16 Februari 2011

[160211.ID.BIZ] Pemeriksaan Di Merak Lebih Lama 20 Menit

JAKARTA: Antrean kendaraan di Pelabuhan Merak, Provinsi Banten yang sempat menembus hingga 13 KM dalam sepekan terakhir dipicu oleh pengetatan pendataan muatan kapal baik penumpang orang maupun kendaraan.

Kebijakan yang ditempuh menyusul terbakarnya kapal penyeberangan KMP Laut Teduh 2 berdampak kepada molornya kegiatan bongkar muat kapal  hingga 20 menit yakni dari rata-rata 60 menit di waktu normal, naik menjadi 80 menit.

Ketua Dewan Pengurus Cabang Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Merak Togar Napitupulu mengatakan lintas penyeberangan Merak--Bakauheni tidak kekurangan kapal.
Menurut dia, pemicu utama kendaraan menumpuk di Pelabuhan Merak dan mengular hingga Tol Merak adalah pengetatan pencatatan dan pemeriksaan muatan kapal, baik penumpang orang maupun kapal.

Dia menjelaskan pengetatan itu dilakukan menyusul terbakarnya kapal KMP Laut Teduh 2. "Pengetatan itu menyebabkan waktu bongkar muat bertambah 20 menit dari biasanya," katanya kepada Bisnis, hari ini.

Sistem baru ini, katanya, dilaksanakan dengan mewajibkan semua penumpang orang mengisi dokumen data diri atau muatan jika penumpang itu membawa kendaraan barang.

Kebijakan yang sebelumnya tidak diberlakukan secara ketat itu menyebabkan pengguna jasa memerlukan tambahan waktu dalam mengisinya. "Masa transisi itu sudah lewat sejak malam kemarin," ujarnya.

Hingga siang kemarin, proses bongkar muat kendaraan di pelabuhan penyeberangan Merak--Bakauheni kembali normal yakni selama 60 menit sehingga jumlah truk yang mengantre berkurang secara signifikan.

Pada  pukul 15.00, kendaraan yang sebelumnya mengular hingga Tol Merak sudah berkurang secara signifikan, bahkan masuk ke dermaga. "Situasinya sudah normal. Semua kendaraan ada dipuntu dermaga," katanya.

Bisnis sebelumnya memberitakan terbatasnya kapal yang beroperasi di lintas penyeberangan Merak—Bakauheni akibat 7 unit harus masuk perawatan rutin (dock) dan tiga lainnya rusak berat diduga menjadi pemicu tertahannya ratusan kendaraan di Merak dalam sepekan terakhir.

Kepala Cabang Merak PT ASDP Indonesia Ferry Tedja Suprana mengatakan saat ini di lintasan Merak—Bakauheni hanya bisa dioperasikan 22 unit kapal karena tujuh unit harus dock dan tiga lainnya rusak. Total kapal, katanya, ada 32 unit.

Dia menjelaskan lalu lintas kendaraan yang akan menyeberang dari Merak menuju Bakauheni melonjak secara signifikan dalam sepekan terakhir sehingga memicu terjadinya antrian panjang di Merak.

Tedja menambahkan pihaknya sudah mengerahkan semua kapal yang bisa dioperasikan untuk mengangkut kendaraan dari Merak ke Bakauheni. “Tetapi volume kendaraan yang menyeberang memang diluar prediksi,” ujarnya. (sut)

Sumber : Bisnis Indonesia, 16.02.11.

15 Februari 2011

[150211.EN.LAN] South African Truckers 'To Strike' If 20pc Wage Hike Rebuffed

SOUTH Africa's four trucking unions, representing half of 65,000 transport workers, threaten strike action if demands for a 20 per cent wage increase is rejected by employers.

The Transport Workers Union, the Professional Transport Workers Union and the Transport and Allied Workers Union are demanding wage increases, shorter working hours and a ban on labour brokers from the owners' Road Freight Employers' Association (REFA).

Despite the employers' offer of a 7.5 per cent increase this year, and 7.5 per cent next, the union wants more and its demands extend to housing allowances, extending its bargaining unit coverage to other trades and a ban on labour brokers.

Said the employers in a court filing against the union: "We are not trying to prevent the strike but eliminate from the process the three issues that we believe may not be part of the strike action."

AP Moller-Maersk's unit Safmarine plays down fears of transport disruption as up to 80 per cent of its cargo moves by rail, and it believes short-haul cargo will bear the brunt of a strike.

But Johannesburg Econometrix analyst Frank Beeton said in a report from Boston's Christian Science Monitor that trucking is fundamental to the country's transport as 100 per cent of goods are carried by trucks at some stage in the supply chain.

"This could be crippling for South Africa, but it is impossible to predict until we get a sense of whether this strike goes forward and how widely it is spread," he added.
Source : HKSG.

[150211.ID.LOG] Cetak Biru Transportasi Multimoda Tuntas

JAKARTA: Kementerian Perhubungan diketahui telah menyelesaikan cetak biru transportasi multimoda sebagai panduan untuk mengintegrasikan moda transportasi nasional guna mendukung kelancaran arus barang.

Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskom) Kemenhub Bambang S. Ervan mengatakan saat ini cetak biru transportasi multimoda telah ditandatangani oleh presiden dan diharapkan dapat segera diimplementasikan dalam waktu dekat.

“Cetak biru sudah ditandatangani oleh presiden, tinggal menunggu proses administrasi dan kemudian dapat segera dilaksanakan," ujarnya kepada Bisnis hari ini.

Menurut Bambang, cetak biru transportasi tersebut telah disinkronisasi dengan cetak biru logistik nasional. Kata dia, cetak biru transportasi dibuat sebagai dukungan terciptanya sistem logistik yang terintegrasi menjelang Asean Economic Community (AEC) pada 2015.

“Menghadapi AEC pada 2015 nanti, maka cetak biru transportasi dibuat memperkuat sektor logistik agar perusahaan Indonesia tidak kalah bersaing dengan perusahaan asing,” paparnya.
Pemerintah akan memfokuskan pembangunan infrastruktur arus barang di 25 pelabuhan, tujuh terminal khusus kelapa sawit (CPO) dan batu bara, 11 bandara kargo, dan penataan transportasi perkotaan di 9 kota.

“Pengintegrasian berbagai moda angkutan tersebut diharapkan dapat menghubungkan simpul-simpul transportasi yang menjadi pusat kegiatan ekonomi,” kata Bambang.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Forwarder dan Ekspedisi Indonesia (Gafeksi) Nasional Zulkarnain mengatakan sistem transportasi multimoda mendesak untuk diterapkan, sebab kelemahan sektor ini menyebabkan arus barang domestik dan internasional tersumbat.

Berdasarkan catatan Badan Pembangunan dan Perencanaan Nasional (Bappenas), moda transportasi melalui jalan melayani 90,4% angkutan barang, sedangkan laut 7,3%, dan kereta api hanya 0,6%. (arh)

Sumber : Bisnis Indonesia, 15.02.11.

14 Februari 2011

[140211.EN.SEA] Portek First Half Profit Up 21pc To US$5.68 Million

SINGAPORE's Portek, terminal operator and provider of port equipment, increased net profit 21 per cent to S$7.3 million (US$5.68 million) in the first half of fiscal year 2011 ending December 31.

Despite the impact of the strong Singapore dollar against the US dollar, especially felt in the port operations and management unit (POM), revenues across the group's terminals were up in local currency terms, outside of one terminal in Indonesia.

Its overall container throughput from terminals in Indonesia, Algeria, Malta and Gabon was up 0.5 per cent year on year to 390,000 TEU, driven down by its losses in Indonesia.

The group's focus on operating efficiency in its port operations and management has created an EBITDA of S$19.0 million, up 5.6 per cent, drawn on revenues of S$65.7 million.

Portek is cautiously optimistic of improved business prospects for its core businesses of POM, Engineering and Port IT & Automation and will seek selective expansion opportunities, said the company in its financial statement.
Source : HKSG, 14.02.11.

[140211.ID.SEA] Indonesia : Perlu Alternatif Revisi UU Pelayaran

JAKARTA: Operator angkutan laut meminta pemerintah menyiapkan alternatif selain revisi UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran mengingat banyaknya investasi yang telah ditanam pelayaran nasional. Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA) Paulis A. Djohan mengatakan nilai investasi yang sudah ditanamkan oleh pengusaha nasional sangat besar.

Menurut dia, kondisi itu tercermin dari pertumbuhan jumlah armada niaga nasional yang menembus angka 60% lebih selama lima tahun terakhir. "Kasihan pelaku usaha nasional yang sudah investasi di pelayaran," katanya hari ini.

Dia menjelaskan sikap organisasinya sudah jelas yakno menolak revisi UU Pelayaran dan mengusulkan sejumlah alternatif dalam rangka menjaga kepentingan nasional yang lebih tinggi.

Sejauh ini, pemerintah belum membahas opsi lain selain merevisi atas UU No. 17 tahun 2008 tentang Pelayaran terkait kurangnya pasokan kapal penunjang kegiatan lepas pantai kelompok C. 

Pemerintah juga tetap mengklaim pengusaha dan perusahaan pelayaran nasional belum mampu menyediakan kapal offshore kelompok C meskipun sejumlah perusahaan pelayaran dan pengusaha nasional sudah mulai melakukannya. (ln)

Sumber : Bisnis Indonesia, 14.02.11.

13 Februari 2011

[130211.EN.SEA] Indians Bag 28 Pirates In Black Comedy Of Pirate Errors

THE Indian navy and coast guard captured 28 pirates after an exchange of fire only days after they had seized another 15 pirates, rescuing 24 Thai fishermen, whose vessel had been captured and used as a pirate mothership. 

The 28 men surrendered off Kavaratti, 185 kilometres off the south eastern tip of India after warning shots were fired shortly after the pirates mistakenly attempted to hijack the warship having been unable to board their erstwhile prey, the quick manoeuvring Greek-flagged geared cargo ship MV Chios. 

India's Southern Naval Command said its Dornier aircraft first spotted pirate skiffs alongside its mothership after which the Indian training vessel, the 3,200-ton frigate INS Tir, set out in pursuit, later joined by the coast guard offshore patrol vessel CGS Samar.

"On the order 'stop and prepare to be boarded', the pirates in the skiffs opened fire. After identifying the mother vessel as Prantalay 11, a Thai fishing boat, the [navy and coast guard] ships ordered it to stop. However, the pirates fired yet again, upon which the navy and coast guard opened fire for effect. The pirates immediately signalled their intention to surrender by hoisting a white flag," said the navy statement.

But the Mumbai Mirror reported that the task was made much easier after the pirates mistook the coast guard vessel on anti-piracy patrol for a small merchantman and attacked it.

"The pirates, riding high-speed skiffs, started firing at the coast guard believing it to be a potential target, but were neutralised by a joint team of Indian Navy and Coast Guard after high drama," said a coast guard officer, according to the Mumbai Mirror.

"The MV Chios could have been hijacked at any moment given that the pirates were dangerously close to it and we weren't," said the guard officer. "The captain, however, managed to hold them off with smart manoeuvring."

Meanwhile, the warships INS Tir and the CGS Samar, reached the area mentioned in Chios's SOS, but were unable to find the ship or the pirates.

By this time, the pirates - frustrated at being thwarted by the evasive Chios - had set off to hunt for easier prey. "Having failed to hijack Chios, the pirates were desperate to trap another ship and mistook the Samar for a merchantman.

"Even as we were trying to trace them, they came trailing us on two skiffs and attacked us. It was a stupid mistake. It was then we started returning fire and they realised they attacked the wrong ship," said a coast guard official.

The 28 pirates were then taken aboard the Samar which set off for Mumbai, together with the rescued Thai fishermen, whose vessel had been seized.

This occurred days after the Indian navy intercepted another Thai fishing vessel, the Prantalay, which had been seized by pirates and deployed as a mothership from which to launch skiff attacks.

The navy said the Prantalay had been operating against shipping for months and had carried out several attacks. The Prantalay, along with 15 pirates and 20 fishermen hostages, were taken after a failed attack on the 4,390-TEU CMA CGM Verdi. 

Source : HKSG, 12.02.11.

[130211.ID.SEA] Mitra Pelabuhan Priok Bahas Ulang Tarif Over Brengen

JAKARTA: Penyedia dan pengguna jasa pelabuhan mengevaluasi ulang penyesuaian tarif pindah lokasi penumpukan peti kemas impor atau over brengen di Pelabuhan Tanjung Priok.

Sofyan Pane, Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta, yang dahulu dikenal Gabungan Perusahaan Forwarder,Logistik dan ekspedisi Indonesia (Gafeksi),  mengatakan pembahasan ulang penyesuaian tarif tersebut dilakukan sore hari ini oleh PT Pelindo II selaku operator Pelabuhan Tanjung Priok.

Pertemuan tertutup ini melibatkan Organda Angkutan Khusus Pelabuhan (Angsuspel) DKI, Asosiasi Pengusaha Tempat Penimbunan Sementara Indonesia (Aptesindo), ALFI DKI Jakarta, dan Gabungan Importir Nasional Indonesia (Ginsi), serta melibatkan Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok.

"Semangatnya agar tarif Over brengen jangan sampai memberatkan pemilik barang dan menimbulkan beban biaya logistik di pelabuhan," ujarnya kepada Bisnis sebelum pertemuan itu.

Hambar Wiyadi, Juru Bicara Pelindo II, membenarkan adanya pertemuan penyesuaian tarif over brengen yang melibatkan seluruh asosiasi di pelabuhan Priok tersebut.

"Masih berlangsung, nanti hasilnya saya update," ujarnya melalui pesan singkat kepada Bisnis.

Sebelumnya pada 26 Januari 2011, sejumlah penyedia dan pengguna jasa juga sudah menyepakati evaluasi terhadap sistem, mekanisme, dan tarif kegiatan pindah lokasi penumpukan peti kemas atau over brengen di Pelabuhan Tanjung Priok.

Pertemuan koordinasi antara direksi PT Pelabuhan Indonesia II, pengelola terminal peti kemas di Pelabuhan Priok, pengusaha tempat penimbunan sementara (TPS) di Pelabuhan Tanjung Priok, dan Dewan Pemakai Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo).

Pertemuan itu menyepakati a.l. penurunan tarif over brengen sebesar 21,7% dan berlaku terhitung mulai 1 Februari 2011.

Tarif paket OB (moving dan gerakan) yang sebelumnya Rp1,15juta per bok untuk peti kemas ukuran 20 kaki turun menjadi Rp900.000/bok, sedangkan untuk peti kemas 40 kaki yang sebelumnya Rp1,45 juta per bok menjadi Rp1,1 juta per bok. (arh)

Sumber : Bisnis Indonesia, 10.02.11.