22 Februari 2017

[220217.EN.BIZ] Zim Signs Up With Alibaba's Website For Booking Space On Vessels Online

ISRAELI shipping line Zim has signed up with Alibaba to allow customers of the e-commerce site to book space on its vessels through Alibaba's OneTouch website, Reuters reported.

Zim follows other carriers such as CMA CGM and Maersk Line that signed similar agreements with Alibaba this year. Alibaba also reached a deal in 2017 with freight forwarder network WCA.

"Over the last seven months, Alibaba Group's international B2B site has announced partnerships with UPS and FedEx for express delivery, Maersk for container shipments, and DHL and Kuehne + Nagel for air freight, among others, significantly boosting cross-border logistics options available online through Alibaba.com," according to an article posted on Alibaba's Alizila site, reported American Shipper.

"Currently, there are more than 100 logistics companies and 1,700 freight forwarders offering their services through Alibaba.com, which has an international membership base predominantly made up of Chinese manufacturers and suppliers selling globally."

Source : HKSG.

[220217.ID.BIZ] China Masih Jadi Faktor Utama

JAKARTA – Harga batu bara diprediksi masih berpeluang membara seiring dengan proyeksi berkurangnya produksi dari China, meskipun Amerika Serikat bakal meningkatkan volume suplai.

JP Morgan dalam risetnya menyampaikan, National Development and Reform Commission (NDRC) China sedang mempertimbangkan untuk memulai kembali pengendalian produksi tambang melalui pengurangan operasi kerja menjadi 276 hari mulai pertengahan Maret 2017. Kebijakan tersebut akan mencakup dua hal, yakni pemantauan (monitoring) industri selama enam bulan ke depan, dan lokasi tambang batu bara yang dipilih.

Penutupan kapasitas produksi merupakan reformasi suplai NDRC yang berlaku sejak tahun lalu untuk menstabilkan harga batu bara. Seperti diketahui, mulai April 2016 Pemerintah China menetapkan pemangkasan waktu kerja perusahaan batu bara dari 330 hari per tahun menjadi 276 hari per tahun.

Namun demikian, operasional tambang batu bara sejak September 2016 ditambah untuk menopang tingginya pasokan selama musim dingin. NDRC menyampaikan, semua perusahaan yang sudah memenuhi standar keselamatan bisa memulihkan operasi dari 276 hari menjadi 330 hari.

“Fokus pasar saat ini ialah apakah kebijakan 276 hari kerja akan dilanjutkan setelah Maret 2017. Katalis lain dalam jangka pendek ialah target penutupan kapasitas batu bara untuk 2017,” papar Morgan dalam risetnya akhir pekan lalu.

Pada penutupan perdagangan Senin (20/2), harga batu bara Newcastle kontrak Februari 2017 tumbuh 0,2 poin atau 0,25% menjadi US$80,1 per ton. Meskipun demikian, selama tahun ini harga telah turun 9,39% (year to date/ytd).

Tahun lalu, harga mencapai titik terendah US$41,35 per ton pada 18 Januari 2016, dan level tertinggi US$100 per ton pada 11 November 2016. Sepanjang tahun kemarin, harga melonjak 101,87%.

Total penutupan kapasitas tambang batu bara China pada 2016 mencapai 290 juta ton, naik dari target awal 250 juta ton. Menurut Morgan, pemerintah setempat memberikan ambang batas wajar harga batu bara di atas level 500 – 570 yuan (US$72,77 – US$82,96) per ton. Artinya, bila harga berada di luar rentang tersebut, pengambil kebijakan akan melakukan langkah-langkah tertentu untuk kembali menstabilkan harga.

Sentimen Negatif

Sementara itu, sentimen negatif terhadap pasar batu bara datang dari Amerika Serikat, sebagai produsen terbesar kedua di dunia, yang berencana meningkatkan produksi pada 2017.

Laporan Short Term Energy Outlook (STEO) Februari 2017 dari US Energy Information Administration (EIA) menyebutkan, produksi batu bara AS pada 2016 mencapai 739 juta short ton (MMst), turun 18% yoy atau 158 MMst dari 2015, dan menjadi level terendah sejak 1978. Hal ini terjadi karena Paman Sam mulai beralih ke gas alam sebagai tenaga pembangkit listrik.

Seiring dengan naiknya harga gas alam, penggunaan batu bara juga akan ditingkatkan. Alhasil produksi batu hitam diperkirakan meningkat sekitar 3% yoy pada 2017.

Wahyu Tribowo Laksono, Analis Central Capital Futures, mengatakan isu terkini yang sedikit menekan pasar batu bara ialah proyeksi peningkatan produksi dari AS. Sejak awal, Presiden AS Donald Trump memang memberikan janji-janji yang pragmatis, termasuk masalah energi.

Sebelumnya, Barack Obama ketika masih menjabat sebagai presiden menekankan penggunaan energi terbarukan dan energi alternatif. Oleh karena itu, Paman Sam mengurangi konsumsi batu bara, dan beralih ke gas alam.

“Mungkin sekarang angin berhembus balik untuk batu bara karena efek Trump. Meskipun enggak bagus buat lingkungan, yang penting bagus bagi AS,” ujarnya.

Selain dari AS, potensi penaikan produksi juga datang dari negara lain seperti Indonesia dan Kolombia. Menurut Wahyu, hal ini masih wajar karena peningkatan harga memicu produsen mengerek suplai. Namun demikian, hingga saat ini masih dihitung seberapa besar volume suplai baru tersebut mempengaruhi pasar global. China tetap menjadi faktor utama terhadap pasar batu bara.

“Jadi secara umum bisa diduga harga enggak boleh anjlok karena merugikan perusahaan tambang, yang ujung-ujungnya menekan ekonomi China. Tapi harga juga enggak bisa mahal, karena mengancam sektor energi atau listrik,” tuturnya.

Dalam jangka menengah atau pada kuartal I/2017, Wahyu memprediksi rentang harga berada di kisaran US$70 – US$110 per ton. Meski jatuh di bawah US$82 per ton, harga masih berpeluang rebound.

Aditya Eka Prakasa, analis BCA Sekuritas, dalam risetnya menyampaikan emiten batu bara di Indonesia dapat diuntungkan dengan pemutusan impor China dari Korea Utara. Penghentian impor ini dilakukan setelah uji coba rudal balistik dari Korea Utara ke Laut Jepang.

Larangan impor diperkirakan berlangsung sampai akhir 2017. Pada 2016, Korea Utara mengekspor 22,5 juta ton batu bara ke China, atau sekitar 50% total ekspor negara yang dipimpim Kim Jong Un ini. Sementara itu bagi Negeri Panda, volume pengiriman dari Korea Utara mewakili 10% total impor batu bara negara.

“Kiriman batu bara dari Indonesia bisa mengisi kekosongan dari larangan China terhadap Korea Utara,” paparnya.

Menurut Aditya, dua perusahaan lokal yang dapat mengisi pasar China ialah ADRO dan ITMG. Penjualan batu bara ke China berkontribusi terhadap 14% pendapatan ADRO, dan 25% pendapatan ITMG.


Sumber : Bisnis Indonesia, 22.02.17.

21 Februari 2017

[210217.EN.AIR] European Airlines' Cargo Volumes in January Show a Mixed Performance

JANUARY saw mixed results cargo results for European airlines, with Lufthansa's volumes up 4.9 per cent year on year to 736 million revenue cargo tonne kilometre and IAG posting an increase of 2.8 per cent to 434 million cargo tonne miles.

However, Air France KLM's cargo traffic fell 1.3 per cent to 659m RTK, and Finnair's volume decreased 10.2 per cent to 58.2m RTK.

Yet, it is difficult to read too much into year on year comparisons in the first two months of the year because of the changing date of the Chinese New Year, when factories in the country shut for around two weeks, reported London's Air Cargo News.

Lufthansa's cargo load factor rose to 65.9 per cent, up from 63.9 per cent in January 2016, marking the best January cargo load factor since 2014.

Demand was flat at Aer Lingus; British Airways' cargo volume rose by 5.5 per cent year on year, but Iberia registered a 7.3 per cent decrease.

IAG attributed January's improved result to a vegetable shortage in the UK caused by a poor crop in Spain and Greece. Shippers turned to the Americas and flew in vegetables to meet demand.

Over at the Air France KLM cargo group, demand was up at Air France and down at KLM. The group saw its cargo load factor decrease to 56.6 per cent from 56.8 per cent last year.

Meanwhile, there was another decrease in cargo traffic at Finnair, although this was once again caused by developments within the company. Finnair's decrease in cargo demand in January came after a 15.7 per cent decline in December when the implementation of a new cargo management system caused problems for the airline.

"Finnair suspended flights to Chongqing as planned between January 11 and May 2, 2017 due to its pilots' A350 training," the airline said. "In addition, there were an extraordinarily high number of cancellations in Asian traffic during the month."

Source : HKSG.

[210217.ID.BIZ] Menhub Bahas Maritim Indonesia dengan IMO

Jakarta- Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menggelar pertemuan dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) International Maritime Organization (IMO) Kitack Lim di Kantor Kementerian Perhubungan (Kemhub), Jakarta, Selasa (21/2).

Dalam pertemuan itu, Menhub menyampaikan langsung keinginan Indonesia mencalonkan diri kembali sebagai anggota dewan IMO kategori C periode 2018-2019. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai anggota dewan IMO kategori C periode 2016-2017. Adapun, pemilihan anggota dewan IMO dilakukan dua tahun sekali.

“Beliau sangat apresiasi terhadap Indonesia dan menyampaikan Indonesia adalah salah satu anggota terpenting IMO karena memang kami banyak menyampaikan ide-ide dan pendapat,” terang Budi Karya setelah bertemu Kitack Lim.

Menurut Budi, pemerintah Indonesia juga melaporkan kepada IMO terkait tuntasnya pembahasan dengan Malaysia dan Singapura untuk mengelola Selat Malaka. “Beliau mengapresiasi langkah tersebut. Di satu sisi, kami berkoordinasi baik dengan Singapura dan Malaysia. Di sisi lain, kami memberi suatu keleluasaan atau kelancaran lalu lintas di Selat Malaka,” terangnya.

Selain itu, Budi menambahkan, pihaknya menjelaskan program tol laut kepada Kitack Lim dan mendapatkan apresiasi dari IMO karena program itu hendak mewujudkan konektivitas antara satu pelabuhan dengan pelabuhan lainnya. “Kami juga berkoordinasi kemungkinan adanya dukungan tenaga pendidikan bagi Indonesia,” ujarnya.

Sementara Kitack Lim mengaku, pada kunjungan kedua kalinya ke Indonesia ini, pembahasan tentang maritim sangat produktif dan konstruktif. “Saya akan berkomunikasi lebih intens lagi dengan Menteri Perhubungan, Pak Sumadi, untuk membuka peluang kerja sama sektor maritim di Indonesia,” ujarnya.

Sumber : BeritaSatu, 21.02.17.

20 Februari 2017

[200217.EN.BIZ] CP Appoints Railroading Business Veteran John Brooks as CMO

CANADIAN Pacific has appointed John Brooks as its new senior vice-president and chief marketing officer, with immediate effect, in a bid to enhance its sales and marketing team to "better meet the needs of its current and potential customers."

CP president and chief executive officer, Keith Creel, said: "We are confident that John and his talented team can leverage our superior operating model, diversify our book of business and deliver for our customers and shareholders."

Reporting directly to Mr Brooks will be vice-president sales and marketing, merchandise and bulk, Tommy Browning, and vice-president sales and marketing, intermodal and grain, Jonathan Wahba.

Mr Browning started his career in the railway industry with Illinois Central in 1989 and has held a number of senior marketing and operations-related roles in his three decades in the industry. Since joining CP in 2013, Mr Browning has played an integral role in enhancing CP's merchandise and bulk portfolios while building relationships with key customers.

Mr Wahba, who was most recently the chief operating officer at Kriska Transportation Group, has also held leadership positions at Schneider National, CN and Midland Transport. His extensive experience in the transportation industry, from trucking to rail, will support CP's intermodal business. His appointment is effective immediately.

In the role of CMO, Mr Brooks will be responsible for CP's business units and lead a group of sales and marketing professionals across North America. In addition, he will be responsible for strengthening partnerships with existing customers, generating new opportunities for growth, enhancing the value of the company's service offerings and developing strategies to optimise CP's book of business.

With more than 20 years in the railroading business, Mr Brooks began his railroading career with Union Pacific and later helped start I&M Rail Link, LLC, which was purchased by the Dakota, Minnesota and Eastern Railroad (DM&E) in 2002. Mr Brooks was vice-president of marketing at the DM&E prior to it being acquired by CP in 2007.

Source : HKSG.

[200217.ID.BIZ] Menggeber Produksi, PTBA Merancang Akuisisi

JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk nampaknya pantang mundur menghadapi bisnis di 2017. Curah hujan yang tinggi bahkan tak menjadi hambatan perusahaan ini untuk menggeber produksi batubara.

Oleh karena itu, perusahaan yang mejeng di bursa dengan kode saham PTBA ini tetap pede dengan mematok target produksi batubara 24 juta ton, atau naik 22,32% ketimbang produksi tahun lalu 19,62 juta ton. Artinya, tahun ini rata-rata per bulan produksi PTBA sekitar 2 juta ton.

Adib Ubaidillah, Sekretaris Perusahaan PTBA menjelaskan, meski belakangan ini cuaca buruk, namun produksi batubara PTBA masih sesuai dengan rencana. Asal tahu saja, untuk mengantisipasi musim hujan, PTBA telah membuat sistem drainase agar air hujan tidak mengganggu proses produksi.

Tak hanya antisipasi musim hujan, usaha dari PTBA untuk genjot produksi didukung oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). "Kenaikan produksi karena dukungan proyek kereta api ke Sumatera Selatan yang telah selesai dikerjakan, kata Adib kepada KONTAN, Minggu (19/2).

Dengan penambahan produksi, otomatis perusahaan memikirkan pasarnya. Untuk itu, PTBA tengah menjajaki pasar ekspor baru potensial. Asal tahu saja, ada 55% dari total produksi PTBA diperuntukkan untuk ekspor, sisanya untuk domestik.

Salah satu kontrak baru ekspor yang berhasil diraih berasal dari pembeli di India. Adib bilang, selain India ada beberapa negara tujuan ekspor lain yang sedang dijajaki. Untuk diketahui, PTBA saat ini tengah menggarap ekspor batubara ke Filipina, Bangladesh, Sri Lanka, Malaysia dan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Meski masih penjajakan, namun beberapa negara tujuan ekspor telah melakukan negosiasi harga. Maka itu, manajemen PTBA optimistis bisa mendapatkan harga yang baik dan juga pangsa pasar yang lebih baik tahun ini.

Perlu diketahui, strategi penjualan PTBA untuk ekspor dan domestik adalah, membagi dua segmen batubara untuk pasar berbeda. Untuk batubara berkualitas tinggi, dipersiapkan untuk ekspor. Untuk kualitas medium dipersiapkan untuk domestik.

Rencana lain selain ekspor PTBA adalah, ekspansi dengan cara akuisisi perusahaan tambang lain. Saat ini PTBA menjajaki akuisisi tambang batubara di Australia. "Dari sisi dana, dana kami masih cukup untuk pertumbuhan an organik," lanjut Adib.

Tahun ini PTBA alokasikan belanja modal tahun ini Rp 4 triliun untuk produksi. Sedangkan untuk akuisisi, PTBA alokasikan US$ 36 juta.

Ekspansi ke pembangkit

Selain bisnis tambang, perusahaan tengah merambah bisnis listrik dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap Sumatera Selatan (VIII) berkapasitas 2x620 MW dengan desain mine mouth plant. Untuk proyek ini, PTBA telah menyiapkan dana investasi US$ 1,6 miliar.

Dari total dana investasi tersebut, sebesar US$ 1,2 miliar didapatkan dari pinjaman The Export-Import Bank of China yang didapat sejak Maret tahun lalu. Untuk itu, perusahaan menggandeng China Huadian Corporation untuk menggarap PLTU Sumsel VIII tersebut yang sebelumnya diproyeksikan beroperasi tahun 2019 mendatang.

Jika PLTU Sumsel VIII nantinya beroperasi, maka pembangkit itu membutuhkan setidaknya 3 juta ton batubara yang menjadi potensi fix income perusahaan. Yang jelas, Adib berharap, pembangunan PLTU Sumsel VIII tidak mengalami hambatan.

"PPA (power purchase agreement) masih dalam proses pembahasan yang jelas sudah ada informasi resmi dari PLN itu akan beroperasi tahun 2023. Bagi kami tidak ada masalah dan sudah siap, karena pendanaan kami juga sudah siap," jelas Adib.

Dengan serangkaian ekspansi tersebut, PTBA berusaha memposisikan dirinya sebagai raksasa di industri batubara dan energi dalam negeri. Apalagi, saat ini PTBA memiliki cadangan batubara 3,33 miliar ton dengan masa tambang lebih dari 100 tahun lamanya.

Sumber : Kontan, 20.02.17.

19 Februari 2017

[190217.EN.BIZ] London P&I Club Loses Cosco's Business Following Merger With China Shipping

COSCO has terminated its account with London P&I Club amid a restructuring of the Chinese state-owned giant's marine insurance arrangements following its merger with China Shipping.

Other clubs are also likely to be caught out by the development, as the owner hitherto split its huge fleet among a number of providers, reported UK's Lloyd's List.

In practice, each unit within the group can place its P&I as it sees fit. Many of its mainland-based subsidiaries are thought to use China P&I, for instance.

China Cosco Shipping Group (CCSG) chief executive Xu Lirong presides over a shipping empire with assets valued at US$90 billion. In total, CCSG comprises 1,114 vessels with a capacity of 85.3 million dwt, making it the world's number one shipowner.

Its containership fleet capacity is 1.58 million TEU, ranking it fourth in the world, and that figure tops two million TEU, if its orderbook is included.

London Club chief executive Ian Gooch told Lloyd's List: "As a result of the consolidation, it looks as if they are making alternative arrangements. That will include a number of clubs, and we are one of them. We are seeing renewals not proceed, and terminations of entries this year."

However, Mr Gooch was keen to stress that London Club would not be the only marine mutual in the firing line, and other areas of its activities were in good shape.

"It is a relationship we have had for a number of years, but it comes during a renewal in which we have seen a number of additions to the club from fleets based in Greece, Turkey, China and Singapore," he said.


Source : HKSG.