15 Desember 2017

[151217.EN.SEA] Price of Stability: Contract Rates Likely to Rise 30pc in 2018, Says SeaIntel



TRANSPACIFIC contracts versus spot rate have increased 30 per cent showing the potential for increases in contract season 2018-19 barring an all-out rate war, according to SeaIntel Maritime Analysis.

"In Issue 341 of the Sunday Spotlight we created a model whereby the China Containerised Freight Index (CCFI) contract rate index was modelled around the spot rate data from the Shanghai Containerized Freight Index (SCFI)," said a SeaIntel press release.

"On Asia-USWC, we found that between 2009 and 2015, the model was 94 per cent correlated. The major change in price formation happened in the contract market in 2016, with the contract rates dropping 30 per cent below the levels indicated by the spot market, following the contract negotiation season in May 2016. The weakness is perpetuated into the contract season starting May 2017.

"It can be argued whether this implies contract rates which are too low or spot rates which are too high. However, given that the spot rates are prone to sudden downwards changes, this implies that carriers have been ineffective in getting contract rates to increase to a level implied by the spot market," said the release.

Said SeaIntel CEO Alan Murphy: "Given that the contract market is 30 per cent lower than where spot rates imply it should be, this indicates that if spot rates can be maintained, there is a potential for contract rate increase of 42 per cent to regain the balance between spot and contract rates."

Looking towards 2018, the carriers will highly likely be looking at increasing the transpacific contract rate levels similarly to the development seen on the Europe trade.

Source : HKSG.

[151217.ID.BIZ] GoJek Akuisisi Tiga Fintech Untuk Memperkuat GoPay



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkuat GoPay, GO-Jek telah menandatangani perjanjian untuk mengakuisisi tiga perusahaan teknologi finansial alias financial technology (fintech). Fintek tersebut adalah Kartuku, perusahaan layanan pembayaran offline, Midtrans, perusahaan payment gateway online; dan Mapan yang merupakan jaringan arisan barang di Indonesia.

Bergabungnya ketiga kekuatan fintech tersebut dengan GO-JEK akan mendukung ekspansi GO-PAY. Bisnis perusahaan-perusahaan tersebut saat ini memproses total transaksi lebih dari Rp 67,5 triliun per tahun, baik melalui kartu kredit, debit maupun dompet digital untuk para pengguna, penyedia jasa dan merchant-merchant mereka.


“Kini, saatnya GO-JEK melangkah maju memasuki babak baru. Melalui akuisisi ini, GO-JEK akan berkolaborasi dengan tiga perusahaan fintech nasional terdepan di Indonesia yang memiliki visi dan etos kerja yang sama dengan kami. Inisiatif ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat pondasi dan langkah kami di industri fintech Indonesia,” ungkap Nadiem Makarim, Founder dan CEO GoJek kepada Kontan.co.id pada Jumat (15/12).

GoJek saat ini punya lebih dari 15 juta pengguna aktif mingguan. GoJek beri layanan ride-hailing, antar-makanan, jasa antar barang instan, dan penyedia dompet digital 900 ribu mitra pengemudi, lebih dari 125 ribu merchant yang mayoritas adalah UMKM, serta memiliki lebih dari 100 juta transaksi yang diproses melalui platform ini setiap bulannya.

“Tahun 2018 akan menjadi tahun dimana GO-PAY akan berkembang di luar ekosistem GO-JEK, menyediakan layanan pembayaran yang aman, nyaman, mudah, dan terpercaya baik secara offline maupun online," kata Andre Soelistyo, Go-Jek Group President.

Andre menyatakan melalui akuisisi ini akan mengakselerasi penetrasi dan jangkauan GoPay ke ranah pembayaran offline melalui Kartuku, ranah pembayaran online melalui Midtrans, serta meningkatkan inklusi finansial bagi masyarakat unbanked melalui Mapan.

“Setelah akuisisi ini, tim manajemen dan seluruh karyawan dari masing-masing perusahaan akan beroperasi sebagaimana sebelumnya, namun dapat mengambil manfaat sinergi sebagai bagian dari GO-JEK Group,” tambah Andre.

Ketiga pimpinan dari masing-masing perusahaan yang diakuisisi akan memegang posisi senior manajemen di dalam GO-JEK Group. Aldi Haryopratomo dari Mapan akan memimpin GoPay, Ryu Kawano Suliawan dari Midtrans akan memimpin pengembangan platform merchant dalam GoJek Group, sementara Thomas Husted dari Kartuku akan memegang peranan sebagai CFO di GoJek Group.

Sumber : Kontan, 15.12.17.

14 Desember 2017

[141217.EN.SEA] Maersk Wants Clients to Pay More in 2018



THE world's largest ocean carrier is looking to negotiate higher prices in client contracts for 2018, but "much depends on how the supply glut pans out".

The third quarter of 2017 saw demand fall behind oversupply in the maritime industry, a Maersk Line official said in an interview with Bloomberg as reported by American Shipper.

"We have started to see some pockets of downward pressure," Steve Felder, Mumbai-based managing director of Maersk's South Asian unit said. "The global trade order book at around 13.5 per cent of capacity isn't high, however, given that freight rates are largely determined on the basis of supply-demand balance, they remain fragile," he said.

According to International Monetary Fund forecasts, world trade volumes are expected to slow from 4.2 per cent to 4 per cent in 2018, though Bloomberg noted that's still higher than the seven-year low of 2.4 per cent hit in 2016. Furthermore, Drewry Shipping Consultants expects the container-shipping freight growth rate to drop to less than 10 per cent in 2018 from around 15 per cent in 2017, said Bloomberg.

Bloomberg analyst Rahul Kapoor weighed in that global trade volumes are recovering from a 2015-2016 slump with demand for goods and services rising 5 per cent to 6 per cent on Transpacific and Asia-to-Europe trade this year, but Maersk is looking to negotiate higher prices in client contracts for 2018. "Much depends on how the supply glut pans out," Mr Felder told Bloomberg.

Source : HKSG.

[141217.ID.BIZ] Kemenhub Ubah Trayek & Pola Subsidi Tol Laut



Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan bakal mengubah pola operasional Tol Laut pada 2018 agar sasaran program berjalan lebih efektif. Perubahan mencakup pola trayek dan pola subsidi.

Dirjen Perhubungan Laut, Agus Purnomo mengatakan pemerintah mengubah pola trayek dengan menerapkan skema hub and spoke. Artinya, kapal besar hanya akan berlayar ke pelabuhan induk di mana distribusi barang ke wilayah sekitarnya menggunakan kapal pengumpan yang lebih kecil.

Perubahan pola trayek menurut Agus bakal membuat jumlah trayek bertambah dari 13 trayek pada 2017 menjadi 15 trayek di tahun depan. Perbedaan yang mencolok, tahun ini seluruh trayek menggunakan pola operasi langsung antarpelabuhan.

"Masalahnya, di pelabuhan tujuan itu infrastruktur [pelabuhan dan peralatan] tidak siap sehingga kapal besar tidak bisa masuk. Maka kami lakukan reroute agar lebih efisien," jelasnya di Jakarta, Kamis (14/12/2017).

Agus menjelaskan skema hub and spoke tahun depan dimungkinkan karena Kemenhub bakal mengoperasikan 15 kapal kontainer baru berkapasitas 115 TEUs. Kapal-kapal tersebut telah dipesan Kemenhub sejak 2015 dan sebagian besar rampung di akhir 2017.

Agus mengatakan pihaknya saat ini belum memutuskan komposisi operator yang akan menjalankan program Tol Laut. Yang jelas dia menyebut, pola penugasan dan lelang akan tetap ditempuh. Tahun ini, sebanyak tujuh rute dibuka untuk swasta melalui lelang sedangkan sisanya melalui penugasan kepada PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero).

Selain kapal kontainer milik negara, program Tol Laut tahun depan juga bakal dipadukan dengan program feri jarak jauh atau long distance ferry. Kapal yang melayani trayek feri jarak jauh menurut Agus bakal menjadi pengumpan dari trayek-trayek tol laut.

Sejauh ini, feri jarak jauh telah beroperasi untuk rute Panjang--Tanjung Priok, Tanjung Priok--Gresik, dan Surabaya--Lembar. PT Jagat Zamrud Khatulistiwa dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menjadi operator feri jarak jauh untuk trayek Tanjung Priok--Gresik.
 
Sumber : Kontan, 14.12.17.

13 Desember 2017

[131217.EN.BIZ] New Mega Automated Box Shipping Terminal at Shanghai Port Enters Testing Phase



TRIAL operations have commenced at the Shanghai Yangshan deep water port, the biggest automated container shipping terminal globally that will initially handle four million TEU.

Located at the south of Donghai Bridge, phase four of the Yangshan port covers 2.667 million square yards and has a 2,569-yard shoreline. Its annual box handling capacity will soon be raised to 6.3 million TEU through the deployment of 26 bridge cranes and 120 rail-mounted gantry cranes.

"The automated terminal not only increases the port's handling efficiency but also reduces carbon emissions by up to 10 per cent," Shanghai International Port Group president Chen Wuyuan told Xinhua News Agency.

According to Xinhua, Shanghai Zhenhua Heavy Industries Co made all the equipment involved in the upgrade at the world's busiest container port, reported The Washington Times.

Source : HKSG.