-serangan perompak terhadap kapal-kapal di seluruh dunia mencapai rekor dalam tujuh tahun pada tahun 2010 dan jumlah para awak yang disandera, kata satu badan pengawas maritim, kendatipun patroli di laut meningkat.


Somalia tetap masalah terbesar dengan para perompak beroperasi di lepas pantai negara itu menahan 49 dari 52 kapal tahun lalu, kata seorang pejabat di pusat pelaporan Biro Maritim Internasinal (IMB) di Kuala Lumpur.
IMB yang bermarkas besar di London itu mengatakan 1.181 awak disandera, satu rekor tertinggi sejak badan itu mulai memantau pembajakan tersebut tahun 1991.
Kantor berita AFP mengatakan para perompak masih menahan 28 kapal dan 638 sandera untuk menuntut uang tebusan sampai akhir Desember.
Jumlah yang terus meningkat ini merupakan satu bahaya," kata Pottengal Mukundan, direkur pusat pelaporan pembajakan.
Ada 445 serangan atau usaha serangan perompak terhadap kapal-kapal di seluruh dunia tahun 2010, sama dengan yang terjadi tahun 2003.
Jumlah serangan di Teluk Aden, yang bersama-sama dengan laut-laut terdekat yang menghubungi Eropa ke Asia , menurun separuh karena patroli yang lebih baik. Tetapi para perompak, sebagian besar geng-geng Somalia tetap melanjutkan aksi mereka.
Segala tindakan telah dilakukan d laut untuk menghentikan kegiatan-kegiatan perompakan terganggu karena kurangnya dukungan pihak berwenang Somalia dari mana para perompak memulai pelayaran mereka," kata Mukundan.
Angakatan-angkatan laut asing digelar di lepas pantai Teluk Aden sejak awal tahun 2009 dan telah mengoperasi patroli-patroli.Mereka juga membuat satu koridor transit bagi kapal-kapal untuk melewati titik-titik yang rawan pembajakan.
Jumlah serangan di Laut China Selatan, yang merupakan satu jalur pelayaran penting bagi perdagangan dunia lebih dua kali lipat menjadi 31 tahun 2010, kata IMB.
Sumber : Antara, 19.01.11.

19 Januari 2011

[190111.EN.SEA] Shipping Faces Rising Costs, Uncertain Rates: Moore Stephens

INTERNATIONAL accountancy firm and shipping industry consultant Moore Stephens says the shipping sector faces a challenging year in 2011, with freight rates under pressure, crew costs rising and banks closely monitoring the viability of poor performers. 

Writing in the latest issue of Bottom Line, the firm's shipping newsletter, Julian Wilkinson, head of Moore Stephens' Shipping Industry Group, says:

"The shipping markets continued to be challenging in 2010 because, despite positive signs on the demand side, surplus tonnage, a lack of funding, a continuing glut of newbuildings and fierce competition led to downward pressure on freight rates," said Mr Wilkinson.

"But confidence levels in the first half of the year still reached 18-month highs, not bad for an industry that was supposed to be ailing. Owners started to think about new investments, and about finance costs coming down.

"Confidence suffered a minor wobble towards the end of the year but 2010 still closed on talk of IPOs, strategic acquisitions, joint ventures and major investments," he said.

"That confidence should be sustained this year, building on the general forbearance shown by the banks in 2010 when assessing non-performing shipping loans. But we can expect to see the banks commission more independent business reviews to assess the future viability of poor performers."

"Crew costs will continue to rise. They were the only operating costs going up in 2009, will have done likewise in 2010 and will continue to do so in 2011," he said.

"An executive at a leading shipping line recently welcomed a strong increase in revenue for the first nine months of last year and urged his crews to celebrate by eating cream cake.

This didn't go down well with the unions, who claimed that the results had been achieved through job cutbacks. You can't eat your cake and have it," Mr Wilkinson said.

"The emphasis this year will be on keeping the cash flowing. The banks know that shipping operations with strong leadership, governance and risk management that have survived the downturn deserve continuing support. They will listen to those with robust investment plans, who in turn will be encouraged by low interest rates.

"Despite continuing concern over the level of newbuildings, it has been suggested that shipping could be back to strength in another two years. By then, there should be more bread to go round, and no need to eat cake. Prudent owners will keep their bankers sweet and their financial advisers close at hand," he said. 
Source : HKSG, 18.01.11.

[190111.ID.LOG] Pengusaha Logistik Tuntut Kepastian Regulasi


·       JAKARTA: Pemain sektor logistik memerlukan satu regulasi khusus soal logistik nasional guna meningkatkan daya saing sektor ini yang sekarang semakin terpuruk.

Eka Sari Lorena Soerbakti, Ketua  Umum Asosiasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda), mengatakan pemerintah saat ini sudah memiliki cetak biru (blue print) logistik nasional.
Cetak biru itu, katanya, menjadi acuan dalam pengembangan sektor logistik nasional.

“Tetapi sektor ini memerlukan satu regulasi khusus logistik. Tidak seperti sekarang, pengaturan logistik terpisah-pisah,” katanya hari ini.

Eka Sari menjelaskan biaya logistik nasional saat ini terus meningkat akibat tidak efisiennya simpul-simpul antarmoda transportasi di Indonesia. “Kini, biaya logistik di Indonesia paling besar di Asean.” Ujarnya.

Dia menyebutkan ongkos logistik di Indonesia menembus 30% dari biaya produksi, padahal Amerika Serikat (AS), atau negara-negara berkembang seperti Vietnam sudah dibawah 10%.“Ini harus ditekan.”

Menurut dia, upaya menekan biaya logistik nasional dilakukan dengan memperbaiki regulasi dan infrastruktur. “Kalau di darat, kami sudah mengusulkan program revitalisasi angkutan umum,” tandasnya.

Sebelumnya,  Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI)—dulu Gabungan Forwarder, Logistik, dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi)— telah mengidentifikasi empat penyebab mahalnya biaya penanganan logistik di Tanah Air.

Wakil Ketua Bidang Kepabeanan dan Kepelabuhanan DPP ALFI Hery Susanto mengatakan saat ini penanganan logistik di Indonesia berdasarkan biaya menempati urutan ke-75 di dunia atau merosot tajam dari sebelumnya di posisi ke-43.

Faktor penyebab mahalnya penanganan logistik itu terkait dengan pelayanan di pelabuhan yang tidak efisien, penanganan dokumen kepabeanan, maraknya pungutan liar, dan buruknya infrastruktur logistik di dalam negeri. (sut)

Sumber :Bisnis Indonesia, 19.01.11.

18 Januari 2011

[180111.EN.AIR] TSA Sets January 2012 Deadline for Screening Bellyhold Cargo

THE US Transportation Security Administration (TSA) proposes to require the air cargo industry to screen 100 per cent of the cargo carried on passenger aircraft bound for the US by the end of this year.

Previously, TSA had said the deadline for screening 100 per cent of international inbound cargo had been delayed until at least 2013, given the complex challenges associated with screening international inbound cargo carried on passenger aircraft.

However, given recent global events related to air cargo security, TSA has alerted passenger carriers and their supply chain partners that 100 per cent screening of international inbound cargo will be required by the end of the year.

Carriers will have 30-45 days to comment on the new screening requirement, and TSA will evaluate the industry comments before making the requirement effective. 

Source : HKSG, 17.01.11.

[180111.ID.LOG] Optimasi Gudang KA Bisa Tekan Biaya Logistik

YOGYAKARTA: Pengangkutan barang dengan moda kereta api sekaligus optimasi pergudangan di stasiun dapat menjadi alternatif menekan biaya logistik yang tinggi. 

Hal itu diungkapkan Direktur Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada Kuncoro Harto Widodo. Menurut dia, salah satu efisiensi untuk memacu kinerja pengiriman dan logistik adalah dengan integrasi dan manajemen moda.

"Jalur kereta api potensial untuk menjadi salah satu cara untuk manajemen moda. Kereta menjadi jalur utama dan nanti di kantong tujuan diintegrasikan dengan truk atau kendaraan lain," ujarnya hari ini.

Kuncoro mengatakan strategi ini didukung dengan optimasi gudang (warehousing) di stasiun yang dimiliki oleh PT Kereta Api Indonesia maupun gudang-gudang yang dioperasikan swasta.

Dengan cara integrasi moda angkutan ini, lanjut dia, biaya angkut yang tinggi dapat ditekan. 

Dia mengakui kinerja logistik di Indonesia belum cukup efisien karena beberapa faktor, termasuk biaya tinggi. Selain ongkos, lanjut dia, berdasarkan penilaian Bank Dunia dalam logistic performance index (LPI), infrastruktur, kepabeanan, dan kompetensi juga menyebabkan indeks kinerja logistik nasional masih menempati peringkat 74 dunia.

Pustral UGM, tambah Kuncoro, melakukan kajian untuk meningkatkan efisiensi tersebut, a.l. mengusulkan penerapan strategi optimasi dan integrasi angkutan multi moda.

"Infrastruktur memang juga harus diperhitungkan karena ada infrastruktur yang memang harus dibangun atau ada pula infrastruktur yang sudah ada tetapi belum dapat dioptimalkan," tuturnya.

Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Iskandar Zulkarnain menuturkan kalangan pengusaha juga perlu meningkatkan kompetensi kerja. "Kompetensi merupakan faktor kunci pendukung logistik."

ALFI yang sebelumnya dikenal Gabungan Forwarder dan Ekspedisi (Gafeksi) diketahui menggandeng Pustral UGM untuk menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan. Upaya ini dilakukan untuk mendongkrak kualitas sumber daya manusia di sektor logistik. (sut)

Sumber : Bisnis Indonesia, 18-01-2011.