10 Juli 2015

[100715.ID.BIZ] Samudera Indonesia Akan Tambah 6 Kapal Tahun Ini

JAKARTA. PT Samudera Indonesia Tbk (SDMR) akan menambah kapal untuk meningkatkan kapasitas jasa angkut barang. Menurut Managing Director Samudera Indonesia Bani Mulia, sebanyak 3 - 6 kapal baru akan didatangkan tahun ini. Saat ini dari total 50 kapal yang dimiliki perusahaan ini, sebanyak 20 kapal merupakan sewa.

Pada tahap awal, perusahaan telah memesan kapal tanker minyak dari Jepang sebanyak 2 unit, namun baru 1 unit kapal yang sedang dalam proses pembangunan. Dan 1 unit kapal masih dalam proses tender. ”Kapal ini dapat beroperasional pada 2017," ucapnya ke KONTAN, kemarin.

Perusahaan juga akan melakukan pemesanan 2 unit kapal untuk angkutan LNG yang berasal dari dalam negeri. Pemesanan kapal ini masih dalam proses pembentukan kontrak yang akan diselesaikan pada tahun ini. Sedangkan proses pembangunannya baru akan berjalan setelah proses tender.

Adapun kapasitas kapal baru ini bervariasi. Misalnya, 1 - 4 kapal jenis taker berkapasitas 5.000 ton - 6.000 ton. Dan 2 kapal jenis LNG akan berkapasitas 15.000 ton - 20.000 ton. Anggaran yang dikeluarkan perusahaan untuk pengadaan kapal tersebut, seperti kapal tanker senilai US$ 12 juta-US$ 15 juta per unit, sedangkan kapal angkutan LNG senilai US$ 70 juta per unit.

Jenis kapal tersebut disesuaikan dengan proyek perusahaan yang siap untuk digarap. Jenis LNG misalnya, SMDR akan menggunakan kapal tersebut untuk melayani anak usaha Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT Indonesia Power di Bali. “Klien kami di sektor migas ada dari BUMN dan swasta,” tambahnya.

Saat ini, porsi jasa angkutan untuk industri migas sebesar 30%-40% dari total proses pengangkutan jasa dan barang. Angkutan itu terdiri dari shipping, logistik dan terminal. Sedangkan, sisanya merupakan porsi jasa angkutan untuk non migas, seperti peti kemas, dan bongkar muat.

Bani menambahkan, penurunan harga minyak dunia memberikan imbas pada perlambatan pengiriman barang. Perusahaan mencatat penurunan barang sekitar 20% namun ini tidak berdampak besar pada pendapatan karena perusahaan masih terus berlanjut mengirim jasa dan barangnya. “Misalnya, biasanya 10 barang menjadi 6 atau 8 barang,” ucapnya.


Sumber : Kontan, 07.07.15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar