20 Agustus 2015

[200815.EN.SEA] Giant 2M Alliance Slims Asia-Europe Services In Face Of Weak Peak


2M PARTNERS, Maersk and MSC, have announced a slimming of their Far East-Med-Europe loops from mid-September, reports Alphaliner.

Rotations of six Far East-North Europe loops will be changed, involving mainly port swaps on the European legs of the loops, while the Asian legs will suffer minor changes.

Of note, Maersk and MSC continue to advertise the AE-9/Condor service as one of the six FE-North Europe loops within the 2M network despite an earlier announcement that the loop would be suspended from September 14.

According to a more recent statement, the service is to be operated as a "seasonal service subject to demand on the Asia-North Europe trade? although it is currently unclear how many sailings will actually be mounted, said Alphaliner.

The new Far East-North Europe service patterns will change on the AE-1/ or Shogun rotation to Felixstowe, Rotterdam, Hamburg, Bremerhaven, Rotterdam, Le Havre, Colombo, Tanjung Pelepas, Singapore, Hong Kong, Shenzhen-Yantian, Kobe, Nagoya, Yokohama, Ningbo, Shanghai, Hong Kong, Shenzhen-Yantian, Tanjung Pelepas, Colombo, Felixstowe (Goteborg & Wilhelmshaven calls shifted to AE-2/Swan), deploying eleven 13,000 and 15,500 TEUers.

On the AE-2 or Swan will change to Southampton, Antwerp, Bremerhaven, Goteburg, Aarhus, Wilhelmshaven, Bremerhaven, Antwerp, Tangier, Singapore, Shanghai, Busan, Xingang, Qingdao, Shanghai, Ningbo, Shenzhen-Yantian, Tanjung Pelepas, Tangier, Southampton (Goteborg & Wilhelmshaven calls added from AE-1/Shogun. Southampton call added from AE-9/ Condor. Aarhus call added from AE-10/Silk. Hamburg & Hong Kong dropped. King Abdullah eastbound call shifted to AE-12/Phoenix) deploying twelve 15,500- and 19,200-TEUers.

AE-5 or Albatross will change to Le Havre, Rotterdam, Bremerhaven, Felixstowe, Tangier, Algeciras, Tanjung Pelepas, Shenzhen-Yantian, Shanghai, Dalian, Busan, Qingdao, Ningbo, Shanghai, Xiamen, Shenzhen-Yantian, Tanjung Pelepas, Algeciras, Le Havre (Le Havre call added from AE-6/Lion, Wilhelmshaven call shifted to AE-6/Lion) deploying eleven 15,500- and 19,200 TEUers.

AE-6 or Lion will change to Antwerp, Hamburg, Wilhelmshaven, Rotterdam, Antwerp, Felixstowe, Le Havre, Salalah, Jebel Ali, Singapore, Shenzhen-Chiwan, Hong Kong, Shenzhen-Yantian, Xiamen, (USWC), Ningbo, Shanghai, Xiamen, Shenzhen-Chiwan, Guangzhou-Nansha, Shenzhen-Yantian, Tanjung Pelepas, Sines, Antwerp (Le Havre westbound call shifted to AE-5/Albatross replaced by Antwerp, with Bremerhaven calls dropped, and Wilhelmshaven added), deploying seventeen 13,000-14,000 TEUers.

AE-9 or Condor will now be a seasonal loop rotating through Felixstowe, Antwerp, Bremerhaven, Rotterdam, Tangier, Colombo, Port Kelang, Tanjung Pelepas, Ningbo, Shanghai, Shenzhen-Yantian, Tanjung Pelepas, and Felixstowe (Southampton call shifted to AE-2/Swan, Barcelona, Tangier & Le Havre westbound calls dropped and the European rotation revamped as seasonal loop TBA.

AE-10 or Silk service will now be changed to Felixstowe, Bremerhaven, Gdansk, Bremerhaven, Rotterdam, Singapore, Shenzhen-Yantian, Busan, Kwangyang, Shanghai, Ningbo, Yantian, Tanjung Pelepas, Felixstowe (Aarhus call shifted to AE-2/Swan, Hong Kong eastbound call dropped) deploying eleven 18,300 TEUers

The 2M's five dedicated Far East-Med loops will remain mostly unchanged except for the addition of two new Med direct calls at Tekirdag (on the 'AE-15/Tiger' loop) and at Haifa (on the 'AE-12/Phoenix' loop). Tekirdag (aka Asyaport) is a new large-scale terminal located on the European side of the Marmara Sea, about 100 kilometre west of Istanbul-Ambarli's container terminals.

The revised FE-Mediterranean service patterns are as follows: The westbound calls at Barcelona and Tangier on the AE-9/Condor service, served enroute to North Europe, will also be dropped in the new seasonal service configuration, with no new replacements on existing Asia-Med services.

According to previous announcements made by Maersk and MSC on June 11, the capacity of the AE-9 or Condor service was to be cut from 9,500 TEU to 6,500 TEU through a replacement of the 9,500-TEU class ships currently plying the service with 6,500-TEU units, while the Mediterranean calls were expected to be removed.

But bigger ships of up to 13,000 TEU were instead introduced in the weeks following this announcement.The AE-9/Condor currently covers Southampton, Le Havre, Antwerp, Felixstowe, Tangier, Shenzhen-Chiwan, Ningbo, Shanghai, Shenzhen-Yantian, Shenzhen-Chiwan, Tanjung Pelepas, Barcelona, Tangier and Southampton.


Source : HKSG.

[200815.ID.BIZ] KPPU Curigai Praktik Monopoli Batu Bara di Berau

Bisnis.com, BALIKPAPAN—Komisi Pengawas Persaingan Usaha wilayah Balikpapan mengendus adanya persaingan usaha tidak sehat dalam pemberian izin usaha pertambangan oleh Pemerintah Kabupaten Berau.

Kepala Perwakilan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Balikpapan Ahkmad Muhari mengatakan pihaknya sedang melakukan penelitian terkait  izin usaha pertambangan (IUP) yang dikeluarkan pemerintah daerah sebelum era 2010.

Dari penemuan awal, KPPU menduga ada praktik monopoli usaha pertambangan batu bara yang terjadi di Kabupaten Berau.

“Kami memang sedang meneliti kebijakan pemerintah daerah soal penerbitan IUP. Saat ini kasus yang kami temukan baru di Berau,” katanya saat ditemui Bisnis di kantornya, Kamis (20/8/2015).

Muhari menjelaskan, KPPU menemukan pengusaha yang menempati beberapa jabatan sekaligus di sejumlah perusahaan batu bara yang beroperasi di Kabupaten Berau.

Tidak hanya satu, KPPU juga menemukan beberapa orang yang melakukan praktik tersebut.

Kondisi ini disinyalir membuat satu orang bisa menguasai satu wilayah IUP dengan berbagai entitas bisnis berbeda.

Jika hal itu terbukti, KPPU khawatir terjadi praktik monopoli oleh penguasa IUP tersebut.

Selain bisa mengontrol suplai, praktik ini juga akan menghalangi masuknya investor lain yang ingin menggarap bisnis batu bara.

Padahal, meskipun harganya sedang turun Muhari menilai batu bara tetap menjadi komoditas seksi yang diincar banyak pihak.

Muhari menambahkan, sebelum kewenangan penerbitan IUP dilimpahkan ke pemerintah provinsi, banyak pemerintah kabupaten di Kalimantan yang hanya menggunakan Undang Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba) untuk memberikan izin.

Padahal, IUP batu bara seharusnya juga memperhatikan UU No.5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

KPPU berharap dapat menyelesaikan penelitian ini pada Oktober atau paling lambat November.

Pekan depan, pihaknya akan menemui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral di Jakarta dan Dinas Pertambangan Kalimantan Timur guna melengkapi data.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pertambangan Kabupaten Berau Mappasikra Mappaseleng mengatakan pihaknya memang sudah bertemu dengan KPPU terkait masalah tersebut.

Namun, pihaknya masih menelusuri nama-nama yang dimaksud untuk memperjelas kecurigaan praktik monopoli dalam penerbitan IUP.

“Kami berterimakasih atas masukan dari KPPU. Kami akan segera menindaklanjuti temuan tersebut,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis.

Mappasikra menjelaskan dalam penerbitan IUP pihaknya memang hanya mengacu pada UU Minerba.

Sebelum kewenangannya dicabut, Pemkab Berau telah menerbitkan 21 IUP batu bara di wilayahnya.

Salah satu yang terbesar adalah milik PT Berau Coal Energy Tbk.

Dari jumlah tersebut, akibat harga batu bara yang tidak kunjung membaik, saat ini hanya 9 perusahan yang masih beroperasi.


Sumber : Bisnis Indonesia, 20.08.15.

19 Agustus 2015

[190815.EN.BIZ] APM Terminals Enters Colombia With Majority Stake in Cartagena Terminal

MAERSK's standalone port operator APM Terminals (APMT) has signed a deal to enter the Colombian market in the key Caribbean port of Cartagena, reports London's Loadstar.

The company has announced that it has acquired a 51 per cent of the multi-purpose terminal at the Atlantic side port operated by Bogota-headquartered Compania de Puertos Asociados (Compas).

Under the terms of the deal the two companies will invest US$200 million each in upgrading the terminal into a container handling facility with an initial annual capacity of 750,000 TEU.

It will be upgraded to serve the bigger ships - up to 13,000 TEU - that are expected to transit the Panama Canal when its expansion is complete next April.

Said APM Terminals CEO Kim Fejfer: "Cartagena has enormous significance in South America ports and this JV underlines APM Terminals' growth and investment plans."

The deal will also bring inter-terminal competition to Colombia's main container hub for the first time. Box operations have hitherto been dominated by the privatised port authority Sociedad Portuaria regional de Catagena (SPRC), which itself has been the subject of a series of acquisition bids over the past few years.

Over the past two decades SPRC has made huge advances in modernising what has become both the main container gateway to Colombia's industrial hinterland, and the major transhipment hub on South America's Caribbean coast, providing effective competition to the more established hubs at the Atlantic entrance to the Panama Canal.

Colombian exports include mineral fuels, oils, distillation products, precious stones, forest products, pulp and paper, coffee, meat, cereals, vegetable oil, cotton, flowers, sugar and fruit, as well as processed fish and a growing list of exported machinery.


Source : HKSG.

[190815.ID.BIZ] Jokowi Tugaskan Rizal Ramli Selesaikan Masalah Dwelling Time

Bisnis.com, JAKARTA- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menugaskan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyelesaikan persoalan dwelling time paling lambat Oktober tahun ini.

Pramono Anung, Sekretaris Kabinet, mengatakan Presiden Jokowi merasa dwelling time yang mencapai lebih dari lima hari saat ini masih terlalu lama. Untuk itu, Presiden memberikan tugas secara khusus kepada Menko Kemaritiman jntuk memperpendek dwelling time.

"Presiden Jokowi memberikan batas waktu pada Oktober 2015, dwelling time sudah bisa sampai empat hari," katanya di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (19/8/2015).

Seperti diketahui, persoalan dwelling time menarik perhatian Presiden, karena waktu yang dibutuhkan untuk proses tersebut di dalam negeri jauh lebih lama dibandingkan dengan negara lain.

Lamanya proses dwelling time berdampak pada membengkaknya ongkos logistik yang harus dikeluarkan, sehingga dibebankan kepada masyarakat sebagai konsumen.

Rizal Ramli, Menko Kemaritiman, mengatakan pihaknya baru akan fokus menyelesaikan persoalan dwelling time pekan depan. Saat ini tim dari Kementerian Koordinator Kemaritiman masih bekerja menyusun rencana yang akan dilakukan untuk menyelesaikan persoalan itu.

"Minggu depan kami akan fokus dalam strategi dan kebijakan dalam menurunkan dwelling time," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah akan menggandeng Kapolri dan Panglima TNI untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Keterlibatan penegak hukum diperlukan untuk menghilangkan mafia yang selama ini menyebabkan lamanya proses dwelling time.

Sebelumnya, Presiden Jokowi mengatakan pemborosan yang ditanggung pengusaha akibat lamanya proses dwelling time mencapai Rp740 triliun. Beban tersebut pun kemudian diberikan kepada masyarkat sebagai konsumen, dengan cara meningkatkan harga produk yang melewati pelabuhan.


Sumber : Bisnis Indonesia, 19.08.15.

18 Agustus 2015

[180815.ID.BIZ] China Top 30 Ports Post 6.1pc Gain in First Half to 102.7 Million TEU

CHINA's top 30 ports handled 5.67 billion tonnes of cargo in the first half of 2015, up 2.6 per cent year on year, a slow down from last year's 5.6 per cent increase, according to Ministry of Transport data.

First half container throughput volume was up 6.1 per cent at 102.7 million TEU with 92.1 million TEU from coastal ports and 10.6 million TEU from river ports.

As a result of the slower growth of emerging economies, unbalanced recovery of developed economies, as well as the ongoing escalated regional conflicts, container throughput may see a small drop in the second half of this year, says the Shanghai Shipping Exchange.

Nineteen coastal ports handled 3.94 billion tonnes of cargo, rising 1.6 per cent with the other 1.73 billion tonnes lifted by river ports, where volumes grew five per cent, reported IHS Maritime News.

In the first quarter of 2015, the cargo throughput increased by 2.2 per cent over the previous year, representing the slowest growth since 2009.

Iron ore imports were down 0.9 per cent at 453 million tonnes while incoming coal was 99.9 million tonnes a fall of 38 per cent from the year before. But crude oil was up 7.5 per cent at 163.4 million tonnes.

The SSE attributed slower growth to weak export, adjustments of China's domestic economy, as well as slower investment increase from January to June this year.


Source : HKSG.

[180815.ID.BIZ] Cerahnya Masa Depan Startup e-commerce di Indonesia

JAKARTA - Bisa dibilang saat ini merupakan era smartphone dan internet. Bagaimana tidak, perangkat mobile ini sudah digunakan oleh semua kalangan masyarakat, baik tua, muda, di desa maupun di kota.  Bukan hanya untuk komunikasi, tapi juga untuk berbisnis.

Bahkan peran perangkat ini diperkirakan bakal makin meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

"Saat ini 70 persen transaksi yang berlangsung di Bukalapak.com sudah menggunakan smartphone dan diperkirakan bisa akan mencapai angka 95% dalam 2-3 tahun ke depan," jelas Achmad Zaky, CEO & Co-Founder Bukalapak.com, dalam keterangan persnya, hari ini.

Zaky mengatakan, seiring dengan penjualan smartphone yang terus meningkat, diperkirakan 3 tahun ke depan akan ada 100 juta unit smartphone baru. Maka transaksi e-commerce ke depannya akan didominasi melalui smartphone.

"Meningkatnya angka pengguna smartphone ini juga didorong oleh makin terjangkaunya harga smartphone. Ibu-ibu rumah tangga, tukang ojek, tukang bakso dan penyedia jasa informal lainnya semakin banyak yang menggunakan smartphone," sambungnya.

Menurutnya, para pengguna smartphone tersebut juga akan menggunakannya untuk bertransaksi di e-commerce, seperti untuk jual-beli barang, melakukan pemesanan tiket pesawat dan hotel, serta melakukan pemesanan jasa transportasi ojek, taksi dan lainnya.

Cerahnya masa depan e-commerce di Indonesia ini juga didukung oleh keberadaan talent-talent terbaik di bidang teknologi informasi, baik lulusan perguruan tinggi lokal ternama di Indonesia maupun jebolan universitas di luar negeri.

"Bahkan diaspora Indonesia juga tertarik untuk kembali ke Indonesia dan bergabung dengan start up lokal. Di Bukalapak.com sudah ada diaspora Indonesia yang sebelumnya bekerja di Singapura dan Jepang, mereka bersedia pulang ke Indonesia dan turut mengembangkan industri e-commerce Indonesia," jelas Zaky.

Dia menjelaskan, kondisi ini didorong oleh makin majunya industri e-commerce Indonesia khususnya startup lokal sehingga menciptakan situasi kondusif bagi talent-talent di bidang TI untuk tumbuh berkembang di dalamnya.

"Mereka yang dulu berorientasi bekerja di perusahaan perbankan, oil & gas, multinational company maupun perusahaan TI internasional, kini mau bergabung dengan e-commerce lokal yang sedang berkembang pesat," terangnya.

Menurut Zaky industri startup yang benar adalah seperti ini, yang bottom line -ya talent-talent terbaik di bidangnya. Sehingga jika mereka keluar dari startup dimana mereka bekerja sekarang, mereka akan bisa menciptakan startup-startup baru.

Selain itu ada hal yang lebih penting yaitu menciptakan perusahaan dan industri yang sustain. Karena jika perusahaan dan industrinya tidak sustain dan bisa hancur maka talent-talent terbaik tadi akan balik kandang, kembali ke kampus, ke laboratorium dan lainnya.

"Harapannya adalah startup-startup yang ada sekarang bisa sustain dan tumbuh berkembang lebih pesat lagi, sehingga makin banyak muncul startup-startup baru dan ekosistemnya akan semakin kuat dan bisa sustain," pungkas Zaky. (rl/sam/jpnn)


Sumber : JPNN, 18.08.15.

17 Agustus 2015

[170815.EN.BIZ] US Regulators Fine UASC, NVOs US$1.2 Million For Charging Too Little

THE US Federal Maritime Commission said it had levied US$1.2 million in fines against Dubai's United Arab Shipping Co (UASC) and seven non-vessel-operating common carriers for not charging the higher minimum declared rate for services as set by federal statute.

The UASC paid $537,500 in fines to the FMC, which said that "UASC violated 46 USC 41104(1) by unlawfully rebating to its NVO customer, Falcon Maritime and Aviation Inc, a portion of the applicable service contract rate for which no services were provided.

"UASC also violated 46 USC 41104(2) by providing transportation not in accordance with the rates and charges in its published tariff," said the FMC, reported American Shipper.

Falcon Maritime and Aviation, a licensed NVO based in Jamaica, New York was fined $85,000 as it was said to have unlawfully obtained rebates.

City Ocean Logistics Co Ltd in Shenzhen and City Ocean International and CTC International of Diamond Bar, California, was fined $325,000, and the OTI licence of CTC will be surrendered.

The FMC said the NVOs "knowingly and wilfully obtained ocean transportation at less than the rates and charges applicable".

Oriental Logistics Group of Taiwan paid $100,000. Hyundai Logistics of La Mirada, California, was fined $100,000. Sea Gate Logistics of Valley Stream, New York paid $80,000 in fines.


Source : HKSG.