28 April 2019

[280419.ID.BIZ] Moda Kereta Api Dorong Pariwisata Garut


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Reaktivasi atau pengaktifan kembali jalur kereta api (KA) di Jawa Barat bagian selatan diharapkan mampu benar-benar mendorong kemajuan pariwisata di wilayah Garut, Pangandaran, dan Ciwidey. Reaktivasi jalur KA ini sejak awal ditujukan untuk mendorong kemajuan sektor pariwisata yang dampaknya akan meningkatkan ekonomi masyarakat.

Kementerian Perhubungan menginisiasi 4 proyek reaktivasi jalur KA meliputi Cibatu-Garut-Cikajang (47,5 km), Rancaekek-Tanjungsari (11,5 km), Banjar-Pangandaran-Cijulang (82 km), dan Bandung-Ciwidey (37,8 km).

“Reaktivasi keempat jalur KA ini untuk mendukung pariwisata yang ada di Garut, Pangandaran, dan Ciwidey sebagai destinasi wisata unggulan Jawa Barat,” kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi.

Menpar Arief Yahya menjelaskan, konektivitas kereta api sebagai unsur penting dari 3A (Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas) sangat digemari wisatawan karena nyaman. “Wisatawan bisa menggunakan kereta api wisata yang dioperasikan oleh PT KAI,” kata Arief Yahya dalam keterangan yang diterima Kontan.co.id, Minggu (28/4).

Menpar Arief Yahya mengatakan, 4 jalur KA hasil reaktivasi akan menjadi konektivas utama ke obyek wisata yang ada di Garut, Ciwidey, dan Pangandaran.

“Dari Bandung ke obyek wisata Situ Bagendit melalui Stasiun Cibatu hanya sekitar 1,5 jam. Sepanjang perjalanan wisatawan dapat menikmati pemandangan alam dari kereta api. Ini perjalanan yang ideal bagi wisatawan,” imbuh Arief Yahya.

Ke depan obyek wisata Situ Bagendit akan direvitalisasi dan ditata ulang agar menjadi destinasi yang lebih menarik dan berkelas dunia. “Untuk menarik wisatawan milenial, Kemenpar bersama Bupati Garut akan membangun tiga destinasi digital,” kata Arief Yahya.

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menjelakan, Pemprov Jabar telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 30 miliar dan Pemerinah Pusat melalui Kementerian PUPR sebesar Rp 100 miliar untuk merevitalisasi obyek wisata Situ Bagendit.

“Kami menargetkan tahun depan revitalisasi akan selesai sehingga ketika kita kembali ke sini sudah banyak perubahan,” kata Ridwan Kamil.

Bupati Garut Rudy Gunawan mengatakan, melalui kegiatan pariwisata ekonomi masyarakat di sekitar obyek wisata Situ Bagendit semakin meningkat dan angka kemiskinan dapat turun hingga 2%. “Kegiatan pariwisata berdampak langsung pada kesejahteraan masyakat,” kata Rudy Gunawan.

Sumber : Kontan, 28.04.19.

27 April 2019

[270419.EN.SEA] Drewry Says Win-Win Shipping Alliance Terminal Operations Hard To Find


CONTAINER terminal alliances at major ports present hurdles on the path to success, says Drewry senior ports and terminals analyst Neil Davidson, reported American Shipper.

Mr Davidson said containerships are homogenous and terminals are not, so "like-for-like sharing of assets doesn't necessarily prove to be the case in the terminal industry in the same way that it does for liner shipping".

He said terminal alliances can't work on an ad hoc basis. "You have to have certainty and predictability of what ships and services will call where."

The sharing of yard equipment is another challenge and is dependent on proximity and whether the terminals have a common mode of operation, he said.

He noted that it's hard to find a win-win with terminal alliances as the more likely outcome is that one operator is happy while the other is not. Mr Davidson said that since all terminals in a particular port will most likely endure the same peaks and troughs, terminal mergers and acquisitions may prove a better solution.

With regards to the "key ingredients" for successful terminal alliances, Mr Davidson said a big plus is if the terminals are physically adjacent, with contiguous berthing lines.

Another key to success is if the terminals are similar in nature (size, draft, crane capability and yard equipment), he said, adding that it's also better if the number of operators in the potential alliance is low.

"In general, the more parties that are involved, the harder it will be to find a workable terminal alliance," Mr Davidson said. "In fact, the ideal number really is just two operators. More parties mean more interests, greater complexity and additional challenges in finding a workable solution."

It also helps if average terminal utilisation is high and there's a regulatory environment that is supportive of terminal alliances, he explained.

"Alliances and mergers between port authorities/port companies have been much more prevalent and successful," Mr Davidson said.

He said that to date, only three ports have announced plans to form terminal alliances: Miami, Colombo and Hong Kong.

The Sri Lanka Ports Authority signed a memorandum of understanding in 2018 covering three terminals at the port of Colombo, in which the Sri Lanka Ports Authority.

"The intention is for the terminals to work together to coordinate operations and reduce waiting times for container vessels by allocating them to whichever terminal is available," Mr Davidson said.

"Anecdotal evidence suggests that the alliance remains under development, although some progress has been made. For example, the three terminals are working closely together now to reduce inter-terminal truck transfers of containers."

In January four terminal operators at the port of Hong Kong - Hong Kong International Terminals Ltd, Modern Terminals Ltd, COSCO-HIT Terminals (Hong Kong) Ltd and Asia Container Terminals Ltd - announced their intent to establish the Hong Kong Seaport Alliance (HKSPA) to boost the competitiveness of the port of Hong Kong, having lost ground to nearby container ports over the last several years.

However, the Hong Kong Shippers' Council slammed its formation given "the four terminal operators account for over 95 per cent of container terminal business in Hong Kong," the council said in a January 9 press release. "The council is extremely worried about overwhelming market position of the alliance."

The following day, the Hong Kong Competition Commission issued a statement saying it was launching a probe into the proposed alliance.

The HKSPA issued a statement at the end of March saying it had finalised its berth and yard planning strategies and its joint operating agreement was expected to be "progressively implemented" from April 1.

"The 23 berths of the members of HKSPA will be divided into three terminal zones to provide greater efficiency to shipping alliances and individual carriers. Under the new arrangement, a number of efficiency enhancements will be introduced," HKSPA said.

"Among them, inter-terminal trucking will be significantly reduced, and in many cases eliminated, which will be an important step in bringing cost savings to customers."

Source : HKSG.

[270419.ID.BIZ] Avnos Pindahkan Kantor Pusat Asia Pasifik dari Singapura ke Indonesia


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Avnos menjadi startup cybersecurity global pertama yang memindahkan kantor pusatnya di Asia Pasifik dari Singapura ke Indonesia. Dengan pendanaan seri A senilai US$ 10 juta yang didapat dari berbagai investor strategis di Indonesia, salah satu fokus awal Avnos adalah meningkatkan investasi sekaligus mengembangkan pusat R&D di Jakarta.

Pengumuman ini disampaikan dalam acara peluncuran produk Avnos 2.0, yakni Avnos Decentralized Software-Defined Firewall (DSDF) di Jakarta, Kamis (25/4). Ivan Goh, CEO & Co-Founder Avnos mengatakan, Avnos sebagai startup software enterprise sangat antusias menjadi bagian dari komunitas startup Indonesia yang sedang berkembang, dan pemindahan kantor pusat Asia Pasifik ke Indonesia memiliki andil besar dalam mencapai visi besar perusahaan untuk pasar Asia Pasifik.
"Tidak seperti startup cyber security global lainnya, Avnos menjadikan Indonesia sebagai pasar prioritas pertama dengan melakukan investasi besar dalam penjualan, pemasaran, dukungan teknis dan sumber daya R&D,” ujarnya.

Pemindahan kantor pusat dari Singapura ke Indonesia ini diikuti dengan penambahan jumlah SDM ahli dalam negeri dari 25 orang menjadi 70 orang hingga penghujung tahun 2020. Hal itu menjadikan Avnos sebagai perusahaan yang memiliki tenaga kerja terbanyak untuk vendor cyber security di Indonesia. “Pemindahan kantor pusat Asia Pasifik ke Indonesia menunjukkan komitmen tinggi Avnos untuk memberikan pelayanan yang lebih baik lagi kepada pengguna dan mitra Avnos di Indonesia dalam hal penjualan, pemasaran, dan dukungan teknis,” jelas Ivan Goh.

Kehadiran Avnos disambut baik oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang juga sebagai pengguna Avnos. Semuel Abrijani Pangerapan, Dirjen Aplikasi Informatika Kominfo bilang, adopsi penggunaan teknologi di Indonesia semakin tinggi seiring dengan semakin banyaknya startup yang hadir menawarkan solusi. Saat ini, banyak startup yang dikembangkan masih bergantung pada consumer tech. "Yang menerapkan deep tech, seperti cyber security, AI, blockchain, robotika, dan quantum computing masih sedikit karena memang sulit dalam pengembangannya,” ujarnya. Harapannya, kata Samuel, dengan adanya R&D Avnos di Indonesia akan membuat lebih banyak talenta engineer di Indonesia yang mampu mendalami deep tech.

Sambutan positif akan pemindahan kantor pusat Asia ke Indonesia dan peluncuran Avnos 2.0 juga disampaikan oleh Ditjen Pajak. Saat ini, perusahaan jasa keuangan menjadi korban serangan cybersecurity 300 kali lebih sering dan menimbulkan kerugian lebih besar dibanding industri bisnis lainnya yakni sekira US$ 18 juta per perusahaan, sementara kerugian pada perusahaan dari sektor industri lainnya berkisar US$ 12 juta.

Direktur Transformasi Teknologi Komunikasi dan Informasi Direktorat Jenderal Pajak Iwan Djuniardi menganggap, peluncuran Avnos 2.0 dan keputusan untuk memindahkan kantor pusat Asia ke Indonesia ini merupakan waktu yang tepat karena cybersecurity merupakan vektor ancaman terbesar bagi perusahaan Indonesia, terutama di industri keuangan.
"Kebijakan Avnos untuk membangun, merawat dan menumbuhkan talenta cyber R&D di Indonesia akan membantu menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap dunia maya, dan pada akhirnya akan meningkatkan jumlah sumber daya yang lebih berbakat untuk membantu mempertahankan kedaulatan dunia maya Indonesia,” ungkapnya. 

Avnos Decentralised Software-Defined Firewall (DSDF/Avnos 2.0) membantu perusahaan mendefinisikan kembali perimeter teknologi pertahanan mereka, dan memperluas pertahanan secara global dengan memberikan perlindungan yang selalu aktif untuk perangkat di mana pun mereka berada, baik di jaringan internal atau internet publik.
Di era IoT sekarang ini dimana perimeter jaringan tradisional saat ini telah berkembang melampauo jaringan internal perusahaan hingga ke cloud publik, Avnos DSDF menjadi teknologi yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan dari semua sektor industri. mengingat perimeter jaringan tradisional saat ini Metode baru firewall dengan perlindungan berlapis-lapis pada Avnos DSDF mampu memperkecil permukaan serangan
.
Sumber : Kontan, 25.04.19.

26 April 2019

[260419,EN.BIZ] Bollore Logistics Increases French Air Freight Volumes at CDG by 44pc


FRENCH forwarding giant Bollore Logistics handled 690,000 tonnes of air freight worldwide in 2018 and has seen air cargo tonnages at its Roissy Charles de Gaulle (CDG) airport in Paris grow by 44 per cent since 2016 as it consolidated traffic flows from around France.

Bollore vice president Philippe de Crecy said that one third of the CDG volume increase over those two years is organic growth for Bollore, which maintains a 20 per cent in of the French air freight market, reports London's Air Cargo News.

The forwarder, part of a billion dollar turnover family owned empire that has TV channels and electronics subsidiaries, is Air France Cargo's largest customer, as well as being its next door neighbour at CDG.

Last year saw Bollore handle 64,400 tonnes of French imports and 115,000 tonnes of exports at CDG, and making 280,000 customs declarations.

Mr de Crecy said that a lack of long-haul capacity in the French provinces was the main reason behind the CDG focus, which is now the hub for 50 per cent of such traffic, with the remainder flown out of Toulouse or Bordeaux.

Source : HKSG.

[260419.ID.BIZ] Grab Indonesia Klaim Sebagai Leading Platform Pembayaran Digital di Indonesia


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Grab Indonesia menyebut pihaknya merupakan pemain utama dalam sektor pembayaran digital.

"Kami sudah tidak lagi memakai GrabPay, kami berkolaborasi dengan OVO. Seperti yang sudah diketahui, Grab adalah satu-satunya startup financial technology yang punya lisensi di enam negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Secanggih apapun sebuah aplikasi jika tidak memiliki lisensi akan sulit. Nah, paltform pembayaran kami, OVO, yang saat ini jangkauannya paling banyak," ujar Ongki Kurniawan, Executive Directur Grab Indonesia, kepada Kontan.co.id, Kamis (25/4).

Lebih jauh, Ongki menjelaskan jika pertumbuhan OVO sangatlah pesat jika dihitung dari waktu awal kolaborasi dengan Grab sejak Juli 2018. Hal ini, jelas Ongki, didorong oleh sistem fleksibel OVO dalam ekosistem Grab.

"Semua transaksi dalam platform Grab, akan menghasilkan Grab points. Poin tersebut dapat dipakai dan dikumpulkan kembali dalam platform yang sama," imbuhnya.

Di tahun ini, OVO juga tidak hanya berlaku di layanan transportasi, tetapi juga merambah ke pengiriman makanan (delivery food) hingga layanan kesehatan. Hal ini berguna menambah jumlah transaksi OVO dan Grab.

"Selain itu OVO juga berlaku di 222 kota di Indonesia dan secara regional digunakan di 336 kota di Asia Tenggara. Melihat hal ini, tentu saja secara magnitude, OVO menjadi leading di Indonesia dan Asia Tenggara," katanya.

Sebagai informasi, OVO saat ini juga telah diunduh di 115 juta perangkat dan bisa digunakan untuk mengakses pembayaran, transfer, top up dan tarik dana, serta manajemen aset dan investasi.

Sumber : Kontan, 25.04.19.