27 Mei 2012

[270512.ID.BIZ] Ini Dia Wanita Terkaya di Dunia


Liputan6.com, Sydney: Pria terkaya di dunia itu biasa. Tetapi jika wanita terkaya di dunia baru luar biasa. Gina Rinehart, pengusaha Australia dinyatakan majalah Business Review Weekly (BRW) sebagai wanita terkaya di dunia, dengan aset kekayaan mencapai $ 29,17 miliar, atau sekitar Rp 269,8 triliun.

Menurut majalah bisnis tersebut, kekayaan wanita 58 tahun itu telah melampaui kekayaan istri pemilik saham mayoritas perusahaan ritel raksasa Amerika Serikat--John Walton, Wal-Mart, Christy Walton.

Sementara, berdasarkan majalah Forbes, kekayaan Walton bernilai sekitar $ 26 miliar. Jumlah ini menjadikannya wanita terkaya di dunia versi Forbes dalam tujuh tahun terakhir.

Pencapainnya ini berkat kesuksesannya yang terus menanjak dalam bisnis pertambangan. Dalam satu tahun terakhir, Presiden Komisaris Hancock Prospecting itu naik tiga kali lipat.

Di Australia, Rinehart tak hanya dikenal karena bisnisnya, melainkan karena persengketaan dengan ketiga anaknya yang sampai sekarang belum selesai di pengadilan.

Menurut editor Daftar Orang Terkaya BRW, Andrew Heathcote, Rinehart berpotensi menjadi orang terkaya di dunia, mengalahkan taipan telekomunikasi Meksiko, Carlos Slim Helu, yang memiliki kekayaan $ 69 milar, senilai dengan Rp 638 triliun.[baca: Jejak Hidup Orang Terkaya Sejagat]

Lebih lanjut lagi, Heathcote berpendapat bahwa membaiknya harga bijih besi dan investasi di berbagai proyek baru menjadi kunci meningkatnya kekayaan Rinehart yang diperkirakan bisa mencapai 100 miliar dollar AS dalam beberapa tahun mendatang.

"Bila permintaan barang-barang tambang tetap kuat, kenaikan kekayaannya dalam jumlah miliar dollar AS bukanlah hal yang mustahil. Jadi, ada kemungkinan Rinehart tidak saja menjadi wanita terkaya di dunia, tetapi juga orang terkaya di dunia," kata Heathcote.(AFP/MEL)

Sumber : Liputan6, 25.05.12.

26 Mei 2012

[260512.EN.SEA] Container Terminal To Dock 18,000-TEUers On Atlantic Side Of Panama Canal


THE Panama Maritime Authority has approved plans to build a new US$600 million container terminal at Colon on the Atlantic side of the Panama Canal that will be able to handle two million TEU per annum.

A report by London's Port Technology International said the 92-acre terminal on the site of a former US naval base will be developed by a consortium of Asian developers under the name of Panama Colon Container Port LLC (PCCP). Chicago-based Jones Lang LaSalle (JLL) has been appointed the project advisor, according to media reports.

The design calls for four berths to be built at the Colon terminal, with two to handle super post-Panamax vessels, one for the handling of post-Panamax vessels, and a 522-foot berth for the accommodation of multipurpose and breakbulk vessels.

The terminal will be equipped with eight super post-Panamax cranes and two Panamax cranes to handle ships up to 18,000 TEU; and a 36,000-TEU capacity container yard, with additional space for 800 reefer slots. It is slated for completion in the third quarter of 2014.

The consortium is also reported to be in the final stages of discussions with "one of the world's largest terminal operators" over the day-to-day operation of the terminal.

"This will be the first terminal in Panama designed from the ground up for the post-Panamax era," the head of JLL's global port infrastructure group, John Carver, was quoted as saying. "This will be a big needle mover for Panama, one entirely built by private developers."

He added, "We just did the bidding for the dredging and land reclamation two weeks ago, and we're expecting to start construction in July."

The developers are also reported to be considering whether to build a new logistics centre, including warehouses and cold storage, next to the new terminal site.

Source : HKSG.

[260512.ID.BIZ] Perekonomian INDONESIA Diprediksi Hanya Tumbuh 6,1%


JAKARTA: DBS memproyeksikan perekonomian Indonesia hanya akan tumbuh 6,1% pada 2012 karena penurunan kinerja sektor perdagangan.

Analis DBS Group Ltd Eugene Leow mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat dibandingkan tahun lalu karena penurunan harga komoditas dan pengaruh pengetatan aturan uang muka.

Dia memperkirakan tren penurunan harga komoditas ekspor utama seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO) dan migas akan berlanjut pada tahun ini.

Ekspor CPO Indonesia pada 2011 mencapai US$17,1 miliar, batu bara senilai US$27,2 miliar, minyak bumi senilai US$18,6 miliar dan gas senilai US$22,9 miliar.

Harga komoditas yang lebih rendah, jelasnya, akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia.

Leow menambahkan kinerja ekspor juga bisa tertekan oleh keputusan pemerintah menahan laju ekspor mineral yang pada tahun lalu nilainya mencapai US$8,5 miliar.

Selain itu, pertumbuhan konsumsi kendaraan bermotor dan properti akan melambat mulai Juni setelah peraturan baru Bank Indonesia mengenai batas uang muka efektif.

"Konsumsi tidak akan tumbuh terlalu pesat karena pemerintah memutuskan menahan laju pertumbuhan, tapi masih akan tetap kuat," kata Leow, Kamis 10 Mei 2012.

Adapun kebijakan BBM bersubsidi, lanjutnya, tidak akan berdampak besar pada laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Perkiraan kami 6,1%, meski tidak ada kenaikan harga BBM. Jika ada, mungkin terkoreksi, tapi tidak besar," kata Leow.  (ra)
Sumber : Bisnis Indonesia, 10.05.12.
engaruh pengetatan aturan uang muka.

Dia memperkirakan tren penurunan harga komoditas ekspor utama seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO) dan migas akan berlanjut pada tahun ini.

Ekspor CPO Indonesia pada 2011 mencapai US$17,1 miliar, batu bara senilai US$27,2 miliar, minyak bumi senilai US$18,6 miliar dan gas senilai US$22,9 miliar.

Harga komoditas yang lebih rendah, jelasnya, akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia.

Leow menambahkan kinerja ekspor juga bisa tertekan oleh keputusan pemerintah menahan laju ekspor mineral yang pada tahun lalu nilainya mencapai US$8,5 miliar.

Selain itu, pertumbuhan konsumsi kendaraan bermotor dan properti akan melambat mulai Juni setelah peraturan baru Bank Indonesia mengenai batas uang muka efektif.

"Konsumsi tidak akan tumbuh terlalu pesat karena pemerintah memutuskan menahan laju pertumbuhan, tapi masih akan tetap kuat," kata Leow, Kamis 10 Mei 2012.

Adapun kebijakan BBM bersubsidi, lanjutnya, tidak akan berdampak besar pada laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

"Perkiraan kami 6,1%, meski tidak ada kenaikan harga BBM. Jika ada, mungkin terkoreksi, tapi tidak besar," kata Leow.  (ra)

Sumber : Bisnis Indonesia, 10.05.12.

25 Mei 2012

[250512.EN.SEA] BLT And KPI Bridge Oil Resolve Dispute


Jakarta: Indonesia-based shipowner Berlian Laju Tankers (BLT) and bunker supplier KPI Bridge Oil have reached a settlement over a legal dispute leading to the arrest of BLT's chemical tanker.

Both parties announced that the legal proceedings in the US “can be put behind” and the two companies will focus on developing business relationship for the years to come. The terms of the agreement are confidential.

BLT's chemical tanker Partawati had been arrested in Richmond, California, after the shipowner failed to pay bunker fuel bills worth some $2.5m.

“We are pleased that a compromise concerning the MV Partawati has been reached as a first step in resolving our total outstanding with BLT and the groundwork laid to enable KPI Bridge Oil to continue to support and supply marine fuels and lubricants to BLT vessels as they restructure and grow their business,” said Jan Obel, ceo of KPI Bridge Oil.

Widihardja Tanudjaja, president director of BLT said: “KPI showed that it was prepared to take a prompt and realistic assessment of the situation and take a quick decision that was not only in its own favour but was also the right thing for BLT here and now.”

Source : STA, 25.04.12.

[250512.ID.SEA] Arus Barang : GINSI Khawatirkan Impor Pakai LCL Bakal Melonjak


JAKARTA: Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) mengkhawatirkan kegiatan impor barang berstatus less than container load (LCL) melalui pelabuhan justru akan melonjak.

Hal itu terkait dengan penerbitan Peraturan Menteri Perdagangan RI Nomor:27/M-DAG/PER/5/2012 tentang Ketentuan Angka Pengenal Importir (API) per 1 Mei 2012.

Sekjen Ginsi Achmad Ridwan Tento mengatakan importir umum harus mengantongi API sesuai dengan peraturan tersebut dalam kegiatan importasi per komoditas di pelabuhan, menyusul penerbitan regulasi itu.

“Dampaknya, aktivitas impor akan bergeser dari sebelumnya menggunakan full container load akan menjadi LCL,” ujarnya kepada Bisnis hari ini, Jumat, 18 Mei 2012.

Dia mengatakan jika sebelumnya izin importir umum bisa dipergunakan melakukan importasi lebih dari satu jenis komoditi, tetapi dengan aturan tersebut kini tidak diperkenankan lagi.

Para importir yang tidak siap dengan aturan tersebut justru dikhawatirkan menunjuk mitra atau afiliasinya untuk menangani kargo impor, sehingga importasi dilakukan dengan cara LCL.

Barang impor berstatus LCL adalah barang-barang yang di dalamnya dimiliki lebih dari satu pemilik yang dimuat dalam satu kontainer.

Sebelum dikeluarkan dari pelabuhan, barang tersebut selama ini disimpan pada fasilitas container freight station (CFS) atau gudang dan lapangan yang mengantongi izin tempat penimbunan sementara untuk pelayanan barang eks impor yang dibongkar di pelabuhan.

Di sisi lain, Ridwan memaparkan penanganan pengeluaran barang impor berstatus LCL di pelabuhan sangat mahal, karena komponen dan biaya penanganannya hingga saat ini belum transparan.

Bahkan, Ginsi telah menghitung inefisensi  akibat tidak transparannya biaya jasa logistik penanganan kargo impor berstatus  LCL di lini 2  dan pergudangan Pelabuhan Tanjung Priok saja  diperkirakan mencapai US$ 192 juta/tahun.

Dia mengatakan inefisensi diduga adanya rabat (pengembalian) yang diberikan mitra forwarder konsolidator kepada consigne (pemberi order) di luar negeri untuk penanganan kargo impor LCL  rata-rata mencapai US$ 100/kubik.

Untuk memenuhi rabat tersebut, mitra forwarder konsolidator di Pelabuhan Tanjung Priok akhirnya membebani tarif diluar batas kewajaran sebagaimana yang terjadi hingga saat ini.

Dia  mengasumsikan volume kargo per peti kemas impor bestatus LCL melalui lini 2 pelabuhan Priok mencapai rata-rata 8.000 kontainer per bulan.

Jika tiap kontainer diasumsikan terdiri dari 20 kubik, setiap bulan terdapat 160.000 kubik atau 1.920.000 kubik per tahun. "Jika dikalikan US$ 100, inefisensi penanganan logistik di lini 2 itu mencapai US$ 192 juta  pertahun,” ujarnya. (spr)

Sumber : Bisnis Indonesia, 18.05.12.