27 September 2014

[270914.ID.BIZ] Dirut DL : Tak Cukup 2E, Perlu Juga Edan

JAKARTA: Hanya orang "gila" yang mau menerima pekerjaan di sebuah perusahaan yang sedang kolaps. Tapi, Arham S. Torik yang kini menjabat Presiden Direktur PT Djakarta Lloyd nekad menerima tawaran seperti itu pada 2012. Kini, Arham berhasil memimpin Djakarta Lloyd keluar dari jeratan pailit. Apa saja kiatnya? Galvan Yudistira dan Muradi dari Kontan mewawancarai Arham untuk mengungkap strategi Arham. Berikut nukilannya.

Tak Cukup 2E, Perlu juga Edan
Tahun 2012, saya diajak oleh Syahril Japarin, Direktur Utama Djakarta Lloyd (kala itu), untuk bergabung dengan perusahaan ini sebagai direktur keuangan dan marketing. Sebelumnya, kami pernah bekerja bersama-sama di PT Aetra Air Jakarta (sebelumnya bernama PT Thames Pam Jaya).

Lalu, bersama Erizal Darwis sebagai direktur operasional, kami bahu-membahu membangun lagi dari awal perusahaan BUMN yang sedang terpuruk ini. Pada saat hari pertama masuk kantor, saya sempat syok karena perusahaan ini dalam kondisi porak-poranda, baik luar maupun dalam.

Secara fisik, tembok kantor perusahaan penuh dengan atribut demonstrasi karyawan: coretan mural kekecewaan dan kemarahan, karena hak-hak karyawan tidak dibayarkan oleh manajemen sebelumnya. Selain itu, bau kemenyan menghiasi ruang direksi yang disegel demonstran. Sebagai direktur keuangan dan marketing, saya rela tidak digaji karena saldo kas perusahaan nihil. Rekening bank diblokir oleh berbagai pihak sehingga kami tidak bisa mencari dana.

Laporan keuangan sejak tahun 2008 sampai 2011 tidak dibuat. Yang ada dokumen berkas-berkas tuntutan hukum dari berbagai pihak, baik dalam negeri dan luar negeri, gara-gara tidak mampu membayar utang mencapai Rp 1,5 triliun. Sedangkan tunggakan gaji 700-an karyawan mencapai Rp 2,3 miliar per bulan. Akumulasi tunggakan gaji selama 13 bulan sekitar Rp 30 miliar.

Begitulah gambaran buruk perusahaan saat saya pertama kali masuk. Ketika iseng membaca Undang-Undang Perseroan untuk mempelajari cara mempailitkan perusahaan, ternyata salah satu persyaratan pengangkatan direksi adalah tidak pernah memimpin perusahaan bangkrut. Sejak itu, saya bertekad menyelamatkan diri dengan tidak membangkrutkan perusahaan.

Salah satu prioritas utama yang harus dilakukan adalah menghidupkan letter of intent (LoI) dengan PLN (Perusahaan Listrik Negara) yang ditandatangani beberapa bulan sebelumnya agar perusahaan dapat kembali beroperasi. LoI pengangkutan batubara itu telah berumur 1,5 tahun, tapi belum satupun dibuatkan kontraknya. Masalahnya ada tiga persyaratan yang sulit dipenuhi, yaitu kepemilikan kapal, jaminan berupa cash collateral, dan laporan keuangan.

Setelah melakukan negosiasi, PLN bersedia menunda persyaratan laporan keuangan. Alhasil, kami berhasil memperoleh kontrak pertama PLN. Setelah itu, kami mulai menyusun laporan keuangan. Kami juga berusaha mengatasi masalah kepemilikan kapal melalui kerjasama operasi dengan para pemilik kapal. Kami meyakinkan mereka agar mau menyediakan dana cash collateral sebagai jaminan.

Dengan adanya aktivitas ini, kegiatan operasi kecil-kecilan dapat dibiayai oleh perusahaan. Hasilnya, pada Juni 2012, menjadi saat bersejarah bagi perusahaan karena sukses menggaji karyawan pertama kali dari hasil usaha.

Namun, karena kapasitas perusahaan menurun drastis, kami merumahkan hampir seluruh karyawan dan menegosiasikan gaji yang bisa dibayar perusahaan. Masalah lain yang dihadapi adalah gugatan pailit dari dua kreditur. Sesuai kewenangan sebagai direktur keuangan, saya menghadapi kreditur itu satu per satu agar mereka dapat memahami kondisi keuangan perusahaan. Harapannya mereka menyetujui penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) dan tidak memailitkan Djakarta Lloyd.

Akhirnya, pada 19 Desember 2013, tercapai kesepakatan dengan kreditur untuk mengakhiri kepailitan.

Merangkul lawan
Pada 7 Januari 2014, saya didaulat menjadi Direktur Utama Djakarta Lloyd karena tinggal satu-satunya direksi yang ada. Saya merasa diberi amanah yang besar karena perusahaan sedang melakukan banyak pekerjaan, mulai dari renegosiasi dengan karyawan, berusaha menambah order, optimalisasi aset, dan menghadapi proses kasasi oleh kreditur.

Dalam menjalankan perusahaan, saya berpegang pada tiga kunci sukses William Shakespeare. Yaitu: tahu lebih banyak dari orang lain, berusaha lebih keras dari orang lain, berharap lebih sedikit dari orang lain. Dengan begitu, saya jarang kecewa namun tetap siap bekerja keras dan cerdas.

Yang pertama saya lakukan adalah menentukan skala prioritas untuk menyelesaikan masalah. Motonya: "Bergerak lebih cepat, dengan strategi 3F". F yang pertama adalah New Focus alias fokus terhadap bisnis baru. F kedua adalah New Friend, yaitu membuat networking yang baru. F yang ketiga, New Face, yaitu membuat zero karyawan dengan memberikan tantangan yang luarbiasa. Pasalnya, saya berpendapat perusahaan ini harus diisi oleh orang-orang baru yang mempunyai prestasi baik dan untuk orang lama harus lulus assessment. Dengan begitu, perusahaan dalam posisi zero karyawan akan diisi orang dari luar dengan masa percobaan enam bulan dan karyawan lama yang lulus assessment.

Untuk menghadapi tantangan ke depan dan supaya Djakarta Lloyd menjadi BUMN unggulan, saya menerapkan "3E". Pasalnya, kalau hanya "2E", yaitu Efektif dan Efisien, tidak cukup. Makanya, harus ada E yang ketiga yaitu Edan. Maksudnya adalah Effulgence atau brilian atau terobosan, yaitu dengan merangkul orang-orang yang selama ini berseberangan.

Saya merangkul para karyawan yang selama ini berdemonstrasi. Saya sampaikan kepada mereka: "Saya harus fokus agar bisa membayar gaji kalian."

Banyak pihak lain yang dirangkul dengan tujuan semata-mata untuk meluruskan jalan saya mencapai target perusahaan. Selain itu, setelah restrukturisasi karyawan, saya memasukkan 60% SDM (sumberdaya manusia) baru yang berasal dari swasta. Harapannya, karyawan tersebut bisa memberikan motivasi dan meningkatkan kinerja karyawan lama yang telah mengikuti assessment.

Untuk level manajemen, diisi dengan orang profesional yang digaji triwulan dengan sistem targeting. Jadi, jika tidak memenuhi target evaluasi per tiga bulanan maka karyawan tersebut akan keluar dari perusahaan. Kontrak satu tahun dibuat bagi pegawai baru. Saya juga menghapus sistem perekrutan karyawan yang berbasis saudara untuk meningkatkan profesionalisme perusahaan.

Saat ini, Djakarta Lloyd mempunyai 32 karyawan kontrak dan 6.500 pegawai lepas. Untuk kantor cabang, Djakarta Lloyd mempunyai 13 karyawan. Ke depan, 13 karyawan di 10 cabang itu akan dibenahi sehingga posisi mereka sama dengan karyawan kontrak yang baru masuk. Semua karyawan wajib menandatangani pakta integritas yang mengharuskan mereka mundur jika tidak mencapai target dan melakukan pelanggaran serius.

Strategi komunikasi
Strategi komunikasi juga digunakan untuk menyelesaikan masalah perusahaan. Saya berkomunikasi dengan karyawan sehingga mayoritas karyawan sukarela mengundurkan diri dengan harapan seluruh hak-haknya akan tetap menjadi utang perusahaan. Sebagai shock therapy, perusahaan menyerahkan beberapa karyawan senior ke pihak kejaksaan karena melakukan kecurangan. Terapi ini cukup ampuh meredam gejolak karyawan.

Komunikasi juga dilakukan dengan para pensiunan agar mereka bersedia ditangguhkan pembayaran uang pensiunnya sampai perusahaan mampu. Dengan begitu, hiruk-pikuk demonstrasi mereda. Dalam menyelesaikan kewajiban dan utang, kami juga berkomunikasi dengan para kreditur.

Kami mengajukan perjanjian perdamaian dengan seluruh kreditor melalui proses PKPU di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Pengadilan mengesahkan akta perdamaian itu setelah memalui voting yang mendebarkan.

Sebelumnya, kami telah melobi beberapa kreditur besar, di antaranya Bank Mandiri. Mereka kami dorong untuk menyetujui isi perdamaian. Sebab, kalau tetap memailitkan Djakarta Lloyd, maka mereka tak akan memperoleh apa pun. Akhirnya disepakati PKPU sebesar Rp 1,5 triliun, dikurangi dengan utang kepada negara berupa pinjaman rekening dana investasi (RDI) dan kewajiban pajak yang dikecualikan. Kreditur sepakat pemotongan sebesar 32,5% dari jumlah utang yang jangka waktunya diperpanjang menjadi 18 tahun. Seluruh utang itu menjadi menjadi saham sementara (debt to equity swap).

Pada 14 Mei lalu, seluruh proses perdamaian tuntas. Dengan begitu, struktur keuangan Djakarta Lloyd menjadi lebih baik. Utang tinggal Rp 200 miliar sampai Rp 300 miliar. Saya optimistis perusahaan ini bisa menyelesaikan seluruh kewajiban kepada kreditur dan karyawan jika melihat laporan keuangan yang positif. Pada 2015 ditargetkan perusahaan mengalami sustainable growth, setelah pada 2012 mengalami rebound dan tahun ini mencapai tahap one step ahead.

Ke depan, saya berambisi membawa Djakarta Lloyd menjadi BUMN yang disegani di dalam negeri maupun di luar negeri. Selain itu, seiring dengan penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015, Djakarta Lloyd diharapkan bisa menjadi perusahaan yang mengatur manajemen kargo nasional.


Sumber : KONTAN, 26.09.14.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar