04 Februari 2011

[040211.ID.LAN] Infrastruktur Kereta Api Untuk Logistik Lemah

JAKARTA: Pengamat transportasi dan logistik Indonesia menilai infrastruktur kereta api (KA) untuk aktivitas logistik paling lemah dibandingkan dengan infrastruktur untuk lini moda angkutan lainnya.
Wakil Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aditya Dwi Laksana, mengatakan optimalisasi angkutan barang melalui KA, khususnya untuk infrastruktur masih sangat kurang.


"Saat ini, KA barang di Jawa belum menjadi moda transportasi yang vital karena minimnya pengembangan infrastruktur," ujarnya kepada Bisnis sore ini.


Aditya menjelaskan ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan oleh pemerintah untuk pengembangan infrastruktur KA barang. Yang pertama, ia menuturkan pembangunan jalur rel untuk meningkatkan kapasitas angkut masih sangat kurang.


"Pembangunan jalur ganda dan pelebaran rel dari tahun ke tahun tidak signifikan, tidak mendukung perkembangan angkutan barang KA," paparnya.


Selain itu, Aditya menambahkan moda transportasi KA tidak terintegrasi dengan moda transportasi lainnya. Sehingga, kata dia biaya distribusi logistik melalui KA menjadi lebih mahal dibandingkan moda transportasi lain.(msb)


Sumber : Bisnis Indonesia, 04.02.11.

03 Februari 2011

[030211.EN.SEA] OOCL's Revenue Up 46.1pc To US$5.6 Billion In 2010

HONG KONG's Orient Overseas (International) Limited (OOIL), reported that its carrier Orient Overseas Container Line (OOCL) had a 2010 revenue increase of 46.1 per cent year on year to US$5.6 billion while cargo volume rose 14.6 per cent to reach 4.76 million TEU, according to its filing with the Hong Kong stock exchange.

Loadable capacity grew 4.5 per cent, while the overall load factor was 7.2 per cent higher than the same period in 2009. Average revenue per TEU was up 27.5 per cent year on year, according to its operational update.

For the fourth quarter of 2010, volume was up 18.9 per cent over the same period in 2009. Revenue soared 41.9 per cent to $1.5 billion. The loadable capacity came to a 22 per cent increase, while the overall load factor was two per cent less than in the same period in 2009. Overall average revenue per TEU rose 19.4 per cent against the fourth quarter of 2009.

Its annual liftings in the intra-Asia and Australasia market saw the largest growth of 21.2 per cent to 2.39 million TEU, followed by the Asia-Europe service with a leap of 16.9 per cent to 793,315 TEU. The transpacific trade lane recorded a 5.8 per cent increase to 1.22 million TEU.

But the transpacific service was still a cash cow, making an annual revenue of $2.03 billion, up 36.3 per cent year on year. Asia-Europe trade lane was the fast growing market with a surge of 86.5 per cent year on year with $1.28 billion revenue. Intra Asia and Australasia market also contributed $1.71 billion in revenue, up 45.5 per cent.

Source : HKSG, 28.01.11.

[030211.ID.SEA] Indonesia : Kargo Laut Turun 25,62%

JAKARTA: Jumlah barang yang diangkut melalui kapal laut sepanjang 2010 turun 25,62% menjadi 109,3 juta ton dari sebelumnya sebesar 146,9 juta ton selama 2009. 

Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik siang ini, penurunan jumlah barang yang diangkut selama Januari-Desember 2010 terjadi di Pelabuhan Panjang dan Tanjung Perak. Sementara itu kenaikan justru terjadi di Pelabuhan Makassar, Tanjung Priok, dan Balikpapan.

Pada 2010, jumlah barang yang diangkut melalui Pelabuhan Panjang sebanyak 5,5 juta ton, turun 8,89% dari volume 2009. Sementara di Pelabuhan Tanjung Perak, barang yang diangkut turun 4,88% menjadi 8,4 juta ton dari sebelumnya 8,8 juta ton.

Untuk Pelabuhan Makassar, barang yang diangkut naik hingga 27,31% menjadi 4,6 juta ton dari 3,6 ton pada 2009. Hal serupa terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok dan Balikpapan yang masing-masing angkutan barangnya naik 11,58% dan 4,18%. 

Sementara itu, jumlah barang yang diangkut melalui kereta api (KA) sepanjang 2010 naik tipis 1,01% menjadi 19,1 juta ton dari sebelumnya 18,9 juta ton pada 2009. Sebagian besar barang yang diangkut tersebut tercatat di wilayah Sumatera, yaitu sebesar 15,2 juta ton.

Di Sumatera sendiri, peningkatan jumlah barang yang diangkut melalui KA mencapai 2,65% pada Desember 2010 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, jumlah barang yang diangkut di wilayah Jawa non-Jabodetabek pada Desember 2010 mengalami penurunan sebesar 8,57%. (sut)

Sumber : Bisnis Indonesia, 01.02.11.

02 Februari 2011

[020211.EN.SEA] US FMC Votes To Probe Slow Steaming

THE US Federal Maritime Commission has voted to probe slow steaming, said to be an environmental measure, but which the industry understands absorbs overcapacity, thus encouraging higher rates while at the same time saving carriers fuel burn because slower ships consume less bunker.

While environmentalists are seldom satisfied with any industry eco-measure, thus failing to stem the rising tide of complaint, the practice also angers shippers because it provides carriers financial benefits which they say are not passed on to them.

Last year, the FMC allowed the Transpacific Stabilisation Agreement, a quasi conference of 15 carriers, to implement slow steaming, now deployed on most transpacific routes, reported American Shipper.

FMC lawyer Lowry Crook said that under Shipping Act, the FMC can get an injunction against agreements that reduce competition and produce an "unreasonable reduction" in services or "unreasonable increases" in transport costs.

Source : HKSG, 01.02.11.

[020211.ID.LOG] RI Berpeluang Garap Pasar Logistik Asia

JAKARTA: Riset Frost & Sullivan menunjukkan pasar logistik Indonesia berpotensi meraup Rp843,7 triliun dari perusahaan-perusahaan komoditas.

Hal itu diungkapkan Konsultan Transportasi dan Logistik Frost & Sullivan Indonesia Muhammad Asrofi menyusul peluang Indonesia menjadi kawasan pengumpul terbesar di Asia.

“Lokasi yang strategis tersebut dan kerjasama antara Indonesia dengan negara-negara maju itu, membuat wilayah Indonesia berpotensi menjadi hub logistik di Asia,” tuturnya kepada Bisnis hari ini.

Asrofi menambahkan letak perairan Indonesia juga merupakan salah satu rute perdagangan dunia yang paling ramai. Kata dia, laut merupakan jalur utama perdagangan dunia dan laut Indonesia merupakan jalur yang strategis dan ramai dilewati oleh negara-negara lain.

“Selat Malaka merupakan salah satu pintu perdagangan dunia yang selalu ramai dilewati oleh negara-negara asing,” tuturnya.

Dari sisi regulasi, asas cabotage yang ditetapkan pemerintah untuk kapal asing, menurut Asrofi dapat memperbesar penerimaan negara. Dengan aturan itu, kapal asing yang masuk ke perairan Indonesia diwajibkan mengunakan bendera dan kru dari Indonesia.

“Dari sini, jelas penerimaan pajak akan lebih besar, ditambah lagi SDM Indonesia juga akan lebih produktif,” paparnya.

Meski demikian, Asrofi mengungkapkan kegiatan logistik di Indonesia masih terkendala oleh infrastruktur. Infrastruktur Indonesia masih sangat lemah dan tidak mendukung kegiatan logistik yang efisien dan optimal.

“Hampir semua lini kita lemah di infrastruktur, tapi yang paling lemah adalah infrastruktur untuk laut dan kereta api,” ujarnya. (arh)

Sumber : Bisnis Indonesia, 31.01.11.

01 Februari 2011

[010211.EN.SEA} 'K' Profit Soars 11 Fold To US$407.9 Million, But Sees a Slowdown

JAPANESE shipping giant "K" Line net profit increased more than 11 fold year on year to US$407.9 million for the nine months ending December 31, drawn on revenues, which also increased more than 11 fold, to $9.3 billion - and this after a net profit loss of $61.9 million in 2009.
The company declared that its containership business is expected to decline because of plant shutdowns during the lunar New Year holiday in China, the world's largest exporter.

"In addition there is financial instability in Europe and depressed home sales and persistent high unemployment in the United States," said the company statement, adding that it would monitor supply and demand trends and impose reductions in sailings to match demand, as well as employing slow steaming.

"China, India and other developing countries maintained steady economic growth, and although the unemployment rate in the United States remained high, the economy began showing signs of a moderate recovery," said the company.

"In Europe, despite persistent fiscal concerns in some areas and credit risk concern the real economy as a whole did not exhibit conspicuous detrimental effects and the moderate economic recovery continued," it said.

"Cargo movement in the containership business, particularly outbound cargo from Asia remained steady. The freight rate market showed slight signs of softening in part because of seasonal factors but remained generally in line with expectations," said the statement.

"Thanks to the modest recovery of the US economy cargo movement from Asia to North America eastbound was steady, but the company has continued to reduce tonnage since last year and as a result the company cargo volume was down three per cent year on year.
The company's volume from North America to Asia fell by 16 per cent year on year because of the ongoing reduction in tonnage similar to that on eastbound routes as well as market softening in conjunction with a decline in cargo movement since the end of the second quarter. As a result the company cargo volume on the Asia-North American routes overall was down eight per cent," "K" Line said.

"On Asia-Europe routes, cargo movement is recovering steadily and the company's cargo volume from Asia to northern Europe and the Mediterranean was up 14 per cent year on year. In addition, the company's cargo volume from northern Europe and the Mediterranean to Asia increased one per cent year on year, and the company's cargo volume on Asia-Europe routes overall was up nine per cent year on year," said the "K" Line release.

Source : HKSG, 01.01.11.

[010211.ID.SEA] Indonesia : Kargo Laut Turun 25,62%

JAKARTA: Jumlah barang yang diangkut melalui kapal laut sepanjang 2010 turun 25,62% menjadi 109,3 juta ton dari sebelumnya sebesar 146,9 juta ton selama 2009. 

Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik siang ini, penurunan jumlah barang yang diangkut selama Januari-Desember 2010 terjadi di Pelabuhan Panjang dan Tanjung Perak. Sementara itu kenaikan justru terjadi di Pelabuhan Makassar, Tanjung Priok, dan Balikpapan.

Pada 2010, jumlah barang yang diangkut melalui Pelabuhan Panjang sebanyak 5,5 juta ton, turun 8,89% dari volume 2009. Sementara di Pelabuhan Tanjung Perak, barang yang diangkut turun 4,88% menjadi 8,4 juta ton dari sebelumnya 8,8 juta ton.

Untuk Pelabuhan Makassar, barang yang diangkut naik hingga 27,31% menjadi 4,6 juta ton dari 3,6 ton pada 2009. Hal serupa terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok dan Balikpapan yang masing-masing angkutan barangnya naik 11,58% dan 4,18%. 

Sementara itu, jumlah barang yang diangkut melalui kereta api (KA) sepanjang 2010 naik tipis 1,01% menjadi 19,1 juta ton dari sebelumnya 18,9 juta ton pada 2009. Sebagian besar barang yang diangkut tersebut tercatat di wilayah Sumatera, yaitu sebesar 15,2 juta ton.

Di Sumatera sendiri, peningkatan jumlah barang yang diangkut melalui KA mencapai 2,65% pada Desember 2010 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, jumlah barang yang diangkut di wilayah Jawa non-Jabodetabek pada Desember 2010 mengalami penurunan sebesar 8,57%. (sut)

Sumber : Bisnis Indonesia, 01.02.11.