10 November 2020

[101120.EN.BIZ] Port of Shanghai Still Number One, Handling Record 4.2m TEU in October

 

THE port of Shanghai has reaffirmed its position as the world's busiest container port last month setting a new record by handling 4.2 million TEU, a year-over-year increase of 15.7 per cent according to official data released by the Chinese authorities.

The new record exceeded July's 3.9 million TEU and making Shanghai the first container port to exceed the 4 million TEU mark in a single month.

Since the outbreak of Covid-19 at the beginning of the year, the Chinese economy has rebounded from the second quarter, and this has been felt in container volumes, which have only continued to soar, according to media reports.

The growth in Shanghai's container volume mirrors similar overall growth in China's cargo volumes, which in total was up nearly 16 per cent at the major ports in October. Total container volume at China's largest seaports was up nearly 20 per cent in October.

The strong volume growth has contributed to the reports by the largest shipping lines of both a strong rebound in business as well as a dramatic tightening of availability or in some cases already being fully booked during the peak shipping season.

Many of the world's ports are reporting that they are no longer seeing blank sailings but are being asked to accommodate unscheduled additional arrivals as the carriers add sailings to their schedules.

In 2019, Shanghai's total container throughput totalled 43.3 million TEU, a year-on-year increase of 4 per cent, and making the port the biggest container port in the world for the tenth year in a row.

In 2010, Shanghai port overtook the Port of Singapore to become the world's busiest container port, and there has been no looking back since then.

Source : HKSG / Photo : Daily Mail.

[101120.ID.BIZ] Gudang Garam (GGRM) Masuk Bisnis Tol Lewat Anak Usaha PT Surya Kertaagung Toll,

 

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mendirikan anak usaha baru: PT Surya Kertaagung Toll (SKT).

Dalam keterangan resmi perusahaan, Selasa (10/11), Gudang Garam (GGRM) menyebut, pendirian Surya Kertagung Toll yang merupakan cucu usaha ini terjadi pada tanggal 6 November 2020.

Surya Kertagung Toll adalah anak perusahaan PT Surya Kerta Agung yang sahamnya dimiliki oleh  Gudang Garam sebanyak 499.999  saham. Ini setara dengan 99,9%. “Perusahaan berkedudukan di Kedirim,” ujar Heru Budiman Corporate Secertary GGRM dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Pendirian Surya Kertaagung Toll dituangkan ke dalam Akta Pendirian Nomor 09 tanggal 6 November 2020 oleh Notaris Danny Rachman Hakim, S.H., M.Kn, Notaris di Kediri.

Pendirian cucu usaha GGRM ini juga telah mendapat pengesahan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-0057932.AH.01.01.Tahun 2020 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perseroan Terbatas PT Surya Kertaagung Toll, tertanggal 6 November 2020.

Masih dalam laman yang sama dijelaskan bahwa struktur Modal, Modal Dasar Rp 1,2 triliun, modal ditempatkan dan disetor sebesar Rp 300 miliar atau sebanyak 300.000 saham dengan nilai nominal Rp 1 juta  per saham.

Adapun struktur kepemilikan saham, Surya Kerta Agung memiliki 299.999  saham atau 99,9% atau setara dengan Rp 299,999 milar.

Adapun Heru Budiman mengambil bagian saham sebanyak 1 (satu) saham (0,1%) atau setara dengan Rp 1 juta.

Menurut Heru, maksdud dan tujuan pendirian anak usaha untuk usaha di bidang pembangunan, peningkatan, pemeliharaan dan perbaikan jalan, jalan raya dan jalan tol, jembatan dan jalan layang, termasuk juga kegiatan pembangunan, peningkatan, pemeliharaan penunjang, pelengkap dan perlengkapan jalan, jembatan dan jalan layang seperti pagar/tembok penahan, drainase jalan, marka jalan, dan rambu rambu, serta pemasangan bangunan prafabrikasi yang utamanya dari beton untuk konstruksi jalan dan jalan rel sebagai bagian dari pekerjaan yang tercakup dalam konstruksi bangunan sipil dan biasanya dikerjakan atas dasar subkontrak.

“Dampak pendirian Surya Kertaagung Toll ini tidak memiliki dampak terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, atau kelangsungan usaha GGRM,” ujar Heru.

Sampai dengan penutupan pasar saham di Bursa Efek Indonesia, Selasa (10/11) harga saham GGRM ditutup di harga Rp 42.400 per saham atau naik 2,42%

Sumber : Kontan, 10.11.2020.

09 November 2020

[091120.EN.BIZ] dnata Down Under Seeks High-tech Help To Gain Predictability


DNATA Australia has teamed up with Hermes Logistics Technologies (HLT) and IT University of Copenhagen (ITU) to explore how models can be used to deliver predictive business analytics, reports London's Air Cargo News.

The HLT-ITU project will run prototype machine learning models on dnata Australia's new Hermes Digital Ecosystem to help dnata to make predictive business decisions, as well as providing insights into potential cost savings.

The project takes place following dnata recently going live with HLT's H5 cargo management system at six Australian airports: Melbourne, Sydney, Adelaide, Darwin, Perth and Brisbane.

Said dnata cargo development director Terence Yong: "Dnata is looking forward to using predictive modelling to enhance our cargo planning and operational processes. This data science not only benefits our interaction with customer airlines, it enables us to anticipate the demand patterns in advance for more efficient operations." 

Said HTL chief technology officer Alex Labonne: "Machine learning is part of HLT's digital agenda and our datalakes are a fantastic source of events and data, which are always up to date and ready to inform and train AI models in the Hermes Cloud."

Said ITU professor Philippe Bonnet: "This is the future of enterprise machine learning envisaged by cloud providers, where any enterprise can incorporate data-driven predictions into their business processes.

"Collaborating with HLT and dnata is a unique opportunity for us to explore the capabilities and limitations of cloud-based enterprise machine learning," he said.

Source : HKSG.

[091120.ID.BIZ] Gagal Di Tender Patimban, Jababeka (KIJA) Belum Punya Rencana Ekspansi Lanjutan

 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) belum memiliki rencana ekspansi pasca kalah dalam lelang operator Pelabuhan Patimban bersama konsorsium PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR).

Sekretaris Perusahaan KIJA Muljadi Suganda mengatakan, perusahaan sudah mengantongi marketing sales sebesar Rp 558 miliar pada kuartal ketiga lalu.

"Saat ini belum ada rencana ekspansi yang akan dilakukan setelah tender Patimban. Tetapi pada kuartal III-2020, total marketing sales mencapai sekitar Rp 558 miliar," jelas Muljadi kepada Kontan.co.id, Senin (9/11).

Marketing sales KIJA banyak disumbang oleh segmen residen-komersial mencapai 47% dan sisanya disumbang oleh segmen industri dan lain-lain. Tak hanya itu, segmen residen-komersial dan industri menunjukkan adanya kenaikan permintaan di kuartal III 2020.

Saat ini, luas landbank yang dimiliki KIJA mencapai 5.000 hektare (ha). Jumlah tersebut dikembangkan perusahaan secara bertahap.

"Tidak mungkin kami akan mengembangkan sekaligus lahan yang dimiliki karena akan menjadi high investment. Namun tentunya, kami tetap memelihara lahan yang ada, salah satunya sebagai kawasan hijau atau botanical garden sebagaimana yang kami miliki di Kota Jababeka Cikarang," jelas Muljadi.

Perusahaan pun enggan mengomentari isi draf RPP Penertiban Kawasan dan Tanah Terlantar yang merupakan turun dari Undang-Undang Cipta Kerja.

Sebagai informasi, dalam RPP tersebut di pasal 4 disebutkan, jika area non-kawasan hutan yang belum dilekati Hak Atas Tanah yang Izin, Konsesi, atau Perizinan Berusahanya sengaja tidak diusahakan atau tidak dilaksanakan, maka menjadi Kawasan Telantar.

Adapun dalam Pasal 6 tentang Objek Kawasan Telantar dapat berupa: a. kawasan pertambangan; b. kawasan perkebunan; c. kawasan industri; d. kawasan pariwisata; atau e. kawasan lain yang pengusahaannya didasarkan pada Izin, Konsesi, atau Perizinan Berusaha yang terkait dengan pemanfaatan tanah dan ruang.

Sumber : Kontan, 09.11.2020 / Foto : Nusantara Maritime News.

08 November 2020

[081120.EN.SEA] Japanese Ocean Carrier ONE Reported Profit of US$515 Million


Japanese ocean carrier ONE (Ocean Network Express) reported a profit of US$515 million for its second quarter, between July and September, reports London's Loadstar.

The Profit Is On Track To Be $1 Billion In The Black For The Full Year.

"K" Line, MOL, and NYK is the first significant carrier to report financial results for Q3 in a period that's assumed to be more of a bumper period for an industry surprisingly boosted by strong demand.

However, ONE's revenue for H1 was down at $5.92 billion and the carrier's profit for the six months improved to $682 million, compared to $126 million before.

"From Q1 and through Q2 the supply and demand balance improved for all trades, most notably Asia-North America where liftings recovered to the level of the previous year," said ONE.

ONE also saw a 23 per cent fall in the average cost of bunker fuel for its ships to $328 per ton. It also saw the deployment of THE Alliance member Hyundai Merchant Marine (HMM) newbuild 24,000-TEU ultra large container vessel (ULCV) fleet on the Asia-North Europe trade lane.

The transpacific trade carried 1,375,000 TEU on the leg during the H1 period, which is up 125,000 TEU compared to the year prior.

ONE had a load factor 97 per cent on Asia-Europe head haul and the liftings of 766,000 TEU was down 116,000 TEU.

"The low volume development is clearly the result of the aggressive blanking programme that helped cut costs and improve profitability at the height of the pandemic impact," said Sea Intelligence CEO Lars Jensen.

Cosco subsidiary Orient Overseas International (OOCL), reported 11.1 per cent growth in transpacific volumes in Q2, compared with just 0.9 per cent by ONE.

Source : HKSG / Photo : Marine Insight.

[081120.ID.BIZ] Kerugian Garuda Rp 15 Triliun Dan Sarinah Rp 29 Miliar, Potret Holding Pariwisata

 

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Holding Pariwisata yang bakal dibentuk oleh Kementerian BUMN menyisakan tanda tanya. Pasalnya ada dua perusahaan di bawahnya yang merugi cukup besar. Hal ini bisa saja membawa beban dari holding tersebut, apalagi memang sektor pariwisata ini sedang terpuruk karena Covid-19.

Perusahaan yang merugi adalah, pertama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), maskapai penerbangan badan usaha milik negara (BUMN) PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) harus menanggung kerugian yang besar hingga kuartal III 2020. Tak tanggung-tanggung, kerugian Garuda Indonesia mencapai Rp 15 triliun.

Kerugian Garuda Indonesia karena hanya memperoleh pendapatan sebesar US$ 1,14 miliar hingga kuartal III-2020. Capaian tersebut amblas 67,79% dari periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$ 3,54 miliar.

Berdasar laporan keuangan yang dirilis Kamis (5/11), Garuda Indonesia mencatat pendapatan dari penerbangan berjadwal senilai US$ 917,29 juta, penerbangan tak berjadwal sebesar US$ 46,92 juta, dan pendapatan lain-lain berkontribusi US$ 174,56 juta.

Di tengah menyusutnya pendapatan, Garuda Indonesia juga harus menanggung beban usaha senilai US$ 2,44 miliar atau 25,61% lebih kecil dari periode yang sama 2019.

Garuda Indonesia memperoleh keuntungan selisih kurs senilai US$ 83,35 juta, padahal pada kuartal III-2019 GIAA mencatat rugi kurs US$13,91 juta. Di saat yang sama pendapatan keuangan tercatat US$ 43,89 miliar meningkat dari periode yang sama tahun lalu US$ 4,98 juta.

Dengan demikian, Garuda Indonesia membukukan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 1,07 miliar. Dengan kurs rupiah hari ini Rp 14.321 di data JISDOR Bank Indonesia, kerugian tersebut setara dengan Rp 15,32 triliun. Kondisi ini berbeda dari kuartal III tahun lalu yang masih mendulang laba bersih US$ 122,42 juta.

Per September 2020, asset GIAA melonjak 122,47% jadi US$ 9,90 miliar dari posisi asset pada akhir tahun lalu sebesar US$ 4.45 miliar.

Manajemen GIAA menjelaskan, perubahan aset sehubungan dengan implementasi PSAK 73 yaitu penambahan Aset Hak Guna Usaha Pesawat, Perlengkapan dan Peralatan, Perangkat Keras, Kendaraan, Tanah dan Bangunan dan Prasarana.

Kemudian, Sarinah. Importir minuman alkohol ini juga memprediksi kinerja keuangan tahun ini akan mencatatkan kerugian sebesar Rp 29,92 miliar. Nilai tersebut naik signifikan dari kerugian tahun lalu sebesar Rp 4,69 miliar.

Direktur Utama Sarinah Fetty Kwartati memaparkan akibat pandemi Covid-19 industri ritel telah terkena dampaknya sebesar 75%-90%. "Sarinah tidak terkecuali, bahkan dampaknya double dari Covid-19 dan pemugaran," ujarnya dalam rapat bersama Komisi VI di Jakarta, Senin (28/9).

Akibat renovasi tersebut seluruh toko ritel di dalam Gedung Sarinah harus tutup selama setahun mempersiapkan pemugaran dan transformasi. Akibat hal tersebut, ia memprediksi akan mencatatkan kerugian sebesar Rp 29,92 miliar. Sementara itu, untuk pendapatan hingga tutup tahun diproyeksikan sebesar Rp 637,92 miliar.

Namun, ia optimis kerugian tersebut akan ditutupi pada tahun 2021. Terlebih peritel sudah bisa membuka kembali tokonya pada Agustus 2021. "Dengan bukanya toko kembali sehingga diharapkan bisa mencatatkan hasil positif, walaupun masih kecil," sebutnya.

Dalam pemaparannya, laba pada 2021 diproyeksikan sebesar Rp 3,77 miliar dengan pendapatan sebesar Rp 1,11 triliun.

Di samping itu, dalam hal opex (operational expenditure) perseroan juga terus melakukan efisiensi mulai dari sumber daya manusia, promosi, dan juga biaya lainnya. Menurutnya, hal tersebut perlu dilakukan menjelang transformasi di tahun depan.

"Jadi secara opex per sales, kami akan berusaha menurunkan dari 48,1% menjadi 22,1% di tahun ini dan di tahun depan menjadi 19,5%," paparnya.

Guna menyelesaikan renovasi Gedung Sarinah, Fetty memaparkan kebutuhan belanja modal atawa capital expenditure (capex) untuk membuat fitting out di Gedung Sarinah dan konsep bisnis seperti F&B, trading house, dan duty free. Sehingga tahun ini dan tahun depan tetap akan ada pengeluaran capex.

Pada tahun ini, Sarinah menganggarkan capex sebesar Rp 30,29 miliar. Sementara itu, kebutuhan capex di tahun depan sebesar Rp 125,44 miliar. "Itu juga sudah kami masukan ke dalam RKAP," pungkasnya.

Sumber : Kontan, 08.11.2020.

07 November 2020

[071120.EN.SEA] CMA CGM Takes Its 2nd LNG-powered 23,000-TEU Vessel

 

FRENCH shipping giant CMA CGM, with the delivery of the 23,000-TEU CMA CGM Champs Elysees, now has now two mega ships in service powered by liquefied natural gas, reports Colchester's Seatrade Maritime News.

Liquefied Nitrogen Gas (LNG) is a pioneering choice aimed at preserving air quality and is scheduled to fuel CMA CGM's series of container ships with LNG-powered engines. If done, it'll be a first in the history of shipping for ultra large container vessels (ULCV).

LNG is the most advanced solution for air quality as it enables a 99 per cent reduction in sulphur dioxide, fine particle emissions, and an 85 per cent reduction in nitrogen dioxide emissions. Plus LNG emits up to 20 per cent less CO2 compared to standard fuel burn.

The nine vessels have an LNG Powered label that will be recognisable everywhere in the world.

Source : HKSG / Photo : Marine Insight.