21 Desember 2014

[211214.ID.BIZ] Toyota Pesimistis Pasar Otomotif Nasional Tumbuh 2015

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- PT Toyota Astra Motor Surabaya pesimistis pasar otomotif nasional tumbuh pada semester pertama tahun 2015. Itu karena sejumlah kebijakan pemerintah pada tahun 2014 telah menurunkan angka penjualan kendaraan roda empat.

"Penyebab melambatnya penjualan mobil tahun 2014 juga dipengaruhi banyaknya calon pembeli yang menahan uangnya," kata Kepala Cabang Auto 2000 Kertajaya, Hasan, di Surabaya, Sabtu (20/12).

Selain itu, ungkap dia, pada saat ini mayoritas investor lebih memilih mengalihkan investasinya ke instrumen lain. Hal tersebut dilakukan sembari menunggu kondisi perekonomian di Tanah Air kembali stabil.

"Pada tahun ini kebijakan BI Rate, tingginya inflasi, tahun politik, serta kenaikan harga BBM subsidi sedikit menghambat pertumbuhan penjualan," ujarnya.

Meski demikian, jelas dia, pihaknya telah memiliki pasar otomotif yang cukup kuat baik secara nasional maupun regional. Bahkan didukung oleh beberapa tipe mobil seperti Avanza, Innova, dan Agya. "Ketiga merek mobil tersebut kini sudah menguasai pasar di wilayah kerja kami," katanya.

Saat ini, tambah dia, Innova telah memiliki penguasaan pasar mencapai 80 persen, disusul Agya 42 persen, dan Avanza 39 persen. Di sisi lain, untuk Toyota seluruh tipe saat ini menguasai pasar nasional sebesar 35 persen.

"Bahkan kondisi itu didukung oleh peluncuran Agya. Walau baru dikenalkan setahun lalu kini sudah bisa melewati pasar Avanza," katanya.

Untuk meningkatkan animo pasar, sebut dia, pihaknya melaksanakan Toyota Expo 2014 antara tanggal 15-21 Desember 2014 di Ciputra World Surabaya. Kegiatan tersebut ditargetkan bisa membukukan angka penjualan 300 unit.

"Agenda ini kami fokuskan bagi calon pembeli. Khususnya mereka yang ingin berinvestasi sebelum diberlakukannya harga baru," katanya.

Ia optimistis, pelaksanaan pameran tersebut sekaligus mampu membantu perusahaan untuk memenuhi target penjualan yang sedikit melambat tahun 2014. Situasi itu tidak hanya dialami perseroannya melainkan produsen mobil lainnya.

Sumber : Republika, 20.12.14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar