16 Juni 2011

[160611.ID.AIR] Kalstar Buka Rute Jakarta-Sampit

JAKARTA: Maskapai penerbangan, Kalstar Aviation, melakukan terbang perdana di rute Jakarta-Sampit pulang pergi mulai hari ini dengan mengoperasikan pesawat Boeing 737-500.

Pesawat berkapasitas 126 orang penumpang ini ke depan juga diarahkan untuk melayani rute Pangkalan Bun-Semarang, Pangkalan Bun-Surabaya, dan Sampit-Surabaya.

Rute baru ini melanjutkan ekspansi maskapai yang menguasai 70% pangsa pasar penerbangan di Kalimantan ini ke Pulau Jawa setelah sebelumnya membuka jalur Jakarta-Pontianak pulang pergi pada bulan lalu.

Asisten Direktur Utama Kalstar Aviation Yonnedi optimistis ekspansi maskapai ke PUlau Jawa dapat menguasai sedikitnya 20% pangsa pasar penumpang ke Kalimantan.

Di rute Jakarta-Pontianak sendiri, lanjut dia, Kalstar optimistis mengisi pesawat dengan load factor hingga 60% pada awal dibukanya rute tersebut.

Armada Boeing 737-500 merupakan pesawat Boeing kedua setelah sebelumnya Kalstar mengoperasikan 737-300 di rute Jakarta-Pontianak-Kuching.

Dalam penerbangan perdana ke Bandara Haji Asan Sampit hari ini, pesawat Kalstar membawa penumpang 46 orang, termasuk Yonnedi, dan pemilik pesawat Andi Masyhur.

Dua Boeing yang dioperasikan Kalstar, lanjut Yonnedi, menambah armada komuter berupa pesawat ATR-42.
"Sampai dengan tahun depan kami optimistis dapat memenuhi ketentuan pemerintah untuk minimal mengoperasikan lima unit pesawat milik, dan lima unit sewa," tegas Yonnedi. (arh)

Sumber : Bisnis Indonesia, 16.06.11.

15 Juni 2011

[150611.EN.SEA] Horizon Rescued After Refinancing Deal With Bond Holders

HORIZON Lines, United States' largest domestic ocean carrier, said it has won consent of bondholders of US$330 million in the issue of 4.25 per cent convertible senior notes to re-capitalise the business.

This announcement came just as Horizon was threatened with delisting from the New York Stock Exchange because of substandard capitalisation and stockholder equity. The troubled company was put into desperate straits because of a $15 million price fixing fine, which the US Justice Department had reduced from $45 million.

Horizon's current debt structure consists of a $225 million senior secured revolving credit facility, a $125 million secured term loan, and $330 million of unsecured 4.25 per cent convertible senior notes, said a company statement.

The refinancing scheme enables bondholders the exchange of the notes for $200 million in six per cent convertible secured notes, and to have a cash payment of $80 million plus 38.5 million shares of common stock - 56 per cent of the company's outstanding stock.

"Re-capitalisation will eliminate the refinancing risk related to the maturity of the existing convertible notes and the existing bank debt in 2012, and will provide liquidity to fund continued operations," said the company. 
Source : HKSG.

[150611.ID.SEA] Prakualifikasi Proyek Terminal Kalibaru Dibuka

JAKARTA: Kementerian Perhubungan (Kemenhub) hari ini resmi mengumumkan prakualifikasi tender pembangunan Terminal Kalibaru Utara, Pelabuhan Tanjung Priok senilai total Rp11,7 triliun.

Kemal Heryandi, Direktur Pelabuhan dan Pengerukan Ditjen Perhubungan Laut Kemenhub mengatakan, prakualifikasi sudah diumumkan hari ini.

“Tanggal 17 Juni, investor mengambil dokumen,” katanya kepada Bisnis sore ini.

Dia menjelaskan setelah diumumkan, pihaknya akan mengundang para calon investor yang mendaftar untuk menjelaskan tender prakulifikasinya. “Ini baru PQ [prakualifikasi], masih jauh proses menuju pemenang,” tegasnya.

Pihaknya optimistis proyek pengembangan pelabuhan Tanjung Priok akan diminati oleh kalangan investor, baik dalam negeri maupun luar negeri meskipun nilainya menembus Rp11,7 triliun.

Berdasarkan data Kemenhub, biaya pembangunan Terminal Utara Kalibaru tahap I sendiri telah membengkak lebih dari 25% menjadi Rp11,7 triliun dari perkiraan awal sebesar Rp8,8 triliun.

Keputusan Menteri Perhubungan (KM) No.42/2011 tentang Rencana Induk Teluk Jakarta pada 7 April 2011 menyebutkan nilai proyek itu meningkat Rp2,9 triliun dari perhitungan awal sebesar Rp8,8 triliun.

Pembengkakan itu terjadi menyusul bergesernya penetapan titik lokasi terminal peti kemas yang akan dibangun serta adanya penambahan biaya infrastruktur berupa jembatan sena kegiatan pengerukan alur timur Pelabuhan 
Tanjung Priok.

Kemenhub ingin menghidupkan alur pelayaran di timur Pelabuhan Tanjung Priok sebagai alur alternatif untuk mengantisipasi insiden, seperti kebakaran dan menambah jembatan layang sejauh 700 meter. (sut)

Sumber : Bisnis Indonesia, 15.06.11.


13 Juni 2011

[130611.EN.SEA] Some Carriers Say Bigger Is Better, But Is It True in Today’s Market?

IT was not so long ago that we were marvelling over the fact that carriers were beginning to place orders for vessels with a nominal capacity of 14,000 TEU in a bid to achieve greater economies of scale. 
The move led many to question just how big vessels will get in the future and at what size beyond 14,000 TEU would be too much. 
One thing we can say with certainty is that 18,000 TEU is not considered too big, at least for the industry’s largest player, Maersk Line, which to date has ordered 10 of these vessels and will reportedly exercise its option to purchase another 10 by June of this year. 
It seems as if bigger is more beautiful in the container shipping industry. At least that appears to be the general perception among carriers. Even lines that at one time said they would never invest in capacity beyond 10,000 TEU are now beginning to come around. 
Today in The Container Shipping Manager we will take a deeper look into the question of whether bigger is more beautiful in the current market where bunker prices are high and freight rates are depressed and there are growing fears of overcapacity in the market…
In order to get an understanding of whether size matters in the current market we will look at the charter market and compare the costs of operating the various vessel sizes most commonly found in the sector. 

The above graph shows the index time charter rate for all time charter vessel sizes combined. 
As we can see, the index was in free fall towards the end of 2008 all the way through to the end of 2009 where it reached its trough. 
As we have seen in previous studies of the time charter market, we know that time charter rates continued to plummet even as freight rates were beginning to pick up again. 
Since hitting rock bottom, time charter rates have been steadily increasing since then, at least up until the third quarter of last year before a brief period of correction, after which time it rose again. This latest hike has come as freight 
rates have been trending down. 


Source : CMS, 25.04.11.

[130611.ID.LOG] Pelindo & Organda Tak Kompak Soal Pembatasan Truk

JAKARTA: PT Pelindo II dan Organda tidak kompak menanggapi keputusan pemerintah yang menetapkan pembatasan truk masuk tol dalam kota dibuat menjadi permanen.

Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) menerima keputusan itu, namun dengan catatan pemerintah harus memberi kompensasi atas kenaikan biaya logistik yang terjadi akibat truk harus memutar jalan sehingga mendongkrak biaya pengiriman.

Pelindo II menilai kompensasi kurang perlu karena dampak pembatasan tidak besar terhadap ongkos angkut dan kinerja di pelabuhan.

Ketua Umum Organda Eka Sari Lorena Surbakti mengatakan pada saat rapat koordinasi di kantor Menko Perekonomian pada Jumat lalu, pihaknya memberi sejumlah masukan, salah satunya agar pemerintah memberikan kompensasi berupa insentif fiskal kepada para operator angkutan umum barang agar mereka para operator mampu meremajakan kendaraan serta mampu beroperasi secara efektif.

“Kami juga minta agar pemerintah memberikan subsidi kepada angkutan umum publik agar ada keberpihakan kepada angkutan umum apabila ingin mengurangi kemacetan secara benar," katanya hari ini.

Eka mengatakan info Kadishub DKI Jakarta bahwa ada manfaat dengan diaturnya jam operasional truk di tol Cawang—Semanggi—Pluit, terjadi  penghematan BBM kendaraan pribadi.

"Maka artinya dana tersebut bisa diperbantukan untuk angkutan barang umum yang tiap hari terkena extra cost Rp6,8 miliar per hari karena pengaturan tol Cawang—Pluit yang kerugian setahunnya hampir Rp3 triliun. Ini memberi potensi kenaikan ongkos angkutan barang sebesar 20%-30%," tutur dia.

Dengan demikian, lanjut Eka, kompensasi untuk operator angkutan truk harus sebesar potensi kenaikan ongkos angkutan barang yakni sebesar 20%-30%. Kompensasi ini berlaku untuk jangka panjang sebagai bentuk peningkatan peran serta pemerintah agar biaya logistik tidak menjadi mahal tetapi operator tidak menikmatinya.

Rapat koordinasi antara Menko Perekonomian, Menteri Perhubungan, Organda, Pemda DKI, Dishub DKI, Korlantas Polri, Dirlantas Polda Metro Jaya, Bupati Tangerang dan Tangsel, dan Bupati Bekasi pada Jumat, 10 juni 2011, memutuskan membuat permanen kebijakan pembatasan truk masuk tol dalam kota yang sudah berlaku sejak awal Mei 2011 yakni saat berlangsungnya KTT Asean di Jakarta.

Truk hanya dibatasi memasuki tol Cawang—Semanggi—Pluit pada pukul 22.00-05.00 WIB setiap harinya. Kebijakan ini akan dipermanenkan melalui keputusan menteri perhubungan.

Eka mengatakan Organda juga memberikan masukan berupa saran guna mengatasi kemacetan dan masalah transportasi lainnya di Jakarta yakni, segera selesaikan tol JORR W2 dan E2.

Revitalisasi angkutan umum secara komprehensif sesegera mungkin, kendaraan pribadi yang paling banyak menggunakan ruas jalan di Jakarta harus diatur bukan hanya kendaraan angkutan barang yang memegang peranan besar dalam perekonomian di Tanah Air.

"Masukan lainnya yakni truk yang overload agar ditindak sesuai hukum yang berlaku. Jam operasi di ruas tol Cawang-Pluit pagi dan sore itu diatur oleh pihak kepolisian sesuai keadaan dilapangan," kata Eka.

Ketua Organda khusus angkutan Pelabuhan Tanjung Priok (Ansguspel) Gemilang Tarigan mengatakan permanennya pembatasan truk masuk tol dalam kota ini harus segera disertai pemberian kompensasi kepada opetator truk berupa fasilitas keringanan bea masuk atas impor mobil yang akan diremajakan dan bea masuk atas pembelian ban dan suku cadang.

"Kalau permintaan kompensasi kami ini tidak diindahkan, akan menyebabkan ekonomi biaya tinggi karena kami sudah naikkan ongkos angkut, akan berdampak pada inflasi," kata dia. (sut)

Sumber : Bisnis Indonesia, 12.06.11 (Maaf, hari Minggu kemarin 12/06 ngga sempat kliping karena kondangan di beberapa tempat dan nglembur h3 3x).



11 Juni 2011

[110611.EN.AIR] DHL, UN Development Programme Run Airport Disaster Prevention Training

DEUTSCHE POST DHL and the United Nations Development Programme are conducting their "Get Airports Ready for Disaster" (GARD) training this month at the Dhaka and Chittagong airports in Bangladesh.

The aim of the training is to improve local logistics capacities so that bottlenecks at disaster-site airports can be avoided when huge volumes of incoming relief goods arrive ad hoc. This is the third country that has undergone such training after Indonesia and Nepal since the programme was launched in 2009. 

During the four-day programme trainees - airport staff as well as local and government officials - will learn to assess local requirements and create detailed contingency plans.

"We've gathered enough experience in disaster relief to know that efficient airport logistics are critical when it comes to getting aid to the people who need it most," says Frank Appel, CEO Deutsche Post DHL. "The GARD initiative allows us to pass on our logistics expertise to local communities in disaster-free times. This way GARD is a smart addition to our regular disaster management activities following natural disasters."

The GARD instructors are specially trained logistics and training experts from Deutsche Post DHL, some of whom are already involved as volunteers in the company's disaster management programme. Trainees include not only airport personnel but security officers and military officials. Representatives from various humanitarian organisations, such as the UN World Food Programme and the International Committee of the Red Cross (ICRC) are also present as important partners on the ground.

"For many across the globe, Bangladesh is synonymous with disasters. Yet the country has a strong tradition of resilience in the face of natural hazards, and is now recognised as a leader in disaster management," says Robert Juhkam, country director, UNDP Bangladesh. 

"UNDP has been working hand-in-hand with Government of Bangladesh since the early 1990s on building disaster management capacity and a key player in coordinating emergency response and preparedness efforts. The importance of airports during the immediate aftermath of a disaster event cannot be understated."

Source : HKSG, 11.06.06.

[110611.ID.SEA] Freddy: Pembajakan Harus Ditangani Bersama

JAKARTA: Pemerintah akan mengusulkan upaya penanganan pembajakan di laut dilakukan bersama-sama seluruh negara anggota Organisasi Maritim Internasional (IMO). Aksi pembajakan telah merugikan dunia sebesar US$8 miliar-US$12 miliar.

"Pelaut makin resah dengan pembajakan di perairan Somalia. Bagaimana caranya negara-negara anggota IMO bersama-sama selamatkan pelaut dari pembajakan," kata Menhub Freddy Numberi saat membuka acara National Conference on the Implementation of BMP3 hari ini.

Dia mengungkapkan PBB memberi mandat bahwa kalau semua negara anggota IMO harus melawan pembajak ini untuk mengamankan kapal. "Di lapangan kita melihat banyak organisasi yang dibentuk untuk mengamankan, tetapi dilakukan secara terpisah, tidak terkoordinasi penuh," tuturnya.

Menhub menambahkan langkah-langkah berupa tindakan nyata belum terlihat untuk mengatasi pembajakan ini. PBB sudah mengeluarkan enam resolusi yakni negara-negara anggota harus bekerja sama mengatasi pembajakan.

"Kami akan beri masukan ke IMO untuk membuat langkah bersama. Kesadaran mereka kita bangun, tetapi disisi lain perlu langkah bersama untuk mengatasi pembajakan," tutur Freddy.

Menurut dia, sebagai langkah awal untuk menangani pembajakan laut khususnya oleh perompak Somalia, diperkenalkan praktek manajemen industri terbaik (Best Management Practices to Deter Piracy off the Coast of Somalia and the Arabian Sea Area/BMP3).

BMP3 ini bertujuan untuk membantu kapal-kapal menghindari, mencegah atau memperlambat serangan bajak laut di lepas Pantai Somalia, termasuk Teluk Aden, dan wilayah Arab. (tw)

Sumber : Bisnis Indonesia, 06.06.11.