LOGISTICS giant "DHL" has officially opened a new PHP40 million (US$850,000) logistics centre in Paranaque City in the Philippines that has been custom-built to serve the needs of key local industries and increase operational efficiency and ability to deliver flexible supply chain solutions.
The facility is close to the airport for exporters of technology products, close to the manufacturing zones of South Luzon for domestically fabricated parts and is said to have easy access to the business district of Makati and Taguig, where there is a high concentration of end-users.
As one of the largest DHL Supply Chain facilities in the Philippines, the 40,000-square-metre, multi-user facility at KM17 West Service Road has been strategically located along the South Luzon Expressway, which is described as being the conduit of the country's Makati Central Business District to the South Luzon export zones and manufacturing hubs.
"As we are moving nearer to our customers, we expect to shorten their transit times as well as boost their time-to-market capabilities," said DHL supply chain country manager Olive Ramos.
A company statement said that DHL Supply Chain will be developing a multi-user bundling or co-packing area within the facility to address the requirements of Fast Moving Consumer Goods (FMCG) and retail sectors.
"The facility is also ideal for healthcare sector customers since it has an area with compartmentalized rooms designed to provide higher security for high-value products and facilitates ease of installation of temperature-controlled rooms for temperature-sensitive items," said Ms Ramos.
The new DHL logistics centre is furthermore equipped with advanced inventory management systems, comprehensive security systems and CCTV cameras.
Source : HKSG, 28.11.09.
08 Desember 2009
[ID-OTH] HK : Horisontalisasi Pemasaran
Beberapa dari Anda mungkin masih teringat dengan iklan Cadbury yang menampilkan Gorilla yang secara emosionil, penuh dengan passion menggebuk drum dan memainkan lagu Phil Collins ”In the Air Tonight.”
Iklan yang diluncurkan pada tahun 2007 tersebut tadinya hanya diputar untuk jaringan televisi di negeri Inggris. Setelah muncul di Youtube dan situs video sharing lainnya, si gorilla itu akhirnya ditonton oleh enam juta orang dalam waktu tiga bulan pertama setelah on-air.
Sebuah prestasi yang luar biasa apalagi mengingat masih banyak orang yang membicarakannya sampai sekarang.
Di tahun 2009 ini, satu kampanye pemasaran yang menyita banyak orang adalah kontes ”The Best Job in The World” yang mana si kontestan ditawari pekerjaan di Gugusan Great Barrier Reef, Australia dengan penghasilan sebesar Rp 1 miliar dalam enam bulan.
Lantas apa kerjanya? Menjadi penjaga Pulau Hamilton, salah satu pulau di gugusan tersebut. Sebagai penjaga pulau ini, Anda tidak hanya dibayar dengan harga selangit, tapi juga dapat menikmati semua keindahan ibarat di surga, mulai dari menyusuri pantai pasir putih, menyelam bawah laut, kerja sambil berlibur.
Menyenangkan bukan apabila dapat bekerja menyerupai liburan dengan gaji yang besar pula? Kontes The Best Job in the World yang digelar oleh Badan Pariwisata Negara Bagian Queensland, Australia, tersebut akhirnya dimenangi oleh Ben Southall dari Inggris.
Dengan dibayar Rp 1 Milliar untuk enam bulan kerja, Ben memiliki tugas untuk mempromosikan pulau-pulau di wilayah Gugusan Barrier Reef tersebut dan melaporkan setiap kejadian yang ada di sana ke seluruh dunia melalui blog, twitter, album foto, video, dan berbagai interview di media.
Banyak orang yang awalnya tidak mengira kalau kontes itu sebetulnya adalah kampanye untuk promosi daerah.
Kontes ”The Best Job in the World” ini menjadi pembicaraan banyak orang dan menciptakan pemberitaan di press yang sangat intensif, termasuk di antaranya program dokumenter dari stasiun TV BBC yang tertarik menjadikan fase penyaringan di kontes ini sebagai reality show.
Diperkirakan impact yang didapati oleh kampanye ini lewat acara stasiun tersebut berkisar sebesar 100 juta dollar dari budget yang minim yaitu sekitar 1,2 juta dollar.
Kampanye ini akhirnya menang banyak penghargaan dari industri periklanan sepanjang tahun 2009, termasuk beberapa kategori award di ajang Cannes Lions International Advertising Festival yang sangat bergengsi.
Sebuah kampanye yang sangat smart, dan menempuh jalan yang low-budget high impact. Selama ini perusahaan yang pintar selalu mengidam-idamkan pola pemasaran yang didasari modal kecil tapi menghasilkan secara luar biasa.
Mereka selalu mencari jalan untuk meningkatkan impact dari langkah pemasaran seiring dengan melakukan penurunan ongkos implementasi. Praktek seperti ini kini menjadi trend, terutama dengan perubahan lanskap yang semakin kacau dengan berbagai macam bentuk krisis.
Dengan perkembangan teknologi New Wave dengan internet, berbagai macam alat konektor, pola low-budget high impact menjadi sangat mungkin. Dulu kita hidup di zaman yang vertikal.
Meskipun slogan yang beken adalah konsumen sebagai raja, namun pada kenyataannya yang pemasarlah yang bergaya seperti raja. Kenapa? Karena konsumen hanyalah target dari si pemasar dan pemasar masih memegang kendali dan otoritas.
Di zaman yang vertikal itu, segala aktivitas pemasaran dikerjakan secara top-down dari perusahaan ke konsumen sebagai obyek. Di zaman yang horisontal di era New Wave Marketing ini, tidak ada perbedaan status antara Marketer dan Customer.
Marketer dan Customer sama rata. Marketer sudah berbaur dengan Customer-nya. Secara konsep, New Wave Marketing mengakomodir hubungan horisontal antara perusahaan, konsumen, kompetitor, dan agen-agen yang merubah tatanan makro.
Di dalam proses pemasaran, konsumen kini dapat untuk berpartisipasi sehingga segala aktivitas semakin efisien dari segi biaya.
Kesuksesan kampanye komunikasi ”The Best Job in The World” menjadi contoh bahwa di zaman New Wave yang horisontal, pemasar hanya perlu memikirkan sebuah ide konseptual yang stratejik sebagai pemicu, untuk kemudian dituangkan ke dalam implementasi yang bersifat taktikal yang mana aktivitasnya dikerjakan bukan oleh pemasar, melainkan oleh konsumennya.
Dulu aktivitas promosi pariwisata daerah seperti ini mungkin lebih banyak dikerjakan in-house oleh instansi terkait, bekerja sama dengan biro iklan, tim PR dan event organizer. Effort yang digalang menjadi lebih besar untuk mendatangkan energi pemasaran yang maksimal.
Namun kini, pemasar tidak perlu susah payah lagi, cukup mencari orang seperti Ben Southall yang mengerjakan segala aktivitas untuk dalam hal ini, mempromosikan gugusan pulau di sekitar Pulau Hamilton. Dialah yang melaporkan setiap kejadian yang ada di sana ke seluruh dunia melalui blog, twitter, album foto, video, dan berbagai interview di media.
Dengan demikian energi pemasaran yang dikeluarkan bisa jadi lebih besar dan efisien apalagi karena didukung word of mouth (kekuatan offline) dan word of mouse (kekuatan online).
Bagaimana pendapat Anda?
Oleh : Hermawan Kartajaya (HK)
Sumber : Kompas, 01.09.09
Iklan yang diluncurkan pada tahun 2007 tersebut tadinya hanya diputar untuk jaringan televisi di negeri Inggris. Setelah muncul di Youtube dan situs video sharing lainnya, si gorilla itu akhirnya ditonton oleh enam juta orang dalam waktu tiga bulan pertama setelah on-air.
Sebuah prestasi yang luar biasa apalagi mengingat masih banyak orang yang membicarakannya sampai sekarang.
Di tahun 2009 ini, satu kampanye pemasaran yang menyita banyak orang adalah kontes ”The Best Job in The World” yang mana si kontestan ditawari pekerjaan di Gugusan Great Barrier Reef, Australia dengan penghasilan sebesar Rp 1 miliar dalam enam bulan.
Lantas apa kerjanya? Menjadi penjaga Pulau Hamilton, salah satu pulau di gugusan tersebut. Sebagai penjaga pulau ini, Anda tidak hanya dibayar dengan harga selangit, tapi juga dapat menikmati semua keindahan ibarat di surga, mulai dari menyusuri pantai pasir putih, menyelam bawah laut, kerja sambil berlibur.
Menyenangkan bukan apabila dapat bekerja menyerupai liburan dengan gaji yang besar pula? Kontes The Best Job in the World yang digelar oleh Badan Pariwisata Negara Bagian Queensland, Australia, tersebut akhirnya dimenangi oleh Ben Southall dari Inggris.
Dengan dibayar Rp 1 Milliar untuk enam bulan kerja, Ben memiliki tugas untuk mempromosikan pulau-pulau di wilayah Gugusan Barrier Reef tersebut dan melaporkan setiap kejadian yang ada di sana ke seluruh dunia melalui blog, twitter, album foto, video, dan berbagai interview di media.
Banyak orang yang awalnya tidak mengira kalau kontes itu sebetulnya adalah kampanye untuk promosi daerah.
Kontes ”The Best Job in the World” ini menjadi pembicaraan banyak orang dan menciptakan pemberitaan di press yang sangat intensif, termasuk di antaranya program dokumenter dari stasiun TV BBC yang tertarik menjadikan fase penyaringan di kontes ini sebagai reality show.
Diperkirakan impact yang didapati oleh kampanye ini lewat acara stasiun tersebut berkisar sebesar 100 juta dollar dari budget yang minim yaitu sekitar 1,2 juta dollar.
Kampanye ini akhirnya menang banyak penghargaan dari industri periklanan sepanjang tahun 2009, termasuk beberapa kategori award di ajang Cannes Lions International Advertising Festival yang sangat bergengsi.
Sebuah kampanye yang sangat smart, dan menempuh jalan yang low-budget high impact. Selama ini perusahaan yang pintar selalu mengidam-idamkan pola pemasaran yang didasari modal kecil tapi menghasilkan secara luar biasa.
Mereka selalu mencari jalan untuk meningkatkan impact dari langkah pemasaran seiring dengan melakukan penurunan ongkos implementasi. Praktek seperti ini kini menjadi trend, terutama dengan perubahan lanskap yang semakin kacau dengan berbagai macam bentuk krisis.
Dengan perkembangan teknologi New Wave dengan internet, berbagai macam alat konektor, pola low-budget high impact menjadi sangat mungkin. Dulu kita hidup di zaman yang vertikal.
Meskipun slogan yang beken adalah konsumen sebagai raja, namun pada kenyataannya yang pemasarlah yang bergaya seperti raja. Kenapa? Karena konsumen hanyalah target dari si pemasar dan pemasar masih memegang kendali dan otoritas.
Di zaman yang vertikal itu, segala aktivitas pemasaran dikerjakan secara top-down dari perusahaan ke konsumen sebagai obyek. Di zaman yang horisontal di era New Wave Marketing ini, tidak ada perbedaan status antara Marketer dan Customer.
Marketer dan Customer sama rata. Marketer sudah berbaur dengan Customer-nya. Secara konsep, New Wave Marketing mengakomodir hubungan horisontal antara perusahaan, konsumen, kompetitor, dan agen-agen yang merubah tatanan makro.
Di dalam proses pemasaran, konsumen kini dapat untuk berpartisipasi sehingga segala aktivitas semakin efisien dari segi biaya.
Kesuksesan kampanye komunikasi ”The Best Job in The World” menjadi contoh bahwa di zaman New Wave yang horisontal, pemasar hanya perlu memikirkan sebuah ide konseptual yang stratejik sebagai pemicu, untuk kemudian dituangkan ke dalam implementasi yang bersifat taktikal yang mana aktivitasnya dikerjakan bukan oleh pemasar, melainkan oleh konsumennya.
Dulu aktivitas promosi pariwisata daerah seperti ini mungkin lebih banyak dikerjakan in-house oleh instansi terkait, bekerja sama dengan biro iklan, tim PR dan event organizer. Effort yang digalang menjadi lebih besar untuk mendatangkan energi pemasaran yang maksimal.
Namun kini, pemasar tidak perlu susah payah lagi, cukup mencari orang seperti Ben Southall yang mengerjakan segala aktivitas untuk dalam hal ini, mempromosikan gugusan pulau di sekitar Pulau Hamilton. Dialah yang melaporkan setiap kejadian yang ada di sana ke seluruh dunia melalui blog, twitter, album foto, video, dan berbagai interview di media.
Dengan demikian energi pemasaran yang dikeluarkan bisa jadi lebih besar dan efisien apalagi karena didukung word of mouth (kekuatan offline) dan word of mouse (kekuatan online).
Bagaimana pendapat Anda?
Oleh : Hermawan Kartajaya (HK)
Sumber : Kompas, 01.09.09
07 Desember 2009
[EN-SEA] "COSCO" Hikes THC, Waste Rate, Adds Bunker From January
COSCO Container Lines has announced a Shanghai Export Terminal Handling Charge (THC) increase on all shipments from Shanghai to the US and Canada from January 1, of CNY470 (US$68,83) per TEU, CNY755 per FEU, CNY755 per 40-foot high cube, CNY955 per 45-footer, CNY525 per reefer TEU, CNY850 per reefer FEU and CNY850 per reefer 40-foot high cube.
Cosco also announced a rate increase of US$100 per unit for waste shipments - paper and plastics - from north west Europe and Mediterranean, including Israel, Lebanon, Syria, North Africa and the Black Sea region, to Far East from January 1.
From US west coast ports, the bunker adjustment factor (BAF) will be $278 per TEU, $348 per FEU, $392 per 40-foot high cube and $441 per 45-footer.
Through US east coast ports, the bunker surcharge will be $551 per TEU, $689 per FEU, $775 per 40-foot high cube and $872 per 45-footer. From Far East and the Indian subcontinent to Canada, a bunker surcharge will apply to cargo going through Vancouver and Prince Rupert.
This will be $278 per TEU, $348 per FEU, $392 per 40-foot high cube and $441 per 45-footer. For cargo through Halifax, the BAF will be $551 per TEU, $698 per FEU, 775 per 40-foot high cube and $872 per 45-footer.
The Far East and the Indian subcontinent is defined as Bangladesh, Brunei, Cambodia, mainland China, Macau, Taiwan, India, Indonesia, Japan, Korea, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Papua, New Guinea; Philippines, Singapore, Sri Lanka, Thailand and Vietnam.
Source : HKSG, 07.12.09.
Cosco also announced a rate increase of US$100 per unit for waste shipments - paper and plastics - from north west Europe and Mediterranean, including Israel, Lebanon, Syria, North Africa and the Black Sea region, to Far East from January 1.
From US west coast ports, the bunker adjustment factor (BAF) will be $278 per TEU, $348 per FEU, $392 per 40-foot high cube and $441 per 45-footer.
Through US east coast ports, the bunker surcharge will be $551 per TEU, $689 per FEU, $775 per 40-foot high cube and $872 per 45-footer. From Far East and the Indian subcontinent to Canada, a bunker surcharge will apply to cargo going through Vancouver and Prince Rupert.
This will be $278 per TEU, $348 per FEU, $392 per 40-foot high cube and $441 per 45-footer. For cargo through Halifax, the BAF will be $551 per TEU, $698 per FEU, 775 per 40-foot high cube and $872 per 45-footer.
The Far East and the Indian subcontinent is defined as Bangladesh, Brunei, Cambodia, mainland China, Macau, Taiwan, India, Indonesia, Japan, Korea, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Papua, New Guinea; Philippines, Singapore, Sri Lanka, Thailand and Vietnam.
Source : HKSG, 07.12.09.
[ID-BIZ] Perusahaan-Perusahaan Dubai Jadi "Sampah"
NEW YORK, KOMPAS.com - Seiring krisis yang melanda "Dubai World" (DW), lembaga pemeringkat internasional menurunkan peringkat kredit perusahaan-perusahaan milik pemerintah Dubai.
Lembaga pemeringkat internasional "Standard & Poor’s" (S&P), Rabu (2/12) waktu setempat memangkas peringkat kredit enam perusahaan milik pemerintah Dubai, termasuk operator pelabuhan "DP World", menjadi status "sampah" (junk).
S&P mengatakan pihaknya telah mengambil langkah setelah kemungkinan dukungan luar biasa dari pemerintah Dubai muncul "rendah" setelah emirat mengisyaratkan tidak akan menjamin utang Dubai World, konglomerat andalannya.
Enam entitas yang berkaitan dengan pemerintah Dubai (GREs) diturunkan menjadi status sampah adalah "DP World", "DIFC Investments", "Jebel Ali Free Zone", "Dubai Multi Commodities Centre Authority", "Dubai Holding Commercial Operations Group" dan "Emaar Properties PJSC".
Peringkat kredit mereka tetap di bawah pengawasan dan dapat diturunkan lebih lanjut, kata lembaga itu. S&P mengatakan tidak memeringkat Dubai World atau Nakheel, unit properti yang memukul ekonomi global dan krisis keuangan.
S&P mengatakan keputusan untuk menurunkan enam entitas itu "diperkuat oleh komentar pemerintah Dubai baru-baru ini yang menyatakan keyakinannya bahwa Dubai World harus menerima pembiayaan berdasarkan kelangsungan hidup dari proyek-proyek, bukan jaminan pemerintah".
S&P mencatat bahwa berdasarkan kriteria, "macet dianggap sebagai default (gagal)."
"Sebagaimana terbukti dalam kasus Dubai World dan Nakheel, pemerintah Dubai tidak mampu atau tidak mau, atau keduanya, untuk memberikan dukungan luar biasa pemerintah dalam bentuk dana yang cukup tepat waktu dan dukungan kepada GREs mereka yang menyediakan jasa pemerintah penting atas namanya," katanya.
Pada hari yang sama, lembaga pemeringkat internasional Fitch, juga menurunkan peringkat Dubai Holding Commercial Operations Group (DHCOG). Menurut mereka tindakan ini mencerminkan ketidakpastian lembaga terhadap tingkat dukungan finansial pemerintah bagi perusahaan bila diperlukan.
Lembaga itu menambahkan bahwa DHCOG, yang begerak di bidang usaha leisure, real estat, teknologi, telekomunikasi dan jasa, adalah 97,4 persen dimiliki oleh Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum, perdana menteri dari Uni Emirat Arab dan penguasa emirat Dubai.
Fitch mengatakan peringkat kredit jangka panjang DHCOG telah diturunkan menjadi BB dari BBB, dengan perusahaan masing dalam pantauan peringat negatif. Peringkat kredit jangka pendek telah diturunkan menjadi B dari F3 dan dihapus dari pantauan peringkat negatif.
"Tindakan peringkat hari ini mencerminkan sebuah kajian lebih lanjut dari tingkat dukungan pemerintah untuk kewajiban keuangan DHCOG."
Dubai telah berada di tengah-tengah badai keuangan sejak sebuah pengumuman Rabu lalu oleh konglomerat yang dikendalikan negara, Dubai World, bahwa pihaknya sedang mencari enam bulan moratorium pembayaran utang.
Investor kemudian terkejut ketika kepala departemen keuangan Dubai mengatakan pemerintah tidak pernah dimaksudkan untuk menjamin utang Dubai World 59 miliar dollar AS dalam, bagian terbesar dari kewajiban negara kota yang berjumlah 80 miliar dollar AS.
Sumber : ANT-AFP-Kompas, 03.12.09.
NB : Berita terkait di [blog] ini, silahkan baca juga edisi sebelumnya dengan judul "Dubai". Tx.
Lembaga pemeringkat internasional "Standard & Poor’s" (S&P), Rabu (2/12) waktu setempat memangkas peringkat kredit enam perusahaan milik pemerintah Dubai, termasuk operator pelabuhan "DP World", menjadi status "sampah" (junk).
S&P mengatakan pihaknya telah mengambil langkah setelah kemungkinan dukungan luar biasa dari pemerintah Dubai muncul "rendah" setelah emirat mengisyaratkan tidak akan menjamin utang Dubai World, konglomerat andalannya.
Enam entitas yang berkaitan dengan pemerintah Dubai (GREs) diturunkan menjadi status sampah adalah "DP World", "DIFC Investments", "Jebel Ali Free Zone", "Dubai Multi Commodities Centre Authority", "Dubai Holding Commercial Operations Group" dan "Emaar Properties PJSC".
Peringkat kredit mereka tetap di bawah pengawasan dan dapat diturunkan lebih lanjut, kata lembaga itu. S&P mengatakan tidak memeringkat Dubai World atau Nakheel, unit properti yang memukul ekonomi global dan krisis keuangan.
S&P mengatakan keputusan untuk menurunkan enam entitas itu "diperkuat oleh komentar pemerintah Dubai baru-baru ini yang menyatakan keyakinannya bahwa Dubai World harus menerima pembiayaan berdasarkan kelangsungan hidup dari proyek-proyek, bukan jaminan pemerintah".
S&P mencatat bahwa berdasarkan kriteria, "macet dianggap sebagai default (gagal)."
"Sebagaimana terbukti dalam kasus Dubai World dan Nakheel, pemerintah Dubai tidak mampu atau tidak mau, atau keduanya, untuk memberikan dukungan luar biasa pemerintah dalam bentuk dana yang cukup tepat waktu dan dukungan kepada GREs mereka yang menyediakan jasa pemerintah penting atas namanya," katanya.
Pada hari yang sama, lembaga pemeringkat internasional Fitch, juga menurunkan peringkat Dubai Holding Commercial Operations Group (DHCOG). Menurut mereka tindakan ini mencerminkan ketidakpastian lembaga terhadap tingkat dukungan finansial pemerintah bagi perusahaan bila diperlukan.
Lembaga itu menambahkan bahwa DHCOG, yang begerak di bidang usaha leisure, real estat, teknologi, telekomunikasi dan jasa, adalah 97,4 persen dimiliki oleh Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum, perdana menteri dari Uni Emirat Arab dan penguasa emirat Dubai.
Fitch mengatakan peringkat kredit jangka panjang DHCOG telah diturunkan menjadi BB dari BBB, dengan perusahaan masing dalam pantauan peringat negatif. Peringkat kredit jangka pendek telah diturunkan menjadi B dari F3 dan dihapus dari pantauan peringkat negatif.
"Tindakan peringkat hari ini mencerminkan sebuah kajian lebih lanjut dari tingkat dukungan pemerintah untuk kewajiban keuangan DHCOG."
Dubai telah berada di tengah-tengah badai keuangan sejak sebuah pengumuman Rabu lalu oleh konglomerat yang dikendalikan negara, Dubai World, bahwa pihaknya sedang mencari enam bulan moratorium pembayaran utang.
Investor kemudian terkejut ketika kepala departemen keuangan Dubai mengatakan pemerintah tidak pernah dimaksudkan untuk menjamin utang Dubai World 59 miliar dollar AS dalam, bagian terbesar dari kewajiban negara kota yang berjumlah 80 miliar dollar AS.
Sumber : ANT-AFP-Kompas, 03.12.09.
NB : Berita terkait di [blog] ini, silahkan baca juga edisi sebelumnya dengan judul "Dubai". Tx.
06 Desember 2009
[EN-SEA] U.S Container Screening Campaign Runs Into Difficulties
Washington D.C.: The Obama administration says the government cannot meet next year's deadline imposed by Congress for ensuring that 100% of containers sent to the U.S. by ship has been physically screened.
The requirement was intended to help prevent a nuclear device from being smuggled into the U.S. in seagoing cargo.
But Homeland Security Secretary Janet Napolitano told a Senate committee Wednesday that it will be impossible to assure that all cargo is screened by the July 2010 deadline. The administration will seek an extension, allowed under the law passed by Congress.
Homeland Security pilot programs in five overseas ports, to attempt 100% screening, have so far shown how difficult it is, Napolitano said.
"The technology does not exist to effectively and automatically detect suspicious anomalies" in cargo containers, and currently available scanners have a hard time seeing accurately through dense materials, where hazardous substances could easily be hidden, she told the Senate Commerce Committee.
The problem is also partly a practical one. Most ports do not have a single point through which all cargo passes, so 100% screening would either slow trade or require ports to be redesigned.
And the cost of 100% scanning would be steep. Installing canning devices would cost about $8 million for each of the roughly 2,100 cargo lanes at more than 700 ports around the world that ship to the United States, she said.
Homeland is expanding on a program started in the Bush administration that relies on intelligence and shipping reports to identify the highest priority cargo for screeing.
It also relies on trusted shippers who have demonstrated good security practices to screen and safeguard their own cargo bound for the U.S.
Source : STA-Online, 04.12.09.
The requirement was intended to help prevent a nuclear device from being smuggled into the U.S. in seagoing cargo.
But Homeland Security Secretary Janet Napolitano told a Senate committee Wednesday that it will be impossible to assure that all cargo is screened by the July 2010 deadline. The administration will seek an extension, allowed under the law passed by Congress.
Homeland Security pilot programs in five overseas ports, to attempt 100% screening, have so far shown how difficult it is, Napolitano said.
"The technology does not exist to effectively and automatically detect suspicious anomalies" in cargo containers, and currently available scanners have a hard time seeing accurately through dense materials, where hazardous substances could easily be hidden, she told the Senate Commerce Committee.
The problem is also partly a practical one. Most ports do not have a single point through which all cargo passes, so 100% screening would either slow trade or require ports to be redesigned.
And the cost of 100% scanning would be steep. Installing canning devices would cost about $8 million for each of the roughly 2,100 cargo lanes at more than 700 ports around the world that ship to the United States, she said.
Homeland is expanding on a program started in the Bush administration that relies on intelligence and shipping reports to identify the highest priority cargo for screeing.
It also relies on trusted shippers who have demonstrated good security practices to screen and safeguard their own cargo bound for the U.S.
Source : STA-Online, 04.12.09.
[ID-AIR] 2O Maskapai Diprioritaskan Bebas Dari Larangan UE
Oleh : Hendra Wibawa
JAKARTA (bisnis.com): Dephub akan memprioritaskan sekitar 20 maskapai penerbangan nasional keluar dari daftar larangan terbang Uni Eropa (UE) pada Februari 2010.
Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S. Gumay mengatakan 20-an maskapai merupakan bagian maskapai yang telah selesai menjalani resertifikasi air operator certificate (AOC).
"Mereka sudah selesai diresertifikasi AOC. Kami harapkan semuanya bisa dilepaskan dari airline ban UE," katanya hari ini. Dia menyatakan pihaknya akan mengusulkan maskapai itu diaudit oleh UE setelah terlebih dahulu didaftarkan.
Namun, Herry enggan menyebutkan nama 20-an maskapai itu dengan alasan tak ingat. Dia mengakui empat maskapai reguler seperti Lion Air, Batavia Air, dan Indonesia AirAsia diusulkan lepas dari larangan terbang UE akan masuk dalam daftar usulan lagi.
Pada Juli 2009, UE telah mencabut larangan terbang ke negara anggota UE untuk maskapai maskapai yakni "Garuda Indonesia", "Mandala Airlines", "Airfast Indonesia" dan "Premiair". (ln)
Sumber : Bisnis Indonesia, 04.12.09 (maaf, Sabtu 05.12.09 ngga sempat update, repot banget).
JAKARTA (bisnis.com): Dephub akan memprioritaskan sekitar 20 maskapai penerbangan nasional keluar dari daftar larangan terbang Uni Eropa (UE) pada Februari 2010.
Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S. Gumay mengatakan 20-an maskapai merupakan bagian maskapai yang telah selesai menjalani resertifikasi air operator certificate (AOC).
"Mereka sudah selesai diresertifikasi AOC. Kami harapkan semuanya bisa dilepaskan dari airline ban UE," katanya hari ini. Dia menyatakan pihaknya akan mengusulkan maskapai itu diaudit oleh UE setelah terlebih dahulu didaftarkan.
Namun, Herry enggan menyebutkan nama 20-an maskapai itu dengan alasan tak ingat. Dia mengakui empat maskapai reguler seperti Lion Air, Batavia Air, dan Indonesia AirAsia diusulkan lepas dari larangan terbang UE akan masuk dalam daftar usulan lagi.
Pada Juli 2009, UE telah mencabut larangan terbang ke negara anggota UE untuk maskapai maskapai yakni "Garuda Indonesia", "Mandala Airlines", "Airfast Indonesia" dan "Premiair". (ln)
Sumber : Bisnis Indonesia, 04.12.09 (maaf, Sabtu 05.12.09 ngga sempat update, repot banget).
04 Desember 2009
[EN-SEA] ZIM Introduces Super Slow Steaming EMX & ZCS
ISRAEL's flag carrier Zim's East Mediterranean Express Service (EMX) and Zim Container Service (ZCS) will experience longer transit times as it introduces super slow steaming to reduce fuel costs in the coming weeks.
ZIM will add an extra 4,250-TEU vessel to both services, increasing ZCS and EMX fleet size to 16 and 11 ships said UK's Transport Intelligence. Besides fuel cost savings, reducing vessel speed will help cut down CO2 and NOx emissions.
ZCS is a round-the-world service that sails from Haifa to Piraeus, Livorno, Genoa, Tarragona, Halifax, New York, Savannah, Kingston, Panama Canal, Los Angeles, Oakland, Shenzhen (Dachan Bay), Hong Kong, Ningbo, Shanghai, Busan, Balboa, Panama Canal, Kingston, Savannah, New York, Halifax, Tarragona and back to Haifa.
The port rotation for EMX is: Busan, Shanghai, Ningbo, Shenzhen (Dachan Bay) Port Kelang, Colombo, Suez, Haifa, Ashdod, Izmit, Evyap P, Novorossiysk, Constanta, Ambarli, Istan, Haifa, Suez, Nhava Sheva, Colombo, Port Kelang, Shenzhen (Dachan Bay), Xiamen and back to Busan.
Source : HKSG, 30.11.09.
ZIM will add an extra 4,250-TEU vessel to both services, increasing ZCS and EMX fleet size to 16 and 11 ships said UK's Transport Intelligence. Besides fuel cost savings, reducing vessel speed will help cut down CO2 and NOx emissions.
ZCS is a round-the-world service that sails from Haifa to Piraeus, Livorno, Genoa, Tarragona, Halifax, New York, Savannah, Kingston, Panama Canal, Los Angeles, Oakland, Shenzhen (Dachan Bay), Hong Kong, Ningbo, Shanghai, Busan, Balboa, Panama Canal, Kingston, Savannah, New York, Halifax, Tarragona and back to Haifa.
The port rotation for EMX is: Busan, Shanghai, Ningbo, Shenzhen (Dachan Bay) Port Kelang, Colombo, Suez, Haifa, Ashdod, Izmit, Evyap P, Novorossiysk, Constanta, Ambarli, Istan, Haifa, Suez, Nhava Sheva, Colombo, Port Kelang, Shenzhen (Dachan Bay), Xiamen and back to Busan.
Source : HKSG, 30.11.09.
Langganan:
Postingan (Atom)