06 Mei 2015

[060515.ID.BIZ] Dirut Lino: Aturan Soal Transaksi Rupiah Di Pelabuhan Itu Aneh

Bisnis.com, JAKARTA - PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) tetap mengejar pengecualian terhadap kewajiban transaksi rupiah untuk kapal-kapal berbendera asing karena dinilai tidak merugikan negara.

Direktur Utama PT Pelindo II Richard Joost Lino mengatakan telah mengajukan pengecualian Peraturan Bank Indonesia No. 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Kesatuan Republik Indonesia.

PBI ini merupakan turunan dari Undang-undang No. 7/2011 tentang Mata Uang yang melarang transaksi dalam valas di wilayah Indonesia.

Dalam Pasal 21 ayat (1) PBI tersebut diakomodir adanya pengecualian apabila kontrak atau perjanjian tertulis dibuat sebelum 1 Juli 2015. Sampai kontrak berakhir, transaksi masih diperkenankan menggunakan mata uang asing. Ketika kontrak selesai, maka seluruh pihak di Indonesia wajib mematuhi PBI ini.

"Kita mengajukan pengecualian karena buat kita aturan itu aneh. Kita kejar terus," kata Lino di IPC Corporate University, Selasa (5/5/2015).

Pengecualian transaksi rupiah diajukan Pelindo II kepada Kementerian BUMN untuk selanjutnya dibahas dengan kementerian terkait dan Bank Indonesia.

Lino menjelaskan pelanggan perusahaan plat merah ini adalah pemilik barang dan perusahaan pelayaran domestik maupun internasional. Menurutnya, seluruh pemilik barang dan pemilik kapal dalam negeri yang melakukan aktivitas ekspor-impor dikenai pungutan dalam tarif rupiah.

"Kalau kapal asing, bayarnya dalam dolar. Ini yang disuruh pakai rupiah, untuk saya lucu. Karena kapal asing ini menerima bayaran dalam valas. Orang Indonesia kalau kirim barang ke luar negeri apa bisa pakai rupiah? Kan tidak mau," tuturnya.

Berdasarkan data Pelindo II, dalam satu tahun perusahaan pelayaran asing menerima pembayaran dari pemilik barang sebesar US$4 miliar. Adapun biaya jasa ke Pelindo II hanya US$320 juta.

"Saya ajukan pengecualian kementerian. Saya bilang kalau mau tangkap saya, tangkap deh. Saya tidak rugikan negara, saya untungkan negara kok," ujar Lino sembari bergurau.


Sumber : Bisnis Indonesia, 05.05.15.

05 Mei 2015

[050515.EN.SEA] Costamare Net Profit Flattens At US$26.3 Million With All Ships Chartered

ATHENS based Costamare, one of the world's leading shipowners and providers of containerships for charter, has posted a year on year flat first quarter net profit of $26.3 million, drawn on revenues of $120.9 million, which increased 5.2 per cent.

"We placed an order, together with our partners York Capital, for one additional 11,000-TEU containership, to be built by Hanjin (Heavy Industries and Construction) in Philippines," said chief financial officer Gregory Zikos.

"The ship is expected to be delivered in December 2016 and Costamare will own a 49 per cent stake," he said.

Pursuant to the framework agreement with York Capital, the company holds a 49 per cent equity interest in the relevant vessel-owning entity. Under the terms of the agreement the investment period with York Capital is set to expire on May 28, Hellenic Shipping News reported.

"Our joint venture with York has been progressing quite well and since inception we have done deals of US$1.1 billion. All investments have been performing well and we are in discussions with our partner regarding the extension of the investment period," said Mr Zikos.

"Regarding the market, there is a positive momentum; charter rates have been rising, the number of idle fleet is below two per cent and activity remains high," he said.

"We have no ships laid up, while the ships coming out of charter this year provide an upside based on today's market conditions."

During the first quarter the company entered into five chartering arrangements, with ships ranging in size from 1,504 TEU to 2,526 TEU for daily rates of between $7,000 and $9,500. They include two ships chartered to Evergreen, one to Yang Ming and one to Sea Consortium.


Source : HKSG.

[050515.ID.BIZ] Pertumbuhan Ekonomi Anjlok: Sebanyak 10 Kementerian Belum Belanjakan Duit

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2015 sebesar 4,71% akibat melemahnya kinerja sejumlah komponen permintaan domestik.

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi kuartal I 2015 tercatat 4,71% (y-o-y), mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,02% (y-o-y).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan melemahnya pertumbuhan ekonomi pada periode ini sejalan dengan berbagai indikator yang dipantau oleh bank sentral dalam beberapa bulan terakhir.

Pelemahan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun ini didorong melemahnya kinerja beberapa komponen permintaan domestik seperti konsumsi lembaga nonprofit, konsumsi pemerintah dan investasi pada sektor bangunan.

Pelemahan pada konsumsi pemerintah terjadi akibat belum optimalnya penyerapan belanja dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015.

"Ini terkait dengan APBN-P 2015 yang baru disahkan dan belum terealisirnya belanja pada sepuluh kementerian dan lembaga yang baru," ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (5/5/2015).

Penurunan juga terjadi pada pertumbuhan konsumsi lembaga nonprofit terutama akibat lebih rendahnya belanja pada periode ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sangat besar dengan adanya belanja pemilu atau base effect.

Tirta menambahkan pada investasi bangunan juga terjadi penurunan kinerja sehingga berpengaruh melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pelemahan diakibatkan oleh masih adanya sikap wait and see sektor swasta dan masih belum berjalannya proyek pemerintah.

"Itu yang dari sisi internalnya. Kalau dari sisi eksternal pertumbuhan ekonomi yang melambat karena kinerja ekspor dan impor yang juga menurun," katanya.

Tirta menuturkan di sisi eksternal, kinerja ekspor juga menurun sejalan dengan masih lemahnya permintaan dan turunnya harga komoditas dunia.

Sementara itu, pertumbuhan impor mengalami penurunan cukup dalam sejalan dengan melemahnya perkembangan permintaan domestik.

Bank Indonesia, lanjut Tirta, akan terus memonitor berbagai perkembangan baik domestik maupun eksternal dan memastikan agar perekonomian nasional ke depan berjalan dengan sehat dan berkelanjutan.


Sumber : Bisnis Indonesia, 05.05.15.

04 Mei 2015

[040515.EN.SEA] Maersk Insists Iranian Held Ship Be Freed, US Navy 'Accompanies' US Flags

THE Pentagon has told CBS News that US Naval forces are "accompanying" American ships in the Strait of Hormuz, though little has been done to rescue the Marshall Island-flagged ship detained there by the Iranians even though the US is responsible for that country's defence.

"The US Navy makes a distinction between accompanying ships and escorting them," said the CBS report.

"Officials said the navy won't escort these ships, but will let them know in advance that they will monitor the situation as they transit the narrow Strait from the Gulf toward the Arabian Sea," said the report.

Meanwhile, Denmark's Maersk Line said it has insisted on the release of the 5,466-TEU Maersk Tigris, a vessel and crew seized by Iran, adding it assumed the incident was related to a 2005 court case over uncollected cargo.

The Marshall Islands-flagged ship was seized by Iranian forces in the Strait of Hormuz, spurring the United States to send warship to monitor the situation.

"We have not received any written or formal confirmation that the seizure and the cargo case are connected," the company said in a statement, Reuters reported.

"We must insist that the crew and vessel are released as soon as possible. The crew is not employed by Maersk Line, nor is the vessel owned by Maersk Line. Maersk Tigris and its crew are thus not in any way party to the case."

Maersk, the world's biggest container shipping line, said it had agreed to pay an Iranian company US$163,000 after an Iranian court ruling in February which related to a dispute about 10 container boxes transported to Dubai in 2005.

"The Iranian company appealed the case seeking a higher compensation," Maersk said.

"Only today, have we learnt that the appeal court has ruled Maersk Line to pay $3.6 million. As we do not have the details of the ruling, we are not able to comment hereon, nor at this point speculate on our options," said Maersk.


Source : HKSG.

[040515.ID.BIZ] Ekonomi JEPANG: Permintaan Domestik Pulih, Indeks Manufaktur Bertahan di Level 52

Bisnis.com, JAKARTA- Aktivitas manufaktur Jepang menunjukkan pertumbuhan berkelanjutan selama Desember, menurut satu survei. Kondisi itu menunjukkan pemulihan permintaan domestik setelah ekonomi negara itu tanpa diduga mengalami resesi tahun lalu.

Indeks Markit (JMMA) Japan Manufacturing Purchasing Managers (PMI) terakhir tercatat 52,0 selama Desember atau sedikit lebih rendah dari posisi sebelumnya 52,1. Angka itu dilaporkan tidak berubah dari posisi terakhir pada November sebagaimana dikutip Reuters, Senin (5/1/2015).

Angka itu tetap di atas ambang batas yang memisahkan antara kontraksi dan ekspansi selama tujuh bulan berturut-turut. Sedangkan komponen produksi dari indeks PMI tercatat 52,5 atau lebih rendah dari posisi sebelumnya pada angka 53.3 sekaligus sedikit di bawah 52,7 sebagaimana tercatat pada November.

Pesanan atas ekspor baru meningkat selama enam bulan berturut-turut, namun sedikit lebih lambat dari November.

Ekonomi Jepang tanpa diduga masuk ke jurang resesi pada kuartal ketiga tahun lalu setelah pajak penjualan yang naik pada April menghantam belanja konsumen lebih keras. Sedangkan pada sisi lain ekspor tidak menentu pada tahun lalu.


Sumber : Bisnis Indonesia, 04.05.15.

03 Mei 2015

[030515.EN.BIZ] Leftist Greece State Mulls U-turn On Selling Majority Stakes In Major Ports

THE Greek government is considering selling stakes in its two largest ports in hopes of satisfying lenders enough to unlock bailout funds they are withholding, Reuters reports.

The recently elected leftist government, defiantly dismissed such approaches before, calling it a "crime" to sell off strategic national assets.

But now that the International Monetary Fund is offering no concessions, insisting that austerity measures be taken before bailout funds are released, Athens has relented.

"The negotiating team wants a deal with lenders and we are willing to sell Piraeus and Thessaloniki ports, 51 per cent stakes," a government official told reporters. Cosco Pacific is the major terminal operator in Piraeus.

"This has not been decided but in order to reach a deal we may do it," said the official.

Cut off from markets and fast running out of cash to pay salaries, service loans and redeem maturing debt, Athens has only days left to reach a cash-for-reforms deal.


Source : HKSG.

[030515.ID.BIZ] Ekonomi Jepang Masih Rapuh

Kabar24.com, TOKYO--Produksi industri Jepang sepanjang Februari anjlok, menambah tekanan terhadap konsumsi dan inflasi, serta memperkuat dugaan rapuhnya perekonomian domestik.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan produksi melembam 3,4% dari posisi Januari, saat angka produksi melejit hingga 3,7%. Capaian Februari itu lebih rendah dibandingkan dengan konsensus ekonom yang mengestimasi penurunan produksi hanya mencapai 1,9%.

Angka itu sekaligus menjadi yang terendah sejak Juni 2014 dan kian menegaskan perbaikan ekonomi Jepang yang masih saja rapuh sejak resesi tahun lalu. Tim ekonomi dari Mizuho Securities Co. juga memprediksi musim liburan selama bulan lalu turut memangkas permintaan ekspor yang berujung pada kontraksi produksi.

Perbaikan pada pengeluaran konsumen melambat sejak kenaikan pajak penjualan pada April dan ekspor juga belum kuat. Masih terlalu dini untuk optimistis terhadap ekonomi, kata Direktur Riset Ekonomi NLI Research Institute Taro Saito, Senin (30/2).

Secara lebih rinci, produksi tercatat turun pada 12 subkelompok industri dari total 15 subkelompok. Produksi di sektor komputer dan perlengkapan teknologi informasi lainnya anjlok 7,6% sedangkan produksi elektronik turun 7,4%. Adapun, pasokan meningkat 0,5% seiring dengan melemahnya produksi dan ekspor.

Secara terpisah, ekonom dari Citigroup Inc. Kiichi Murashima menilai aktivitas produksi sedang kehilangan momentumnya. Dia bahkan memproyeksikan angka produksi kuartal I/2015 hanya akan bertumbuh 1,1% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Sementara itu indeks harga konsumendi luar makanantak bergerak selama Februari, dipicu oleh ambruknya harga minyak yang mendorong tren deflasi. Pada rentang waktu yang sama data penjualan rumah pun turut anjlok 2,9% secara yoy sekaligus menandai depresiasi selama 11 bulan beruntun. Di sisi lain, penjualan ritel pun melembam 1,8%.

Data Bank of Japan (BoJ) menunjukkan nilai pengiriman barang ke luar negeri sepanjang Februari terkontraksi 7% dari posisi bulan sebelumnya yang mencatatkan kenaikan 2%. Sementara itu ekspor riil, yang menyertakan perubahan harga, tergerus hingga 8,6%.

Upaya Jepang untuk bangkit dari resesi dinilai tak sesignifikan estimasi analis. Serangkaian data perekonomian masih mensinyalkan perlambatan, termasuk perusahaan yang kompak memutuskan untuk memangkas investasinya.

Pemerintah bahkan mengancam akan mengenakan pajak yang lebih besar jika perusahaan menahan belanjanya karena hal itu dipastikan berimbas buruk pada perekonomian.


Sumber : Bisnis Indonesia, 30.03.15.