31 Januari 2021

[010221.EN.SEA] Orient Overseas International Limited Volumes Up 23.7pc

 

HONG KONG's Orient Overseas International Limited (OOIL), now a Cosco unit, announced its fourth quarter updates, including a total volume rate up 23.7 per cent compared to last year's quarter.

OOIL's total revenue increased 51.2 per cent to US$2.4 million, while loadable capacity increased 17.5 per cent. The overall load factor was 4.6 per cent higher.

The average revenue per TEU increased 22.2 per cent, total volumes were up 7.3 per cent, and total revenues saw 18.9 per cent growth.

Loadable capacity increased 3.7 per cent, with the load factor up 2.8 per cent. The average revenue per TEU increased 10.8 per cent.

With the recent news, OOIL wants to remind investors that the operational update for the fourth quarter ended on the last day of 2020, and hasn't been reviewed or audited by an auditor. Thus, investors are cautioned not to rely on the operational update just yet.

Source : HKSG.

[010221.ID.BIZ] Akankah Gojek Menjadi Seperti WeChat?

 

Bisnis.com, JAKARTA – Pengamat aplikasi menilai Gojek tengah berupaya menjadi perusahaan superaplikasi di Indonesia, sebagaimana WeChat di China.

Rencana kerja sama dengan Tokopedia adalah langkah yang dilakukan Gojek selanjutnya, setelah menyuntik PT Bank Jago Tbk. (ARTO) senilai Rp2,25 triliun beberapa waktu lalu.

Ketua Bidang Industri Aplikasi Nasional Masyarakat Telematikan Indonesia (Mastel) M. Tesar Sandikapura menilai seandainya kabar mengenai merger Gojek dengan Tokopedia benar, kerja sama yang terjalin kedua perusahaan berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dan penguasaan pasar dari tiap-tiap perusahaan. 

Dia menilai kerja sama dengan Tokopedia akan memuluskan upaya Gojek menjadi superaplikasi yang sebenarnya di Indonesia dengan menguasai finansial–lewat investasi ke Bank Jago–dan perusahaan dagang-el.

“Dengan akuisisi Bank Jago uang yang tadinya lari ke bank lain sekarang berputar di ekosistem Gojek. Adapun rantai pasokan berasal dari transaksi pembelian perusahan dagang-el dan Tokopedia adalah yang paling besar saat ini,” kata Tesar kepada Bisnis, Minggu (31/1).

Berdasarkan sejumlah informasi, valuasi Tokopedia berkisar US$8 miliar—US$10 miliar. Tokopedia mengeklaim jumlah mitra yang dimiliki saat ini lebih dari 9 juta mitra.

Tesar memperkirakan untuk mewujudkan ambisi Gojek menjadi superaplikasi, selanjutnya Gojek akan mendekati perusahaan logistik berskala nasional.

Dia menduga perusahaan logistik tersebut adalah PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE).

Tesar berpendapat bahwa meski Gojek sudah memiliki layanan pesan-antar barang, Go-send, tetapi jangkauan Go-send masih bersifat lokal. Berbeda dengan JNE yang jangkauannya antarkota.

Perusahaan logistik dibutuhkan dalam ekosistem Gojek untuk membantu perseroan dalam menghemat distribusi barang ketika sudah memilih perusahaan dagang-el.

“Jika itu sudah terjadi, Gojek menjadi superaplikasi yang sebenarnya, mereka tidak bergantung pada pihak luar. Jika itu sudah terjadi, maka bahaya, itu seperti WeChat,” kata Tesar.

Dia mengatakan bahwa di China, WeChat bukan hanya sebagai aplikasi percakapan. WeChat telah berkembang pesat–dengan beragam fitur menarik-dan menjelma menjadi raksasa teknologi yang memenuhi semua kebutuhan masyarakat. 

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, WeChat memiliki fitur pembayaran untuk bertransaksi di sejumlah pusat perdagangan hingga pedagang kaki lima.

Sistem pembayaran WeChat juga terintegrasi dengan sejumlah perusahaan dagang-el hingga perusahaan pemesanan tiket perjalanan. Kerja sama membuat perusahaan-perusahaan tersebut dapat mempromosikan langsung produk mereka ke nomor pengguna dan pengguna dapat bertransaksi dengan alat pembayaran yang dimiliki WeChat dengan harga yang lebih baik.

WeChat juga memiliki fitur gim yang dapat dimainkan oleh para pengguna dan dapat dimonetisasi seperti penjualan voucer gim.

Sebelumnya, Gojek telah mengakuisisi 22 persen saham milik Bank Jago. Dengan aktivitas akuisisi tersebut, kata Tesar, perputaran uang akan berada pada ekosistem Gojek.

Dekakorn superaplikasi tersebut tidak perlu lagi mengeluarkan uang ke bank lain dalam setiap transaksi yang terjalin.

“Perizinan tidak perlu pusing-pusing karena [Bank Jago] telah mendapat dukungan dari Bank Indonesia. Mungkin Gojek investasi di Bank Jago bukan mengambil teknologinya tapi regulasinya,” kata Tesar

Sumber : Bisnis, 01.02.2021.

[310121.EN.SEA] Hapag's Smouldering 7,510-TEU Yantian Express Towed to Bahamas

 

THE 7,510-TEU Yantian Express that has been burning in international waters off Canada's east coast since January 3 now appears headed for the Bahamas instead of Halifax, its original destination, reports The Canadian Press.

The German-flagged Hapag-Lloyd ship was travelling to Halifax from the Suez Canal, when the fire started. The blaze was brought under control by ocean-going tugs equipped with high-powered water cannons.

Satellite tracking shows the smouldering, 320-metre ship is being slowly towed to the southwest, travelling about 130 kilometres per day.

No one was hurt after the fire broke out as the ship sailed about 1,900 kilometres southeast of Halifax, but the vessel's 22 crew were evacuated from the ship as the fire grew and the weather turned ugly.

Peter Ziobrowski, the blogger behind the Halifax Shipping News, says satellite data indicate the two tugs pulling the stricken ship have plotted a course to Freeport on Grand Bahama Island, which has a substantial container terminal.

Mr Ziobrowski says photos of the ship and information provided by its owner, Hapag Lloyd of Germany, suggest the fire has destroyed many containers on the ship's deck.

"It looks like the centre of those front four stacks have collapsed," he told CP. "What you have there is a pile of smouldering cargo and containers. And the hold below is going to be heat damaged and probably filled with water."

The company has confirmed all cargo in the ship's first 12 bays, and some of the cargo in the two holds beneath those bays, have been affected by the fire.

"Damage caused by smoke, heat and water in adjacent areas is possible," the company said in a statement on its website, adding that many other containers with refrigeration units have been switched off.

Company spokesman Tim Seifert said there's no estimated time of arrival in Halifax or any other port, though he confirmed the ship was headed southwest "towards more favourable weather conditions."

"At this time, it is not yet possible to make a precise estimate of any damage to Yantian Express or its cargo," the company said. "This can only be more clearly assessed once the vessel reaches a port."

Five of the ship's 22 crew members, including the captain, have returned to the ship with some salvage experts, Mr Seifert said. The other crew members were recently picked up by another vessel, and they have since been flown to their home ports.

Mr Ziobrowski said it Hapag-Lloyd has dispatched the 5,042-TEU Shanghai Trader to pick up the cargo that can be salvaged.

Source : HKSG / Photo : The Maritime Executive.

[310121.ID.SEA] Gapasdap Gugat Monopoli PT ASDP Indonesia Ferry di Dermaga 6 Merak

 

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan menyoroti Dermaga 6 Pelabuhan Merak yang masih dimonopoli oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).

Gapasdap menilai praktik monopoli itu membuat pelayanan di dermaga eksekutif itu menjadi kurang maksimal.

Ketua Dewan Penasihat DPP Gapasdap Bambang Haryo Soekartono mengungkapkan Dermaga 6 seharusnya tidak dimonopoli satu perusahaan penyeberangan.

Disebutkan Bambang dermaga itu dibangun menggunakan anggaran negara. Selain itu, sarana dan prasananya harus benar-benar memenuhi standar pelayanan kelas eksekutif.

Selama ini, Dermaga 6 hanya dilayani oleh kapal-kapal PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Padahal, ujarnya, ada beberapa operator lain yang memiliki kapal-kapal terbaik dan sering mendapatkan penghargaan pelayanan prima dari Kementerian Perhubungan.

“Semua operator kapal yang memenuhi standar eksekutif seharusnya diberikan tempat di Dermaga 6. Publik berhak mendapatkan pelayanan terbaik karena dermaga itu dibangun dengan uang negara dari pajak rakyat,” kata Bambang Haryo dalam keterangannya, Minggu (31/1/2021).

Dia mengatakan Dermaga 6 dibangun menggunakan dana APBN tahun 2012 dan PMN (Penyertaan Modal Negara) Rp1 triliun pada 2016-2017 yang diajukan ASDP melalui DPR RI.

“Saat menjadi anggota Komisi VI DPR RI, saya mendukung percepatan pembangunan dermaga itu karena sejalan dengan program Presiden Joko Widodo di sektor maritim,” kata anggota DPR RI periode 2014-2019 ini.

Dia bahkan ikut mendesak Menteri Keuangan saat itu [Bambang Brojonegoro] agar mempercepat pencairan PMN supaya Dermaga 6 dan Dermaga 7 Pelabuhan Merak segera direalisasikan oleh ASDP.

Selain tidak boleh dimonopoli, tutur Bambang Haryo, Dermaga 6 harus menjadi ikon sebagai dermaga eksekutif yang pelayanannya tentu harus lebih baik dibandingkan dengan dermaga reguler, terutama dari sisi kapasitas angkut (ukuran kapal), kecepatan, kenyamanan, dan keselamatan.

Untuk menjamin kapasitas angkut, dia mengatakan ukuran kapal harus besar yakni minimal panjang 150 meter.

"Panjang kapal di sana harusnya minimal 160-180 meter atau sesuai dengan ukuran kade yang disiapkan, karena dermaga di Bakauheni bisa 200 meter. Sementara dermaga lain di bawah 150 meter,” urainya.

Dia menjelaskan, Dermaga 6 tidak terkendala oleh ukuran kapal karena tidak sandar di dolpin atau tiang pancang, tetapi di kade dermaga. Kapal ukuran berapa pun bisa sandar, hanya bergantung pada kedalaman laut.

Namun, data menunjukkan kapal-kapal yang sandar di Dermaga 6 mayoritas panjang 110 meter, bahkan ada yang panjangnya cuma 80-an meter.

Dari sisi kecepatan, lanjut Bambang Haryo,  kapal yang melayani Dermaga 6 harus di atas 15 knot sehingga masyarakat benar-benar merasakan percepatan penyeberangan.

Kenyataannya, kapal-kapal di dermaga itu rata-rata jauh di bawah 15 knot atau di bawah standar kecepatan kapal eksekutif.

Dalam hal kenyamanan, fasilitas kapal juga harus berbeda dari kapal reguler, misalnya tersedia lift atau eskalator ke geladak, kamar kelas eksekutif dan fasilitas VIP lainnya.

“Jadi,  bukan hanya prasarana atau dermaganya yang kelas eksekutif, kapal-kapalnya juga harus benar-benar memenuhi standar eksekutif. Kapal-kapalnya harus yang terbaik, jangan kapal-kapal unyil (kecil) dan tua, apalagi sering rusak seperti KMP Portlink 3 yang sempat rusak hingga setahun,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Bambang Haryo, tingkat keselamatan kapal eksekutif harus lebih mumpuni, misalnya SDM kapal terlatih dan profesional, serta peralatan kapal lengkap dan di atas standar kapal reguler.

Dengan demikian, ujarnya, masyarakat betul-betul bisa merasakan pelayanan kelas eksekutif sesuai harga tiket yang mereka beli dan menikmati manfaat dari hasil pajak yang mereka bayarkan untuk membangun dermaga tersebut.

“Oleh karena itu, Pemerintah terutama Kemenhub harus tegas dan segera memberesi masalah ini, sebab pelayanan yang tidak memenuhi standar dan praktik monopoli di dermaga itu berpotensi melanggar UU Konsumen dan UU Persaingan Usaha Tidak Sehat,” ujarnya.

Adapun, pihak PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) belum menanggapi soal ini. Bisnis telah mencoba mengkonfirmasi hal tersebut kepada Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Shelvy Arifin, namun belum mendapat respons.

Sumber : Bisnis, 31.01.2021.

30 Januari 2021

[300121.EN.SEA] South Korea To Invest US$870 Million Developing Eco-friendly Shipping

 

THE South Korean government is investing US$870 million in developing eco-friendly shipping to address marine pollution problems, reports Fort Lauderdale's Maritime Executive.

Korea's Ministry of Oceans and Fisheries and the Ministry of Industry are committed to the investment between 2022 and 2031 to develop and promote technology for the ships.

The initiative is called the 2030 Green Ship-K Promotion Strategy and it will link the country's Green New Deal designed to achieve carbon neutrality.

The plan targets the advancement of LNG, electricity, and hybrid core technologies and the use of low carbon ship technology including mixed fuels.

The initiative sets a goal of reducing shipping's greenhouse gas emissions 40 per cent in the 25 years and 70 per cent in 2050.

A demonstration project named the Greenship-K will begin the construction of coastal ships with eco-friendly technology to help verify the technology.

The project will construct ten ships that'll range from an LNG bunker ship by 2022 to an LNG-ammonia mixed fuel propulsion ship by 2025.

The 10 ships will include one LNG bunkering vessel, two electric propulsion ships, three hybrid ships, two mixed fuel ships, and three hydrogen ships.

The initiative is also calling for a multi-purpose demonstration vessel by 2023 and to renovate an existing government ship by 2022.

Some 200 old government ships will be replaced, while 189 newer government ships will be converted to eco-friendly technologies by 2030.

It's estimated that the conversion of 528 ships would generate as much as $4.5 billion in sales for South Korea's maritime industries.

North Korea believes that the implementation of these programmes can help create a sustainable ecosystem while supporting the shipping, shipbuilding, and marine equipment industries.

Source : HKSG / Photo : Offshore Energy

[300121.ID.SEA] Kenaikan Freight Kontainer Internasional Bisa Tak Terkendali

 

Bisnis.com, JAKARTA – Tarif perusahaan pelayaran global atau main line operator (MLO) dengan pelabuhan muat Tanjung Priok ke berbagai pelabuhan tujuan di berbagai wilayah internasional periode Desember 2020 hingga minggu kedua Januari 2021 menunjukkan adanya penaikan signifikan.

Pakar Kemaritiman ITS Surabaya Raja Oloan Saut Gurning mengatakan porsi kenaikan terbesar sebesar 25 kali atau 2500 persen terjadi ke pelabuhan tujuan Shanghai, dan beberapa pelabuhan di China dan Asia Timur lainnya seperti Busan dan Incheon Korea. Bahkan, lanjutnya, secara rerata telah terjadi 600 persen kenaikan freight.

Data tersebut menunjukkan tarif kontainer berukuran 20 kaki dengan tujuan Shanghai mengalami penaikan dari tarif sebelumnya senilai US$20 menjadi US$400 hingga pekan pertama Januari 2021 dan terus naik hingga pekan kedua Januari 2021 mencapai US$500.

“Secara umum kedua tipe kontainer mengalami kenaikan untuk semua tujuan pelabuhan yang di survei. Namun, klaster kontainer 40 feet mengalami porsi kenaikan yang lebih banyak kuantitasnya dibandingkan dengan kontainer 20 FT,” ujarnya, Jumat (29/1/2021).

Distribusi kenaikan atas kontainer 20 FT dan 40 FT secara rerata mencapai 600 persen khususnya untuk kawasan rute kontainer intra Asia dalam empat minggu (awal Desember 2021-pekan kedua Januari 2021). Orientasi kenaikan berpusat ke dan dari pelabuhan-pelabuhan di China dan Asia Timur.

Dia menduga tren kenaikan yang cenderung progresif selama empat minggu tersebut lantaran dominasi MLO yang beroperasi di Indonesia telah memindahkan orientasi kapasitas jasa dan armadanya ke rute-rute menuju pelabuhan utama di China dan Asia Timur lainnya dengan mengurangi kapasitas wilayah rute lain. Termasuk adanya potensi penurunan suplai kapasitas armada untuk wilayah dengan tendensi freight yang tinggi.

Eksportir atau shipper Indonesia, sebutnya, tidak memiliki kemampuan untuk melakukan negosiasi karena begitu kuatnya MLO Internasional yang tidak memiliki kompetisi dan juga kesulitan pengawasan pemerintah.

Menurutnya ada kecenderungan yang kuat terjadi pengendalian level freight kontainer internasional di Indonesia kendati memang harus dibuktikan. Potensi kenaikan bila tidak dikendalikan akan terjadi hingga berakhirnya Tahun Baru China baru kembali stabil hingga kuartal II/2021.

Saut berpendapat sangat berbahaya dan merugikan bila kekuatan pelayaran asing masih mendominasi potensi perdagangan internasional. Kondisi tersebut mengakibatkan kepentingan ekonomi nasional akhirnya tentu tidak menjadi prioritas ketimbang kepentingan korporasi pelayaran MLO sendiri.

Sumber : Bisnis, 29.01.2021.

29 Januari 2021

[290121.EN.SEA] Alphaliner: 2020 Was a Year of Soaring Rates, Covid, Market Discipline

 

THE global container fleet grew 2.9 per cent in 2020, its slowest rate since 2016, helping carriers in a tumultuous year, said the Paris-based container shipping consultancy Alphaliner.

TEU capacity reached 23.9 million TEU as of January 1, compared with 23.2 million TEU below predictions made at the start of the year, and marks the first time growth has dropped under three per cent since 2016, when the container fleet expanded by just 1.8 per cent.

The fleet recorded growth of four per cent in 2019, said Alphaliner in its annual review. "Ship deliveries were the main cause. Capacity delivered into the market fell 21 per cent to just 134 units of 839,842 TEU in 2020, lower than forecasts. And whiledeliveries outpaced demolition for the third year running, they remain significantly lower than the peak of 1.73 million TEU handed over in 2015.

But despite fears of a market collapse at the time of the Covid outbreak, 2020 concluded with a significant increase in ordering activity. TEU contracted rose 29.6 per cent to 1,015,838 TEU, equivalent to 98 units.

In contrast to vessels delivered, where the mean size of vessel actually fell, the average unit size ordered rose from 8,080 TEU in 2019 to 9,325 TEU in 2020.

Average contract sizes have now increased more than two and half times in just four years, with 2020's figure comparing to 2016's average of 3,739 TEU.

The heavy influx of tonnage and owners' reluctance to commit to new vessel orders at a time of uncertainty saw the orderbook-to-fleet ratio fall to its lowest level in 20 years, bottoming out at 8.2 per cent in October 2020.

In the last quarter of 2020 however, a number of major carrier-backed orders for mega ships finally reversed this trend and pushed the ratio back above the 10 per cent mark.Scrapping activity, meanwhile, was little changed on the previous year despite Covid fears. The poor market seen after the outbreak of the pandemic did not persist long enough to impact demolition, and deletions fell by just one per cent to 205,447 TEU during 2020, said Alphaliner.

Once spot rates started to climb from June onwards, owners had no incentive to go to the scrapyards.

Elsewhere, 2020 was a year of highs and lows for the containership market, with the initial gloom created by Covid quickly replaced by the euphoria of a cargo rebound. Carrier conditions were further boosted by sustained capacity discipline.

By year end, the idle fleet registered just 230,000 TEU, a fall of 83 per cent year on year, reflecting the intense demand for tonnage.

Meanwhile, freight rates soared. The Shanghai Containerised Freight Index averaged 30.8 per cent higher in 2020 than 2019. By year end, the index was up 243 per cent on the same period a year previously, logging an all-time record of 2,783 points on December 31.

Source : HKSG / Photo : PortZoom.

[290121.ID.BIZ] Cuaca Ekstrem hingga Februari, Kemenhub Terbitkan Maklumat Pelayaran

 

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menerbitkan Maklumat Pelayaran yang ditujukan untuk seluruh Kepala Kantor Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut di Indonesia yang memiliki tugas dan wewenang terkait keselamatan pelayaran.

Menurut Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ahmad Maklumat Pelayaran menginstruksikan kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama, Kepala Kantor KSOP, Kepala Kantor UPP, Kepala Kantor KSOP Khusus Batam, Kepala Pangkalan PLP, serta Kepala Distrik Navigasi di seluruh Indonesia untuk mewaspadai bahaya cuaca ekstrem selama tujuh hari ke depan.

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG tanggal 25 Januari 2021 KMA diperkirakan pada 26 Januari sampai dengan 1 Februari 2021, cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi," kata Ahmad dalam siaran pers, Kamis (28/1/2021).

Mengingat hal tersebut, lanjutnya, seluruh Syahbandar diminta untuk melakukan pemantauan ulang (up to date) kondisi cuaca melalui bmkg.go.id setiap hari, serta menginformasikannya kepada pengguna jasa, termasuk publikasi di terminal atau tempat embarkasi debarkasi penumpang.

Akhmad juga meminta operator kapal, khususnya nakhoda, agar melakukan pemantauan kondisi cuaca sekurangnya enam jam sebelum kapal berlayar dan melaporkan hasilnya kepada Syahbandar pada saat mengajukan Surat Persetujuan Berlayar (SPB). Sementara selama pelayaran di laut, nakhoda wajib melakukan pemantauan kondisi cuaca setiap enam jam dan melaporkan hasilnya kepada Stasiun Radio Pantai terdekat serta dicatatkan ke dalam Log Book pelayaran.

“Bagi kapal yang berlayar lebih dari empat jam, Nahkoda diwajibkan melampirkan berita cuaca yang telah ditandatangani sebelum mengajukan SPB kepada Syahbandar,” tukasnya.

Tak berhenti di situ, Ahmad menambahkan bahwa pada saat kapal dalam pelayaran dan mendapat cuaca buruk, diminta agar segera berlindung di perairan yang aman dengan ketentuan kapal harus tetap siap digerakkan.

Setiap kapal yang berlindung ungkapnya, harus segera melaporkan kepada Syahbandar dan SROP terdekat dengan menginformasikan posisi kapal, kondisi cuaca dan kondisi kapal serta hal-hal penting lainnya serta melakukan pemantauan/ pengecekan terhadap kondisi kapal untuk mencegah terjadinya kecelakaan kapal yang dapat menyebabkan terjadi tumpahan minyak di laut.

“Jika terjadi kecelakaan, kapal harus segera berkoordinasi dengan Syahbandar setempat dan melakukan penanggulangan tumpahan minyak dan akibat lain yang ditimbulkan termasuk penandaan dan kegiatan salvage,” jelas Ahmad.

Sumber : Bisnis, 28.01.2021.

28 Januari 2021

[280121.ID.SEA] More Crew Change Woes Emerge as Covid Crisis Mutates in New Strain

 

CREW changes have become more difficult as much of the world locks down again following the emergence of several new and more transmissible variants of Covid-19, reports London's Tanker Operator.

"I believe we may be heading for a new crew change crisis every bit as bad as last spring," said Hamburg's Danica Crewing managing director Henrik Jensen.

Danica specialises in crew deployment and has been assisting a range of ship operators to achieve crew changes over the past year.

"Over the past six months crew changes have been possible in many cases, although they have been costly and complex. However, now we are seeing a range of new restrictions and barriers to crew travel while also facing some serious issues in relation to crew health risk factors. I can foresee this impacting heavily on crew changes for the next few month," Mr Jensen said.

"Requiring Covid-19 tests at a set period before travel isn't always easy to comply with depending on where the crew change is being effected from. Tests may not be available at short notice and there may not be available accommodation in which to isolate crew members while they await the results," Mr Jensen said.

"Air travel requires crew to spend many hours in a contained space with large numbers of other people. There are plenty of aircraft available to lease for private transits but this option is really only economical if there are large numbers of crew which is not usually the case," he said.

"One or more Covid-19 infected patients on a vessel is a very serious situation as there is insufficient medical care available onboard to treat a serious case. It is very difficult to mitigate this risk and in some cases we have to abandon crew change plans if they involve a long transit or a high-risk area."

Greater implementation of the IMO's crew change protocols instead of national rules could improve the situation but Mr Jensen is not optimistic of this being a solution at present.

"While I appreciate and support the international cooperation and effort that has gone into producing this excellent protocol, unfortunately I think that it may be a remote dream as we have local governments rules, rules in the transit airports/countries and individual airline rules, and I do not think it is realistic to expect all these parties to come together.

"We are looking at some hard months ahead," Mr Jensen predicted "It seems likely that things will only get better once the vaccination programmes around the globe begin to take effect."

Source : HKSG / Photo : Seraya Shipping.

[280121.ID.SEA] Pakar Maritim: Indonesia Dikuasai Perusahaan Pelayaran Global!

 

Bisnis.com, JAKARTA – Langkah Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) meminta diskon atau keringanan sejumlah tarif akibat naiknya ocean freight bagi eksportir kepada pemerintah dan operator pelabuhan di Indonesia akan kecil dampaknya terhadap penurunan karena Indonesia masih dikuasai perusahaan pelayaran global atau main line operator (MLO).

Pakar Kemaritiman ITS Surabaya Raja Oloan Saut Gurning mengatakan Depalindo memilih mengajukan keringanan kepada kedua institusi tersebut karena masih dapat dijangkau dibandingkan dengan operator pelayaran. Namun, untuk kasus di Indonesia MLO masih menjadi pengendali utama aliran dan ketidakseimbangan ketersediaan kontainer termasuk dampak akhir kenaikan freight container.

Kondisi ini, sebutnya, tecermin dari empat operator pelayaran internasional Indonesia dikendalikan oleh pelayaran asing atau main line operator (MLO) baik kapasitas ruang muat dan juga ketersediaan kontainer khususnya 40 feet atau kaki.

“Menurut saya bisa saja permintaan Depalindo itu dipertimbangkan. Namun saya kira masih relatif kecil dampaknya dengan pengaruh atau kendali MLO yang hingga saat ini masih relatif sulit dikontrol pasar. Menurut saya pemerintah tidak begitu berani mengendalikan,” ujarnya, Kamis (28/1/2021).

Saut mengatakan hal tersebut karena pemerintah cenderung menganggap persoalan ini masalah bisnis (B2B) sehingga takut mengintervensi pasar. Padahal, kondisi pasar saat ini cenderung tidak normal, bahkan ada kecenderungan penguasaan dan pengendalian dari berbagai MLO yang punya lebih keinginan atau pemanfaatan pasar dan untuk orientasi trayek ke wilayah pelabuhan-pelabuhan Tirai Bambu.

Dia menekankan hal yang diminta Depalindo cenderung mendorong respon operator pelabuhan terkait pengelolaan kontainer di pelabuhan. Termasuk Lift On-Lift Off, channel fee (layanan pandu dan tunda), biaya penanganan dan penyimpanan kontainer di lapangan penumpukan (CY) terminal kontainer.

Meskipun sebetulnya, kata dia, juga terdapat peran dengan entitas pelayaran atas operasi ini termasuk operasi VGM dan biaya penimbangan kontainer, karena peran penyedia kontainer cenderung masih dikendalikan operator pelayaran di samping penyewa kontainer

Namun dia memandang desakan penurunan biaya penanganan kontainer di pelabuhan masih relatif masih relatif jauh dari komponen biaya (freight) kontainer pelayaran internasional yang menaikan minimal 250 persen. Selain itu, tidak ada jaminan akan adanya penurunan biaya yang juga mendorong penurunan freight, mungkin ada sensitivitas penurunan tetapi tidak dominan.

Sumber : Bisnis, 28.01.2021.

27 Januari 2021

[270121.EN.SEA] Korea's HMM To Be Privatised Through Sale to Steel Giant POSCO

 

THE Korea Development Bank (KDB) will sell HMM (Hyundai Merchant Marine) to POSCO, a steel-making company headquartered in Pohan as part of a plan to privatise HMM, now ranked as the world's 10th largest ocean carrier, reports BusinessKorea.

"KDB recently reported an HMM privatisation plan to the Ministry of Strategy and Finance," a high-ranking government official said. "The ministry will start a full-fledged review with other ministries and agencies." KDB is the largest shareholder with a 12.61 per cent stake in HMM.

If POSCO takes over HMM, it will significantly boost the global competitiveness of the domestic shipping industry, analysts say. They say that a massive investment from POSCO will place HMM on a par with first and second ranked Maersk and MSC.

HMM's tonnage will increase to about 850,000 TEU when all eight 16,000-TEU ships under construction by Hyundai Heavy Industries are delivered in the first half of 2021. HMM aims to attain its goal of one million TEU by 2022. If this plan is implemented without a hitch, it will recover to one million TEU, which is the combined tonnage of Hanjin Shipping and HMM in 2016.

If POSCO directly jumps into the shipping industry, it is expected to save POSCO trillions of won annually as the company will be able to integrate its affiliates' logistics work..

The global shipping industry is competing for size expansion. Since the fourth quarter of 2020, shipbuilders received orders for 30 super-sized, 20,000+ TEU ships worldwide.

Source : HKSG / Photo : Offshore Energy.

[270121.ID.SEA] Selama Pandemi Tarif Angkutan Petikemas Domestik Lebih Terjaga

 

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Pandemi Covid-19 telah mengakibatkan biaya ekonomi di sektor pelayaran dunia melonjak tajam. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh berkurangnya lalu lintas kapal pengangkut petikemas ke berbagai pelabuhan dunia akibat terbatasnya aktivitas ekonomi.

Ibrahim Khoirul Rohman, Ketua Forum Angkutan Logistik Masyarakat Transportasi Indonesia, mengatakan, kenaikan biaya angkutan petikemas (freight rate) selama pandemi Covid 19 telah membuat biaya logistik di Tanah Air semakin mahal.

Alhasil, frekuensi kapal pengangkut petikemas ke berbagai negara tujuan ekspor juga berkurang. Kondisi ini membatasi aktivitas ekspor-impor ke Indonesia melalui jalur laut.

Selama tahun 2020 banyak perusahaan pelayaran yang mengurangi frekuensi pengiriman petikemas untuk efisiensi. Akibatnya freight rate pegangkutan petikemas ke luar negeri naik hingga empat kali lipat dibandingkan sebelumnya. "Ini yang semakin memberatkan ekonomi saat pandemi Covid 19," kata Ibrahim, Selasa (26/1).

Ibrahim mengungkapkan,freight rate International mulai naik tajam pada kuartal III dan IV tahun ini. Sebut saja, misalnya, tarif freight rate ke India dari semula hanya US$ 400 per teus (kontainer) menjadi US$ 1.300 per teus.  Lalu, tarif angkut ke Brasil US$ 700 per teu jadi US$ 1500 per teus, dan ke Eropa dari US$ 1.500 per teus jadi US$ 2.500 per teus.

Tentu saja, kata Ibrahim, kenaikan biaya freight rate rute ke luar negeri itu akan memukul eksportir di Tanah Air. Sebab, sebagian besar ekspor Indonesia tergolong low value comodity. Negara kita tidak mengekpsor high end product. Sebagian besar ekspor Indonesia adalah produk bahan mentah.

Kondisi tersebut, jelas memukul kemampuan eksportir Indonesia untuk melakukan pengiriman barang. Di sejumlah daerah, misalnya. Menurut Ibrahim, eksportir yang biasanya bisa melakukan pengiriman barang hingga 100 kontainer pasar luar negeri, tapi sejak tingginya biaya freight rate, mereka hanya bisa mengangkut sekitar 5-20 kontainer per bulan.

Pasalnya, lanjut Ibrahim, biaya freight rate rute internasional yang mahal itu, tidak memberikan kompensasi menarik terhadap value ekspor. Dia mencontohkan ekspor barang-barang raw material seperti bahan tekstil dasar yang belum diolah.

Nilai pengiriman barang ini tidak seberapa dibandingkan besarnya tarif freight rate saat ini. "Nah ini pukulan bagi eksportir kita di kuartal IV tahun lalu dan mungkin berlanjut di kuartal I 2021," imbuh Ibrahim.

Pendapat senada diungkapkan Saut Gurning, Pengamat Maritim dari Institut Teknologi Surabaya (ITS). Dia bilang, dalam sebulan terakhir sejak awal Desember 2020 hingga Januari 2021, freight kontainer ke luar negeri melonjak tajam, khususnya rute intra Asia.

Rute domestik stabil

Bahkan, kenaikan freight rate tertinggi hingga 25 kali lipat dibandingkan sebelumnya, terjadi pada rute ekspor tujuan pelabuhan Shanghai, Shenzen dan Xiamen China. Namun, berbeda dengan kondisi freight rate ke luar negeri, tarif angkutan kontainer di rute domestik relatif tidak mengalami gejolak yang luar biasa.

Tarif angkutan ke berbagai pelabuhan tujuan di dalam negeri, bahkan sempat memgalami penurunan akibat berkurangnya aktivitas ekonomi di awal pademi Covid 19 tahun lalu. Tapi, sejalan dengan menggeliatnya ekonomi domestik, biaya angkutan petikemas ke berbagai pulau di dalam negeri mulai pulih.

"Biaya angkutan petikemas pelayaran domestik relatif stabil selama pandemi ini. Hal ini  memberikan efek positif bagi ekonomi di daerah, mengingat lonjakan freight rate ke luar negeri sangat membebani ekonomi Indonesia," papar Saut.

Ibrahim menambahkan stabilitas tarif angkutan di rute domestik, tak lepas dari adanya penerapan azas Cabotage. Kebijakan ini berperan penting dalam menjaga lalu lintas pelayaran di dalam negeri. Karena, dengan hanya melibatkan kapal-kapal berbendera Indonesia dengan awak kapal WNI, aktivitas pelayaran cenderung stabil selama masa pandemi.

Berbeda halnya jika pelayaran asing bisa masuk ke berbagai pelabuhan di daerah. Kenaikan freight rate yang gila-gilaan bisa saja terjadi di angkutan domestik, karena kapal-kapal asing tidak banyak yang berlayar. "Makanya penting sekali bagi Indonesia untuk memperkuat pelayaran domestik," tegas Ibrahim.

Ia juga menilai, azas cabotage sangat berkontribusi dalam menjaga daya saing industri pelayaran dan maritim Nusantara. "Kebijakan ini mampu menjaga kemandirian industri domestik. Jangan sampai pihak asing mengendalikan bisnis pelayaran nasional," katanya.

Sebelumnya, sesuai ketentuan dalam Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang disahkan pada 5 Oktober 2020 oleh DPR RI dan diundangkan pada 2 November 2020, pemerintah tetap mempertahankan Azas Cabotage.

Ketentuan ini sebelumnya telah ada di UU Pelayaran nomor 17 tahun 2008. Penerapan azas Cabotage ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mendukung penguatan industri pelayaran nasional dan menjaga kedaulatan negara.

Sumber : Kontan, 27.01.2021.

26 Januari 2021

[260121.EN.BIZ] Shipping Costs Quadruple to Record Highs on China-Europe Trade Lane

 

THE cost of China-Europe shipping has more than quadrupled in the past two months weeks, hitting record highs as a shortage of empty containers stemming from the Covid crisis, reports London's Financial Times.

The cost of shipping an FEU from Asia to northern Europe has increased from about US$2,000 in November to more than $9,000, according to shippers and importers.

Lars Jensen at consultancy SeaIntelligence said, "It's a bottleneck problem. These rates are being driven by customers fighting over a limited resource - containers."

Thousands of empty containers were left stranded in Europe and the US in the first half of 2020 when shipping lines cancelled hundreds of trips as coronavirus lockdowns caused a sudden slowdown in global trade. When western demand for Asian-made goods rebounded in the second half of the year, competition among shippers for available containers sent freight rates soaring, the FT said.

Source : HKSG.

[260121.ID.BIZ] Cari Dana Segar Rp28 Triliun di Bursa AS, Grab Gandeng JPMorgan dan Morgan Stanley

 

Bisnis.com, JAKARTA - Grab Holdings Inc. memilih Morgan Stanley dan JPMorgan Chase & Co. sebagai pengawal rencana penawaran umum perdana di bursa Amerika Serikat.

Seperti diketahui sebelumnya, Grab ingin mengumpulkan setidaknya US$2 miliar atau Rp28 triliun dari initial public offering/IPO yang akan dilakukan paling cepat paruh kedua tahun ini.

Terkait dengan penunjukan ini, perwakilan Grab, Morgan Stanley dan JPMorgan menolak berkomentar.

Adapun, pertimbangan IPO Grab datang setelah pembicaraan untuk merger dengan saingannya, Gojek, terhenti. Sebagai gantinya, Gojek kini sedang dalam diskusi lanjutan untuk bergabung dengan pionir dagang-el lokal, Tokopedia, untuk menjadi pemain regional yang kuat dalam layanan online dan kemudian akan berusaha untuk go public.

Ikatan Gojek dan Tokopedia dapat menciptakan kekuatan besar di Asia Tenggara dengan valuasi sekitar US$18 miliar dan bisnis yang mencakup pemesanan kendaraan dan pembayaran untuk belanja online serta pengiriman bahan makanan.

Hal itu bisa mengancam upaya Grab sendiri untuk berekspansi ke seluruh wilayah, terutama di pasar terbesar di Indonesia. Perusahaan yang berbasis di Singapura yang didukung oleh SoftBank Group Corp. itu meningkatkan pendapatan bersih 70 persen pada 2020 setelah bangkit kembali dari kemerosotan akibat Covid-19.

Sumber : Bisnis, 26.01.2021.

25 Januari 2021

[250121.EN.SEA] LA-bound 13,100 -TEU Maersk Essen Loses 750 Containers At Sea

 

A Maersk ship has lost 750 containers overboard in the Pacific during a storm en route to Los Angeles, reports LA area gCaptain.

The incident occurred on January 16, involving the 13,100-TEU Maersk Essen. The cargo loss is believed to have occurred due to severe weather.

"It is reported that up to 750 containers may have been lost overboard, and it is therefore also very likely that some containers will have collapsed or been damaged in the affected stacks, but remain on board. These containers will need to be removed or repositioned," said a WK Webster report.

"The vessel is understood to be continuing the voyage to Los Angeles where it is scheduled to arrive possibly as early as 22nd January," said the report.

Maersk confirmed the incident in a statement.

"We regret to announce the 13,100 TEU, Danish-flagged, Maersk Essen en route from Xiamen, China to Los Angeles, California on Maersk's TP6 Asia/US West Coast service experienced heavy seas during her North Pacific crossing on the 16th of January 2021, resulting in the loss of 750 containers overboard. All crew members are safe and a detailed cargo assessment is ongoing while the vessel continues on her journey. The US Coast Guard, flag state, and relevant authorities have been notified," said Maersk.

"We view this as a very serious situation that will be investigated promptly and thoroughly. Operations and vessel safety are our highest priority and we will be taking any necessary steps to minimize the risk of similar incidents occurring in the future," said Maersk.

"A customer communications plan and claims process was urgently put in place for those customers impacted," said the company.

The ship was built in 2010 and is registered in Denmark. It's 377 metres in length and weighs 141,000 gross tonnes.

Source : HKSG / Photo : Marine Traffic.

[250121.ID.BIZ] Kemenhub Siap Sebar Ratusan GeNose di 44 Stasiun Jawa & Sumatra

 

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bakal menyebar ratusan unit GeNose, alat pendeteksi Covid-19, di 44 titik stasiun di seluruh Jawa dan Sumatra.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan GeNose akan mulai diterapkan pada moda transportasi kereta api akan diterapkan secara wajib pada 5 Februari 2021. Adapun, GeNose adalah alat pendeteksi Covid-19 buatan Indonesia, yang diinisiasi oleh tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

"Kami sudah memesan sebanyak 200 unit GeNose yang disebar di 44 titik stasiun di seluruh Jawa dan Sumatra," kata Budi dalam siaran pers yang dikutip, Senin (25/1/2021).

Selain moda kereta api, GeNose juga diterapkan untuk mendeteksi Covid-19 di moda transportasi bus pada 5 Februari 2021. Namun, pelaksanaannya masih dilakukan secara acak (random sampling).

Dia sudah meminta Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub untuk berkoordinasi dengan para Kadishub di seluruh Indonesia, jika nanti saatnya dilakukan pengecekan secara acak dan seseorang dinyatakan positif maka yang bersangkutan tidak dibolehkan untuk berangkat.

Sementara itu, Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi mengatakan bahwa terminal pertama yang akan menggunakan GeNose adalah Terminal Pulo Gebang. Berdasarkan SE Satgas Penanganan, untuk masyarakat yang berpergian dengan bus itu sifatnya hanya random sampling.

“Untuk di Jakarta yang pertama kali dilaksanakan adalah di terminal Pulogebang, dan secara bertahap kita sudah pesan 100 alat GeNose yang akan segera kita distribusikan ke daerah-daerah,” kata Dirjen Budi.

Sumber : Bisnis, 25.01.2021.

24 Januari 2021

[240121.EN.AIR] Air Cargo Costs '4 Times Higher' Post-Brexit Due To Airport Expertise

 

COMPANIES using air freight post-Brexit are being hit by four times higher prices due to the Covid crisis with fewer planes operating, says London logistics firm Mapcargo's UK managing director Mark Hawkins.

"Airports are geared for business outside the EU - all the custom requirements - as most work around European airports would be from outside the EU and customs are very experienced," said Mr Hawkins.

"But not so much on the ro-ro ports where of course the expertise hasn't been required for the last 30 years," he said, reports Beijing's China Television Network.

With fears of long waits at UK and EU seaports as new paperwork is needed to move goods across the English Channel, more businesses have opted to move freight by air.

But supply is being outstripped by demand, especially as air freight tends to move on passenger planes and many of these haven't been flying due to the pandemic.

It has led to a massive hike in prices. "It is nowhere near the air freight capacity because the vast majority of air freight generally moves on passenger aircraft," Mr Hawkins said.

"If the planes are operating there is a lot more air freight capacity, with some withdrawn from the industry it has really pushed up air freight rates so at the moment the cost of moving goods around the world is probably two to three times higher if not four times higher than it has been in the past."

Mr Hawkins said that there are many smaller vehicles carrying specific goods following Brexit and a lot of businesses are using air.

"There's a lot more focus on dedicated vehicles, for instance, so there are a lot more smaller vehicles running in and out of Europe at the moment," he said. "There's also a lot more air freight as well. In an effort to try and avoid any potential congestion or delays at the ro-ro ports such as Calais and Dover¡­. many traders are actually using air freight services where they can as well."

European airports generally have more experience in handling paperwork as they typically have had more cargo traffic that is moving outside the EU.

"What you are avoiding really is the potential congestion and lack of expertise perhaps in custom regulations and procedures at ports such as Dover, Folkstone and even on the European side as well," said Mr Hawkins.

Source : HKSG / Photo : YouTube.

[240121.ID.BIZ] Pengamat Telekomunikasi Pertanyakan Alasan Pemerintah Membatalkan Lelang Frekuensi 5G

 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pengamat Telekomunikasi yang juga Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mempertanyakan alasan pemerintah yang membatalkan lelang frekuensi 2,3 GHz. Frekuensi tersebut sejatinya akan digunakan untuk menggelar jaringan 5G di Indonesia.

"Yang perlu diketahui adalah mengapa dibatalkan? Apakah karena penawaran peserta lelang harganya sama, penyampaian dokumen pada jam yang sama atau kenapa, ini kita perlu ketahui bersama," kata Heru kepada kontan.co.id, Sabtu (23/1).

Heru menilai, penjelasan dari Kemkominfo kurang jelas dan transparan. Prinsip kehati-hatian apa dan yang mana yang dimaksudkan sehingga membuat lelang dibatalkan alias dihentikan.

Sebab menurutnya, jika tidak, akan menimbulkan masalah hukum. Kalau karena ada kecurangan di sisi operator, maka bid bond harus diambil oleh negara. Sementara jika tidak ada kejelasan mengapanya maka operator peserta lelang bisa menggugat secara hukum. "Sebab mereka kan dirugikan karena telah menyiapkan dokumen dan jaminan atau bond yang tentunya nilainya tidak kecil," ujar Heru.

Ia mengatakan bahwa, diperlukannya penjelasan yang transparan dan terbuka kepada masyarakat karena menurut Heru, peristiwa ini adalah perisitiwa pertama dalam sejarah lelang frekuensi di Indonesia yang sejak 2006 dilakukan secara transparan, terbuka dan adil serta menghasilkan pemasukan bagi negara yang cukup besar.

Tetapi dia mengaku bahwa sebenarnya kehadiran 5G tidak terlalu terpengaruh kepada operator karena 2,3 GHz bukan frekuensi yang cocok untuk 5G pada saat ini. "Trend di banyak negara ada di 3,5 GHz dan 2,5/2,6 GHz," katanya.

Sebagai informasi, pemerintah telah memutuskan tiga pemenang lelang di pita frekuensi 2,3 GHz yaitu PT Smartfren Telecom Tbk (FREN), PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), dan PT Hutchison 3 Indonesia (Tri Indonesia). Ketiga operator berhak mendapat tambahan frekuensi 10 MHz di pita 2,3 GHz. Masing-masing diminta untuk memilih 3 blok yang tersedia.

Di mana Smartfren mendapatkan bagian Blok A, Hutchison Tri Indonesia di Blok B, dan Telkomsel di Blok C. Ketiganya menawarkan harga yang sama, yakni Rp 144,8 miliar untuk masing-masing blok.

Sumber : Kontan, 24.01.2021.

23 Januari 2021

[230121.EN.SEA] Outlook 2021: Asia-Europe Shippers To Face Sharp Rise in Contract Rates

 

ASIA-EUROPE shippers reaching the end of their annual contracts should prepare their budgets for steep and unavoidable rate increases in 2021, according to Xeneta, a freight rate benchmarking and market analytics platform.

With the surging spot market unlikely to weaken before Chinese New Year in mid-February,rates from China to North Europe have risen steadily since hitting a low point in the second quarter.

However, by the end of November, the rate was more than double the average contract rates from China to North Europe, according to Xeneta.

This divergence will put strong upward pressure on contract price levels, said Danny Smolders, managing director of global sales at Hapag-Lloyd.

"It is too early to put a percentage on the contract rate increases on Asia-Europe for 2021, but looking at the low long-term rates we have so far, I can say that the contract rates will be substantially higher," Mr Smolders said.

Alan Murphy, CEO Sea-Intelligence Maritime Analysis, noted the high correlation between spot and long-term rates in ocean freight. "The underlying hypothesis is that freight rate changes tend to happen first in the more volatile spot markets and subsequently influence the contract rate levels with a time delay as new contracts are negotiated with an eye to developments in the spot market," he said.

By mid-December, the soaring spot market saw China-North Europe rates rising to levels more than three times the level at the same time last year and increasing by 183 per cent on China-Med routes year over year.

According to the Shanghai Containerised Freight Index (SCFI), Asia-North Europe rates on December 11 reached US$2,948 per TEU, and Asia-Mediterranean rates reached $3,073 per TEU.

To put that in context, the average SCFI rate from China to North Europe in 2019 was $764 per TEU, and from January through November 2020, the average spot price was $979 per TEU.

The rates paid by shippers will be going up, said Peter Sand, chief shipping analyst for BIMCO, who outlined the shipper predicament in a late November market update.

"If the alternative to signing a new, higher priced contract deal is the spot market, which may be two or three times that price, you need to get that higher contract rate," Mr Sand said. "Remaining in the spot market will be so much more expensive."

Rising rates have been accompanied by deteriorating service levels, with Sea-Intelligence reporting that global ocean carrier schedule reliability fell to a record low in October of 52.4 per cent. On-time performance on the Asia-North Europe trade fell by 15 percentage points month over month to 54.4 per cent, while Asia-Mediterranean reliability declined 16.3 percentage points sequentially to 52.2 per cent.

Source : HKSG.

[230121.ID.AIR] Berita Duka, CEO Batik Air Capt. Achmad Luthfie Meninggal Dunia


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri aviasi tanah air kehilangan salah satu profesional terbaiknya. Capt. Achmad Luthfie, Direktur Utama (CEO) Batik Air, meninggal dunia pada hari ini, Sabtu 23 Januari 2021. 

Kabar duka ini diterima Kontan melalui pernyataan resmi yang disampaikan tim komunikasi Batik Air, Sabtu, malam. Pernyataan itu tidak menjelaskan penyebab meninggalnya Capt. Luthfie, panggilan akrab pilot yang masih aktif ini. Yang pasti, ia meninggal di salah satu rumahsakit di Tangerang, Banten, Sabtu 23 Januari 2021, pukul 21.08 WIB.

Warga Kontan turut mengenang penerbang yang murah senyum dan humoris ini. Pada tahun 2019, Capt. Luthfie dan Batik Air turut mendukung  Jelajah Ekonomi Pariwisata Kontan. Waktu itu, Batik Air menjadi mitra maskapai resmi program spesial yang bertujuan mempromosikan pariwisata lokal tersebut. Selamat jalan, Capt. Luthfie.

Berikut, pernyataan resmi Batik Air yang menerangkan kepergian Capt. Luthfie:

"T A N G E R A N G – 23 Januari 2021. Batik Air (kode penerbangan ID) member of Lion Air Group menyampaikan informasi berita duka cita atas telah berpulang (meninggal dunia) Direktur Utama Batik Air, Capt. Achmad Luthfie hari ini (23/ 01) pukul 21.08 di salah satu rumah sakit di Tangerang.

Seluruh manajemen, karyawan, awak pesawat Batik Air dan Lion Air Group menyampaikan rasa duka cita mendalam serta senantiasa mengiringkan doa terbaik kepada almarhum Capt. Achmad Luthfie.

Almarhum Capt. Achmad Luthfie merupakan sahabat, teman, kerabat serta tim seperjuangan dan salah satu atau seorang bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan perusahaan Lion Air Group sejak berdiri hingga saat ini.

Batik Air memohon dengan segala keikhalasan dan keridhoan dari kita semua untuk mendoakan yang terbaik dan memaafkan atas segala kesalahan dan kekhilafan almarhum.

Lion Air Group akan selalu mengenangmu [almarhum Capt. Achmad Luthfie]."

Sumber : Kontan, 23.01.2021.

22 Januari 2021

[220121.EN.BIZ] Rising Haulage Rates On Silk Road Rail Driven by Covid And Border Delays

 

LAST year was another record-busting year for rail volumes on the New Silk Road, but a persistent bottleneck at the Kazakhstan border led to lengthy delays for both rail and road freight.

According to Chinese media, China-Europe rail volumes reached 1.14 million TEU last year, up 56 per cent on the year before, while figures from China State Railway Group shop train journeys passing 10,000, for the first time, to 12,400.

The volumes match those reported by the two major CIS railway companies, Russian Railways and narrow-gauge operator UTLC, which both announced volumes of over half a million TEU.

However, bad weather and a dispute over Covid restrictions between Kazakhstan and China, has caused long delays for rail and road freight attempting the crucial border crossing, according to UK's The Loadstar.

For example, according to media in Kazakhstan, in late December there were 7,000 containers waiting to cross into China via the Dostyk and Altynkol border, with some waiting 42 days.

UTLC said it was trying a new border crossing at Goryn and Udritsk to "diversify cargo flows and reduce the load on border infrastructure". The express train ran between Chongqing and Slawkow, Poland, in 16 days.

The border congestion and ongoing shortage of equipment has sent freight rates soaring, according to Siddique Khan, CEO of Globalink Logistics, a member of Kerry Logistics Network.

"China-Europe rail freight traffic is severely impacted due to the Covid-19 restrictions in China," he told The Loadstar. "This has resulted in a price increase up to approximately US$5,000 per TEU.

"The equipment shortage and allocation on the CN-EU lane means eastbound traffic from EU to CN is also affected."

Furthermore, while some forwarders began touting Eurasian road freight as a viable alternative to the capacity crunch in air and ocean, the option of trucking from China appears to be off the table.

"Transit times for express trucking from China to Europe is around 16-18 days," explained Mr Khan. "Due to the speed, security and economy of price, CN-EU trucking delivers goods door to door and attracts high-value cargo, like electronics, fashion garments and spare parts.

"However, due to the China-Kazakhstan border restrictions, mainly imposed by the Chinese government, it takes 15-20 days to cross the border these days. Therefore, the Eurasian trucking solution is neither feasible nor economical right now.

"A full truckload price from China to Europe has almost doubled in the past two-to-three months, for example."

Source : HKSG / Photo : CSIS.