28 Mei 2014

[280514.ID.BIZ] PHK 4.900 Buruh, Sampoerna Salah Prediksi Pasar Rokok Kretek



MERDEKA.COM. PT Hanjaya Mandala (H.M) Sampoerna menyebut Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 4.900 buruh pelinting di Lumajang dan Jember, Jawa Timur, menyedihkan. Manajemen mengakui keliru membaca perkembangan pasar rokok, khususnya jenis Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Tanah Air.

Direktur Corporate Affair H.M Sampoerna Yos Adiguna Ginting menyatakan, pabrik di Jawa Timur itu sebetulnya belum sampai tiga tahun berjalan. Bahkan, pabrik di Jember baru beroperasi satu tahunan lebih.

Ekspansi di Jawa Timur dilakukan, lantaran manajemen membaca data bahwa pangsa pasar SKT di Indonesia meningkat pada 2011. Pada 2010, angka penjualan SKT sekitar 74 miliar batang, kemudian setahun berikutnya menjadi 79 miliar batang, dan 80 miliar batang pada 2012.

"Karena pada 2011 ada kenaikan (permintaan), karena ini SKT maka kalau butuh peningkatan kapasitas produksi ya menambah tenaga kerja," ujarnya kepada merdeka.com, di Jakarta, Rabu (26/5).

Prediksi perseroan meleset, ternyata bulan madu bisnis kretek tanpa filter hanya berlangsung beberapa bulan. Pada 2013, penjualan SKT secara nasional langsung terjun bebas, menjadi cuma 74 miliar batang.

Perseroan terlanjur menambah pabrik dan langsung menjadi limbung. Manajemen mengaku tidak mengetahui mengapa konsumen ramai-ramai beralih membeli Sigaret Kretek Mesin (SKM) alias rokok filter serta produk mild. "Tapi kan pasar memang begitu, dulu wartel laris kemudian tidak lagi. Penyebabnya kompleks, yang bisa saya katakan preferensi konsumen berubah," kata Yos.

Sejak tahun lalu, manajemen sudah ancang-ancang mengurangi buruh pelinting. Jam kerja pabrik dikurangi, ada libur dua hari dalam sepekan, sampai sebagian buruh yang berusia tua ditawarkan pensiun dini.

Kondisi tidak membaik tersebut, membuat perseroan memutuskan dua pabrik di Jatim tidak dapat dipertahankan. Sebab, penurunan pangsa pasar segmen kretek tanpa filter mencapai 23 persen sepanjang 2013. "Kita sebenarnya sulit sekali mengambil keputusan ini. Tapi itu harus dilaksanakan demi baiknya perusahaan juga," kata Yos.

Untuk memproduksi seluruh SKT-nya, Sampoerna selama ini memanfaatkan tujuh pabrik dan 38 perusahaan mitra. Dengan penutupan di Jember dan Lumajang, alhasil pabrik rokok yang saham mayoritasnya dikuasai konsorsium Phillip Morris ini tinggal mengoperasikan lima pabrik milik sendiri.

Sedangkan untuk pabrikan mitra, Yos mengaku menyerahkan penyesuaian jumlah pegawai masing-masing. Sampoerna pun sudah mengurangi pesanan rokok dari mitranya.

Sumber : Merdeka, 28.05.14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar