25 Februari 2014

[250214.ID.BIZ] Indonesia Keluar dari Fragile Five. Ini Sebabnya

Bisnis.com, BANDUNG—Memasuki 2014, Indonesia sudah tidak masuk  lagi dalam kelompok lima negara yang berekonomi rentan atau dikenal dengan fragile five.

Sejalan dengan mengecilnya defisit transaksi berjalan Indonesia, hal tersebut menjadi perhitungan dan daya tarik bagi investor asing untuk kembali masuk berinvestasi di Indonesia.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juda Agung menuturkan sejak awal 2014, Indonesia sudah tak masuk dalam fragile five.

“Itu terjadi karena mengecilnya defisit transaksi berjalan yang disebabkan surplusnya neraca pembayaran serta diikuti penguatan nilai tukar rupiah,” ungkap Juda, Sabtu (22/2/2014).

Fragile five adalah istilah yang diberikan kepada negara dengan defisit transaksi berjalan yang cukup besar terhadap PDB.

Adapun negara-negara yang masuk ke dalam fragile five adalah India, Afrika Selatan, Brazil, Turki dan Indonesia.

Dengan mengecilnya defisit transaksi berjalan Indonesia terhadap PDB sebesar 1,98% pada triwulan IV 2013, secara perlahan Indonesia sudah mulai meninggalkan posisi sebagai negara fragile five.

Menurut Juda, penurunan defisit transaksi berjalan ini secara tidak langsung meningkatkan fundamental perekonomian Indonesia.

Selain Indonesia, negara yang telah membereskan defisit transaksi berjalan adalah India sehingga potensi India untuk keluar dari fragile five juga cukup besar.

Selain itu, Juda menuturkan BI masih akan melakukan pengetatan moneter dengan mempertahan suku bunga acuan BI (BI Rate) di level 7,5%.

Adapun tujuan BI mempertahankan BI Rate di level tersebut untuk menjaga stabilitas ekonomi, agar defisit transaksi berjalan semakin berkurang.

Juda mengungkapkan kebijakan tersebut masih konsisten untuk mengarahkan inflasi menuju sasaran 4,5% plus minus 1% pada 2014 dan 4% plus minus 1% pada 2015 serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.

Ia melanjutkan, di sisi lain, BI tengah mencermati berbagai risiko, baik global maupun domestik, dan memastikan langkah-langkah antisipasi agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga.


Sumber : Bisnis, 23.02.14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar