31 Oktober 2018

[311018.EN.BIZ] Air Charter Service Helps Fly in 600 Tons of Relief Goods to Indonesia


SINCE the earthquake and tsunami that devastated parts of Indonesia in September 28, Air Charter Service has delivered more than 600 tons of aid to the country, reported the American Journal of Transportation.

Over the past few weeks Air Charter Service's global offices have been sourcing aircraft to carry relief goods to the region.

Said ACS cargo chief Dan Morgan-Evans: "The 7.5 magnitude earthquake and subsequent tsunami caused widespread damage to the Sulawesi coast of Indonesia - tens of thousands of homes have been destroyed and there are hundreds of thousands of people now homeless.

"The death toll from the natural disaster has now exceeded 2,000, with many thousands of people still missing. Our US, Asian and European offices have all been heavily involved in the humanitarian effort since, on behalf of our clients," Mr Morgan-Evans said.

"We have been flying in different types of much needed aid, such as shelter kits and water purifying tablets on a variety of aircraft types, including Antonov AN-12s, Boeing B757s and B777s."

He said there are still a lot of aid supplies stockpiled in Malaysia and the surrounding area so, once the aircraft were sourced, many of the operations have been swift.

"We have flown in other relief goods from the Middle East and Europe - in total, seven of our offices have arranged more than 20 charters to the region carrying a total of just over 600 tonnes," Mr Morgan-Evans said.

Source : HKSG.

[311018.ID.BIZ] Era Baru Pelabuhan Lokal Berstandar Global


Apa ukuran paling mudah untuk menilai kondisi sektor riil di Indonesia? Jawabannya ada di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Bisa saja jawaban tersebut dianggap mengada-ada. Namun, bagi kalangan pebisnis dan wartawan Pelabuhan Tanjung Priok dianggap sebagai respresentasi sektor riil di Tanah Air. Saat aktivitas bongkar muat di pelabuhan itu meningkat, bisa dikatakan sektor riil sedang menggeliat. Sebaliknya, jika pelabuhan tersebut sepi, pada saat itu perekonomian nasional sedang lesu.

Semua kondisi itu menemukan pembenarannya karena Pelabuhan Tanjung Priok menangani hampir 70% kegiatan impor ekspor di Tanah Air. Maka jangan heran jika Tanjung Priok disebut sebagai pelabuhan tersibuk di Indonesia.  Padahal, jumlah pelabuhan berstatus internasional seantero Nusantara cukup banyak yaitu mencapai 141 unit. Jumlah itu sudah memasukkan Pelabuhan Tanjung Priok.

Dengan status Tanjung Priok sebagai penguasa pasar sektor riil, setiap hambatan sekecil apa pun di pelabuhan tersebut akan menjadi bahan perbincangan di kalangan pebisnis. Informasi hambatan itu akan tersiar dengan cepat di kalangan pewarta media.

Salah satu hambatan yang masih membayangi Pelabuhan Tanjung Priok adalah masalah jalur distribusi dari dan menuju pelabuhan. Sejauh ini, kemacetan arus distribusi ke pelabuhan semakin lama kian parah seiring dengan peningkatan arus bongkar muat barang di pelabuhan tersebut. Laju pertumbuhan arus barang diproyeksikan melambat jika akses dari dan menuju pelabuhan masih bertumpu pada akses jalan tol saja. 

Pada 2017, Pelabuhan Tanjung Priok tercatat rata-rata melayani sekitar 11,5 juta TEUs per tahun.

PLATFORM DIGITAL

Pilihan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero)/IPC memanfaatkan teknologi informasi untuk membangun kantong parkir truk atau buffer area di Pelabuhan Tanjung Priok patut diapresiasi meski belum sepenuhnya menyelesaikan masalah.

Operator pelabuhan menyiapkan kantong parkir seluas 2 hektare yang lokasinya di bekas lahan pabrik Pacific Paint, Jalan R.E. Martadinata, Jakarta Utara. Buffer area itu mampu menampung hingga 1.100 unit truk juga dilengkapi sistem teknologi informasi yang serba canggih. Para pengemudi truk bisa memantau aktivitas bongkar muat melalui layar monitor yang tersedia secara terkini.

Direktur Operasional dan Sistem Informasi IPC Prasetyadi mengatakan kelancaran arus barang dan kendaraan di pelabuhan adalah dambaan semua pihak. Dengan penataan parkir serta penggunaan buffer area berteknologi digital, dia berharap hal itu memperlancar arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok. “[Kini] kita sedang memasuki era baru pelabuhan, di mana semuanya serba digital dan realtime,” katanya belum lama ini.

Selain itu, Pelindo II juga tengah menyiapkan proyek Cikarang Bekasi Laut (CBL) Inland Waterway untuk menautkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan hinterland. Proyek CBL Inland Waterway sepanjang 25 km bisa menjadi moda transportasi alternatif dari dan menuju pelabuhan tersibuk di Indonesia itu.

Selama ini, koneksi Pelabuhan Tanjung Priok dengan kawasan industri di Cikarang dengan masih terbatas pada jalan tol dan kereta api. Jalan tol memegang peran dominan angkutan ke pelabuhan sedangkan kereta api masih sangat kecil pangsanya yaitu tidak sampai 5%.

Pelindo II berharap proyek CBL Inland Waterway yang menelan investasi Rp3,4 triliun termasuk juga pengembangan 200 hektare area terminal transportasi sungai di dekat zona industri Cikarang bisa mengurangi dominasi jalan tol.

Pada tahap pertama, CBL Inland Waterway akan menggunakan kanal existing yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melewati Marunda, Jakarta Utara. Pada tahap selanjutnya, PT Pelindo II akan menambahkan rute kanal dari CBL hingga Cikampek, Karawang. Dengan perpanjangan itu, angkutan barang berbasis kanal itu akan menghubungkan arus logistik dari Pelabuhan Tanjung Priok hingga kawasan industri Cibitung-Cikarang di Bekasi serta Cikampek.

Dalam akun Instagramnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga meyakini pengoperasian CBL Inland Waterway akan mengurangi secara drastis kemacetan jalan tol Jakarta Cikampek. Dengan merevitalisasi kanal Cikarang Bekasi Laut, kapal tongkang pengangkut kontainer dari Pelabuhan Tanjung Priok bisa dilayarkan hingga ke kawasan industri Cikarang, begitupun sebaliknya.

Bila inovasi itu dijalankan, pemanfaatan kanal akan menghilangkan aktivitas 4.000 truk kontainer tiap hari yang masuk jalan tol. “Semoga inovasi ini menjadi solusi untuk semua pihak,” tulisnya.

PELABUHAN BESAR

Keinginan Pelindo II membangun transportasi alternatif Pelabuhan Tanjung Priok dengan CBL Inland Waterway patut didukung. Hampir di semua pelabuhan besar di dunia tidak hanya mengandalkan satu atau dua moda transportasi.

Salah satu contohnya adalah Pelabuhan Hamburg, Jerman yang merupakan pelabuhan tersibuk kedua di Eropa. Pelabuhan yang dioperasikan Otoritas Pelabuhan Hamburg juga didukung jalan tol, transportasi Sungai Elbe dan kereta api.

Ketiga moda transportasi itu memegang peran penting dalam mendukung aktivitas Pelabuhan Hamburg yang melayani 9,73 juta TEUs per tahun. Selain transporasi Sungai Elbe, pelabuhan itu juga didukung jaringan kereta api sepanjang 304 km. Bahkan, 24% dari total volume kontainer yang dibongkar muat di Pelabuhan Hamburg diangkut memakai kereta api. Pada masa mendatang, Otoritas Pelabuhan Hamburg akan menaikkan hingga 30% dari kontainer yang dibongkar dan dimuat di pelabuhan itu diangkut angkutan berbasis rel.

Pelabuhan Hamburg tidak hanya didukung infrastruktur rel, jalan tol dan sungai saja. Pelabuhan di Jerman itu memiliki platform digital yang dikembangkan Dakosy, penyedia perangkat lunak di Pelabuhan Hamburg, guna memudahkan para pemangku kepentingan berbisnis di pelabuhan itu.

Sistem digital yang dikembangkan Dakosy memadukan data milik instansi pemerintah seperti bea dan cukai serta data milik perusahaan pelayaran dan angkutan pelabuhan.

Dengan platform digital itu, para pengemudi truk bisa mengetahui secara terkini pergerakan kontainer saat kapal mulai mendekat pelabuhan. Dengan model itu, para pengemudi truk bisa tahu kapan harus merapat ke pelabuhan guna mengangkut keluar kontainernya. Pada tahun lalu, penyedia perangkat lunak itu meluncurkan layanan untuk menangani kontainer kosong dengan efisien yang bisa diakses di seluruh Eropa.

Setelah melihat pengalaman Pelabuhan Hamburg, kini kita bisa lebih netral menilai Pelabuhan Tanjung Priok betapa semangatnya pelabuhan tersibuk di Indonesia berbenah menjadi pelabuhan kelas dunia. Tujuanya tak hanya ingin melayani pelaku bisnis tetapi juga agar sektor riil tetap tumbuh.

Sumber : Bisnis, 31.10.18.

30 Oktober 2018

[301018.EN.BIZ] ICS Hails Progress Made by IMO to Implement Greenhouse Gas Reduction


THE International Chamber of Shipping (ICS) has welcomed the International Maritime Organisation's progress on key environmental issues and the constructive role of China in greenhouse gas (GHG) debate. The comments follow a critical IMO Marine Environment Protection Committee (MEPC) meeting.

ICS chairman Esben Poulsson commented: "IMO also made very good progress towards implementing the ambitious GHG reduction strategy agreed in April, adopting an action plan for the development of short-term measures that will deliver additional CO2 reductions before 2023 plus longer-term measures that will eventually achieve full decarbonisation of international shipping."

The ICS said it is particularly pleased that IMO member states have not sought to reopen the historic agreement or the carbon dioxide reduction targets previously agreed and that governments, in partnership with industry, are totally committed to making the GHG strategy a success.

"We were very pleased by the constructive role taken by China, whose proposals for organising future work formed a key part of the agreed IMO action plan," said Mr Poulsson.

While no concrete decisions were taken on specific new CO2 reduction measures, ICS notes broad support for the industry's proposals for mandatory auditing of Ship Energy Efficiency Management Plans - the 'Super SEEMP' - and further improvements to the Energy Efficiency Design Index for future ships. Both are measures that ICS says can be adopted very quickly.

ICS highlighted that there is growing understanding amongst member states about the serious problems associated with ideas such as publishing mandatory operational efficiency indicators or adopting mandatory speed limits due to the potential for "seriously distorting shipping markets and disrupting the efficiency of global trade."

Mr Poulsson added: "With the action plan agreed by IMO this week, the way is now clear to make detailed proposals for specific CO2 reduction measures at the next MEPC in May. In co-operation with other industry associations ICS intends to come forward with detailed ideas, potentially including new and innovative measures for long term CO2 reduction and the development of zero CO2 fuels."

The ICS also welcomes the adoption by IMO of guidelines on implementation of the global 0.5 per cent sulphur content cap in maritime fuel, which takes effect on January 1 2020, including a template for implementation planning as requested by the industry.

"Many industry associations, including ICS, have raised legitimate concerns about fuel availability, safety and compatibility of new fuels - a particular problem for those in the tramp trades," the ICS added.

"But if shipowners can demonstrate in good faith that they've done everything possible to follow an implementation plan - in line with the template IMO has now adopted - we hope that common sense will prevail in the event that safe and compliant fuels are not immediately available everywhere."

Source : HKSG.

[301018.ID.BIZ] Dari MRT, Agung Wicaksono Pindah ke Transjakarta


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Agung Wicaksono yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Operasi dan Maintenance PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, saat ini berganti jabatan dan menduduki posisi Direktur Utama Transjakarta menggantikan Budi Kaliwono. Ia menyebut bahwa pengangkatan dirinya disampaikan langsung oleh Gubernur Anies Baswedan sebelum bertolak ke Argentina.

“Satu kata yang paling mengemuka pada waktu saya dipanggil menghadap beliau (Anies) pada hari Kamis tanggal 25 Oktober adalah integrasi. Kata integrasi itu yang saya dalam beberapa hari ke depan akan betul-betul pelajari dan akan jabarkan bagaimana ini dilakukan, tentu dengan dukungan tim dari Transjakarta,” kata Agung, Senin (29/10) di Balaikota DKI Jakarta.

Menurutnya hal yang perlu dilanjutkan dalam penerapan Transjakarta adalah integrasi antar moda yang belum maksimal. Ia mencatat ada tiga poin penting yang perlu dimaksimalkan dalam penerapan sistem integrasi ini.

“Jadi dari tim kami sudah mengidentifikasi dan tadi saya juga coba diskusi dengan Pak Budi. Utamanya adalah memang integrasi di internal Transjakarta sendiri. Kemudian yang kedua adalah integrasi operator-operator. Dan ketiga adalah integrasi antar moda yang berbasis jalan dan berbasis rel. Berbasis rel berarti ada namanya MRT dan LRT nantinya,” ungkapnya.

Sebelumnya Anies Baswedan melakukan rebranding untuk program OK Otrip menjadi Jak Lingko dimana ini diharapkan bisa memudahkan pemahaman akan integrasi dalam hal transportasi. Agung menyebut bahwa prinsip integrasi Jak Lingko akan diaplikasikan pada tiga operator transportasi di Jakarta.

“Kami akan ikuti prinsip Jak Lingko. Kuncinya untuk mengintegrasikan. Mengenai bagaimananya, secara detail kita akan pelajari lebih jauh. Karena ada tiga jenis operator yang saya pahami sejauh ini. Ada yang besar, sedang dan kecil,” kata dia.

Sumber : Kontan, 30.10.18.