11 Februari 2016

[110216.ID.BIZ] Unilever Terkendala Listrik dan Gas



JAKARTA. Anak usaha PT Unilever Indonesia Tbk, yakni PT Unilever Oleochemical Indonesia, masih menghadapi kesulitan dalam mengoperasikan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Simalungun, Sumatra Utara. Meski resmi beroperasi  sejak akhir November 2015, pabrik tersebut belum mampu berproduksi secara maksimal.

Sancoyo Antarikso, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Unilever Indonesia Tbk bilang, saat ini utilisasi pabrik tersebut baru mencapai 80%. Penyebab kapasitas pabrik tidak bisa melaju maksimal adalah karena kurangnya pasokan listrik ke pabrik ini.

Dari 12 megawatt (MW) yang dibutuhkan untuk menjalankan mesin, pasokan yang tersedia baru 8 MW. "Ini karena gangguan jaringan dan belum siapnya gardu induk tegangan tinggi di KEK Sei Mengkei," kata Sancoyo kepada KONTAN, Rabu (3/2).

Selain masalah pasokan listrik, Sancoyo juga meminta pasokan gas bisa segera berhembus ke pabriknya. Kabar terakhir yang diterima Sancoyo, sambungan pipa gas tersebut akan menghampar awal tahun 2016 ini. "Kami berharap bisa mendapatkan pasokan gas dengan harga yang kompetitif," ucap Sancoyo.

Dengan mengoperasikan 80% kapasitas pabrik, Sancoyo mengklaim telah menyerap 400 orang tenaga kerja langsung dan 2.000 tenaga kerja tak langsung. Selain membuka lapangan pekerjaan, Sancoyo bilang, pabrik tersebut juga membuka peluang kerjasama dengan petani sawit setempat untuk memasok. Dalam menggandeng petani tersebut, Unilever menggandeng PT Perkebunan Nusantara III dan IDH.

Pabrik Unilever Oleochemical di Sei Mangkei memiliki kapasitas produksi maksimal 200.000 ton per tahun. Pabrik ini merupakan pabrik fatty acid terintegrasi Unilever terbesar di dunia.

Sekitar 85% hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan Unilever di luar negeri dan domestik. Adapun, 15% untuk kebutuhan pihak lain di luar Unilever. "Kami baru beroperasi Desember 2015, masih bertahap memenuhi permintaan ekspor ke Unilever di negara lain," jelas Sancoyo.

Selain soal pabrik tersebut, Sancoyo enggan membicarakan rencana bisnisnya sepanjang tahun 2016 ini. "Kami akan terus berinvestasi di Indonesia untuk jangka panjang," ujar Sancoyo.

Catatan saja, investasi Unilever di Sei Mangkei tersebut menelan dana Rp 2 triliun. Pabrik tersebut menempati lahan 18 hektare (ha). Selain memproduksi fatty acid, pabrik itu juga memproduksi surfactant, glycerin, dan soap noodle.

Produk-produk tersebut akan menjadi bahan baku produksi sabun, sampo dan detergen. Sebanyak 85% hasil produksi akan diekspor ke luar negeri.

Sumber : Kontan, 04.02.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar