07 Februari 2011

[070211.EN.SEA] Too Early To Panic As Economic Indicators Point To Solid Demand In 2011

MUCH attention has been directed at the growth in container shipping capacity this year, leaving many commentators a little pessimistic on the industry’s outlook. 
However, little attention is being paid to the positive news coming out of one of the most important consumer markets, the US, which indicates that demand could be quite healthy this year. 
Retail spending in the US for the month of December was up by nine per cent year on year, and 0.7 per cent over the previous month, according to the latest figures. 
Meanwhile, US unemployment dipped by 0.4 per cent month on month in December, where the rate now stands at a low of 9.4 per cent, a fact that analysts at Barclays Capital are betting will pay off for the shipping industry going forward. 
"We view this marginally improving US employment situation as a potential driver of incremental container volume growth over 2011,” the analysts said.
Another potential container shipping demand growth driver is the low US inventory-to-sales ratio, which according to the latest figures released currently stands at 1.25, well below the long term trend-line, Barclays said. 
This indicates that we will likely see a boost in demand through retailers’ restocking efforts in the coming months. 
The US dollar rose earlier this week to $1.359 per Euro versus 1.367 per Euro last week on the back of increasing consumer confidence this month and positive economic data emerging from fourth quarter results, according to Business Week.
The US Conference Board’s confidence index rose to 54.2 in January from 52.5 in December, while fourth quarter GDP grew by 3.5 per cent year on year, all of which points to a positive economic outlook for the US in 2011. 


Source : CSM, 27.01.11.

[070211.ID.BIZ] Indonesia : Kapal Workover Asing Diminta Keluar

JAKARTA: Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tetap menginginkan agar kapal offshore jenis workover (pengerjaan ulang sumur minyak) SS1- dan FF1 segera keluar dari teritori Indonesia setelah beroperasi tanpa dokumen sah.

Kedua kapal yang beroperasi di ladang PT Chevron Pacific Indonesia itu tidak mengantongi dokumen izin pemberitahuan penggunaan kapal asing (PPKA) dari Kemenhub sejak Oktober 2010.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub Leon Muhamad mengatakan intansinya sudah menegaskan kapal tersebut harus keluar dari perairan Indonesia.

Menurut dia, sejak diketahui kapal tersebut beroperasi tanpa dokumen PPKA yang sah, intansinya sudah mengeluarkan surat agar kapal itu dikeluarkan dari perairan Indonesia.

“Kapal itu tetap harus keluar dari perairan RI,” katanya pekan lalu.

Berdasarkan hasil rapat antara Ditjen Perhubungan Laut, Kemenhub, Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMigas), Indonesian National Shipowners Association (INSA) pada 14 Januari 2011 terdapat sejumlah kesepakatan.

Kesepakatan itu antara lain dokumen PPKA atas kedua kapal tersebut tidak bisa diterbitkan karena kapal sejenis sudah tersedia yang berbendera Merah Putih yakni sebanyak sembilan unit.

Kemenhub juga telah mengeluarkan surat perintah menarik kedua kapal itu ke pelabuhan Balikpapan, tetapi sampai sekarang belum dilakukan. Untuk itu, Direktorat Kesatuan Pengamanan Laut dan Pantai (KPLP) akan menginstruksikan Adpel Balikpapan untuk menarik kapal tersebut. (sut)

Sumber : Bisnis Indonesia, 06.02.11

06 Februari 2011

[060211.EN.SEA] Maersk Group To Focus On Emerging Markets

THE chief executive of Denmark's AP Moller-Maersk says the group is well positioned to take advantage of opportunities in the emerging regions of Africa and Latin America. 

Writing in the company's internal magazine, Maersk Post, Nils Andersen said: "We are very well positioned in both areas, but maybe particularly in Africa," he said.

"We have an organisation that understands the markets very well and we have local managers coming up through the ranks who feel committed to our company. We are very strongly placed there to help and take advantage of business opportunities.

"In Latin America, we don't have quite the same strong position, but we've been there for many years and have a strong customer base, and a strong and experienced organisation. We will have opportunities to expand and are ready to invest in new vessels, port infrastructure and oil-related activities."

"The window of opportunity is now, because we are already active in, for example, West African and Latin American countries, and we have more knowledge than most investors coming into the markets," he said.

"We are making very good cash flows and good profits, which means we have the strength to invest at the moment, probably also more strength than many of our competitors."

He said emerging markets will drive Maersk's business growth as the company shifts from old to new economies

"Emerging markets have much more interesting growth prospects than the more mature and wealthy countries in Europe and the US," Mr Andersen said.

"If you look at the growth opportunities in emerging markets, there is no question that effective infrastructure is key, not only for cost-competitive imports, but also for local businesses and local farmers to export their products. And for us being in global logistics, this means great opportunities." 

Source : HKSG, 31.01.11.

[060211.ID.BIZ] Ide “Gila” Co-CEO Indika Di Batu Bara

KOMPAS.com — Akuisisi menjadi ”grand strategy”. Hanya urusan mengakuisisi itu relatif gampang ditangani. Tantangan terbesar adalah mempertahankan sumber daya manusia agar tetap sebagai investasi, bukan beban biaya bagi perusahaan. Kalau dipandang sebagai beban, perusahaan pasti akan mencari celah untuk selalu memotong gajinya. 

Pemikiran itulah yang kerap menggelayuti Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat (40), Co-Chief Executive Officer (Co-CEO) PT Indika Energy Tbk, yang dalam lima tahun (akhir tahun 2005-2010) mampu mengembangkan nilai aset industri energi batu bara berlipat ganda, dari 150 juta dollar AS menjadi senilai 2,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 22,5 triliun).

Pria kelahiran Jakarta, 16 Maret 1970, ini mencetuskan ide ”gila” untuk membawa Indika Energy bukan semata-mata menjadi industri pertambangan batu bara, melainkan juga industri yang memiliki kekuatan nilai tambah dari hulu ke hilir.

Berikut petikan wawancara Kompas dengan Arsjad di Jakarta, Kamis (20/1/2011).

Bagaimana SDM dijadikan kekuatan membangun industri Indika?

Ini tantangan terbesar saya. Setelah mengakuisisi sejumlah perusahaan untuk mendukung kegiatan industri pertambangan kami, tantangan yang harus saya lalui adalah mengupayakan mempertahankan SDM dan menyatukan kelompok tua dan muda untuk mau berkomitmen membangun industri ini.

Pembinaan leadership yang merupakan kunci. Yang muda haruslah diberi kepercayaan untuk memimpin. Itulah yang saya lakukan dengan membuat kegiatan semacam outbound di mana kelompok muda ditempatkan sebagai pemimpin. Yang tua, ya harus menjadi anggotanya.

Karena itu, saya melakukan ide ”gila” di tingkat manajemen dengan melakukan transformasi manajemen. Bukan berarti kami perusahaan jelek, kalah, dan tidak performing, melainkan diartikan secara continuous improvement. Artinya, kami mencanangkan komitmen untuk tidak terlena, puas diri, tetapi sama-sama fokus membangun industri ini.

Apa arti penghargaan The Best Indonesian Executive 2010 dari Asiamoney dan beberapa penghargaan lainnya? 

(Indika Energy juga meraih The Best Medium-Cap Corporate of the Year 2010 dari Asiamoney dan Asia Best Managed Companies 2011 dari Euromoney)?

Ini adalah simbol yang bukan disediakan hanya untuk saya sebagai pribadi, melainkan juga penghargaan besar bagi keseluruhan manajemen. Yang menarik, penentuan sebagai CEO terbaik itu ditentukan lewat voting yang respondennya adalah analis, bankers, investor, dan sebagainya.

Penghargaan ini merupakan simbol kepercayaan terhadap manajemen Indika Energy. Memang saya dipilih sebagai CEO terbaik, tetapi secara internal, saya mengatakan inilah penghargaan bagi manajemen sebagai team work yang membawa perubahan besar.

Strategi apa yang Anda lakukan?

Dahulu banyak orang mempertanyakan, bahkan meragukan, tiga pilar strategi perusahaan ini. Ketiga pilar itu adalah sumber daya alam, services, dan infrastruktur.

Saya hanya ingin membawa perusahaan memiliki strategi yang koheren dan bersih untuk Indonesia ataupun Asia. Syukur-syukur, strategi yang saya kembangkan menjadi pionir bagi industri lainnya.

Apa fokus implementasi strateginya sampai nilai perusahaan ini melonjak drastis?

Semua peningkatan nilai aset itu berawal diciptakan lewat akuisisi. Kami percaya dengan integrasi nilai. Inti industri ini adalah pertambangan. Tidak bisa semua dimulai dari nol, dengan mendirikan anak-anak perusahaan.
Karena itu, akuisisi merupakan pilihan supaya segala yang tadinya dipandang sebagai biaya bisa sekaligus memiliki pendapatan.

Kami memiliki fokus pada sumber daya alam sebagai induk pendorong perusahaan, yang kemudian ditopang oleh jasa pelayanan (services) dan infrastruktur.

Bagaimana awalnya untuk menuju kekuatan yang terintegrasi?

Awalnya adalah memperkuat fondasinya. Ada dua fondasi kami, yaitu SDM (human capital) dan sumber pendanaan (financial capital). Kekuatan pendanaan dilakukan melalui melepas bond, kemudian penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) supaya permodalan kuat.

Adapun untuk manajemen, kami bisa ambil dari SDM dengan mengakuisisi perusahaan jasa yang punya dasar keahlian dalam bidang pertambangan, seperti Tripatra yang memiliki keahlian engineeringdan manajemen proyek pertambangan. Kemudian mengakuisisi Petrosea yang memiliki keahlian dalam bidang pertambangan. Dengan demikian, kemampuan dasar services sudah dimiliki. Kekuatan infrastruktur diperoleh dengan mengakuisisi perusahaan logistik Mitrabahtera Segara Sejati.

Bagaimana implementasi pasca-akuisisi?

Gampangannya, industri menambang batu bara, memasukkan ke kapal, dan dikirim baik untuk kebutuhan dalam negeri ataupun ekspor. Seluruh kekuatan itu dijadikan modal untuk menekan biaya.

Tidak bisa kami hanya bergantung pada fluktuasi harga komoditas batu bara. Bisa gila kami melihat fluktuasi harga. Istilahnya, apabila harga komoditas ini jatuh, industri yang memiliki cost produksi tinggilah yang akan terlebih dahulu jatuh.

Maka, biaya paling murahlah yang perlu diterobos supaya industri ini tetap kompetitif. Kami berupaya mengontrol biaya produksi karena memiliki kekuatan pilar-pilar tersebut.

Siapa saja kompetitor Anda?

Dalam income produksi, kami baru menempati posisi ketiga setelah Bumi Resources dan Adaro. Kekuatan ide gila ini belakangan membuat kami berani memperluas integrasi dengan bermain di industri pembangkit listrik yang menggunakan batu bara berkadar 4.500 kalori.

Terjun ke industri pembangkit listrik ini semata-mata untuk memperbesar revenue?

Tidak. Kami melihat peluang, ada pasar baru dan produk baru, dengan kekuatan sumber daya alam yang dimiliki. Tadinya, batu bara kadar 4.500 kalori tidak laku. Kini dengan rekayasa energi yang supercanggih, batu bara ini dapat dimanfaatkan.

Namun, lebih jauh lagi, kami memanfaatkan batu bara berkadar 4.500 kalori ini untuk bisa digunakan di dalam negeri untuk turut berkontribusi mencukupi kebutuhan listrik nasional. Ini proses panjang untuk membangun nasionalisme baru.

Pada akhirnya, kami juga tidak boleh hanya berjaya di kandang sendiri. Proyek pemanfaatan batu bara di tingkat internasional haruslah direbut. Tentu, harus memperkuat dahulu fondasi industri kami!

Sumber : Kompas, 31.01.11.

05 Februari 2011

[050211.EN.SEA] European Trades End 2010 On Good Note With Continued Growth

END of year trade figures are now beginning to come in, with the latest numbers revealing a year-on-year growth of 15.4 per cent year on year in European imports for the January to November period in 2010, according to Container Trade Statistics (CTS)
European exports on the other hand, were up 10.3 per cent over 2009 for the same period. 
Breaking these numbers down a little further, the Europe-Asia trade remained relatively flat, dipping marginally for the month of November to 463,600 TEU down from 463,960 TEU in 2009. 
However, November's figure does represent a month-on-month increase of 3.57 per cent over October 2010.
On the head haul Asia-Europe leg of the trade, volumes grew an impressive 13.8 per cent year on year to 1.1 million TEU...

November's figure also represented a month-on-month hike of 1.02 per cent over October 2010. 
Meanwhile, the latest report from CTS reveals that freight rates on the trade fell back to almost 100 on the rate index in November, after reaching a high of 120 in August. 
Rates also dropped in November on the Europe export leg to Asia, settling at an index rate of 105, down from a high of roughly 115 in July. 
European exports to North America grew by 5.18 per cent in November to 258,000 TEU, up from the 245,288 TEU handled in November 2009. However, the month's total volumes represented a 4.3 per cent decline month on month from October. 


Source : CSM, 17.01.11.

[050211.ID.BIZ] Indonesia : Ekspor Batu Bara Terhambat Perizinan

JAKARTA, Kompas.com — Sebanyak 3,5 juta ton batu bara masih tertahan di pelabuhan. Hal ini disebabkan ekspor batu bara itu terganjal oleh tidak kunjung terbitnya izin usaha pertambangan operasi produksi khusus pengangkutan serta penjualan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

Menurut Ketua Bidang Hubungan Kemasyarakatan Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Herman Heru Suprobo, Kamis (3/2/2011) di Jakarta, para eksportir batu bara telah mengajukan izin itu sejak November lalu.

Dari enam pemain besar, sekitar 60-70 kapal tidak bisa berjalan dengan kapasitas rata-rata 50.000 ton per kapal. Hal ini berarti sekitar 3,5 juta ton batu bara tidak bisa diekspor dan saat ini masih tertahan di sejumlah pelabuhan di Indonesia. 

Sudah dua minggu berlalu, kata Ketua Umum APBI Bob Kamandanu, ekspor batu bara yang dilakukan para trader terkendala. Hal ini karena para perusahaan eksportir batu bara itu belum mempunyai izin usaha pertambangan operasi produksi (IUP OP) khusus pengangkutan dan penjualan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebagaimana diamanatkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010.

Sementara itu Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan melarang untuk sementara waktu para perusahaan surveyor menerbitkan laporan surveyor bagi batu bara yang akan diekspor. Hal ini diterapkan sampai para eksportir memiliki IUP OP khusus.

Pada 15 Desember lalu, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara telah mengeluarkan surat penjelasan atas pelaksanaan PP No 23/2010. Surat itu berisi penjelasan bahwa izin dimaksud sedang dalam proses di Kementerian ESDM.

Namun surat penjelasan itu, menurut Kementerian Perdagangan, telah dinyatakan menyalahi ketentuan. Pasalnya, dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 dan PP No 23/2010 telah dijelaskan bahwa IUP OP khusus pengangkutan dan penjualan lintas provinsi harus diterbitkan Menteri ESDM.

Sumber : Kompas, 03.02.11.

04 Februari 2011

[040211.EN.LOG] Forwarders Want To See Benefits Before Embracing e-freight

According to a recent survey, freight forwarders need to see realisable and significant value added to the airport-to-airport portion of the air cargo supply chain before making a commitment to e-commerce such as the IATA-led e-freight program.


The International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA) and The International Air Cargo Association (TIACA) conducted the global survey of some 450 freight forwarders in 84 countries. The largest number of participants were from Australia, Canada, Egypt, India, Netherlands, Pakistan, Singapore, South Africa, Spain, Taiwan, the UAE, UK, US, Vietnam and Zimbabwe.


55% of respondents stated they were aware of IATA's e-freight project, yet less than 20% said they were participating in the initiative.


According to Bill Gottlieb, immediate past president of FIATA, who helped lead the research, the initial findings clearly show a positive shift in forwarders' attitudes to e-commerce, with forwarders willing to invest only if airlines do likewise.


"IATA was successful in thinking outside the box when it implemented paperless ticketing, making life simpler for passengers and less costly for carriers. We have therefore asked IATA to collaborate with FIATA to create a new cargo documentary and data flow driven by technology, to simplify the process thereby eliminating an antiquated process. This should also drive change in the status of the forwarder and airline relationship," said Gottlieb.


He added that there is great potential for companies to embrace today's e-commerce standards so they benefit from the efficiency and enhanced customer service capability, but the focus has to be on value added.


"Air cargo remains woefully behind other modes of transport in terms of e-commerce. We know that for every industry it takes time and investment to build momentum, but right now there clearly isn't enough value added to entice many airlines and the wider international forwarding community to come to the table."


TIACA secretary general Daniel Fernandez commented that while DHL Global Forwarding and Emirates SkyCargo are pairing up in a new project to sufficiently reduce errors and eliminate tons of paper documents across their networks by becoming the leading implementers of e-freight, the survey clearly shows that, for other forwarders around the world, the industry still has a lot to do to promote the full benefits of trading electronically and eliminating paper from the air cargo process.


He added that the need to work together with industry partners to facilitate important new e-commerce developments can also be supported through the new global industry advisory group being created TIACA, FIATA, IATA and the Global Shippers' Forum (GSF).


Fernandez concluded that the volume of paperwork that currently accompanies airfreight shipments is the equivalent of 7,800 tons per year, which isn't sustainable in modern day business, particularly for an industry needing to optimise cost efficiencies so as to remain competitive and in profit.


Source : EFT, 03.02.11.