19 Agustus 2012

[190812.ID.SEA] Restrukturisasi BERLIAN LAJU TANKER : Inilah Kronologis Pentingnya

JAKARTA: Kejadian penting dalam restruturisasi PT Berlian Laju Tanker (BLTA) yang memiliki utang Rp22 triliun dari 162 kreditur.
Data berikut diperoleh dari dokumen konsep restrukturisasi BLTA yang disampaikan kepada kreditur pada Jumat (10/8) di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. BLTA menggunakan konsultan Borrelli Walsh, spesialis restrukturisasi, kepailitan dan akuntansi forensik perusahaan.

25 Januari            BLT mengumumkan penghentian pembayaran dan penangghan perdagangan saham di SGX dan IDX

26 Januari            FTI Consulting ditunjuk sebagai konsultan keuangan dan Drew & Napier sebagai konsultan hukum BLT

29 Janauri            Kapal MT Prita Dewi ditahan oleh penyedia bahan bakar (Monjasa) di Houston karena tagihan yang tertunggak (tertunggak selama 3 hari). Tagihan dibayar dan MT Prita Dewi dibebaskan pada 31 Januari

6 Februari            Lantern mengajukan klaim maritim Rule B sebesar US$55 juta di US Federal Court karena kelalaian dalam memenuhi kewajiban berdasarkan kontrak sewa kapal kosong (bareboat lease) MT Wilutama (yang kemudian diubah nama menjadi (MT Chem Ranger)

10 Februari         First Ship Lease Trust meminta pengembalian 3 kapal mereka akibat adanya kelalaian BLT untuk memenuhi kewajiban untuk membayar biaya sewa kontrak kapal kosong.

16 Februari         KPI mengajukan klaim maritim Rule B atas kapal MT Partawati sebesar US$2,5 juta untuk tagihan pembayaran pembelian bunker yang tertunggak. BLT menempatkan dana sebesar US$2,5 juta pada rekening escrow sebagai jaminan dan kapal kemudian dibebaskan. BLT kemudian mengajukan tuntutan atas dasar kesalahan penangkapan karena kapal yang ditahan merupakan kapal sewa kosong yang dimiliki oleh Standard Chartered Bank, bukan BLT.

4 Maret                Cosimo Borrelli ditunjuk sebagai VP Restrukturisasi oleh BLT

6 Maret                Pertemuan pertama dengan kreditur MLA (Mandated Lead Arranger)

7 Maret                Negosiasi dimulai dengan pemilik kapal sehubungan dengan 16 kapal sewa merugi

10 Maret              Pengadilan Tinggi Singapura mengabulkan permohonan perlindungan Section 210 (10) untuk 40 kapal yang dimiliki oleh anak-anak perusahaan BLT

14 Maret              Dikabulkannya permohonan perlindungan US Bankruptcy law Chapter 15 sebagai kelanjutan atas Section 210 (10)

25 Maret              14 kapal yang merugi diidentifikasi dan kreditur MLA memberikan persetujuannya untuk dijual/dibesi-tuakan

31 Maret              11 kapal menunggu pengisian bahan bakar karena kendala likuiditas menyebabkan 42 hari kapal tidak beroperai selama Maret

17-31 April           Pengaturan kembali penyediaan bahan bakar dan rencana pembayaran yang disetujui oleh penyedia bahan bakar utama termasuk Jade Trading, KPI Bridge Oil, FNSA dan United Bunkering & Tradinng

30 April                 7 kaal menunggu pengisian bahan bakar karena kendala likuiditas, 38 hari kapal tidak beroperasi selama April

8 Mei                     Pengadilan Singapura memberikan perpanjangan perlindungan sampai 2 Juli 2012

15 Mei                  Lanntern menerima putusan yang memenangkan dirinya dari US District Court di Connecticut

17 Mei                  MT Partawati ditahan di Houston, Texas oleh Lantern (Kesalahan penahanan karena kapal itu merupakan sewa dari Standard Chartered Bank)

21 Mei                  BLTA mengajukan permohonan pendanaan sementara kepada kreditur MLA US$4,3 juta sebagai modal kerja darurat. Dana dari penjualan kapal.

25 Mei                  Pertemuan dengan Bank Mandiri. Mandiri meminta pembayaran keseluruhan utang daripada dilakukan novasi utang

31 Mei                  11 kapal menunggu pengisian bahan bakar karena kendala likuidias, 29 hari selama Mei tidak beroperasi

4 Juni                     Penjualan MT Wulansari selesai, US$1,4 juta. Dana dibayarkan kepada kreditur MLA

4 juni                     Penjualan 2 kapal ethylene disepakati secara prinsip

14 Juni                  Bank Mandiri mengajukan PKPU di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat

26 Juni                  Memperoleh pendanaan darurat dari kreditur MLA US$4,3 juta

2 Juli                      Pengadilan Singapura memberikan perlindungan s210(10) untuk jangka waktu 3 bulan

3 Juli                      Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan permohonan Bank Mandiri untuk PKPU BLTA

12 Juli                    BLTA melepas 4,2 miliar saham BULL

18 Juli                    BLTA mengajukan permohonan dana kepada kreditur MLA sebesar US$3,4 juta sebagai modal kerja untuk membayar perubahan manajemen 17 kapal (api).

Sumber : Bisnis Indonesia, 12.08.12.

18 Agustus 2012

[180812.EN.SEA] Ship On-time Performance Hits New Record High In Second Quarter

INDUSTRY-WIDE vessel schedule reliability has hit a new record high of 75.7 per cent in the second quarter of 2012, according to Drewry Maritime Research's quarterly report Carrier Performance Insight.

Its latest vessel on-time score represents a 3.4 per cent improvement from the level recorded in the first quarter. Ship arrival reliability improved particularly in May and June, which Drewry attributes to a settling down of schedules following network changes in April caused by the new alliances (G6 and CMA CGM/MSC).

"The latest data for the second quarter shows that freight rates have increased (from a low level), but so has ship on-time performance. We believe this is probably a fair deal for many shippers - a more expensive but more predictable service," said research manager Simon Heaney in a company statement.

Maersk Line and Hanjin Shipping not only maintained their positions as the two most reliable major carriers, but also improved on their first quarter performances. Maersk was said to have had its best-ever all-trades on-time score of 91.4 per cent in the second quarter, up from 89.8 per cent in the previous quarter.

Seventeen of the 27 major container shipping lines obtained a reliability score above the sector's 75.7 per cent on-time average in the second quarter, and only seven of the sample failed to improve on their score from the previous quarter.

The survey also ranks reliability by ship operator, albeit the exclusion of slot charter parties. The results show that the most reliable operators in the second quarter were Hanjin, Maersk, Hamburg Sud and CSAV.

Of the four main Key Performance Indicators (KPIs) included in the report, two improved by a few percentage points in the second quarter. These were "port-to-port transit time against schedule" and "cargo availability at destination port." One remained unchanged ("on-time shipment of cargo") and one decreased marginally ("shipping instruction and bill of lading issue time gap").

Sounding a note of caution, the researchers added:"The latest data on port dwell times is worrying. The ports of Shanghai, Hong Kong and Nhava Sheva are experiencing very long or increasing import dwell times. This may mean port congestion inefficiency (Nhava Sheva) or delays in merchants taking delivery of their containers, perhaps because they do not need the products for some time."

Source : HKSG.




[180812.ID.SEA] Sengketa Utang BLTA : Berlian Laju Tanker Akan Jual 12 Kapal

JAKARTA: PT Berlian Laju Tanker (BLTA) berencana menjual 12 kapal yang telah diidentifikasi sebagai penimbul kerugian atau menghabiskan uang.

Hal itu disampaikan dalam penjelasan pengajuan draf proposal perdamaian pada rapat di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat hari ini (10/8). Penjualan kapal merupakan salah satu langkah restrukturisasi utang yang ditawarkan kepada kreditur.

Rapat itu bagian dari proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sementara perusahaan pelayaran tersebut.

“Langkah-langkah telah diambil untuk menjual/membesi-tuakan kapal-kapal tersebut secepatnya,” ungkap konsep perdamaian BLTA yang disampaikan kepada kreditur.

Dalam rapat juga terungkap bahwa terdapat utang intercompany (anak perusahaan) sebesar Rp8,5 triliun, padahal pada rapat sebelumnya hanya disampaikan sejumlah Rp800 miliar. (sut)

Sumber : Bisnis Indonesia, 10.08.12.

17 Agustus 2012

[170812.EN.SEA] Containership Exit Has Helped Malaysia's MISC To Move Towards Recovery

MALAYSIAN carrier MISC Berhad is clawing its way out from US$1.04 billion losses accumulated over a five-year period but its shipping business remains under pressure from depressed charter rates and steep bunker costs, say industry analysts.

The Kuala Lumpur-based carrier's decision to exit from the container sector to focus on its bulk and energy operations stemmed its losses with a writeback possible of US$174 million from a pending sale of 10 containerships, said investment firm OSK Research, reported the Malaysia Star.

Although the troubled carrier is likely to continue seeing losses into third quarter, it has improved from the first.

MISC's move to exit the liner business has seen sale of container vessels amount to $200 million but it was not enough to increase its share value which has plummeted.

Its liquefied natural gas (LNG) business has kept the company going, but this sector has had a false upturn due to US-sanctions on Iranian oil imports driving up shipments.

But MISC's strong relationship with Malaysian Petronas Gas Bhd has seen it commissioning two floating storage units for it's re-gasification terminal in Malacca. This will show dividends for a 20-year period, with further business likely in as many as nine LNG vessels.

It's has also acquired Canadian shale gas firm Progress Energy which may see a strong return with production cheaper than conventional gas. "This would stimulate shipping activities and lengthen the voyage time for cheaper LNG, which will in turn be favourable for MISC in terms of higher shipping rates," said OSK Research.

Source : SN-TR.

[170812.ID.BIZ] KA Bandara : Picu Pertumbuhan Perjalanan 20.000 Wisatawan

JAKARTA: Rencana pengoperasian kereta api Bandara Internasional Soekarno-Hatta bakal memicu pertumbuhan perjalanan lebih dari 20.000 wisatawan domestik.

“Kereta api bandara akan memicu pertumbuhan perjalanan wisatawan domestic,” kata M Faried, Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, hari ini.

Dia mengemukakan dari waktu ke waktu kebutuhan angkutan udara semakin besar. Pihaknya mencatat, rata-rata penumpang yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta mencapai 1,92 juta orang per bulan pada 2010.

Angka itu meningkat menjadi 2,25 juta orang per bulan pada 2011 atau rata-rata hampir 80.000 orang perhari.

“Kalau jumlah tersebut dilayani dengan kendaraan mobil dengan rata-rata empat penumpang per kendaraan maka setiap hari akan ada 20.000 pergerakan wisatawan domestic,” ujarnya.

Menurut rencana KA Bandara akan selesai dibangun dan mulai dioperasikan pada 2013 untuk menambah aksesibilitas para pengguna jasa penerbangan.

Kementerian Perhubungan sendiri telah mengembangkan jalur KA Bandara menjadi dua yakni jalur Express Line di sebelah utara dan jalur Commuter Line di sebelah selatan.

Jalur Express Line akan beroperasi dari Manggarai-Tanah Abang-Duri-Angke-Pluit dan sejajar dengan jalan tol bandara menuju Soekarno-Hatta. Sementara jalur Commuter Line melalui Manggarai-Tanah Abang-Duri-Grogol-Bojong Indah-Kalideres-Tanah Tinggi dan menuju Bandara Soekarno-Hatta. (antara/yus)

Sumber : Bisnis Indonesia, 22.07.12.

Berita terkait, silahkan baca [030812.ID.BIZ] Kereta Api Bandara Soekarno Hatta Rampung Tahun Depan.

10 Agustus 2012

[100812.EN.SEA] Blue Star Holdings Is Second-largest NOO After Merger of E.R. & Komrowski


E.R. Capital Holding and Komrowski Holding have recently completed the merger of their shipping activities into a combined German shipowning group, known as Blue Star Holdings, seven months after the move was first announced in December 2011.

The two companies had initially planned to complete the merger in the first quarter, but the move was delayed by several months to secure the consent of competition authorities and the two groups' various stakeholders.

The ship management activities of E.R. Schiffahrt, Komrowski Befrachtungskontor and the Komrowski Group-owned Reederei Blue Star have been combined under the umbrella of the new company named Blue Star Holdings, which according to Alphaliner rankings, is now the second largest non-operating owner for containerships in terms of its fleet size, just behind its compatriot CP Offen.

The new group's shareholders are Komrowski Holding and E.R. Capital Holding whose subsidiary E.R. Schiffahrt will be responsible for managing the new activities.

Erck Rickmers' companies are consolidated under the umbrella of the Hamburg-based E.R. Capital Holding and include E.R. Schiffahrt, a ship owning and ship management company specialising in container and, more recently, bulk carrier shipping.

The jointly managed fleet under the umbrella of Blue Star Holdings consists of 137 vessels: 25 bulk carriers, four multipurpose units and 108 container ships (including two ships managed for the Norwegian shipowning group SinOceanic ASA).

Blue Star Holdings' strategy is aimed at growth, attracting other shipowning companies as partners and increasing the fleet to over 200 vessels. The company has said it is open to talks with other shipowning companies who are interested in joining the new group as partners, according to Paris-based Alphaliner.

Source : HKSG.

[100812.ID.LOG] Liberalisasi Logistik ASEAN : Forwarder Lokal Butuh Proteksi


JAKARTA: Menjelang liberalisasi dan integrasi logistik Asean 2013, perusahaan forwarder dan logistik nasional masih mencemaskan keharusan mengantongi perizinan khusus sebagai badan usaha angkutan multimoda (BUAM) sebagaimana diatur melalui PP No.8/2011 tentang Angkutan Multimoda.

Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Sofian Pane mengatakan Indonesia merupakan pasar potensial dalam aktivitas logistik maupun pergerakan dan distribusi barang mengingat jumlah penduduk Indonesia yang saat ini lebih dari 270 juta jiwa.

Namun, kata dia, hingga saat ini pemerintah belum memberikan proteksi sebagai aturan turunan dari PP Angkutan Multimuda tersebut.

Proteksi itu dengan menjamin usaha forwarder dan logistik yang mengantongi SIUP  Jasa Pengurusan Transportasi (JPT) tetap bisa melaksanakan kegiatan multimoda, tanpa harus mengantongi izin BUAM.

"Kami mengharapkan forwarder pemegang SIUP JPT tetap bisa melakukan kegiatan multimoda, sebagaimana yang sudah dilakukannya selama ini," ujarnya Senin (6/8/2012).

Dia mengatakan, perusahaan forwarder anggota ALFI, kini resah jika pemerintah tetap memberlakukan izin BUAM untuk aktivitas kegiatan tersebut.

Justru, kata dia, SIUP JIPT yang kini bisa diterbitkan di tingkat lokal melalui Dinas Perhubungan Provinsi sudah berjalan dengan baik karena melibatkan rekomendasi asosiasi terkait (ALFI).

BUAM berpotensi leluasa masuknya penguasaan asing/multinasional dengan porsi yang lebih besar menggarap logistik di Tanah Air.

Hal ini yang mesti diantisipasi, sebab saat ini hampir 90% kegiatan logistik domestik sudah dikerjakan pemain lokal, sedangkan untuk jasa ocean going hanya sekitar 10%," tuturnya. (ra)

Sumber : Bisnis Indonesia, 06.08.12.