20 Oktober 2020

[201020.EN.SEA] MSC's Executive Says Hydrogen, Biofuels Are The Key To Future Fuel Mix

 

SWISS international shipping carrier Mediterranean Shipping Company (MSC) has forecast that hydrogen and biofuels are to become key components of container shipping's future fuel mix.

Speaking at the recent Maritime Transport Efficiency Conference in Geneva, Switzerland, MSC's executive vice president, maritime policy & government affairs, Bud Darr said "There's no one single solution to decarbonise shipping; we need a range of alternative fuels at scale and we need them urgently.

"The future of shipping and decarbonisation will rely on strong partnerships from both the perspective of technology collaboration and procurement," he said.

MSC is pioneering the large-scale usage of biofuel blends for containerships and bunkering responsibly sourced, up to 30 per cent biofuel blends on a routine basis in Rotterdam. The large 23,756-TEU MSC Gulsun was fitted at delivery in 2019-20 with the option to convert to LNG as a potential bridging fuel as part of the industry's transition towards a zero-carbon future.

Fossil-sourced LNG remains a transitional option, while carbon capture and storage, if perfected for marine use, could be useful, Mr Darr told the conference.

MSC noted that industry partnerships could help accelerate the development of clean hydrogen. Despite some significant challenges to overcome mainly related to density, volume and safe handling, MSC is in favour of further R&D efforts to produce it in a greenhouse gas (GHG) neutral way and to develop it at scale, along with other fuels that may derive from it, Colchester's Seatrade Maritime News reported.

MSC said it is contributing to the work of industry groups and associations and supports their proposal to the IMO to create a new R&D fund to support GHG reduction in the maritime sector.

The container carrier added that there must be a massive injection of energy and capital into R&D efforts to bring alternative fuels and alternative propulsion technologies for deployment in the marketplace and decarbonise in the longer term.

MSC is therefore engaging with potential vendors to investigate new solutions that would help to minimise and to eventually eradicate carbon dioxide (CO2) and other GHG emissions from shipping fleets.

Source : HKSG.

[201020.ID.BIZ] Studi Cambridge: Milenial Mulai Tidak Puas Dengan Demokrasi

 

KONTAN.CO.ID - LONDON. Studi terbaru yang dilakukan oleh University of Cambridge menemukan bahwa anak-anak muda dari era Milenial kini mulai tidak puas dengan sistem demokrasi yang banyak digunakan di berbagai belahan dunia.

Studi ini dilakukan oleh The Cambridge Centre for the Future of Democracy dengan menbgumpulkan data dari lebih dari 4,8 juta responden yang berasal dari 160 negara berbeda, antara tahun 1973 hingga 2020.

Reuters mengabarkan, jumlah kaum Milenial yang kurang puas dengan demokrasi lebih banyak dibanding sebelumnya, terutama di Eropa, Amerika Utara, Afrika, dan Australia.

Sebagai gambaran, kaum Milenial adalah mereka yang lahir antara tahun 1981 dan 1996. Kaum Milenial jauh lebih kecewa terhadap demokrasi dibanding dengan Generasi X (kelahiran 1965-1981), Baby Boomers (kelahiran 1944-1964), dan juga Generasi Interwar (kelahiran 1918-1943).

"Di seluruh dunia, generasi yang lebih mudah tidak hanya lebih tidak puas dengan kinerja demokrasi daripada yang tua, tetapi juga lebih tidak puas dibandingkan generasi sebelumnya dengan tahapan kehidupan yang serupa," ungkap laporan Cambridge, seperti dikutip Reuters. 

Secara khusus, kekecewaan terburuk dicatat Cambridge dari Amerika Serikat, Brasil, Meksiko, Afrika Selatan, Prancis, Australia, Britania Raya.

Di sisi lain, tingkat kepuasan terhadap sistem ini juga meningkat, terutama di Jerman, Korea Selatan dan banyak negara pasca-Komunis di Eropa Tengah dan Timur.

Studi ini melaporkan bahwa penyebab utama dari kekecewaan terhadap demokrasi di kalangan Milenial adalah ketidaksetaraan kekayaan dan pendapatan.

Cambridge mengutip data yang menunjukkan bahwa Milenial merupakan sekitar seperempat dari populasi AS, tapi hanya memilki 3% dari kekayaan negara. Sementara generasi Baby Boomers menguasai 21% kekayaan di usia yang sama dengan Milenial saat ini.

Studi tersebut menyebutkan bahwa politik "kemapanan" sebenarnya dapat membantu meningkatkan keterlibatan demokratis melalui serangkaian upaya kejutan yang ditujukan kepada partai dan pemimpin moderat.

Sumber : Kontan, 20.10.2020.

19 Oktober 2020

[191020,EN.SEA] Alliance Makes Raft of November Changes, And Cancellations

 

THE Alliance, made up of ocean carriers Hapag-Lloyd, Yang Ming, Ocean Express Network (ONE) and HMM, have announced changes to a large number of services for November.

In a statement, THE Alliance said: "In response to the Covid-19 pandemic, the members of THE Alliance have been making service adjustments to better align their resources with the fluctuating demand in the global shipping market."

In Asia and North Europe strings, the FP1/FP2/FE2/FE3 will maintain weekly sailings in November, except for the FE2 sailing in Week 45 and FE3 sailing in Week 47. The FE4 is temporarily suspended. THE Alliance will continue the Extra Loader Programme with sailings in Week 45 to 48 in November. Participation of the Extra Loader Programme will be separately advised by respective lines.

In Asia and the Mediterranean strings, the MD1/MD2/MD3 will maintain their weekly sailings in November, except for in Week 45 - MD2, MD3 void, Week 48 - MD1 void.

In Transpacific - West Coast strings, all PSW and PNW loops will maintain their weekly sailings in November except for the following PS3 Asia-India-Asia leg: PS3 Asia to India - Week 44, 46 void, and PS3 India to Asia - Week 46, 48 void.

In Transpacific - East Coast strings, all USEC loops will maintain their weekly sailings in November except for EC3 - Week 45, 48 void.

In Asia - Middle East strings, the AG1 will remain merged with AG3, and AG2 & AG3 will maintain all sailings in November.

In Transatlantic strings, all Atlantic sailings will be maintained except Week 46 - AL1, AL4 void, Week 48 - AL1 void.

"Since the outbreak of the coronavirus pandemic, THE Alliance has acted with speed and agility to keep supply chains moving and have done everything in their power to continue doing so. The members of THE Alliance would like to thank their customers for their support and understanding in these unprecedented times," the statement added.

Source : HKSG / Photo : Seatrade Maritime.

[191020.ID.BIZ] Dewata Freight International Lakukan Tranformasi Bisnis Garap Layanan Halal Logistik

 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan forwarder PT Dewata Freight International Tbk (DFI Logistics) melakukan transformasi bisnis dengan menggarap layanan kargo halal (halal logistic hub), cold chain, pergudangan (warehouse) dan pusat logitik berikat atau PLB.

Direktur Utama DFI Logistics Nofrisel mengungkapkan, selama ini DFI berfokus pada freight forwarding, namun setahun terakhir melakukan pengembangan bisnis yang terintegrasi.

“Jadi transformasi bisnis ini punya banyak keunggulan dan bisa menjadi salah satu local logistics player yang memberikan kontribusi terhadap logistik di Indonesia,” ujar Nofrisel kepada kontan.co.id, Minggu (18/10).

Nofrisel mengaku, sampai dengan Oktober 2020, pendapatan masih stagnan dan cenderung menurun karena terdampak covid-19. Menurutnya, pendapatan hanya mampu dicapai sekitar 45%, dengan margin yang tipis.

Oleh karena itu transformasi bisnis perseroan diharapkan sudah bisa berjalan pada periode kuartal IV tahun ini sehingga bisa mendongkrak kinerja di sisa tahun 2020 ini. Menurutnya, penyediaan ekspansi bisnis berupa fasilitas Halal Hub oleh perseroan akan dilakukan di Jabodetabek, Cold Chain di Surabaya dan Jabodetabek, sedangkan fasilitas PLB di Medan yang berbasis e-Comerce atau aircargo.

Nofrisel menegaskan, perseroan memiliki komitmen untuk selalu menjaga performance untuk itu, perseroan berencana untuk, memperluas kegiatan usaha perseroan yang semula freight forwarding dan project logistics menjadi total integrated logistics.

Untuk itu, perseroan berkomitmen untuk melaksanakan strategi bisnis dan pengembangan dengan cara efektif dan efisien, termasuk memanfaatkan teknologi, memelihara pertumbuhan secara organik, serta mengembangkan usaha baru dalam koridor logistik (Logistik Halal, PLB E-Commerce dan Cold Storage),

Di luar DFI juga melakukan investasi aset dan pengembangannya untuk DFI dan anak usaha, yaitu di PT Samulos Harmoni Energi Perkasa (SHEP) dan di PT Dewata Makmur Bersama (DMB). Di SHEP mendapatkan kontrak tambahan haulage Angkutan Batubara, dan DMB mendapatkan kontrak bidang pembangunan power plan untuk Listrik di PLN Batam.

Kontrak-kontrak logistik lain juga dipredksi akan dimenangkan pada awal tahun 2021. Selain itu, pihaknya menerapkan strategi dengan mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, serta pertumbuhan an-organik melalui merger dan akuisisi.

Sumber : Kontan, 19.10.2020.

18 Oktober 2020

[181020.EN.BIZ] Global Container Ship Companies Cash in on Higher Rates: Fitch

 

NEW York-headquartered ratings agency Fitch Ratings says the recent increase in spot container freight rates, driven by shipping companies' supply discipline despite a decline in demand at the start of the coronavirus pandemic, has resulted in global shipping companies' financial performance improving.

"We expect healthy freight rates to continue in the short term, although potential pressures from trade protectionism and resulting localisation of supply chains, weak economic recovery and slipping supply discipline may affect rates in the longer term," the ratings agency adds.

Consolidation in the global container shipping industry in recent years is the key factor behind improved supply discipline in the sector. The three largest alliances now account for about 80 per cent of the global market. The market participants have maintained low order-book levels of about 10 per cent of the existing global fleet during the current crisis, compared with about 60 per cent in 2007. The largest companies reduced available shipping capacity by more than 13 per cent during 2Q 2020 to meet a 11 per cent decline in global demand, according to Hapag Lloyd.

As a result, freight rates have been growing since June 2020, accelerating in August as demand improved and reaching record levels in October despite an initial decline in spot rates at the start of the pandemic.

A sharp growth in transpacific rates, which almost tripled year on year, was the largest contributor to the composite global rates increase. Transpacific rates have benefited from increased volumes since June 2020, driven by re-stocking, increased demand for personal protective equipment, and the growth in inventories ahead of the holiday season to cover potential disruptions, Hellenic Shipping News reports.

Three of the largest container shipping companies -Maersk, CMA CGM and Hapag Lloyd -reported strong 1H 2020 results. Their EBITDA grew thanks to higher freight rates, despite lower revenues as transported volumes reduced. The industry's profitability could be one of the highest in 2020 if container liners continue to maintain capacity discipline, given that order books are small. We expect good levels of free cash flow generation this year, which shipping companies are likely to use to reduce debt, which will improve their credit metrics.

"The container shipping industry has historically been among the most volatile sectors. Despite some recent structural improvements and less aggressive competition, there are still significant downside risks.

"A potential decline in shipping demand, particularly on transpacific routes due to US-China trade tensions and supply-chain localisation, growing e-commerce that often uses air transportation, weak global e-conomic conditions, resistance to increased contracted freight rates and slipping shipping companies' supply discipline may put the industry under pressure," Fitch Ratings

Source : HKSG / Photo : IIB.

[181020.ID.SEA] Genjot Kualitas, Ini Strategi Samudera Indonesia (SMDR) Di Sisa Tahun 2020

 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Walaupun kondisi perekonomian nasional dan global menurun di tengah pandemi virus corona (Covid-19) tidak memadamkan semangat PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) untuk memacu kinerja. Bahkan, di tengah situasi saat ini pun perusahaan masih mendapatkan permintaan untuk menyediakan pelaut Indonesia baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Meski begitu, Dirut SMDR Bani Mulia mengatakan, para pelaku di industri pelayaran ini harus selektif dan fokus pada industri yang masih sehat di tengah kondisi sulit saat ini.

Lebih lanjut, Bani bilang, sejauh ini sudah ada 2 kapal Samudera Indonesia yang sudah diluncurkan. Salah satunya sudah berada di Indonesia dan yang lainnya sudah selesai melakukan sea trial dan akan ada satu kapal lagi yang akan diluncurkan di kuartal IV 2020.

SMDR pun juga selalu memprioritaskan awak kapal yang bekerja di kapalnya adalah orang Indonesia.

"Di Samudera Indonesia, meski di masa pandemi ini kami juga masih bisa menambah kapal, ada kapal yang sebagian dikurangi operasionalnya, tapi ada juga yang ditambah, bahkan ada kapal baru yang dibangun dan diproduksi dan membutuhkan pelaut baru," ujar Bani kepada Kontan.co.id, Jumat (16/10).

Bani mengungkapkan, sampai dengan kuartal III kinerja perusahaan pun masih cukup baik dan positif. Ia juga mengaku tingkat utilisasi kapalnya masih aman yaitu di angka 90% ke atas atau fully utilized.

SMDR juga selektif dalam memilih kontrak yang akan dijajaki. Perseroan masih memprioritaskan kontrak yang premium customer dengan reliability pembayaran yang baik, karena pihaknya mengkhawatirkan risiko pembayaran dari customer yang mungkin terdampak pandemi.

"Kami targetkan pelanggan dan pekerjaan premium yang tidak akan revisi nilai kontrak, karena kami tidak mau kerjakan project yang punya risiko rugi," katanya.

Pemilihan segmen pasar proyek dalam memburu kontrak menjadi salah satu segmen pasar yang menjadi penopang kinerja positif perusahaan saat ini. Penyelesaian proyek yang berjalan menjadi alasan mengapa permintaan jasa pengangkutan pada segmen tersebut terbilang stabil.

Bani tidak merinci berapa nilai maupun lamanya periode kontrak yang tengah dijajaki. Yang jelas, Bani menyebut proyek yang dijajaki berpeluang sudah bisa memberi kontribusi dalam pembukuan kinerja tahun ini bila berhasil didapat.

SMDR juga masih akan mengawal realisasi sejumlah investasi yang sudah dicanangkan. Seperti diketahui sebelumnya, SMDR menganggarkan belanja modal alias capital expenditure sebesar US$ 112,4 juta pada tahun ini.

Dalam rencana awal, capex tersebut akan digunakan untuk sejumlah hal dengan rincian US$ 47 juta untuk menunjang lini usaha pelayaran, US$ 30,7 juta untuk lini usaha pelabuhan, US$ 32,5 juta untuk lini usaha logistik, dan US$ 2,2 juta untuk lain-lain.

Bani mengaku belum bisa memastikan berapa dana capex yang akan terserap sampai tutup tahun nanti. Tapi dia menjelaskan bahwa Samudera Indonesia akan terus menggulirkan dana capex untuk membiayai investasi-investasi prioritas yang memiliki kepastian tinggi, seperti misalnya untuk menambah kapal baru.

SMDR menargetkan sampai akhir tahun pendapatan akan lebih tinggi dari tahun sebelumnya, namun tidak setinggi rencana anggaran awal. pihaknya juga akan melakukan cost efficiency semaksimal mungkin. Salah satu fokus yang akan dilakukan perusahaan yaitu mencari kontrak baru seperti project Pelabuhan Patimban.

Bani mengungkapkan, perusahaan pelayaran Indonesia harus terus meningkatkan kualitas dan kapasitas serta daya saingnya untuk berhadapan dengan pemain asing.

"Perusahaan pelayaran Indonesia harus semangat terus meningkatkan kualitas dan kapasitas serta daya saingnya sehingga tidak takut, tidak khawatir, dan bisa setara, bahkan lebih baik daripada perusahaan pelayaran asing," jelasnya.

Lebih lanjut, Bani menuturkan untuk bisa bersaing di negeri sendiri, industri pelayaran Indonesia harus mampu dan nantinya dapat bersaing di laut dunia.

Jika mengintip laporan keuangan semester I-2020, pendapatan SMDR tercatat US$ 247,65 juta atau meningkat dari periode yang sama tahun lalu US$ 209,08 juta.

Sumber : Kontan, 16.10.2020.

17 Oktober 2020

[171020.EN.SEA] Maersk Revises Upwards Full-year Financial Forecast

 

DANISH shipping giant AP Moller-Maersk A/S has raised its full-year guidance amid a surprise recovery in demand and sweeping efforts to cut costs.

The container shipping company, which is eliminating hundreds of jobs, said earnings before interest, taxes, depreciation and amortization will be in the range of US$7.5 billion to $8 billion, before restructuring and integration costs. That compares with an earlier forecast of $6 billion to $7 billion, according to a statement.

"The upgrade underlines the strong earnings momentum," Brian Borsting, a credit analyst at Danske Bank A/S, said in a client note.

Copenhagen-based Maersk, which transports about 15 per cent of the globe's seaborne freight, said there was a "continued recovery in demand" in the third quarter. Maersk said it had anticipated a bigger contraction in its main ocean unit than materialised.

Volumes fell by around 3 per cent in the third quarter from a year earlier, while the company said it had expected a "mid single-digit contraction". As a result Maersk reported revenue of $9.9 billion and an Ebitda before costs of $2.4 billion for the quarter, reports Bloomberg.

Maersk is undertaking a major restructuring as the world's biggest shipping company grapples with the effects of the Covid-19 pandemic. It'll take restructuring costs of around $100 million in the third quarter related to around 2,000 job cuts, as it reorganises its ocean and logistics and services operations.

The almost 20 per cent increase in the full-year Ebitda guidance means analysts are likely to materially upgrade their estimates, Jefferies analyst David Kerstens said in a note.

The upgrade could also be more good news for holders of Maersk debt, as the borrower may see a change in the negative outlook that it's been assigned by S&P Global Ratings, according to Danske's Borsting. Moody's Investors Service already recently lifted its outlook to positive, he said.

Source : HKSG.