14 Februari 2014

[140214.ID.BIZ] Vale Optimistis Renegosiasi Kontrak Karya Selesai Maret




Bisnis.com, JAKARTA - PT Vale Indonesia Tbk optimistis renegosiasi kontrak karya selesai pada Maret 2014 agar bisa segera menentukan rencana investasi yang lain.

Direktur Utama Vale Nico Kanter mengatakan pihaknya hanya menunggu pemerintah memutuskan beberapa butir-butir strategis yang perlu dibahas lebih rinci. Di sisi lain rencana investasi yang akan dijalankan Vale adalah di Bahadopi dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara masing-masing senilai US$2 miliar dan di Sorowako,  Sulawesi Selatan senilai US$2 miliar. 

"Selain mengembangkan investasi, kami juga merencanakan peningkatan produksi pada tahun ini," ujarnya, Rabu (12/2/2014).

Perusahaan asal Brasil itu menargetkan produksi sekitar 79.000 ton nikel matte. Nilai itu lebih tinggi sedikit dari produksi 2013. Target produksi tersebut telah diajukan ke rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. 

Penjualan produk nikel matte berkadar 78% dari Vale ditargetkan sekitar US$1 miliar dengan asumsi harga nikel matte di London Metal Exchange US$16.000 per ton.

Meski demikan, perusahaan yang telah melantai di pasar modal itu mencatat terdapat gangguan operasi di kuartal IV/2013. Akibatnya, Vale mengalami penurunan produksi dan tidak memenuhi target produksi 2013 yaitu sekitar 79.500 ton. 

Dalam pemaparan di rapat dengar pendapat dengan Komisi 7, perusahaan mengakui tidak mencapai laba bersih semula yaitu US$213,6 juta. Hingga kuartal III/2023 laba bersih hanya sekitar US$47,3 juta.

Target yang meleset dari perencanaan tersebut disebabkan merosotnya harga nikel dunia. Pada 2012 harga nikel berdasarkan London Metal Exchange (LME) mencapai senilai US$17.374/ton, sedangkan pada 2013 nilai tersebut menurun menjadi rata-rata US$15.000 hingga kuartal III/2013.

Tahun ini, Vale berencana akan meraih laba bersih sekitar US$112 juta dengan asumsi harga nikel di LME mencapai US$16.000/ton. Nico mengatakan, pihaknya optimistis pengaruh beleid tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara akan membawa dampak positif berupa perbaikan harga. "Kami masih melihat apakah pemerintah akan konsisten, sehingga masih ada fluktuasi," katanya.

Di sisi lain sebelumnya, R. Sukhyar, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral juga mengatakan kesepakatan mengenai renegosiasi akan selsesai  pada Maret. Meski masa kerja tim renegosiasi telah selesai, pemerintah mengatakan masih bisa melanjutkan. "Untuk laporan kalau setingkat saya sudah cukup," ujarnya.

Dari sisi pemerintah, permasalahan renegosiasi hanya tinggal poin royalti dan luas wilayah. Mengenai divestasi saham, opsi masih ada dua yaitu pembagian 40% deviden untuk perusahaan tambang yang memiliki usaha hulu dan hilir serta 51% pembagian saham bila hanya memiliki usaha hulu.

Sumber : Bisnis Indonesia, 12.02.14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar