15 Juni 2012

[150612.ID.SEA] Otoritas Pelabuhan Priok Instruksikan Terminal 2-JICT Layani Domestik


JAKARTA: Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok menginstruksikan sekaligus menyetujui agar fasilitas terminal 2-JICT di Pelabuhan Tanjung Priok bisa menampung pelayanan sandar kapal dan bongkar muat peti kemas domestik.

Instruksi dan persetujuan Kantor OP Tanjung Priok itu telah disampaikan pekan ini melalui surat resmi yang ditujukan kepada PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II dan Hutchison Port Indonesia (HPI) selaku pengelola terminal 2-JICT, menyususul kian padatnya antrean kapal untuk sandar dan menunggu muatan di pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Kepala OP Tanjung Priok Sahat Simatupang, mengatakan fasilitas dermaga dan peralatan terminal 2-JICT di pelabuhan Priok itu, selama ini belum di optimalkan atau idle, karena draft (kedalamnya) hanya -7 s/d -8 Lws (Low water spring) sehingga tidak bisa di sandari kapal mother vessel yang melakukan pengapalan langsung (direct call) pengangkut peti kemas ekspor impor. Terminal ini, kata dia, hanya di sandari beberapa pelayaran feeder (pengumpan) dengan ukuran rata-rata 1.000 TEUs.

“Saya sudah sampaikan surat-nya secara resmi kepada Pelindo II maupun HPI selaku pengelola terminal 2-JICT di Priok supaya terminal itu bisa juga melayani kapal  peti kemas domestik,” ujarnya kepada Bisnis hari ini, Jumat (8/6).

Instruksi Kepala OP Tanjung Priok itu, kata dia, dalam kaitan menanggulangi ancaman kongesti akibat antrean kapal di pelabuhan menyusul sedang dilakukannya perbaikan sejumlah terminal/dermaga multifungsi untuk kegiatan bongkar muat peti kemas antar pulau (domestik).

Sahat mengungkapkan, saat ini sedang dilakukan perbaikan dan pengerasan pada tiga lokasi klaster terminal yang meliputi lima fasilitas dermaga di Pelabuhan Tanjung Priok. Dermaga tersebut yakni; dermaga 103 s/d 105, dermaga 111 s/d 113, dermaga 201 dan 2003, dermaga 303 s/d 305, serta dermaga 001 s/d 004. “Untuk dermaga 303 s/d 305 sudah hampir selesai, namun yang lainnya di perkirakan baru akan selesai pengerjaanya pada awal 2013,” tuturnya.

Untuk itu, kata dia, guna menghindari terjadinya kongesti di Pelabuhan Tanjung Priok, menyusul terus bertambahnya arus kunjungan kapal ke Pelabuhan-sebaiknya fasilitas terminal 2-JICT bisa dimanfaatkan sebagai terminal multifungsi yang bisa melayani kapal ocean going (feeder) sekaligus kapal peti kemas domestik tanpa jangka waktu tertentu.

Sahat menegaskan, OP Tanjung Priok tidak akan mencampuri urusan business to business maupun yang menyangkut  perjanjian kontrak privatisasi/kerjasama pengelolaan terminal tersebut antara Pelindo II dan HPI.

“Lagipula ini kan (terminal 2-JICT) merupakan aset negara, dan pemerintah sangat berkepentingan  menjaganya supaya tidak terjadi kongesti di Priok. Karena itu harus ada solusi,” paparnya.

Dia mengatakan, instansinya juga akan menyampaikan kepada Menteri Perhubungan Cq Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub, agar terminal 2-JICT bisa dimanfaatkan melayani peti kemas domestik (antar pulau). “karena ini sifatnya segera, maka paling lambat Senin pekan depan (11/6) surat resminya kepada Kemenhub akan saya serahkan,” tuturnya.

OP Tanjung Priok, kata Sahat, juga sudah berkoordinasi dengan perusahaan pelayaran anggota Indonesian National Shipowners Association (INSA) Jaya dalam kaitan ini.

”Mereka (INSA) sudah mendukung agar terminal 2-JICT bisa juga disandari kapal dan bongkar muat peti kemas domestik di pelabuhan Priok. Apalagi peralatan bongkar muat di terminal itu sudah sangat memadai. Tentunya ini bisa lebih efisien,” tegasnya.

Ketua INSA Jaya, C.Alleson yang dikonfirmasi Bisnis, mengatakan hingga akhir pekan ini antrean kapal masih terjadi kendati sudah sedikit terurai. “Setelah dilakukan rapat koordinasi di kantor OP Tanjung Priok, antrean kapal mulai terurai,” ujarnya.

Peti Kemas Kosong
Sahat mengatakan, dalam waktu dekat, instansinya akan melakukan pengawasan terpadu berkaitan kelanjutan program penataan pelabuhan Tanjung Priok dengan melarang peti kemas kosong di timbun di kawasan lini 1 atau di dalam Pelabuhan Tanjung Priok.

“Kami akan meminta manajemen Pelindo II Tanjung Priok untuk mengeluarkan semua peti kemas kosong  milik perusahaan pelayaran domestik maupun ocean going dari dalam pelabuhan supaya back up areal penumpukan untuk peti kemas isi (full) tetap terjamin.(faa)

Sumber : Bisnis Indonesia, 09.06.12 (kliping edisi 140612 ngga terbit, sori, ribezzz).

13 Juni 2012

[130612.EN.SEA] GL Holds Container Ship Forum To Discuss Trends And Challenges


HAMBURG- based Germanischer Lloyd (GL), a technical supervisory organisation, recently held a forum to examine the latest developments in container stowage and transport and to see how operators can remain competitive with added flexibility in container stowage at a time when the market is tight.

Fifty representatives from the container industry attended the forum and were shown how with GL they could re-examine standard practices and maximise their ability to respond to the demands of the market, BYM Marine & Maritime News reported.

GL was the first classification society to introduce rules for container stowage and lashing, according to Holger Jefferies, the company's head of research and rule development, who recently returned from living for eight years in Shanghai. He said those rules have been continually updated since their introduction, most recently in 2012, and are the subject of a yearly examination by a technical committee.

Mr Jeffries laid out some of the relevant rules, both from GL and international organisations, and looked to the current challenges for the container industry. Over capacity, high fuel prices, and the cascading effect of extremely large vessels entering the market, means that maximizing capacity while maintaining loading flexibility, were essential to staying competitive.

The forum also looked into the spate of container lock failures in 2005 and 2006 which led experts at GL to launch an ongoing investigation into the causes of such incidents. The investigation resulted in the development of a guideline for the testing procedure of fully automatic locks (FALs).

The growing use of flexitanks - flexible plastic tanks designed to enable the transport of bulk liquids inside a standard TEU - was also discussed. The forum was told that in the absence of permissible filling criteria, there was potential for damage not only to the container enclosing the flexitank but the goods transported alongside. 

Buckling of the side wall of the enclosing container could result in the collapse of stacked containers, due to the weakening of the container frame. GL's calculations indicated that, even in the best case scenarios, filling levels have to be considered carefully.

Source : SN-TR, 06.06.12.

[130612.ID.BIZ] Mulai 2015 Pegawai Swasta Juga Dapat Uang Pensiun


SRIPOKU.COM, JAKARTA - Badan Pelaksana Jaminan Sosial (BPJS) akan menyelenggarakan jaminan pensiun bagi karyawan swasta, baik formal maupun non formal, mulai Juli 2015.

Itu sesuai Undang-undang No 24 Tahun 2001 tentang BPJS, dan sudah disahkan oleh Dewan Jaminan Nasional (DJSN).

Untuk mendapatkan uang pensiun, semua pegawai swasta harus mengikuti program jaminan pensiun yang diselenggarakan BPJS. Syarat lainnya, para calon pensiunan harus membayar iuran sebesar 0,3 persen dari upahnya per bulan.

"Uang pensiun pekerja perusahaan sepenuhnya ditanggung pensiunan, 0,3 persen dari uang pensiun sebulan,"ujar Ketua DJSN Chazali Situmorang, di kantor Jamsostek, Senin (11/6/2012).

Chazali menjelaskan, para pegawai swasta yang di-PHK tetap akan mendapat kompensasi selama enam bulan. "PHK sampai enam bulan tetap jadi peserta tanpa bayar iuran," jelasnya.

Uang pensiun yang akan diberikan kepada pegawai swasta, angkanya belum ditetapkan sepenuhnya. Namun, program pensiun bagi para pekerja telah ditetapkan sejak 2011.

Sumber : Sriwijaya Post, 11.06.12.

12 Juni 2012

[120612.EN.SEA] Zim Plunges Further Into Negative Territory Despite Q1 Volumes Rising 3pc


ZIM Integrated Shipping Services ended the first quarter of 2012 with a net loss to shareholders of US$163 million, $12 million more than the $151 million loss recorded in the previous quarter.

In the January to March quarter it registered a negative EBITDA of $69 million, a 13 per cent improvement compared to the EBITDA in the last quarter of 2011.

The company attributed its loss making to declining freight rates coupled with higher oil prices and an increase in its accounting (non-cash) financial expenses.

Zim said average freight rates per TEU decreased from $1,283 in the last quarter of 2011 to $1,236 per TEU in the first quarter of 2012, equating to a further 4 per cent decrease, on top of a 5 per cent decrease recorded in 2011. At the same time, oil prices in the market increased in the first quarter to $722 per ton of fuel oil (on average) compared to $639 per ton (on average) in 2011, an increase of nearly 13 per cent.

On the other hand, the Israeli shipping line transported 3 per cent more containers in the first quarter of the year at 570,000 TEU, compared to the same period last year.

In addition, it successfully completed an adjustment of its financial covenants with all its relevant financing banks to "reflect prevailing market conditions." The completion of this adjustment is intended to give the carrier "flexibility and ability to cope with the difficult market conditions," it said. In light of that, short-term loans have been reclassified as long-term debt.

Looking ahead to the remainder of the year, the company highlighted that towards the end of the first quarter the market started to recover in terms of freight rates, with the Shanghai Containerized Freight Index (SCFI) up 50 per cent since the beginning of the year. Furthermore, thereÕs been a recent rash of freight rates announced by leading shipping lines. Simultaneously, a sharp decline in oil prices, recorded in the last few weeks, is expected to lower the company's expenses.

These signs of recovery in the overall market is expected to have a positive effect on the company's results for the remainder of the year.

Source : SN-TR, 07.06.12.

[120612.ID.BIZ] Indonesia Targetkan Jadi Produsen Utama Udang Dunia


MAKASSAR, KOMPAS.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memasang target menjadikan Indonesia produsen utama udang di dunia dan kembali menduduki posisi teratas sebagai produsen udang--seperti yang pernah dirasakan pada dekade 90-an.

"Kami dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) KKP akan berperan membantu upaya menggenjot produksi udang Indonesia, yang selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Rizald M. Rompas, di Makassar, Sabtu (9/6/2012).

Lebih lanjut Rompas menjelaskan bahwa pada tahun 1990-an Indonesia adalah produsen udang terbesar di dunia. Namun selama 10 tahun belakangan produksi udang anjlok hingga 50 persen akibat serangan virus yang membuat banyak udang mati. "Dengan program KKP yang merevitalisasi tambak mangkrak di Jawa, kami akan membantu melancarkan upaya peningkatan produksi udang dan bandeng sebagai kekuatan ekonomi biru Indonesia," kata dia.

Saat ini banyak tambak udang di sepanjang pantai utara Jawa (Pantura) yang tidak digunakan sebagai tambak udang, para petambak lebih memilih membudidayakan bandeng.

Rompas mengatakan bahwa virus yang melanda tambak-tambak udang di Indonesia diduga kuat muncul dari tanah, "Sekarang Balitbang telah berhasil membuat tambak dengan sistem plastik, untuk membantu teknik--secara ilmiah--menekan sumber-sumber virus tanpa penggunaan antibiotik.

Selain teknik menggunakan plastik, Balitbang juga telah berhasil mengembangkn probiotik yang tidak terbuat dari bahan-bahan kimia namun berperan seperti imunisasi bagi udang terhadap penyakit dan virus. "Di Kabupaten Barru (Sulawesi Selatan) kini tengah dikembangkan probiotik yang bukan dari bahan kimia, lalu dimakan udang sehingga menguatkan sistem imun udang," katanya.

Balitbang berkeyakinan, bila berhasil menggunakan antibiotik dari bahan non-kimia untuk udang, maka pasar di Eropa akan kembali terbuka karena pasar di sana sangat mementingkan aspek lingkungan dan pakan udang.

Berdasarkan data FAO, pada tahun 2010 produksi udang Indonesia berada di urutan ke-4 dunia, di bawah China, Thailand, dan Vietnam.

Sumber : Kompas, 09.06.12.