25 Oktober 2016

[251016.ID.BIZ] Bisnis Jasa Kurir Mulai Tergerus Aplikasi Online

JAKARTA. Perkembangan teknologi berbasis aplikasi menjadi tantangan baru bagi perusahaan jasa kurir. Kehadiran transportasi berbasis aplikasi seperti Gojek dan Grab mencuil sebagian pasar bisnis pengiriman. Maklum, transportasi online tersebut tidak hanya menyediakan layanan pengangkutan orang, tapi juga merambat ke layanan kurir.

Muhammad Feriadi, Direktur Utama PT Jalur Nugraha Ekakurir (JNE), bilang, keberadaan transportasi online berdampak pada bisnis JNE karena layanan yang diberikan Gojek dan Grab  bersinggungan langsung dengan bisnis layanan premium yang perusahaan geluti. "Kami memiliki layanan premium dan ekonomi. Nah, yang premium ini mirip seperti yang ditawarkan transportasi online tadi. Ini yang tertekan," terangnya ke KONTAN, Senin (24/10).

Beruntung, efek keberaadaan transportasi online tersebut tidak terlalu signifikan. Pasalnya, transportasi online baru ada di kota besar sementara JNE bisa menyasar hingga ke daerah, mengingat jumlah jaringan perusahaan jasa kurir ini sudah mencapai 5.000 daerah di  Indonesia.

Namun, JNE tidak tinggal diam. perusahan berencana bakal menyesuaikan harga supaya bisa bersaing dengan layanan transportasi online.
Langkah lain adalah mengembangkan aplikasi My JNE. Perusahaan ini sudah berinvestasi sekitar Rp  50 miliar di aplikasi tersebut. Tujuannya agar pelanggan bisa melacak keberadaan barang kiriman.

JNE memang harus melakukan hal tersebut. Maklum, layanan yang terancam keberadaan aplikasi online adalah layanan premium yang mengedepankan kecepatan pengiriman. Layanan ini mulai beroperasi tahun 2014 dengan hasil 12 juta resi per bulan. Hingga kin sudah mencapai 15 juta resi per bulan.

Senada, PT Pos Indonesia juga terkena dampak kehadiran aplikasi transportasi.  "Dampaknya memang besar, tapi itu tidak signifikan, jika kami mampu memberikan layanan yang semakin baik kepada customer," kata Gilarsi Wahyu Setijono, Direktur Utama PT Pos Indonesia kepada KONTAN (24/10).

Gilarsih bilang, pasar Pos Indonesia yang telah diambil oleh transporasi online, sebagian besar ada di e-commerce. Sementara dari perusahaan dan perorangan yang beralih ke aplikasi online untuk pengiriman bersifat urgent.

Sumber : Kontan, 25.10.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar