04 Juli 2016

[040716.ID.BIZ] Indonesia Menuju Krisis Produksi Kopi

Jakarta. Indonesia terkenal dengan komoditas kopinya. Namun, produktivitas biji kopi terus menurun. Akibatnya, saat ini peringkat Indonesia turun menjadi nomor tiga terbesar penghasil kopi di dunia setelah digeser Vietnam yang baru mengembangkan kopi.

Di Kabupaten Bener Meriah, Aceh misalnya, merupakan salah satu daerah yang mengalami krisis kopi. Sat ini, luas perkebunan kopi di Tanah Rencong ini mencapai 46.000 hektare dimana 50% diantaranya sudah merupakan tanaman tua.

Tanaman kopi ini sudah tidak produktif lagi, padahal daerah Bener Meriah ini dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Selain menua, sebagian besar tanaman kopi juga terkena serangan hama.

"Hama bubuk buah menjadi momok buat petani dan juga jamur akar putih," ujar Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bener Meriah, Ahmad Ready, Minggu (3/7).

Penurunan produktivitas kopi sudah mulai terada si wilayah Aceh dan Sumatera Utara. Ahmad bilang, eksportir kopi saat ini kesulitan memenuhi kontrak sebesar 100 kontainer atau sekitar 2000 ton kopi setiap tahunnya ke manca negara.

Suhatsyah, Ketua Kelompok Tani Kejora Bersatu asal Kampung Suku Weh Ilang, Kabupaten Bener Meriah Aceh menambahkan, petani kopi membutuhkan dukungan pemerintah untuk meningkatkan produksinya. Petani sangat berharap bantuan pupuk khususnya pupuk organik serta penangan hama penyakit non kimiawi.

Pasalnya kopi di wilayahnya dikelola secara organik. “Kami membutuhkan bantuan bibit, karena tanaman sekarang sudah mulai menurun produksinya. Tentunya kami ingin bibit yang tahan terhadap nematode dan punya cita rasa yang baik”, kata Suhatsyah.

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno mengatakan, saat ini di Sumatera Barat mayoritas tanaman kopi telah berumur di atas 15 tahun dan beberapa diantaranya tidak terawat dengan baik. Sehingga produktivitasnya kurang dari 600 kg/ha/tahun.

Selain itu kondisi lahan juga semakin berkurang kesuburannya karena dieksplotasi tarus menerus tanpa adanya upaya konservasi lahan. “Saya mengkhawatirkan bahwa produksi ini akan terus mengalami penurunan jika tidak adanya upaya penyelamatan kopi rakyat,” risau Irwan.

Sementara itu, Gubenur NTT, Frans Lebu Raya, mengeluhkan kondisi yang sama. Produksi perkebunan kopi rakyat di NTT cenderung menurun setiap tahunnya karena sudah berumur tua. “Jika tidak diselamatnya maka produksi kopi kita akan menurun dan posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar ketiga bukan tidak mungkin merosot terus, seperti yang terjadi pada berbagai komoditas perkebunan lainnya,” papar Frans.

Begitu juga dengan Gubenur Papua, Lukas Enembe, mengharapkan adanya dukungan pemerintah untuk penyelamatan kopi nasional. Sebab kopi telah menjadi komoditas unggulan bagi masyarkat papua khususnya di daerah gunung.

Bahkan tidak ada cara yang paling tepat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pegunungan kalau tidak dengan perbaikan kopi.

Sumber : Kontan, 03.07.16.

03 Juli 2016

[030716.EN.BIZ] Ex-DHL Forwarding Chief Among Backers In French Freight Tracker Scheme

ROGER CROOK, whose IT reforms at DHL Global Forwarding failed so spectacularly, is among the backers in the EUR1.5 million into Convargo, a French freight 'disruptor" start-up.

Like the former DHL Global Forwarding's focus, Convargo's business model relates to the digitalisation of the entire transport chain from a single pallet to a full truck load, reports Lloyd's Loading List.

Convargo is planning to launch in France in September before extending the service other European countries in 2017.

Financial backers also include the founders of some of France's leading online retailers and an entrepreneur who heads a mobile phone and internet access company.

The idea is to use the latest technology to put shippers in direct contact with transporters, said the report.

"The multiplication of intermediaries creates a lack of transparency and generates additional costs to the detriment of the transporter," said Convargo's founder Maxime Legardez.

Convargo says it will offers GPS tracking, instant access to market prices, a platform for document management, 24-hour assistance and data analysis tools that optimise truck load factors, reducing operating costs.

The service will be free to freight transporters, Convargo's income being generated through commissions charged to shippers.

"Goods transport is one of the biggest sectors of the economy but is not disrupted yet and there is an enormous opportunity to seize," Mr Legardez said.

"There is a necessity to invest as thousands of companies need convincing," he said.


Source : HKSG.

[030716.ID.BIZ] Riset Ideas: Mudik Itu Mahal

Jakarta. Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS) Yusuf Wibisono menyatakan para pemudik akan lebih banyak menghabiskan dana di perjalanan mudik dibanding dengan yang dibawa ke kampung halaman.

Hal ini berdasarkan riset IDEAS bahwa selama mudik Lebaran 2016, dari total peredaran uang untuk mudik sebanyak Rp 184 triliun, hanya Rp 60 triliun saja yang bisa dibawa ke daerah.

"Jadi tidak ada setengahnya yang sampai ke keluarga di kampung. Sebagian besar habis untuk transportasi perjalanan dan biaya tak terduga lain-lain," kata Yusuf, dalam diskusi "Ekonomi Mudik dan Pelepasan Program Mudik Berkah" di Terminal Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (3/7/2016).

Nilai perkiraan tersebut menurutnya muncul dari perhitungan perputaran uang di 20 wilayah mudik secara nasional misalnya Jabodetabek, Makasar, dan kota lainnya. "Ini jelas mengindikasikan mudik itu mahal," ujar Yusuf.

Yusuf menilai, bagaimana menurunkan biaya mudik tergantung pada kebijakan pemerintah. Misalnya memulai mengembangkan transportasi berbasis rel yang lebih optimal. Sayangnya, Yusuf menilai pemerintah lebih banyak fokus pada perbaikan jalan setiap tahun saat momen Lebaran, ketimbang memulai jangka panjang untuk pembangunan transportasi berbasis rel.

"Yang paling banyak kita lihat fokusnya transportasi berbasis jalan. Merawat jalur Pantura itu proyek setiap tahun, itu entah berapa puluh kali jalan diplester. Di APBN itu triliunan angkanya, signifikan. Belum ditambah infrastruktur jalan tol yang sangat masif, seperti trans-Jawa," ujar Yusuf.

Dampak pada fokus pengembangan transportasi berbasis jalan menurutnya tidak menyelesaikan masalah. Selain menambah jumlah penggunaan kendaraan pribadi, juga menimbulkan kemacetan.

"Enggak pernah menyelesaikan masalah mudik, mudik jadi macet, biaya mahal, pemudik semakin banyak gunakan kendaraan pribadi. Menurut saya kita harus berpindah ke transportasi berbasis rel yang kami pandang membuat mudik jauh lebih murah dan aman, biaya yang ada akan lebih terpangkas," ujar Yusuf.


Sumber : Kontan, 03.07.16.

02 Juli 2016

[020716.EN.BIZ] CMA CGM's Purchase of NOL-APL Has Domino Effect On Alliances

FOLLOWING last month's approval by the European Commission (EC) for CMA CGM to acquire NOL-APL, the last step in the privatisation is for the French line to buy outstanding shares of NOL's total stock - 90 per cent of the whole.

At this stage, Marseilles-based CMA CGM has purchased 78 per cent of NOL in a US$2.4 billion cash deal with state-controlled Temasek Holdings of Singapore.

Pledging to move its Southeast Asian operations from Port Kelang and Tanjung Pelepas Malaysia to new mega berths at PSA's Pasir Panjang Terminal, CMA CGM has also agreed to relocate its Asian headquarters from Hong Kong to Singapore, reports the American Journal of Transportation.

The joint venture called CMA CGM-PSA Lion Terminal Pte Ltd (CPLT) will begin operating later this year as containers and equipment are transferred.

As part of its concession to the EC and Chinese regulatory bodies CMA CGM has withdrawn APL from the G-6 alliance and plans to form the new Ocean Alliance next year with Cosco, OOCL and Evergreen.

Together the Ocean Alliance would control 1,123 container ships with 5.5 million TEU of capacity and an additional 104 vessels and 1.3 million TEU on order, according to Alphaliner data.

OOCL will also be forced to withdraw from the G-6 all but destroying the alliance's infrastructure. Reformation of the remaining four carriers with the addition of "K" Line, Yang Ming, Hanjin and possibly UASC will form The Alliance, scheduled to begin operations next year.

The formation of new consortia in the coming year will bring challenges to both the Ocean Alliance and THE Alliance.

Trading partners, all of whom have their own joint ventures in ships, terminals and equipment, will have to work together to share resources and draw on each other's strengths to survive.


Source : HKSG.

[020716.ID.BIZ] PP Holding BUMN Tak Atur Penggabungan Pertagas dan PGN

Jakarta-Peraturan Pemerintah (PP) tentang holding BUMN Migas yang sedang dirancang, tidak mengatur penggabungkan antara anak usaha Pertamina yakni Pertamina Gas (Pertagas) dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Penegasan itu disampaikan Deputi Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Aloysius K Ro di Jakarta, Jumat (1/7).

Ia mengatakan, PP tentang pembentukan holding BUMN nantinya tidak akan mengatur tentang mekanisme terkait penggabungan antara PGN dengan Pertagas. Alasannya, lanjut Aloysius, karena mekanisme tersebut murni aksi korporasi oleh Pertamina. Dengan demikian, semua diserahkan kepada Pertamina. Jika Pertamina memang menolak penggabungan tersebut, tentu penggabungan Pertagas dan PGN tidak akan terjadi.

"Itu corporate action. PP itu hanya soal saham negara. Kalau Pertagas karena tidak ada saham negara, adanya saham Pertamina ya itu aksi korprasi. Mau inbreng, mau right issue silakan," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Di sisi lain, banyak pihak mendukung agar pembentukan holding segera direalisasikan. Antara lain seperti disampaikan Direktur Eksekutif Center for Energy Policy M Kholid Syeirazi. Menurutnya, selain meningkatkan sisi finansial, juga akan membuat tata kelola lebih baik, karena BUMN yang ada saat ini akan menjadi lebih solid dan sinkron. Dampaknya, akan membuat energi tanah air lebih berdaulat.

Kondisi demikian tentu berbeda dibandingkan saat ini. Menurut Kholid, selama ini tidak ada kendali komando sehingga BUMN sering jalan sendiri-sendiri dan terjadi persinggungan. "Jadi, ibarat orkestra, holding bisa bertindak sebagai konduktor yang menyelaraskan musik," kata Kholid.

Dampak tidak solidnya BUMN, menurut Kholid, sangat luar biasa. Salah satunya, adalah mahalnya harga gas di tanah air, dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam.

Sumber : BeritaSatu, 01.07.16.

01 Juli 2016

[010716.ID.BIZ] Evergreen Hengkang Dari Bisnis Benang

JAKARTA. Perusahaan benang PT Evergreen Invesco Tbk tak mau lama-lama merana dalam keterpurukan. Usai menghentikan kegiatan operasi pabrik pemintalan kapas di Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur pada April 2016 lalu, kini Evergreen mencari sumber pendapatan lain.

Salah satu sumber pendapatan yang digarap Evergreen adalah bisnis pergudangan. "Kami mengubah lini bisnis jadi pergudangan karena prospeknya bagus," kata Wiwi Novianti, Sekretaris Perusahaan Evergreen Invesco kepada KONTAN, Kamis (30/6).

Di bisnis gudang, Evergreen mempercayakan ke anak usaha PT Tristate Indonesia.

"Revenue kami pasti turun, tapi bisnis pergudangan biayanya rendah dengan profitnya tinggi. Berbeda dengan benang revenuenya besar tapi profitnya kecil," tambah Franklin William Kayhatu, Komisaris Utama Evergreen Invesco.

Sejak November 2015, Evergreen telah menyewakan gudang seluas 13.000 meter persegi (m²) kepada PT Coca-Cola Amatil Indonesia. Gudang tersebut mereka sewakan seharga Rp 35.200 per m² per bulan.

Adapun saat ini, perusahaan memiliki bangunan seluas 42.000 m² di atas lahan 10 hektare (ha). Sekitar 50% dari bangunan tersebut berupa kompleks gudang.

Supaya kontribusi bisnis gudang bisa mendulang lebih banyak, Evergreen berencana merenovasi gudang. "Kalau ada biaya, kami akan mempertinggi gudang," jelasnya.

Meski di bisnis benang, Evergreen tak lagi mengoperasikan pabrik, namun Evergreen masih memiliki stok benang sebanyak 11.000 bal senilai Rp 53 miliar.

Evergreen memiliki dua anak usaha yakni PT Tristate Indonesia dan PT Pacific Multi Industri. PT Tristate Indonesia berbisnis pergudangan, sementara PT Pacific Multi Industri berbisnis benang yang tak lagi beroperasi.

Saat ini Franklin belum bisa memastikan, apakah akan melanjutkan bisnis benangnya atau tidak.

"September nanti kami ambil keputusan, apakah berhenti operasi atau dilanjutkan lagi," jelas dia.

Seandainya operasional PT Pacific Multi Industri dioperasikan lagi, bakal ada pergantian jenis benang yang diproduksi. Pertimbangannya adalah, memproduksi benang yang bisa laris di pasaran.

Merujuk laporan keuangan, Evergreen rugi Rp 11,06 miliar sepanjang 2015. Pendapatannya juga turun 9,15% menjadi Rp 113,8 miliar ketimbang tahun sebelumnya Rp 125,27 miliar.
Penurunan pendapatan karena turunnya penjualan kapas 40% dari Rp 24, 99 miliar tahun 2014 menjadi Rp 97,42 miliar di 2015.

Selain tertekan ekonomi global dan maraknya produk China, masalah Evergreen diperparah dengan kenaikan tarif listrik.

Di samping itu, permintaan benang juga menyusut. Krisis tersebut membuat Evergreen memangkas pekerja dari 500 orang menjadi 13 orang.

"Karyawan kami rumahkan bertahap sejak September 2015," kata Wiwi Novianti, Sekretaris Perusahaan Evergreen Invesco.

Sumber : Kontan, 01.07.16.

[010716.EN.BIZ] Hamburg's Hapag-Lloyd Agrees To Merger Deal With Dubai's UASC

GERMANY's Hapag-Lloyd, the world's No 6 container carrier, has agreed to merge with United Arab Shipping Company (UASC), the world 11th biggest, making the Hamburg carrier the fifth largest in the world once the deal is done.

With the approval of the Hapag board, the deal was made on Tuesday with Dubai's UASC on a merger that was termed a "business combination agreement", and one which would provide for the contribution of all shares in UASC to Hapag-Lloyd.

The combined companies are seen as a good match because of UASC's strong presence in the Middle East where Hapag-Lloyd currently depends on agents, reports American Shipper.

UASC shareholders, which consist of six countries in the Middle East, would become major shareholders in a long established global container carrier.

UASC has been an aggressive builder of large new ships, and a combination will increase the tonnage of the newly formed company, but do little to ameliorate the over capacity afflicting the sector.

The transaction is based on valuations that would give Hapag shareholders 72 per cent ownership of the whole, and holders of UASC the rest. The combined company will be worth around US$9 billion, people involved in the merger said.

The talks come amid a wave of consolidation sweeping the container shipping industry, which is squeezed by overcapacity, slowing global growth and plummeting freight rates.

Amid those turbulent waters, a number of big companies in recent years have combined forces to cut costs and increase competitiveness, reports Bloomberg News.

At the same time, operators have been scrambling to form alliances, broad operational partnerships that have allowed them to cut costs without a full-blown merger or takeover, reports the Wall Street Journal.

UASC is owned by the governments of Qatar, Saudi Arabia, Kuwait and the United Arab Emirates. Qatar has 51 per cent and Saudi Arabia 35 per cent.

A merger would provide Hapag-Lloyd access to UASC's six Triple-E's, part of the world's biggest class of containerships, costing $150 million each, can move more than 18,000 TEU at a time.

UASC primarily operates in the Asia-to-Europe trade route, and a merger with Hapag would give it wider access to the transatlantic and transpacific loops.


Source : HKSG.