04 Desember 2009

[ID-BIZ] KPPU Minta Dugaan Praktek "Tally" Ditanggapi

Oleh : Tularji

JAKARTA (bisnis.com): Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) mengharapkan pejabat terkait segera merespon saran dan pertimbangan tentang penghentian dugaan praktek kartel tally di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Direktur Komunikasi KPPU Ahmad Junaidi mengatakan pihaknya menunggu tanggapan Dephub atas saran dan pertimbangan struktur industri tally yang disebut sebagai persaingan usaha tidak sehat dengan praktik kartel.

"Kami tinggal menunggu respon pejabat terkait," katanya hari ini. KPPU menilai telah terjadi praktek kartel yang dilakukan melalui penetapan pembagian wilayah operasi pelaku usaha tally dan penetapan tarif yang dilakukan melalui kesepakatan pelaku usaha penyedia dan pengguna jasa tally.

Tally adalah biaya pencatatan dan penghitungan keluar masuk barang dan peti kemas di pelabuhan. Praktek kartel itu dipicu oleh terbitnya KM Perhubungan No. 15/2007 dan surat keputusan Administrator Pelabuhan Tanjung Priok No AT.575/3/6/AD.TPK-09 tentang penetapan pembagian wilayah operasi kegiatan tally.

Atas kondisi itu, KPPU meminta KM Perhubungan No. 15/2007, khususnya Bab VI Pasal 11 direvisi dengan menghilangkan kata asosiasi sehingga proses penetapan tarif sepenuhnya diserahkan kepada transaksi penyedia dan pengguna jasa.

Menhub juga diminta mencabut surat keputusan Administrator Pelabuhan Tanjung Priok No AT.575/3/6/AD.TPK-09 tentang penetapan pembagian wilayah operasi kegiatan tally, dan memberikan kebebasan kepada pengusaha tally untuk menawarkan jasanya. (tw)

Sumber : Bisnis Indonesia, 01.12.09.

03 Desember 2009

[EN-LAN] Asian Cargo Starts to Avoid Vancouver as CN Rail Strike Bites

CANADA's main west coast port, Vancouver, says it is suffering cargo diversion because of the current "Canadian National Railway" (CN) train drivers strike.

Back-to-work legislation is being discussed in Parliament, but it is uncertain whether it will pass or be enacted because many hope the strike will end before it is. At issue is the 3,800 miles drivers must travel before they can stop work.

The 17,000 drivers work between 15 and 17 days a month and earn C$100,000 (US$95.640) a year, according to management. The 3,800 mileage cap was established in 1919 when steam-driven coal-fired trains were slow and took much longer to travel Canada's vast distances.

Management now wants the "mileage cap" increased to 4,300 miles to improve productivity. It has been reported that shippers in Canada are diverting cargo away from Vancouver to US ports, but Mark Erdman, Port Metro Vancouver spokesman, would not say what cargo, where it was going or in what quantities, citing "terminal confidentiality".

Vancouver, which does 95 per cent of its import business with Canada (2.5 million TEU annually), is also the biggest North American port in terms of pure tonnage, combining all cargo including bulk exports, which takes in wheat, coal, potash and oil.

But Prince Rupert (200,000 TEU annually), the new port 400 miles to the north, does 60 per cent of its business with the United States, and is entirely dependent on CN to move its boxes in and out.

Pledging to carry on regardless, CN has asked customers to help line up their freight for pickup by taking steps to kerb railway wagon switching in their own private company rail yards which take up too much time of the management personnel and retired drivers who have replaced the drivers.

Shippers are reporting train delays from the nation's largest rail ahead of Canadian Pacific, or CP Rail. Some say ocean cargo diversions have also begun, with a few ships heading to US seaports that would normally go to Canadian terminals served by CN.

Source : HKSG, 03.12.09.

[ID-OTH] 11 BUMN Digenjot Jadi Perusahaan Regional

Oleh : Bambang P. Jatmiko

JAKARTA (bisnis.com): Kementerian BUMN akan menggenjot 11 BUMN menjadi perusahaan regional, untuk meraih pasar yang masih terbuka lebar di luar negeri.

Sebelas BUMN yang akan digenjot ke pasar regional itu antara lain "PT Telekomunikasi Indonesia Tbk", "PT Wijaya Karya Tbk", "PT Adhi Karya Tbk", "PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk", "PT Semen Gresik Tbk" serta "PT Pindad".

“Semuanya akan kami persiapkan untuk masuk ke pasar regional. Kami melihat beberapa sektor BUMN cukup prospektif untuk dikembangkan,” ujarnya di Komisi VI DPR pagi ini.

Menurut Mustafa, pihaknya juga akan melanjutkan kebijakan mengenai BUMN yang dijalankan oleh menteri sebelumnya, yang meliputi percepatan restrukturisasi, rightsizing atau pengurangan jumlah BUMN, pembentukanholding, serta penyelesaian masalah BUMN yang mendesak.

Beberapa proses akuisisi dan restrukturisasi sesama BUMN, seperti halnya PT Bahtera Adiguna oleh PLN, likuidasi PT ISI, serta beberapa perusahaan yang masih dalam penanganan PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA).

“Kami juga akan memasukkan beberapa program lainnya dalam program 100 hari di antaranya adalah revitalisasi industry Hankam, revitalisasi BUMN karya, kepastian pasok energi, serta restrukturisasi BUMN perkebunan,” tuturnya. (ln)

Sumber : Bisnis Indonesia, 30.11.09.

02 Desember 2009

[EN-BIZ] Rating Agencies Downgrade "DP World" as Parent Struggles

NOTWITHSTANDING Dubai World's assurances that its "DP World" unit is beyond the reach of its creditors, rating agencies have downgraded the subsidiary's debt fearing the sickly parent's US$59 billion debt will bring on creditor demands to sell whatever the parent I things go sour in the present crisis.

Now India's credit rating agency Icra has downgraded the ratings assigned to bank facilities of DP World's three subsidiaries engaged in container cargo operations in India, reports India's Financial Chronicle.

This follows Moody's and Standard & Poor's recent moves to downgrade the debt of DP World, together with the debt of various Dubai government related entities including Jebel Ali Free Zone (JAFZ), following the shocking announcement of Dubai World's restructuring.

Moody's downgraded DP World's debt rating from A3 to Baa2 while S&P downgraded its ratings from BBB+ to BBB- on negative CreditWatch.

While India's Icra has downgraded ratings to the term loans of Chennai Container Terminal (CCT) and Nhava Sheva International Container Terminal, it has placed the ratings of loans to three container terminals, Chennai, Nhava Sheva and Mundra, under "watch with negative implications" category, signalling the beginning of impact of Dubai crisis in India.

Source : HKSG, 02.12.09.

[ID-BIZ] Bursa Dubai dan Abu Dhabi Jatuh

Bursa Saham Dubai dan Abu Dhabi jatuh lebih setelah libur panjang sempat menyelamatkannya dari efek negatif gagal bayar Dubai World.

Seperti dikutip dari AFP , indeks saham di Abu Dhabi Securities Exchange pada awal perdagangan Senin (30/11/2009) merosot hingga 215 poin (7,4%) ke level 2.690,58.

Saham-saham real estate, telekomunikasi dan sektor energi mencatat kemerosotan besar masing masing 9,9%, 9,7% dan 9,67%.

Sementara Bursa Dubai merosot hingga 5,94% pada awal perdagangannya. Anak usaha Dubai World, Nakheel juga meminta penghentian sementara perdagangan sukuk miliknya.

"Nakheel hari ini telah meminta 3 sukuk yang tercatat (Nakheel Development Limited, Nakheel Development 2 Limited, Nakheel Development 3 Limited) dihentikan sementara perdagangannya hingga pada posisi yang penuh informasi di pasar," ujar bursa NasdaqDubai.

Uni Emirat Arab memiliki tujuh wilayah yang dinamakan emirat yakni Dubai, Abu Dhabi, Sharjah, Ajman, Umm al-Quwain, Ras al-Khaimah, dan Fujairah.

Pemerintah Dubai pada akhir pekan lalu secara mengejutkan mengumumkan kondisi gagal bayar atas sebagian obligasi perusahaan terkemuka di negara tersebut, Dubai World yang jatuh tempo.

Dubai World tercatat memiliki kewajiban hingga US$ 59 miliar, atau menguasai sebagian besar dari total utang Dubai yang mencapai US$ 80 miliar.

Nakheel, anak usaha Dubai World tercatat memiliki obligasi syariah US$ 3,5 miliar yang jatuh tempo pada 14 Desember dan utang lain senilai US$ 980 juta yang jatuh tempo 13 Mei 2010.

Nakheel yang merupakan pengembang properti terkemuka itu sempat menjadi raja ketika terjadi booming konstruksi.

Limitless, pengembang yang juga anak usaha Dubai World lainnya tercatat memiliki utang obligasi syariah senilai US$ 1,2 miliar yang jatuh tempo pada 31 Maret 2010. Pengumuman itu dilakukan sesaat setelah Bursa Abu Dhabi tutup pada Kamis (26/11/2009).

Pada Jumat, bursa Abu Dhabi tutup memperingati hari raya Idul Adha. Kejatuhan bursa saham Abu Dhabi ini sudah diprediksikan para analis sejak awal.

"Saya perkirakan bursa di Timur Tengah akan jatuh seperti crash pada September tahun 2008 setelah kebangkrutan Lehman Brothers," ujar ekonom Arab Saudi, Abdulwahab Abu-Dahesh.

Bank Sentral Uni Emirat Arab sebelumnya juga telah berupaya meredam gejolak di pasar dengan menyatakan komitmen untuk menambah likuiditas di sistem perbankan.

"Ini adalah langkah yang ditujukan untuk meredakan investor. Pasar seharusnya lebih kalem daripada kemarin," ujar analis finansial Emirati, Nasser bin Gaith.

Bursa Dubai dan Abu Dhabi menjadi satu-satunya bursa saham di Timur Tengah yang buka pada Senin. Bursa Kuwait baru buka Selasa, sementara bursa terbesar Timteng dari sisi kapitalisasi yakni Arab Saudi masih akan libur hingga Sabtu.

Sumber : Detikcom, 30.11.09.

01 Desember 2009

[EN-SEA] "Toll" to Resructure Organization, Reshuffle Personnel

INTEGRATED logistics provider, "Toll Group", has announced a number of organisational and personnel changes, as part of a restructuring drive, that will formally come into effect in January.

The company said in a statement that the goals of the restructuring are to develop its global express freight throughout the Asia Pacific; build on its existing customer base in Australia and New Zealand; enhance cross selling throughout the group; provide 'origin' and 'destination' support to Toll Global Forwarding; and establish career paths and succession planning to ensure the company's "growth momentum continues in a logical manner.

With regard to personnel changes, chief operating officer John Ludeke will be retiring from Toll at the end of the current financial year.

"Under John's stewardship, our Australian and New Zealand operations have continued to grow and outperform the industry while at the same time contributing profitable growth and market leadership positions," said Toll Group MD Paul Little, in a statement to the Australian Stock Exchange.

"He has agreed to stay on until he retires and assist in the integration of the Footwork business in Japan and to work with me on a variety of strategic business issues and potential merger and acquisition opportunities."

By restructuring the group, Toll will create three new divisions, namely "Global Express", "Domestic Forwarding", and "Specialised & Domestic Freight", that will each have its own newly appointed divisional director.

The new Global Express division will group together the express businesses of Toll IPEC, Toll Priority and Toll Fast, along with Toll Personnel and Toll Stream Solutions under the leadership of Shane O'Neill as divisional director. He spent the last seven years as group financial controller in Australia and New Zealand.

The new Domestic Forwarding division will group the Toll SPD, Toll QRX, Toll Shipping, Toll Tasmania, Toll Edwards and Toll New Zealand businesses together and will be managed by Paul Ebsworth as divisional director. Mr Ebsworth spent five years as the head of SPD and prior to that managed Edwards/Toll Tasmania.

The Specialised & Domestic Freight division will group together the businesses of Toll Express, Toll Line haul, Westrans, NQX, Perkins, Toll Liquids, Toll Fleet, Toll Chemicals and Toll Transitions under the leadership of Mal Grimmond as divisional director.

Mr Grimmond was recently the acting CFO, but was mainly for the past three years employed in the roles of chief information officer (CIO) and director for Toll Solutions.

Source : HKSG, 28.11.09.

[ID-BIZ] HK : Ketika Marketing 3.0 Tiba

Saat ini kita hidup di dunia yang baru di mana krisis dan chaos menjadi ‘menu makanan’ sehari-hari. Lingkungan bisnis semakin complex, penuh dengan kekacauan.

Di kurun waktu sepuluh tahun terakhir, kita sudah melihat betapa hebatnya badai-badai dan kekacauan yang terjadi di lingkungan bisnis mulai dari krisis ekonomi di Asia, meledaknya balon dot-com, skandal pelaporan keuangan (contoh Enron dan Worldcom), gerakan teroris, gerakan anti-globalisasi, perubahan iklim, krisis energi, krisis pangan, skandal investasi, sampai resesi perekonomian global tahun 2008.

Di tengah berbagai macam badai dan munculnya Scumbag Millionaire mulai dari Jeffrey Skilling (Enron) sampai Bernard Madoff yang telah menghasilkan 50 triliun dollar AS dari investasi berskema Ponzi (atau skema piramid), langkah bisnis perusahaan terus menjadi sorotan publik.

Tingkat kepercayaan diri di internal perusahaan terus menurun. Tingkat kepercayaan publik terhadap perusahaan juga terus menurun.

Dan celakanya lagi, teknologi new-wave yang memperluas jaringan media informasi, menjadikan dunia semakin transparan, sehingga sudah semakin susah bagi perusahaan untuk memutup aib dirinya.

Publik membutuhkan aktivitas dan proses bisnis yang didasari oleh prinsip dan nilai-nilai yang lebih etis dan fair.

Kini tidak cukup lagi bagi perusahaan untuk searching for excellence, karena di tengah perubahan lanskap seperti sekarang yang menjadi keharusan adalah searching for meaning.

Di tengah badai-badai krisis dan jatuhnya reputasi perusahaan, sudah saatnya bagi pemasar adalah meninjau ulang dan menjual nilai-nilai, prinsip, dan karakter yang dimiliki dan dijunjung-tinggi, agar dapat tampil stand-out dan terus berupaya senantiasa meninggalkan warisan bagi masyarakat.

Marketing 3.0

Di era sekarang, pemasaran saat ini tidak hanya diterjemahkan dalam pengertian positioning, diferensiasi dan merek yang dibungkus dalam identitas merek, integritas merek, dan menghasilkan citra merek. Dunia pemasaran perlu menunjukkan nilai-nilai (spiritual) dalam pemasaran.

Nilai-nilai yang ditebarkan itu diyakini tidak hanya mendongkrak profit tetapi juga menjamin kelanggengan dan penguatan karakter brand, sekaligus membentuk diferensiasi yang tidak tertandingi.

Di dalam buku ”Marketing 3.0: Values-Driven Marketing” Philip Kotler dan saya mengatakan, perusahaan seharusnya tidak hanya memasarkan produk dengan manfaat fungsional ataupun manfaat emosional, melainkan harus pula menonjolkan manfaat spiritual.

Pendekatan pemasaran berbasis nilai ini diyakini akan memperoleh hasil yang berbeda. Karena perusahaan atau pemilik merek tidak sekadar memberikan kepuasan atau mengincar profitabilitas, melainkan memiliki compassion, dan keberlanjutan.

Model bisnis yang menyeimbangkan pencetakan profit dan tanggung jawab sosial seperti itu sungguh didambakan oleh banyak pemain bisnis. Kita tahu bahwa, perjalanan waktu telah membuat model pemasaran berubah, dari Marketing 1.0 ke Marketing 2.0 - dari product centric ke customer-centric era.

Dan sekarang marketing telah mentransformasi diri ke dalam human-centric era. Itulah yang dikatakan sebagai Marketing 3.0.

Perbandingan Antara Marketing 1.0, 2.0, dan 3.0

Marketing 1.0
Product-centric Marketing
Marketing 2.0
Customer-oriented Marketing
Marketing 3.0
Values-driven Marketing

Objektif Perusahaan
1.0 Menjual produk
2.0 Memuaskan dan membuat konsumen loyal
3.0 Membuat dunia yang lebih baik

Pemicu Arus Pergerakan
1.0 Industrial Revolution
2.0 Teknologi informasi dan komunikasi
3.0 Teknologi New Wave

Bagaimana Perusahaan Melihat Konsumen
1.0 Mass buyers dengan kebutuhan fisik
2.0 Konsumen yang memiliki rasional dan emosional
3.0 Konsumen yang secara holistic memiliki mind, heart, dan spirit.

Kunci Konsep Pemasaran
1.0 Pengembangan produk
2.0 Diferensiasi
3.0 Nilai-nilai (values)

Panduan Pemasaran Perusahaan
1.0 Spesifikasi produk
2.0 Positioning perusahaan dan produk
3.0 Visi, Misi, dan Values dari Perusahaan

Nilai yang Dijual Perusahaan
1.0 Fungsional
2.0 Fungsional dan emosional
3.0 Fungsional, emosional, dan spiritual, Emotional, and Spiritual

Interaksi Dengan Konsumen
1.0 Transaksional yang bersifat top-down (One-to-Many )
2.0 Hubungan intimasi yang bersifat one-to-one
3.0 Kolaborasi antar jejaring konsumen (many-to-many)


Marketing 1.0 mengandalkan rational intelligent: Produk bagus, harga terjangkau. Konsumen memilih produk berdasarkan tinggi-rendahnya harga yang ditawarkan produsen. Pada level ini konsumen sangat mudah berpindah.

Marketing 2.0 berbasiskan emotional intelligent: Sentuhlah hati customer. Meski suatu produk lebih mahal dibanding yang lain, tapi tetap dipilih konsumen, sebab ia sudah memiliki ikatan emosional dengan produknya.

Marketing 3.0 berdasarkan spiritual intelligent: Lakukan semua dengan Nilai-Nilai Universal seperti kasih dan ketulusan maka profit akan datang. Pada tahap ini, merek telah menjadi “reason for being.” Karena merek itu maka si konsumen diakui keberadaannya.

Values-driven marketing adalah model untuk Marketing 3.0, yang melekatkan nilai-nilai pada misi dan visi perusahaan. Gagasan ini akan memperbaiki persepsi publik terhadap marketing dan membimbing perusahaan dan pemasar untuk menginkorporasikan visi yang lebih manusiawi dalam memilih tujuan mereka.

Marketing 3.0 ini akan terlihat dari seberapa dalam hubungan hubungan produsen dengan konsumen atau stakeholder-nya. Wujud spiritualisme adalah bagaimana mencintai jejaring stateholder bisnis kita dengan modal dan menjunjung tinggi kejujuran.

Jika sudah sampai tahap spiritual sedemikian itu, hubungan antara perusahaan dengan siapapun yang berkepentingan, apakah itu konsumen, karyawan, supplier, akan langgeng terus.

Marketing 3.0 inilah yang merupakan cikal bakal pemikiran bahwa pada akhirnya marketing menjadi horisontal, di mana sisi humanisme si pemasar membuat pasar menjadi datar.

Artinya, tidak ada perbedaan status antara Marketer dan Customer. Marketer dan Customer sama rata. Marketer sudah berbaur dengan Customer-nya.

Bagaimana pendapat Anda?

Oleeh : Hermawan Kartajaya (HK)

Sumber : Kompas, 31.08.09.