11 September 2015

[110915.EN.SEA] Orders For Mega Containerships To Rise 13pc By 2020: Analysis

AN analysis of the order book by IHS Maritime & Trade shows that the largest container vessels on order have more than sextupled since 1975 and are set to expand by at least 13 per cent by the end of the decade.

The analysis explained that the rapid rise in ship sizes reflects the growth of globalisation in the last four decades, rise of containerisation at the expense of breakbulk and bulk shipping, and carriers" need for greater economies of scale to compete with each other and gain fuel efficiencies.

The trend of shipping lines ordering larger vessels shows no sign of abating, and the competition among ocean liners to amass fleets of ever more mega-ships is so fierce it has been likened to an "arms race".

Just in this first half, CMA CGM placed an order for six vessels with capacities of 14,000 TEU, after an earlier order of three 20,000 TEU ships, while Maersk placed an order for 11 ships with capacities exceeding 19,500 TEU and G6 Alliance members MOL and OOCL have each placed orders for 20,000-TEUers.

It is yet to be seen if carriers will benefit from the increased economies of scale, and the mega-ships have been accused of causing delays at ports and problems for terminal operators and shippers.

Ports have had to increase the depths of their channels, a multi-year, multi-million dollar expense. And with mega-ships typically calling at fewer ports than their smaller predecessors, this leads to surges of unloadings.

To cope with congestion, terminal operators must make a Sophie's choice between costly automation, estimated at between US$200 and $500 million, or expensive changes to operations, such as extra night and weekend shifts. Additionally, many operators must invest in larger cranes capable of reaching across these monolithic ships.

Shippers suffer because of an increased likelihood their products will be delayed due to port congestion and ultimately, someone must pay for the expensive upgrades to infrastructure that these ships necessitate.


Source : SN-TR, Cairo Post.

[110915.ID.BIZ] Rizal Ramli: Pelindo II Harus Tahu Diri

JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan langkahnya membongkar beton yang menutupi jalur rel kereta barang menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, dilakukan demi kepentingan nasional.

Ia mengemukakan hal tersebut saat ditanya apakah pembongkaran tersebut dilakukan atas koordinasi PT Pelindo II (Persero) yang merupakan operator pelabuhan tersebut. "Saya enggak tahu, enggak penting amat, ini perintah dari Menko agar segera dibangun jalur kereta," katanya saat pembongkaran di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (9/10).

Menurut Rizal, pembongkaran beton yang menutupi jalur rel kereta menuju Pelabuhan Tanjung Priok selama ini ditolak Pelindo II karena membuat pendapat perseroan berkurang.

Padahal, menurut dia, jalur kereta barang ke Pelabuhan Tanjung Priok merupakan solusi kemacetan yang terjadi di pelabuhan tersebut. "Pelindo yang selama ini menolak harus tahu diri ini kepentingan nasional, jauh lebih penting dari sekedar keuntungan yang diperoleh Pelindo," katanya.

Dalam pembongkaran itu, turut hadir Anggota Komisi III DPR Masinton Pasaribu, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Edy Sukmoro, Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi dan Ketua Tim Task Force Percepatan Dwelling Time yang juga Deputi II Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Agung Kuswandono, dan Ketua Serikat Pekerja Jakarta International Container Terminal (JICT) Nova Sofyan Hakim.

Rizal menuturkan, pembukaan kembali jalur kereta api barang yang berhenti beroperasi pada 1998 itu diharapkan bisa membuat efisiensi sistem logistik di pelabuhan. "Kalau jalur kereta api dibuka kembali maka akan terjadi efisiensi, mengurangi 'dwelling time', mengurangi kecelakaan dan memperbaiki jalanan," katanya.

Adanya jalur kereta barang yang masuk ke pelabuhan, menurut Rizal, akan memangkas sepertiga kemacetan di pelabuhan. Hal itu pulalah yang juga dinilai bisa mengurangi waktu bongkar muat barang (dwelling time) di pelabuhan yang saat ini berkisar 7-8 hari menjadi 2,5 hari sesuai target pemerintah.

Direktur Utama KAI Edy Sukmoro menuturkan saat ini kereta barang hanya berhenti di Stasiun Pasoso dan tidak tersambung hingga ke Terminal Peti Kemas Koja di Pelabuhan Tanjung Priok.

Menurut dia, untuk membangun jalur kereta barang hingga masuk pelabuhan tidaklah sulit. Pasalnya, pihaknya hanya perlu membuat sambungan jalur dari Stasiun Pasoso sepanjang 1,2 kilometer. "Itu tidak jauh dan kita akan bekerja keras untuk selesaikan hal itu," katanya.

Edy menambahkan, meski pembangunan ditargetkan bisa rampung dalam dua bulan, pihaknya masih harus menghadapi masalah pembebasan tanah untuk tujuh bidang.

"Tujuh bidang ini masih punya warga. Saya harap akhir September ini selesai karena sudah kita panggil orangnya, harga sudah ada dan sudah kelihatan sepakat. Kalau tidak ada halangan akhir September selesai dan Oktober kita mulai kerja," katanya.

Dengan demikian, lanjut Edy, sekitar awal tahun depan kereta barang ke pelabuhan itu sudah bisa beroperasi. "Kita harap Februari-Maret 2016 operasi," katanya.


Sumber : Kontan, 10.09.15.

10 September 2015

[100915.EN.SEA] APM Terminals Buys 11 Terminals To Expand Capacity in Latin America

MAERSK's global port operator APM Terminals (APMT) is buying 11 container ports from Spanish shipping and logistics group Perez y Cia in what Nordea Markets estimates to be EUR1.35 billion (US$1.5 billion) deal, Reuters reports.

The deal will increase APMT's container ports from 63 to 74 and include terminals in Colombia, Brazil and Mexico.

APMT chief executive Kim Fejfer said the deal would make the company better prepared to handle new alliances among container shipping companies and their mega-ships.

APMT is the world's third largest container port operator after Singapore's PSA International and Hong Kong's Hutchison Port Holdings.

"It seems like a healthy bolt-on purchase, in an industry with much more stability than some of the other of Maersk's business areas," said analyst Jacob Pedersen at Sydbank.

This is the list of Grup Maritim terminals and their annual capacities: Barcelona Muelle Sur (TCB), 1.4 million TEU; Valencia Muelle de Levante (TCV) with 900,000 TEU; Terminal Polivalente de Castellon with 300,000 TEU; Terminal de Conetenedores de Gijon (TCG) with 90,000 TEU, all of which are in Spain.

In the Canary Islands. there is Tenerife Dique del Este/El Bufadero with 350,000 TEU capacity and La Palma Santa Cruz de la Palma with a capacity of 25,000 TEU.

And in Turkey, there is the Izmir EGE Gubre Terminal (TCE EGE) with a 400,000 TEU annual capacity. In Mexico, there is the Progreso Terminal de Contenodores de Yucatan (TCY) of 100,000 TEU. In Colombia Buenaventura T de Contenedores de Buenaventura (TCBuen) with 200,000 TEU. In Brazil, Paranagua Terminal de Conteineres de Paranagua (TCP) with 650,000 TEU and in Guatemala, the Puerto Quetzal Terminal de Contenedores Quetzal (TCQ) rated at 340,000 TEU.


Source : HKSG.

[100915.ID.BIZ] Di Hadapan Anggota DPR, Rini Bela RJ Lino Terkait Perpanjangan Kontrak JICT

Bisnis.com, JAKARTA—Menteri BUMN Rini Soemarno menegaskan perpanjangan kontrak antara PT Pelabuhan Indonesia II dan Hutchison Port Holdings atas Jakarta International Container Terminal tidak melanggar hukum.

Di dalam dengar pendapat dengan Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat, Rini mengatakan tim dari Kementerian BUMN belum menemukan indikasi pelanggaran undang-undang untuk kerja sama Jakarta International Container Terminal (JICT).

“Pengusahaan terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok yang telah dikelola dan diusahakan Pelindo II sebelum UU 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran,” tegasnya, Kamis (10/9/2015).

Menteri BUMN mengatakan pengusahaan atas pelabuhan tersebut merupakan hak dan kewajiban Pelindo II yang diperoleh dari Pasal 344 jo. Pasal 90 UU Pelayaran.

Menurutnya, Pasal 344 merupakan jawaban atas tuntutan manajemen dan karyawan BUMN Pelabuhan pada saat pembahasan RUU Pelayaran.

Rini juga menegaskan bahwa suratnya tertanggal 9 Juni 2015 merupakan surat yang menjelaskan persetujuan pemegang saham, namun dengan syarat yang seharusnya dipenuhi Pelindo II sebelum memperpanjang kontrak.

Dalam surat tersebut, Menteri BUMN memang meminta manajemen Pelindo II yang dikomandoi R.J. Lino untuk memperhatikan surat dari Menteri Perhubungan tertanggal 18 September 2014.

“Kami akan meminta laporan secara tertulis dari PT Pelindo II dalam waktu dekat,” ujar Rini kepada Komisi VI.

Rini sendiri beranggapan pengelolaan pelabuhan secara bermitra dengan pihak ketiga merupakan hal lazim yang dilakukan di pelabuhan lainnya di dunia, seperti Pelabuhan Port Klang North, Malaysia; Pelabuhan Rotterdam, Belanda; dan Laemchabang Port, Thailand.


Sumber : Bisnis Indonesia, 10.09.15.

09 September 2015

[090915.EN.SEA] CSCL First Half Profit Falls 97pc to US$2.2 Million As Revenue Falls 9.2pc

CHINA Shipping Container Line (CSCL) first half profit dropped 97 per cent to US$2.2 million, drawn on revenues of $2.5 billion down 9.2 per cent year on year.

CSCL attributed the decline to weak Asia-Europe and Mediterranean container freight rates and overcapacity.

"Freight rates for Asia-Europe trade lanes hit record low levels under the impact of new shipping capacity put into market amid a weak economic growth momentum in the eurozone," said CSCL.

"In second half of 2015, international trade still won't be cheerful."

During the first half, CSCL is said to have carried just under four million TEU, a one per cent increase year on year.

CSCL recently announced plans to expand into Sri Lanka with operations at a regional trade hub in order to improve on its flexibility.

The news came comes right after the Chinese stock market crashed that could have the potential to cripple China economically and ravish the wider supply chain.

Press Trust of India previously reported that CSCL has placed an order for eight 13,500 TEU ships for around $930 million.

Of the total fleet, containerships with capacity over 4,000 TEU each accounted for 90 per cent of CSCL's fleet.

As of June 30, the company's total capacity stood at more than 900,000 TEU, with an average age of 8.3 years.


Source : HKSG.

[090915.ID.BIZ] Mataharimall.com Resmi Diluncurkan Hari Ini

Bisnis.com, JAKARTA--Situs e-commerce Mataharimall.com hari ini resmi diluncurkan, dengan program penawaran awal berupa SuperSeptember.

CEO Mataharimall.com Hadi Wenas mengatakan SuperSeptember merupakan kampanye tunggal terbesar dalam sejarah ritel online di Indonesia. "Kami memberikan penawaran terbaik, mulai dari mobil, ponsel, sampai pakaian dan kebutuhan rumah tangga," demikian menurut Hadi saat peluncuran Mataharimall.com di Jakarta Rabu (09/09).

Dia mengatakan promo yang ditawarkan Mataharimall.com kali ini berupa SuperPrizes, Super Surprise Deals, dan Super cicilan. Dalam promo ini, konsumen bisa mendapatkan hadiah berupa apartemen, tur dengan helikopter, mobil mewah, motor premium dan hadiah lainnya.

Selain itu, mereka juga menawarkan diskon hingga 99% untuk barang favorit konsumen, atau program cicilan 0% tanpa batas minimum. Mataharimall.com awal peluncurannya disajikan dalam bentuk beta.

Mereka sendiri mengklaim meski terbilang baru, traffic Mataharimall.com cukup tinggi. "Berkat kepercayaan konsumen terhadap produk matahari, jumlah traffic sangat tinggi, bahkan saat pemasaran masih minim," ujar Head of Online Marketing Mataharimall.com, Timothy Martin.

Seperti halnya e-commerce lainnya, Mataharimall.com menyediakan beragam kebutuhan harian seperti perangkat elektrinik, fesyen, gaya hidup, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Mataharimall.com, didukung oleh Lippo Group berkomitmen menjadi e-commerce terbesar di Indonesia seperti Alibaba Indonesia.

Chairman Mataharimall.com Emirsyah Satar menyatakan e-commerce tersebut akan berkontribusi pada pertumbuhan e-commerce nasional, yang diharapkan juga menjadi oenggerak perekonomian negara.

"Selanjutnya kami juga akan bekerjasama dengan pemerintah dan mitra-mitra kami, serta menguatkan UKM Indonesia, dan menyajukan pengalaman berbelanja yang unik bagi para konsumen," ujar Emir.

Sumber : Bisnis Indonesia, 09.09.15.

08 September 2015

[080915.EN.SEA] Arrested 735-TEUer and Chemical Tanker Up For Auction in Singapore

A SECOND arrested vessel in Singapore will be sold at auction later this month, records from The Supreme Court of Singapore show, reports Vancouver's Ship and Bunker.

The 735-TEU feeder vessel Star Jupiter was detained in March following action by local Singaporean firm Asia Practice.

The sheriff noted that bunker valued at a non-negotiable S$130,500 (US$91,647) are on-board the vessel, the total for which would also have to be paid by the purchaser.

Online vessel valuation service has assessed Star Jupiter's current market value to be US$3.71 million, down from its US$3.85 million valuation at the time of arrest.

Bids are to be made no later than 3pm on September 14 and must be made with a deposit of S$50,000 (US$35,400).

Also up for auction this month is the Malaysian-flagged chemical tanker Imbak, following it's arrest in March over a dispute with Singapore bunker player Sky Oil & Gas Asia Pte (Sky Oil).

Source : HKSG.