26 Juni 2020

[260620.ID.BIZ] IMF: Ekonomi Indonesia Minus 0,3 Persen, Negara Lain Lebih Buruk

Bisnis.com, JAKARTA - Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi -0,3 persen pada 2020.

Hal tersebut dicantumkan dalam World Economic Outlook (WEO) Juni 2020 IMF yang dirilis pada Rabu (24/6/2020)

Namun, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami rebound hingga ke kisaran lebih dari 6,1 persen. Jika dibandingkan dengan negara-negara dengan ekonomi berkembang, kontraksi ekonomi Indonesia lebih rendah.

Argentina mengalami kontraksi hingga -9,9 persen, Brasil -9,1 persen, India -4,5 persen, Korea -2,1 persen, Malaysia -3,8 persen, Meksiko -10,5%, Thailand -7,7 persen dan Filipina -3,8 persen.

Adapun, dua poros ekonomi besar dunia China dan AS mengalami perbedaan yang signifikan. IMF memperkirakan AS akan mengalami kontraksi ekonomi hingga 8 persen. Sementara itu, China selamat dari kontraksi dengan pertumbuhan 1 persen tahun 2020.

IMF sendiri memperkirakan upaya pemulihan perekonomian dari jurang resesi terburuk sejak the Great Depression diperkirakan penuh ketidakpastian, karena minimnya solusi medis untuk menekan penyebaran virus Corona.

Direktur Departemen Riset IMF Gita Gopinath mengungkapkan kabar baik mengenai vaksin dan perawatan Covid-19 serta dukungan kebijakan tambahan dapat mengarah pada dimulainya kembali kegiatan ekonomi yang lebih cepat.

Dia menambahkan krisis perekonomian global yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menghambat prospek pemulihan untuk ekonomi yang bergantung pada ekspor dan membahayakan prospek konvergensi pendapatan antara negara berkembang dan maju.

Kendati demikian, prospek pemulihan tampak lebih tinggi di Asia. IMF memperkirakan negara berkembang dan maju di Asia akan mencetak pertumbuhan ekonomi sebesar 7,4 persen pada 2021.

China akan menjadi meraih pertumbuhan tertinggi dengan proyeksi IMF sebesar 8,2 persen tahun depan. Sementara itu, ekonomi AS hanya akan tumbuh 4,5 persen pada 2021.

Sumber : Bisnis, 25.06.2020.

25 Juni 2020

[250620.EN.SEA] MPC Containers Ships Seeks US$15m in Recapitalisation Plan


OSLO-LISTED German container line MPC Containers Ships is seeking approval from its bondholders and lenders for a recapitalisation plan designed to improve liquidity and provide the company time to optimise its fleet and position for an anticipated market recovery following the coronavirus outbreak.

The company, which operates 68 feeder container ships ranging between 1,000 and 3,000 TEU, said that it needs the approval of the plan or that it might be forced into bankruptcy and the sale of its assets.

MPC Containers Ships said it has experienced a sharp delcine in cargo volumes due to the ongoing Covid-19 pandemic which is expected to continue to have a signifcant negative impact on the company.

Idle container ship capacity they estimated in their filing to the bondholders has increased by approximately 6 per cent at the end of 2019 to more than 11 per cent in mid-May and feeder charter rates are down 26 per cent and continue to decline.

The restructuring and recapitalisation plan is designed to strengthen the company's balance sheet and bridge the short-term liquidity requirements. The key components include US$15 million in new cash equity plus additional cash equity from any subsequent repair issue. The company is also seeking amendments for its bonds, including waivers, extended maturity, and payment-in-kind interests, reports The Maritime Executive, Fort Lauderdale, Florida.

Without these actions, the company warns that the market situation is expected to adversely impact its ability to be in compliance with financial covenants in its bonds and other financial arrangements. Based on current financial forecasts the company projects it will breach its minimum liquidity covenant in July and face an operational liquidity shortfall.

MPC Container Ships commenced operations in April 2017 and has since grown into one of the largest owners of container feeder vessels with an estimated 15 per cent market share. Its feeder services support the primary shipping services by connecting ports on intercontinental shipping lanes with one or more smaller ports, which are not serviced by the main line vessels. MPC Container Ships' vessels are chartered out on time charter contracts to global liner shipping companies and regional carriers.

In May, the company reported a net loss of nearly $11 million on operating revenues of $46 million. Commented at the time, CEO Constantin Baack said: "The rapid spread of Covid-19, the preventative measures imposed in various countries to counter the pandemic and the inevitable impacts on containerised trade of goods have led economic conditions to deteriorate significantly compared with our expectations at the end of 2019. The severity and fluidity of the situation makes it challenging to anticipate the timing and shape of a recovery."

Source : HKSG.

[250620.ID.SEA] Temas (TMAS) Siapkan Capex Rp 650 Miliar Untuk Tambah Kapal & Pengembangan Sistem IT


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pelayaran PT Temas (TMAS) akan melakukan ekspansi pembelian enam sampai delapan unit kapal baru dan pengembangan sistem teknologi informasi guna menggenjot kinerja di tahun ini dengan anggaran belanja modal sekitar Rp 650 miliar.

Direktur Keuangan Temas Ganny Zheng menjelaskan, perseroan harus mengganti armada dengan kapal yang lebih muda sehingga kinerja pengangkutan lebih produktif.
“Rencananya pada tahun ini perusahaan akan membeli sekitar enam hingga delapan unit kapal baru untuk meningkatkan kinerja perusahaan dengan mengalokasikan belanja modal Rp 550 miliar untuk pembelian kapal baru,” ujar Ganny dalam paparan publik perusahaan secara virtual, Kamis (25/6).

Menurut Ganny, kapal baru tersebut akan digunakan untuk melayani trayek tol laut. Saat ini, TMAS menjadi operator trayek tol laut dengan rute Surabaya-Fakfak-Kaimana-Timika-Agats-Boven Digul. Di samping membeli kapal baru, TMAS juga akan menjual kapal-kapal yang sudah tua dan tidak produktif. Ganny menyebut, di Tahun lalu, TMAS telah menjual dua unit kapal.

Berdasarkan data perseroan, sampai dengan saat ini armada TMAS berjumlah 34 kapal dengan kapasitas angkut 25.785 TEUs (twenty foot equivalent unit). Rata-rata umur kapal perseroan mencapai 6 tahun. Kapal paling tua berusia 23 tahun sedangkan paling gres berumur 1 tahun.

Ganny menyebut, pandemi virus corona membuat kinerja keuangan TMAS akan mengalami penurunan pada kuartal II/2020. Meski demikian, pembukaan kembali kegiatan ekonomi membuat perusahaan optimistis dapat mempertahankan catatan laba seperti pada tahun 2019.

"Pandemi virus corona membuat volume angkutan perseroan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Hal tersebut telah mengganggu kinerja keuangan TMAS selama terjadinya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan guna menekan angka penyebaran virus tersebut," paparnya.

Kendati sudah menunjukkan kenaikan volume angkutan dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan memproyeksikan kinerja keuangan yang negatif untuk kuartal II/2020.

Menurutnya, dengan adanya pandemi ini, maka harga angkutan juga mengalami penurunan. Pihaknya mengantisipasi terjadi kerugian di kisaran Rp 10 miliar.

Selain itu perbaikan penerimaan diperkirakan dapat terlihat pada akhir paruh pertama tahun 2020. Perusahaan memperkirakan, dengan mulai dibukanya kegiatan perekonomian, volume angkutan dan tarif sewa kapal akan perlahan-lahan mengalami kenaikan.

Ganny optimistis TMAS dapat menutup semester I/2020 dengan catatan keuntungan di kisaran Rp 5 miliar. Selain itu, upaya peningkatan kinerja, seperti pembelian armada baru dan peningkatan sistem IT TMAS dinilai akan menggenjot performa perusahaan kembali ke level sebelum terjadinya pandemi virus corona.

“Kami percaya diri pada semester II/2020 kegiatan operasional dan kinerja perusahaan dapat kembali berjalan penuh. Untuk akhir tahun 2020, kami perkirakan dapat mempertahankan angka laba bersih perusahaan seperti tahun 2019 di kisaran Rp 100 miliar,” tekannya.

Sementara itu, Direktur PT Temas Seng Eng Iskandar menambahkan, TMAS akan melakukan pengembangan sistem IT perusahaan. Pengembangan ini meliputi pembaruan teknologi dalam kegiatan operasional perusahaan, membuat sistem booking online untuk klien, memperkuat keamanan sistem informasi, dan aspek lain.

Iskandar melanjutkan, perusahaan telah menyiapkan dana sekitar Rp 100 miliar untuk pengembangan sistem ini. Hal ini dinilai vital untuk kelangsungan dan perkembangan usaha ke depan.

“Selain untuk mempermudah fungsi kontrol perusahaan, peningkatan sistem ini juga dilakukan agar klien perusahaan dapat dengan mudah berkomunikasi dan melakukan booking secara online,” ujar Iskandar.

Perlu diketahui, Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), pada kuartal I/2020, TMAS memiliki laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 3,85 miliar. Jumlah tersebut terpaut jauh dibandingkan catatan pada kuartal I/2019 sebanyak Rp 42,25 miliar.

Sementara itu, perusahaan mencatatkan kenaikan pendapatan jasa sebesar 14,2%. Pada kuartal ini, TMAS meraih penerimaan Rp 706,84 miliar berbanding catatan pada kuartal I/2019 yakni Rp 608,15 miliar.

Kontribusi terbesar penerimaan TMAS berasal dari jasa pelayaran pihak ketiga sebanyak Rp 504,1 miliar atau tumbuh 19,85% dari perolehan kuartal I/2019 senilai Rp 404,02 miliar. Sementara itu, jasa bongkar muat turun tipis dari Rp 223,49 miliar menjadi Rp 222,51 miliar.

Sumber : Kontan, 25.06.2020.

24 Juni 2020

[240620.EN.SEA] TS Lines In Search Of New Ships as Q1 Profits Soar 170pc to US$21.5m


CHAIRMAN of TS Lines, Chen Te Shen says controlling costs and services additions on routes with growing demand have led to the Taiwan carrier's 170 per cent year-on-year increase in profits.

The Taiwanese operator of the intra-Asia carrier reported profits of TWD650 million (US$21.49 million), achieved by responding to challenging conditions caused by Covid-19 with the company withdrawing from the US trades and concentrating on operating intra-Asian and Asia-Australia routes. Mr Chen said the company further reduced costs by redelivering chartered vessels that were deployed on withdrawn services.

The leased fleet increased the flexibility of the company's operations. While owning a certain percentage of newly built own ships, with high fuel efficiency, allowed the company to reduce costs further, reports Container News, Jacksonville.

Mr Chen said that there is a silver lining in the pandemic, as oil prices collapsed to an 18-year low, resulting in low-sulphur fuel oil becoming cheaper. This meant compliance with the International Maritime Organization's emissions cap was more affordable.

"Oil prices fell sharply in March. As the fuel surcharge was calculated based on the oil price of the previous quarter, when our actual bunker costs fell, the company's profit increased," explained Mr Chen.

Cargoes to and from India and the Philippines declined during Q2, but TS Lines added services to Thailand and Vietnam, where cargo demand remained strong. Consequently, the carrier's operating profit for Q2 2020 is forecast to be TWD700 million.

The chairman said: "We'll continue to acquire vessels and commission newbuildings. Three years ago, we aimed to own five vessels. At the time, we operated 36 vessels. Today, we are operating 46 ships, including 12 owned vessels. Another three are under construction. Today's newbuildings are fuel-efficient, but it takes two years for a vessel to be built. If there are suitable pre-owned ships in the market, we'll consider second-hand purchases."

Source : HKSG.

[240620.ID.AIR] Terbukti Atur Harga Tiket, 7 Maskapai Tak Kena Hukuman Denda

Bisnis.com, JAKARTA - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memutuskan untuk tidak menjatuhkan hukuman denda terhadap tujuh maskapai nasional yang terbukti melakukan perjanjian penetapan harga tiket pesawat pada 2018.

Komisioner KPPU Guntur Saragih menjelaskan KPPU memutuskan tujuh maskapai yang menjadi Terlapor secara sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran atas Pasal 5 UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Adapun, tujuh maskapai yang terlibat, antara lain PT Garuda Indonesia Tbk. (Terlapor I), PT Citilink Indonesia (Terlapor II), PT Sriwijaya Air (Terlapor III), PT NAM Air (Terlapor IV), PT Lion Mentari Airlines (Terlapor V), PT Batik Air (Terlapor VI) dan PT Wings Abadi (Terlapor VII).

“Sanksi tidak hanya berupa denda, Majelis Komisi memilih sanksi bukan denda melainkan kewajiban untuk melapor ke KPPU. Selain itu majelis menilai pelanggaran Pasal 11 [UU No. 5/1999] juga tidak terpenuhi,” jelasnya, Selasa (23/6/2020).

KPPU, lanjutnya, menjatuhkan sanksi berupa perintah kepada para Terlapor untuk melakukan pemberitahuan secara tertulis kepada Komisi atas setiap kebijakan mereka yang akan berpengaruh terhadap peta persaingan usaha, selanjutnya harga tiket yang dibayar oleh konsumen, dan masyarakat sebelum kebijakan tersebut dilakukan.

Bunyi dari Pasal 11 UU No. 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah pelaku usaha dilarang membuat perjanjian, dengan pelaku usaha pesaingnya, yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

Dia menjelaskan hal ini dengan merujuk berdasarkan Peraturan Komisi No. 4/2010 tentang Kartel. Karakteristik kartel antara lain adanya konspirasi diantara beberapa pelaku usaha, keterlibatan para senior eksekutif  perusahaan yang menghadiri pertemuan-pertemuan dan membuat keputusan, penggunaan asosiasi untuk menutupi kegiatan, price fixing atau penetapan harga  dengan cara alokasi konsumen atau pembagian wilayah atau alokasi produksi.

Kemudian adanya ancaman atau sanksi bagi anggota yang melanggar perjanjian serta adanya distribusi informasi kepada seluruh pelaku usaha terlibat atau adanya mekanisme kompensasi dari pelaku usaha yang produksinya lebih besar atau melebihi kuota terhadap mereka yang produksinya kecil atau mereka yang diminta untuk menghentikan kegiatan usahanya.

"Hal ini mengakibatkan, unsur Pasal 11 menjadi tidak terpenuhi," ujarnya.

Sumber : Bisnis, 24.06.2020.

23 Juni 2020

[230620.EN.SEA] Maersk Expects Improved Second Quarter as Market Demand Grows


DANISH shipping giant Maersk, the world largest container carrier, said its second quarter results will be better than its first.

Group operating profit (EBITDA) before restructuring and integration costs for Q2 will be slightly above Q1, which came in at US$1.5 billion.

Market demand in the second quarter is developing more favourably than originally expected. Maersk now anticipates declines of 15-18 per cent for Q2 compared to the intial guidance of 20-25 per cent.

But full-year guidance on earnings remains suspended given the uncertainty on demand recovery in the second half as economies are still impacted by Covid-19.

Said Maersk group CEO Soren Skou: "We have been able to navigate well in a very difficult second quarter, adjusting capacity to demand to maintain high utilisation of our network and managing our cost across the company. We also delivered year-on-year earnings growth despite five per cent lower demand and sharply increasing fuel costs as a result of the switch to low-sulphur fuel on January 1."

Source : HKSG.

[230620.ID.BIZ] Rumor Itu Nyata, Gojek PHK 430 Karyawan, Begini Rincian Pesangonnya


KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Ada kabar tak sedap menimpa Gojek. Decacorn tersebut dikabarkan akan mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada pekan ini. Kalau ini benar, artinya menyusul Grab yang pekan lalu memastikan terjadi PHK.

Dalam penjelasan resmi yang diterima Kontan.co.id, Selasa (23/6) Gojek membenarkan terjadi PHK terhadap 430 karyawan atau 9% dari total karyawan Gojek. Hal itu lantaran Gojek terpaksa menutup bisnis Go Life.  Layanan GoLife yang meliputi layanan GoMassage dan GoClean, serta GoFood Festival yang merupakan jaringan pujasera GoFood di sejumlah lokasi, akan dihentikan.

Keputusan ini diambil berdasarkan evaluasi atas situasi makro ekonomi dan perubahan perilaku masyarakat yang menjadi lebih waspada terhadap aktivitas yang melibatkan kontak fisik ataupun kegiatan yang tidak memungkinkan untuk berjaga jarak. Kedua bisnis ini, GoLife dan GoFood Festival membutuhkan interaksi jarak dekat, dan mengalami penurunan permintaan secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan pandemi COVID-19. Aplikasi GoLife dapat digunakan hingga 27 Juli 2020.  

"Kami memohon maaf sebesar-besarnya kami harus mengambil keputusan sulit untuk kita dapat mengimplementasikan hal ini,"kata Co CEO Gojek Andre Soelistyo dan Kevin Aluwi, Selasa (23/6)

Andre lalu memaparkan paket pesangon yang diterima karyawan.

"Kami ingin memberikan dukungan semaksimal mungkin, dan menetapkan paket pesangon,"kata Andre.  Menurutnya, keberlangsungan finansial menjadi perhatian terbesar saat ini. "Karyawan yang terdampak akan menerima pesangon, kami menetapkan minimum gaji 4 pekan ditambah tambahan 4 pekan gaji untuk setiap tahun lamanya bekerja," lanjut Andre.

Terkait pembayaran gaji selama periode pemberitahuan, Gojek tidak mewajibkan karyawan yang terdampak untuk bekerja saat sudah memasuki periode pemberitahuan, supaya karyawan dapat fokus memikirkan mengenai rencana mereka di masa mendatang. Namun, Gojek tetap akan membayar gaji mereka secara penuh.

Fasilitas lain adalah 
-Masa tunggu alias annual cliff: bagi karyawan yang memiliki hak kepemilikan saham akan dihapus. Sehingga karyawan yang meninggalkan Gojek dapat memiliki saham di perusahaan yang telah mereka bangun.

-Pembayaran cuti tahunan dan hak lainnya: Gojek akan membayarkan cuti tahunan yang tidak digunakan, selain juga hak-hak lainnya termasuk cuti melahirkan.

-Perpanjangan asuransi kesehatan: Di tengah krisis kesehatan global ini, kami ingin memastikan bahwa kebutuhan terkait kesehatan karyawan yang terdampak tetap dapat terpenuhi. Kami akan memperpanjang skema asuransi kesehatan bagi karyawan yang terdampak dan juga bagi keluarga mereka, hingga 31 Desember 2020.

-Perlengkapan: Karyawan dapat tetap memiliki laptop mereka untuk membantu mencari peluang lain.

-Perpanjangan program bantuan karyawan: Gojek  memperpanjang masa dukungan ke karyawan, mencakup program layanan kesehatan mental, finansial, dan konsultasi lainnya selama tiga bulan ke depan.

-Program outplacement: mencari pekerjaan baru tidak pernah mudah. "Sehingga kami memberikan program outplacement yang akan membantu setiap orang untuk mencari pekerjaan," terang Andre.

Sumber : Kontan, 23.06.2020.