31 Mei 2014

[310514.ID.BIZ] Sampoerna Yakin Buruh Linting Setujui Skema Pesangon PHK


MERDEKA.COM. PT Hanjaya Mandala (H.M) Sampoerna Tbk resmi merumahkan 4.900 buruh pelinting Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Lumajang dan Jember, Jawa Timur secara efektif per 16 Mei lalu. Saat ini, pembahasan pesangon masih dilakukan dengan para buruh.

Direktur Corporate Affair H.M Sampoerna Yos Adiguna Ginting meyakini para buruh linting itu mayoritas menerima skema pesangon yang ditawarkan perusahaan. Soalnya, kompensasi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) diklaim sangat lengkap. "Mereka berhenti bekerja 16 Mei, tapi mereka masih diberi gaji sampai 31 Mei dan diberi topangan pelatihan," ujarnya kepada merdeka.com di Jakarta, Rabu (28/5).

Yos mengungkapkan, ada perbedaan skema pesangon bagi buruh di dua kabupaten itu. Bagi para pekerja pabrik Jember, diberikan pesangon 2 kali dari PMTK, ditambah uang tambahan sesuai kebijakan perusahaan setara gaji empat bulan. Ini karena pabrik itu beroperasi belum genap dua tahun. "Di dalamnya sudah ada komponen Tunjangan Hari Raya, sementara sebenarnya hak THR belum akan muncul," ujarnya.

Skema pesangon berbeda diberikan pada buruh untuk pabrik Lumajang. Sebab, di sana ada serikat pekerja yang memimpin negosiasi dengan manajemen. Pabrik ini juga sudah beroperasi mendekati tiga tahun.

"Sesuai perundingan, yang disepakati bagi pekerja dengan masa kerja sampai 1 tahun, maka pesangon sesuai UU tenaga kerja yaitu dua kali PMTK ditambah 4 bulan upah. Sedangkan yang masa kerjanya sampai 2 tahun, ditambah 6 bulan upah," ungkap Yos.

Di luar pesangon, 4.900 buruh yang dipecat mendapat pelatihan wirausaha. Sampoerna mengaku menyerahkan proses pelatihan kepada Dinas Tenaga Kerja setempat. "Ada tiga jenis pelatihan yang akan diberikan Juni nanti, yaitu pelatihan motivasional, pelatihan manajemen pengelolaan keuangan sederhana, dan kewirausahaan," kata Yos.

Manajemen pusat Sampoerna mengklaim sampai sekarang tidak ada penolakan dari para pekerja. Kendati PHK ini memukul perusahaan, tapi Yos merasa itu sekaligus memberi kesempatan buruh pelinting untuk menjajal kerja di sektor usaha lain.

"Tidak ada tuntutan dari para pekerja. Mereka memahami dan malah menghargai kepatuhan perusahaan pada undang-undang ketenagakerjaan," katanya.

Pabrik rokok yang saham mayoritasnya dikuasai konsorsium Phillip Morris ini menutup dua pabrik SKT itu, lantaran penjualan turun. Konsumen di Indonesia kini lebih suka rokok filter atau mild. Penurunan pangsa pasar segmen kretek tanpa filter mencapai 23 persen sepanjang 2013. "Kita sebenarnya sulit sekali mengambil keputusan ini. Tapi itu harus dilaksanakan demi baiknya perusahaan juga," kata Yos.

Untuk memproduksi seluruh SKT-nya, Sampoerna selama ini memanfaatkan tujuh pabrik dan 38 perusahaan mitra. Dengan penutupan di Jember dan Lumajang, alhasil pabrik rokok yang dikenal lewat merek Dji Sam Soe dan A Mild ini tinggal mengoperasikan lima pabrik milik sendiri.

Sumber : Merdeka, 29.05.14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar