12 Januari 2017

[120117.ID.BIZ] Layar Logindo Susah Mengembang

JAKARTA. Layar bisnis PT Logindo Samudramakmur Tbk sepertinya belum akan mengembang lebar pada tahun ini. Tantangan bisnis perkapalan offshore atau lepas pantai masih berat.

Selain industri lesu, persaingan tarif sewa juga menjadi tantangan yang harus mereka hadapi. Pemicu persaingan tarif sewa ketat karena jumlah kapal yang beredar di pasaran sudah melebihi batas permintaan alias oversupply.

"Carter rate akan berat, ini menurut analisis global sudah begitu, utilisasi bisa ditingkatkan, tapi persaingan masih besar," beber Sundap Carulli, Direktur Keuangan PT Logindo Samudramakmur Tbk di Jakarta, Rabu (11/1).

Tak ada pilihan bagi Logindo. Demi memenangkan persaingan bisnis, perusahaan ini akan mengikuti kondisi pasar dan bersaing lebih agresif dalam menawarkan tarif sewa.

Manajemen Logindo mengaku, saat ini sedang membidik beberapa kontrak baru sewa kapal. Hanya saja, mereka belum bersedia menyebutkan kontrak yang dibidik. Mengintip laporan keuangan per 30 September 2016, ada tiga klien perusahaan besar yang mencatatkan akumulasi pendapatan 70,94% terhadap total pendapatan Logindo.

Mereka adalah Total E&P Indonesie dengan kontribusi pendapatan sekitar US$ 9,19 juta dan BUT Eni Muara Bakau B.V dengan kontribusi US$ 5,17 juta. Lantas, BUT PC Muriah Ltd. berkontribusi US$ 3,46 juta.

Selain menjawab persaingan tarif sewa, Logindo akan memperkuat kas internal. Perusahaan itu berencana menerbitkan saham baru atawa rights issue senilai US$ 7 juta-US$ 10 juta. Logindo sudah mendapatkan restu dari pemegang saham pada rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Rabu (11/1) kemarin.

Kini, Logindo tinggal menunggu persetujuan dari pemegang otoritas kebijakan. Kalau menurut jadwal mereka, penerbitan saham baru akan berlangsung pada Maret 2017. Logindo akan memanfaatkan dana rights issue sebagai bantalan operasional bisnis.

Maklum, kas internal mereka tahun lalu menyusut. Sundap bercerita, kondisi kas sepanjang tahun 2016 tergerus karena bisnis kapal offshore lesu. Jumlah kas pada awal tahun US$ 21 juta, menyusut menjadi US$ 4,4 juta pada akhir tahun lalu.

Menjual aset

Beruntung, dalam kondisi kas mengempis Logindo masih bisa memenuhi kewajiban. Aksi restrukturisasi utang US$ 80 juta pada tahun lalu menjadi penolong tatkala kas kering. Alhasil perusahaan berkode saham LEAD di Bursa Efek Indonesia itu bisa menghemat beban cicilan utang sekitar US$ 1,4 juta setiap bulan.

Selain rights issue, Logindo akan melanjutkan aksi penjualan aset kapal berusia uzur. Kegiatan yang mereka mulai sejak akhir tahun 2015 lalu tersebut untuk meningkatkan efisiensi.

Namun, Logindo juga harus berupaya lebih giat. Sebab, aksi penjualan aset berusia tua rupanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Hingga kini, mereka baru melego satu kapal kapal jenis landing craft tank (LCT) dengan harga US$ 120.000 pada tahun lalu.

Berkaca dari tantangan bisnis yang masih besar, Logindo belum berani memasang target kinerja tahun 2017. Perusahaan tersebut masih harus melihat perkembangan bisnis ke depan. "Kami harus lihat realisasi kuartal dulu, kami tidak mau seperti tahun lalu pasang prediksi tetapi meleset," tutur Sundap.

Hanya saja, paling tidak Logindo berharap, tingkat keterpakaian kapal alias utilisasi tahun ini bisa tumbuh antara 10%-20%. Perusahaan tersebut mengendus potensi geliat industri minyak dan gas (migas), seiring peningkatan harga Sebagai gambaran, utilisasi kapal Logindo tahun lalu adalah sekitar 40%.

Sumber : Kontan, 12.01.17.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar