02 November 2015

[021115.ID.BIZ] Gara-gara Asap, Perusahaan Logistik Rugi Banyak

JAKARTA. Bencana kebakaran hutan dan lahan gambut wilayah Sumatera dan Kalimantan telah berdampak luas. Tidak hanya persoalan sosial masyarakat setempat, tetapi juga menghambat sektor perekonomian.

Selain kerugian materiil berupa lumpuhnya kegiatan perekonomian masyarakat yang diakibatkan oleh bencana kabut asap dari hasil pembakaran hutan, kerugian imateriil juga tidak kalah besarnya dirasakan penduduk sekitar.

Akibat kabut asap tebal yang terjadi, sekolah-sekolah di daerah terkena dampak bencana diliburkan. Warga masyarakat juga terkena infeksi saluran pernafasan (ISPA). Mobilitas masyarakat juga terganggu. Tak heran akibat kondisi tersebut, banyak warga yang mengungsi menghindar hingga ke pulau Jawa.

Salah satu sektor ekonomi yang dirugikan dari kejadian ini adalah di bidang jasa pengiriman logistik. "Ada dua kerugian yang ditanggung pengusaha jasa logistik, selain lost opportunity dari pengusaha logistik, juga kerugian dari pihak penerima barang," kata Sekretaris Wilayah Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Jakarta Adil Karim, Minggu (1/11).

Dari kejadian kabut asap yang terjadi itu, pengiriman barang melalui moda transportasi udara yang paling terkena dampaknya. Namun sayang, Adil tidak dapat memperkirakan angka kerugian akibat tertundanya pengiriman barang tersebut.

Yang pasti, komplain dari para pelanggan akibat keterlambatan pengiriman barang itu pasti terjadi. Seperti diketahui, akibat kabut asap yang terlalu tebal mengakibatkan otoritas bandara memberlakukan skema buka tutup.

Meski tidak merinci, total pengangkutan logistik menggunakan jasa pesawat terbang ke wilayah Sumatera dan Kalimantan sekitar 20%. Sisanya menggunakan kapal laut atau jalur darat. Beberapa barang yang dikirim ke wilayah Sumatera dan Kalimantan tersebut antara lain produk garmen dan tekstil.

Mayland Hendar Prasetyo Head of Marketing Communications Division JNE mengatakan, bencana asap ini mengakibatkan terganggunya proses pengirman ke beberapa kota seperti Pekanbaru, Jambi, Medan, Pontianak dan Palangkaraya mengalami keterlambatan.

Akibatnya, JNE pun untuk sementara tidak menjual pengiriman dengan menggunakan layanan premium, seperti YES (Yakin Esok Sampai) dan SS (Super Speed). "Untuk nilai kerugian sampai saat ini belum dapat kami publish," kata Mayland.

Untuk antisipasi pengiriman ke wilayah yang terganggu asap tersebut, JNE melakukan pengiriman ke kota atau bandara terdekat yang kondisinya lebih baik, untuk kemudian sampaikan ke kota tujuan melalui jalur darat.

Sebelumnya, akibat bencana kebakaran hutan ini diperkirakan kerugian negara yang dialami mencapai lebih dari Rp 20 triliun. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri hingga saat ini sudah memanfaatkan dana sebesar Rp 500 miliar untuk menangani persoalan ini.

Sumber : Kontan, 01.11.15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar