23 Juni 2018

[230618.ID.BIZ] LRT Palembang Akan Mulai Beroperasi Juli 2018


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perhubungan optimistis, light rail transit atawa LRT di Sumatera Selatan akan selesai dan dioperasikan pertengahan Juli 2018. Hal tersebut guna mendukung perhelatan akbar Asian Games 2018.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Zulfikri mengatakan, Kementerian Perhubungan memastikan tingkat keamanan dan keselamatan dalam pengoperasiannya nanti.

"Terkait itu, telah dilakukan serangkaian pengujian sarana dan prasarana LRT pada bulan Mei 2018 dan uji coba dinamis telah dilakukan pada Kamis kemarin (21/6) dari stasiun Jakabaring menuju stasiun Palembang Icon," kata Zulfikri dalam keterangan resminya, Sabtu (23/6).

Pembangunan LRT Sumatera Selatan merupakan amanah dari Perpres Nomor 116 Tahun 2015 dan Perpres 55 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 116 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit di Provinsi Sumatera Selatan, yang menugaskan PT Waskita Karya Tbk (WSKT) sebagai pelaksana Pembangunan Prasarana Kereta Api Ringan/LRT di Sumatera Selatan serta PT KAI sebagai operator LRT Sumatera Selatan.

Pekerjaan pembangunan LRT Sumsel sepanjang 23 Km dilengkapi dengan 13 stasiun, 1 depo dan 9 gardu listrik dengan menggunakan lebar jalur rel 1067mm dan third rail electricity 750 VDC telah dimulai sejak Oktober tahun 2015 dengan pembiayaan APBN.

LRT Sumsel ini akan menghubungkan Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin menuju kawasan sport city Jakabaring. Selain digunakan sebagai sarana transportasi yang dapat mengurangi beban jalan raya dan penggunaan kendaraan pribadi, juga akan digunakan sebagai venue untuk perhelatan Asian Games tahun 2018.

Jenis pekerjaan LRT Sumsel ini sangat bervariasi mulai dari pekerjaan konstruksi, stasiun, sarana, depo yang luas, penanganan tanah yang disebabkan oleh karakteristik yang berbeda serta pekerjaan yang memerlukan penguasaan teknologi tinggi baik untuk jenis sarana, infrastruktur dan system fasilitas operasinya dimana secara keseluruhan berupa konstruksi layang (elevated track) dengan dilengkapi third rail untuk power supply serta menggunakan teknologi slab track (tanpa ballast) pada jalur rel serta menggunakan sistem persinyalan fixed Block.

Berbeda dengan LRT Jabodebek yang menggunakan U-shaped Girder, LRT Jakarta menggunakan Box Girder, sedangkan LRT Sumsel menggunakan I Girder. Lebar spoor LRT Sumsel adalah 1067mm sedangkan LRT Jabodebek dan LRT Jakarta lebar spoor nya adalah 1435 mm.

Zulfikri menjelaskan, perbedaan karakteristik jenis konstruksi tersebut di atas mengakibatkan adanya variasi biaya konstruksi masing-masing LRT. Namun biaya konstruksi ini diyakini telah sesuai dengan harga pasar. Sehingga, nilai investasi secara keseluruhan dalam pembangunan LRT Sumsel ini merupakan total biaya sarana dan prasarana LRT yang tidak dapat terpisahkan.

Nilai investasi apabila dibagi panjang jalur kereta api tersebut dinilai masih cukup realistis dan telah dilakukan perbandingan dengan negara-negara di kawasan ASEAN. Sebagai contoh, seperti di Malaysia biaya untuk pembangunan LRT Kelana Jaya Line diketahui sebesar Rp. 817 miliar/km sedangkan untuk biaya pembangunan LRT di Manila sebesar Rp 907 miliar/km.

Anggaran pemerintah yang digunakan dalam pembangunan LRT Sumsel ini telah diproses secara akuntabel di mana telah dilakukan review secara berlapis mulai dari review oleh konsultan independen yang berkualifikasi internasional, audit internal maupun audit eksternal oleh instansi terkait agar sesuai dengan prinsip Good Coorporate Governance.

Sebelumnya, usulan pembiayaan untuk proyek LRT ini oleh kontraktor awalnya diajukan sebesar Rp 12 triliun, namun setelah melalui beberapa tahapan review biaya tersebut dapat ditekan menjadi Rp 10,9 triliun

Dalam pelaksanaan pembangunannya, WSKT dibantu oleh konsultan pengawas (supervisi) yang berkualifikasi Internasional yakni SMEC Internasional asal Australia.

Sumber : Kontan, 23.06.18.

22 Juni 2018

[220618.EN.BIZ] Maersk Consolidates Reefer Production in China and Closes Chile Plant


AP Moeller Maersk's subsidiary, Maersk Container Industry (MCI), is consolidating the production of refrigerated shipping containers in China and is closing its reefer manufacturing plant in San Antonio, Chile less than three years after it opened.

The San Antonio factory opened in November 2015 and Maersk said it had located it there to supply reefer containers directly into what it called "the export hub on the west coast of Latin America."

When the factory opened, MCI said, "In this sweet spot of fruit exporters, we have placed the factory right where the demand is. For the first time ever in South America, reefer containers can go straight 'from factory to farm.' Offering the Star Cool Integrated reefers locally to shipping lines, farmers, fruit distributors and leasing companies will have a financial benefit counted in thousands of dollars per reefer and millions for the industry in total."

But last week the company said the new factory has not worked out, reports American Shipper.

"The reefer container market has changed fundamentally towards heavy overcapacity. At the same time, it has been challenging for Maersk Container Industry to develop a localised supply chain base of raw materials and key components to support its factory. As a result, manufacturing at the facility has shown not to be competitive in the global markets," the company said.

MCI's CEO Sean Fitzgerald said: "The harsh reality is that to be competitive today requires us to adapt our operations constantly. Fundamental market factors have changed and so must we to grow with the market. Regrettably, this decision impacts our 1,209 skilled colleagues in San Antonio and we are committed to supporting them and honoring our obligations."

A Maersk representative said a small group of employees will be offered a temporary position to support the cease of operations.

She added: "Demand for reefer containers increased in 2017 compared to the unprecedented low level in 2016 but was still below 2015 volumes. The demand for dry containers was above 2016. Generally, the ocean container manufacturing market for dry and reefer containers remains characterised by oversupply, and Maersk Container Industry expects this to continue for the foreseeable future."

In 2017, 80 per cent of the containers MCI made were for Maersk companies, including Hamburg-Sud, which it acquired last year.

Maersk Container Industry's factory for making reefer containers is in Qingdao, China. Maersk also has a factory in Dongguan, China for making dry containers. MCI produces reefer containers as well as cooling units, which it says offers customers the advantage to obtain both from a single source.

"We will be able to suit market needs from our facility in Qingdao and do not plan to build a new factory," a Maersk representative said.

Maersk had said when reporting its first-quarter earnings this year that its "reefer factories ran at full capacity in Q1 2018 with the production volume in the Chinese factory being on par with 2017 whereas the factory in Chile increased the output by 17 per cent. Profitability on the dry containers were negatively impacted by higher material cost for steel. Financially MCI reported a satisfactory revenue growth of 18 per cent and an unchanged EBITDA margin of 11 per cent."

Source : HKSG.

[220618.ID.BIZ] Jasa Logistik Meraup Berkah Lebaran


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan jasa logistik mendapat berkah sepanjang bulan Ramadan lalu seiring permintaan jasa pengiriman barang yang melonjak. Momentum bulan puasa dan Lebaran merupakan high season bagi penyedia jasa pengiriman barang.

Sebut saja PT Global Jet Express (J&T Express) yang mengalami lonjakan pengiriman jumlah barang hingga sekitar 100%. Chief Executive Officer J&T Express Robin Lo menjelaskan, kenaikan pengiriman secara jumlah karena banyak masyarakat yang melakukan belanja  online untuk kebutuhan Lebaran. Jadi tentunya jasa pengiriman terkena dampak, katanya saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (21/6).

J&T Express memang memiliki hubungan kemitraan dengan sejumlah online marketplace. Antara lain Blibli.com, Bhinneka.com, Bukalapak, Blanja.com,Tokopedia, Shopee, dan Hijabenka.

Adapun, rata-rata pengiriman di J&T Express pada masa Ramadan sampai Idul Fitri mencapai 700.000 hingga 1 juta paket per hari. Robin mengklaim, angka itu melesat 100% dibandingkan hari-hari biasa. Baru ketika memasuki musim mudik, pengiriman paket perlahan menurun mendekati kondisi hari-hari normal.

Hingga hari Lebaran, J&T Express juga serius memanfaatkan momentum tersebut. Sebab sampai hari Lebaran, bisnis jasa pengiriman J&T Express juga tetap beroperasi.

Tak cuma itu, J&T Express juga memanfaatkan bulan puasa untuk meningkatkan brand awareness lewat berbagai kegiatan. Salah satunya pembagian jadwal Imsak di seluruh wilayah Indonesia. Perusahaan ini juga menyelenggarakan mudik gratis bagi beberapa pengguna jasa J&T Express.

Setali tiga uang dengan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) yang juga menikmati buah manis selama bulan Ramadan dan musim Lebaran tahun ini. Tercatat, rata-rata kenaikan secara jumlah barang di JNE mencapai 33%.

Direktur Utama JNE Mohammad Feriadi mengungkapkan rata-rata pengiriman barang di JNE berada di kisaran 800.000 barang per hari. Nah, di bulan puasa dan Lebaran ini meningkat hingga 1,2 juta barang per hari. Belanja online juga sekarang lagi marak, jadi faktor pemicu juga, sebutnya.

Menurut Feriadi yang juga Ketua Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos dan Logistik Indonesia (Asperindo), bulan puasa dan Lebaran selalu menjadi high season bagi penyedia jasa pengiriman barang. Saya yakin dirasakan operator pengiriman lain, paparnya.

Sumber : Kontan, 22.06.18.

21 Juni 2018

[210618.ID.BIZ] Analis: Injeksi Toyota ke Grab dan Astra ke Gojek Jadi Kabar Positif


KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kebijakan Astra International memodali perusahaan penyedia layanan transportasi Go-Jek dan baru-baru ini Toyota Motor Corp memodali Grab mencuri perhatian pasar belakangan ini.

Menurut Muhammad Nafan Aji, Analis Binaartha Parama Sekuritas, tampakanya perusahaan otomotif, seperti Toyota dan Astra tengah menyiapkan strategi. Ini tentu untuk terus bisa bersaing secara bisnis. Apalagi kini konsumen cenderung kian selektif dalam memilih produk otomotif.

"Persaingan di sektor industri otomotif ini kan sangat ketat dan kompetitif. Dimana masing-masing kompetitor terus berupaya meningkatkan kualitas maupun kuantitas inovasi produk mereka sendiri." katanya kepada Kontan.co.id, Kamis (21/6)

Nah, dengan berinvestasi di perusahaan transportasi online, perusahaan tersebut nantinya bisa meningkatkan pelayanan kepada konsumen, Ia menambahkan bahwa langkah Astra dan Toyota merupakan strategi positif yang patut diapresiasi para pelaku pasar.

"Dengan ada penyuntikkan dana pada bisnis ini memang diharapkan kedepannya kerjasama baik Go-Jek maupun Grab bisa menggunakan suku cadang dari Astra saja." katanya kepada Kontan.co.id

Menurutnya persaingan di sektor usaha otomotif kian pesat ditambah dengan adanya tantangan perang dagang yang sedang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
Ia beranggapan langkah Astra dan Toyota menggandeng dua raksasa perusahaan penyedia layanan transportasi online memang harus dilakukan. Terutama untuk kesinambungan layanan purna jual yang bisa berdampak ke lonjakan penjualan suku cadang.

Sumber : Kontan, 21.06.18.

[210618.EN.BIZ] New Multipurpose Terminal in Port Sihanoukville to Open Soon


CAMBODIA's only deep-sea port Sihanoukville is to launch its new multipurpose terminal on June 25 that will be able to accommodate larger vessels, according to chairman and CEO of Sihanoukville Autonomous Port (PAS), Lou Kim Chhun.

The inauguration ceremony will be presided over by Prime Minister Hun Sen, reports Spain's Port Today citing The Phnom Penh Post.

The new facility will have a berth of 330 metres with depth alongside of 13.5 metres and will be able to load shipments weighing in the range of 40,000-50,000 tonnes, which is more than twice the limit of existing terminals.

"As the terminal at the sea port is deeper and can handle bigger vessels with heavier loads, sea transportation costs will become cheaper," the CEO said, adding that the cost of the project was "more than US$70 million."

PAS began the construction in early 2015 using a soft loan from the Japanese development agency JICA, with the focus on dry bulk agricultural exports, such as dried tapioca and milled rice.

Cambodia Freight Forwarders Association (CFFA) president Sin Chanthy said that the new facility at the port of Sihanoukville will contribute to a greater level of competitiveness in exporting goods and will ease congestion at the port as well as the work of freight forwarders. He noted: "With the new terminal becoming operational, large vessels will make up a larger part of the traffic. Goods will be delivered on time in a shorter period which will strengthen the business's competitiveness."

The state-owned PAS also unveiled plans late last year to build a new container terminal as part of its expansion project. The Port Authority signed an agreement for a low-interest loan of some US$209 million for this development that is scheduled to start by early 2019 and to be completed by the end of 2022. The new container facility will be equipped with a 350-metre quay with a depth of 14.5 meters and will increase the port's current annual capacity of about 400,000 TEU to over 700,000 TEU.

The existing container capacities are expected to be exhausted by 2023.

Source : HKSG.