31 Januari 2019

[310119.EN.BIZ] Union Pacific 2018 Profit Up 29pc to US$6 Billion As Sales Rise 7.5pc


THE Omaha-based Union Pacific Railroad posted a 29 per cent year-on-year profit increase to US$6 billion in 2018, drawn on operational revenues of $22.8 billion, up 7.5 per cent.

Fourth quarter also increased American largest railway net profit 29 per cent year on year to a record $1.6 billion, drawn on revenues of $5.8 billion, up six per cent.

Union Pacific CEO Lance Fritz credited "strong volume growth, core pricing gains and regaining positive productivity momentum" for UP's good fortune.

"We are optimistic that continued economic growth, improving service performance will drive positive volume and revenue growth in 2019," Mr Fritz said.

Mr Fritz, also UP chairman and president, said the railway as advancing its previously announced reform Unified Plan 2020.

"We expect operating margins will increase as a result of solid core pricing gains and significant productivity benefits from our G55 + 0 initiatives, including Unified Plan 2020,"

"Since starting this initiative in October, we have improved on-time service for our customers while at the same time eliminating excess costs and improving the utilisation of network resources," Mr Fritz said.

Union Pacific said strong growth in industrial and premium shipments more than offset declines in agricultural products and energy.

"Quarterly freight revenue increased six per cent compared to the fourth quarter 2017, as positive volume, increased fuel surcharge revenue and core pricing gains all contributed to the increase, but were partially offset by negative business mix," said the UP statement.

"Quarterly train speed, as reported to the Association of American Railroads, was 24.4 mph, three per cent slower than the fourth quarter 2017.

"Terminal dwell was 26.7 hours, an 18 per cent improvement compared to the fourth quarter 2017," said the statement.

Source : HKSG.

[310119.ID.BIZ] Eka Tjipta Meninggalkan Kekayaan Rp 120 T


Jakarta - Kelompok bisnis papan atas Indonesia, Sinar Mas Group, kehilangan sang pendirinya, Eka Tjipta Widjaja. Dia menghadap Sang Pencipta pada Sabtu (26/1), pukul 19.43 WIB pada usia 98 tahun. Managing Director Sinar Mas, Gandi Sulistiyanto mengatakan, faktor usia dan kesehatan menjadi penyebabnya. Jenazah akan dimakamkan di pemakaman keluarga Desa Marga Mulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Sabtu 2 Februari 2019.

Eka Tjipta Widjaja adalah sosok yang memiliki prinsip hidup tak mudah menyerah. Ia lahir dari keluarga miskin. Embrio bisnis Sinar Mas berawal ketika Eka Tjipta berusia 15 tahun, ketika itu bernama Oei Ek Tjhong, berwirausaha menjajakan biskuit dan permen dengan mengendarai sepeda ke penjuru kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada 3 Oktober 1938. Pria yang lahir pada 27 Februari 1921 itu berdagang keliling demi membantu perekonomian keluarga.

Filosofi yang dipegang Eka Tjipta, yakni jujur, menjaga kredibilitas, dan bertanggung jawab, baik terhadap keluarga, pekerjaan maupun terhadap sosial, telah menjadi kompas hidupnya. Filosofi itu kemudian bermetamorfosis menjadi nilai-nilai luhur Sinar Mas, yakni integritas, sikap positif, berkomitmen, perbaikan berkelanjutan, inovatif, dan loyal.

Memiliki jiwa pedagang dan tidak pernah menyerah telah mewujudkan ambisinya untuk membeli perkebunan kelapa sawit seluas 10.000 hektare di Riau pada 1980. Meski hanya lulusan sekolah dasar, siapa sangka Eka Tjipta pada akhir hayatnya disebut-sebut Forbes memiliki kekayaan sedikitnya US$ 8,6 miliar atau sekitar Rp 120 triliun.

Eka Tjipta Widjaja menikahi Trinidewi Lasuki, memiliki delapan anak dan 26 cucu. Trinidewi Lasuki telah meninggal dunia dalam usia 90 tahun pada Februari 2017. Putra sulungnya, Teguh Ganda Widjaja, adalah Presiden Komisaris pabrik kertas PT Tjiwi Kimia Tbk dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. Sang adik, Franky Oesman Widjaja, menjabat sebagai CEO Golden Agri-Resources Ltd dan Wakil Presiden Komisioner perusahaan properti PT Bumi Serpong Damai Tbk.

Adapun anak keempat, Indra Widjaja, menekuni sektor finansial, pernah menjabat Presdir Bank Internasional Indonesia dan memimpin PT Sinar Mas Multi Artha Tbk, di samping presiden komisioner dan menjadi Presiden Direktur PT Asuransi Sinar Mas.

Kemudian Sukmawati Widjaja menjabat sebagai Executive Chairman Top Global Limited, perusahan yang bergerak di sektor real estate dan hospitality. Anaknya yang lain, Muktar Widjaja adalah CEO Sinarmas Land Ltd serta Djafar Widjaja sebagai pendiri Bund Center Investment Ltd di Shanghai, Tiongkok.

Sinar Mas menaungi sejumlah perusahaan yang independen dengan manajemen tersendiri. Perusahaan-perusahaan tersebut bergerak di sektor pulp dan kertas, agribisnis dan makanan, pengembang dan real estat, jasa keuangan, telekomunikasi dan data, serta energi dan infrastruktur. Belakangan, Sinar Mas juga memasuki ranah bisnis digital ventures.

Sejarah

Eka Tjipta mulai membangun emporium bisnis Sinar Mas sejak 1960 lewat perkebunan kopi dan karet, ketika dibentuk CV Sinar Mas di Surabaya. Sinar Mas Group sendiri memiliki enam lini bisnis utama. Sebagian perusahaan tersebut tersebar di luar negeri.

Salah satu perusahaan penyumbang pendapatan utama Sinar Mas adalah PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, yang dibangun pada 1972 di Jawa Timur. Inilah cikal bakal perusahaan pulp dan kertas Sinar Mas. Perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham TKIM ini dimiliki publik sebesar 40,32% dan sisanya dikuasai induk usahanya, PT Purinisa Ekapersada sebesar 59,67%. Perusahaan pulp dan kertas lainnya adalah PT Indah Kiat Pulp and Paper (INKP).

Bisnis pulp dan kertas milik Sinar Mas Group beroperasi di bawah naungan holding Asia Pulp and Paper (APP). Total kapasitas produksi APP mencapai 19 juta ton per tahun, dengan penjualan tersebar ke 120 negara.

Di sektor agribisnis, Sinar Mas Group mendirikan induk usaha Golden Agri-Resources Ltd (GAR) yang berdiri pada 1996 dan telah tercatat di Bursa Efek Singapura pada 1999. Di Indonesia, GAR memiliki anak usaha PT SMART Tbk (SMAR) yang menjadi perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 1992.

SMART memiliki total lahan seluas 138,000 ha. SMART bukan hanya perkebunan sawit, tapi juga memiliki fasilitas pengolahan tandan buah segar industri hilir CPO menjadi produk-produk turunan seperti minyak goreng, margarin, shortening, biodiesel dan oleokimia, dan sebagainya. SMART mengoperasikan 16 pabrik kelapa sawit, 5 pabrik pengolahan inti sawit, dan 4 pabrik rafinasi di Indonesia. Pada 1968, Eka Tjipta mendirikan pabrik minyak goreng kopra pertamanya, dengan nama Bitung Manado Oil Ltd di Sulawesi Utara.

Sinar Mas juga leading dalam bisnis real estat lewat Sinar Mas Land Limited. Lingkup usahanya tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di Tiongkok, Malaysia, Singapura, dan Inggris. Di Indonesia, kompleks real estat yang tersohor adalah Bumi Serpong Damai yang dibangun oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Juga ada PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI) yang dirintis sejak 1972. Sinar Mas Land juga memiliki bisnis patungan dengan Sojitz, perusahaan Jepang untuk mengembangkan kota bernama PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS).

Di sektor keuangan, Sinar Mas memiliki Bank Internasional Indonesia, namun mayoritas kepemilikannya berpindah tangan. Pada 2005, Sinar Mas mengakuisisi Bank Shinta, yang setahun kemudian resmi menjadi Bank Sinarmas. Kemudian, ada PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), pembiayaan keuangan untuk korporasi termasuk mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sinar Mas juga mengembangkan usaha penyediaan energi listrik, pertambangan batu bara, infrastruktur, bahan kimia, perdagangan ritel, dan multimedia. Bidang bisnis ini dioperasikan oleh PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang berdiri pada 1996. Di sektor telekomunikasi, Sinar Mas memiliki brand yang cukup kondang, yakni PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) yang berdiri pada 2006.

Sumber : BeritaSatu, 28.01.19.

30 Januari 2019

[300119.EN.SEA] PSA Terminals Handle 81m TEU Worldwide, Up 9.1pc yoy


SINGAPORE's PSA International handled 81 million TEU across its global container terminals in 2018, a year-on-year increase of 9.1 per cent.

Flagship PSA Singapore contributed 36.31 million TEU, up 8.9 per cent, and its overseas terminals handling 44.69 million TEU, up 9.3 per cent.

Group CEO Tan Chong Meng said: "2018 was a dual-speed year. The slow but steady pace of global container trade growth continued, despite geo-political shifts and rising trade barriers.

"At the same time, there was a surge in digitalisation activities within the global supply chain which promised better visibility and efficiency, while the industry continues to grapple with issues of data standardisation and collaboration.

"Against this backdrop, the PSA group has achieved good volume growth, thanks to the support from our customers and partners globally. I would like to express my deepest appreciation to our unions, staff and management for their steadfast dedication and spirited contributions throughout the year. They handled the increased complexity and operational demands from the new state of shipping alliances with aplomb.

"As we run full speed into 2019 we, at PSA, are excited about the opportunities and challenges ahead in this age of disruptions.

"We will continue to build on our global network of ports while leading the charge towards co-creating an Internet of Logistics - an ecosystem that is plug-and-play that links up a mesh of communities through interoperability and which allows us to innovate boldly," Mr Tan added.

Source : HKSG.

[300119.ID.BIZ] Riset IDN Research Institute Menyebut Lazada Jadi Platform Yang Digemari Milenial


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. IDN Research Institute merilis hasil risetnya yang menyimpulkan bahwa Lazada Indonesia merupakan salah satu platform yang digemari segmen milenial. Riset yang dilakukan selama enam bulan terakhir tersebut bertujuan untuk memahami perilaku milenial di Indonesia.

Monika Rudijono, Chief Marketing Officer Lazada Indonesia menyampaikan bahwa temuan riset tersebut semakin memperkuat posisi Lazada sebagai destinasi belanja dan penjualan online di Indonesia dan Asia Tenggara.

“Milenial yang melakukan pembelian produk secara online, mayoritas melakukan pembelian di Lazada, persentasenya mencapai 23,5% jauh diatas pelaku e-commerce lainnya,” klaimnya dalam siaran pers, Rabu (30/1).

Ia juga mengklaim kalau Lazada menjadi pilihan generasi milenial untuk melakukan pembelian online. Selain hasil riset tersebut, dirinya juga menyampaikan bahwa Lazada secara grup juga semakin mengukuhkan dominasinya.

YouGov BrandIndex memberikan penghargaan dengan buzz ranking ke 15 kepada Lazada, hal ini menginikasikan sebagai brand, Lazada dinilai memberikan perhatian dan dampak yang baik di mata konsumen dunia, khususnya market Asia Tenggara.

“(YouGov BrandIndex) Menjadikan kami satu-satunya pelaku e-commerce di Asia Tenggara yang masuk di dalam daftar,” lanjutnya.

Tapi Lazada masih kalah dari Youtube, Netflix, Samsung, Whatsapp, Google, Amazon, Ikea, Lidl, Facebook, Trivago, Uniqlo, Apple Iphone, Nike dan McDonald’s. Sedangkan di bawah Lazada ada brand seperti Toyota, Lego, hingga Visa.

Sumber : Kontan, 30.01.19.

29 Januari 2019

[290119.EN.SEA] Top Box Carriers Pile On The Tonnage In 2019


MEDITERRANEAN Shipping Company (MSC) is due to take on board 334,550 TEU of newbuild tonnage this year, edging closer to 2M partner, Maersk Line, in the global capacity rankings.

According to Alphaliner, MSC has the largest newbuild pipeline of all shipping lines this year, with 20 vessels scheduled for delivery as part of its "ship-jumboisation" programme that will see a series of 14,000 TEU ships converted to raise their nominal capacity to at least 17,000 TEU, reported UK's The Loadstar.

Maersk Line, on the other hand, only has six ships slated for delivery, for a total of 73,600 TEU, noted Alphaliner.

Indeed, without Maersk's acquisition of Hamburg Sud and its fleet of 650,000 TEU, MSC would have been almost neck-and-neck with its top-ranked rival at the end of this year, with 3.6 million TEU of capacity.

MSC's delivery pipeline this year includes eight 23,000 TEU ships for delivery in the second half. Alphaliner said it expected some of these to be deployed on the extended rotations of the 2M's six Asia-Europe strings, while others were expected to cover for vessels taken out of service for six weeks in the second half for the retrofitting of scrubber systems, ahead of IMO 2020.

The carriers with the next largest 2019 capacity expansion plans are Ocean Alliance partners Cosco and Evergreen, with newbuild pipelines of 181,000 TEU and 134,000 TEU, respectively.

"Cosco will continue its relentless growth in 2019, fresh from last year's acquisition of OOCL," said Alphaliner.

With this capacity injection, the Chinese state-owned carrier will widen the gap on the remaining alliance partner, CMA CGM, currently in fourth place in the rankings.

Evergreen's 2019 newbuilds will see the Taiwanese carrier narrow the capacity gap to its closest rivals, THE Alliance partners Hapag-Lloyd and Japanese grouping ONE.

Hapag-Lloyd has a blank orderbook, while ONE, which continues to consolidate its business after a problematic merger launch last April, has just three ships on order.

The only newbuild capacity growth in THE Alliance this year will be for Yang Ming, which is expecting four 14,200 TEU ships.

Source : HKSG.