29 Desember 2014

[291214.ID.SEA] Penggabungan BUMN Pelindo Mendesak Direalisasikan

Bisnis.com, JAKARTA—Penggabungan manajerial BUMN Kepelabuhanan nasional (Pelindo I s/d IV) dinilai sudah sangat mendesak untuk memperbesar kapasitas tampung pelabuhan Indonesia yang melayani kegiatan ekspor impor.

Dengan penggabungan BUMN Kepelabuhanan itu juga akan mengefisiensikan aktivitas logistik karena birokrasi layananan logistik di sector angkutan laut akan lebih efisien.

“Kalau sudah ada holding BUMN Pelabuhan, pengguna jasa atau shipping line (perusahaan pelayaran) cukup datang ke Jakarta dalam penyelesaian urusan bisnisnya,” ujar Dirut Pelindo II RJ Lino dalam konprensi pers Diskusi akhir tahun Kepelabuhanan yang diselenggarakan IPC, di Jakarta hari ini, Senin (29/12).

Diskusi itu juga di ikuti kalangan asosiasi pelaku usaha al; Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi), Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI), Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI), Indonesia National Shipowners Association (INSA), dan Dewan Pengguna  Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo).

Lino menegaskan, rencana penggabungan Pelindo I-IV sudah digagas cukup lama bahkan sekitar setahun lalu sudah ada kesepakatan bersama antara Direksi Pelindo I-IV untuk memuluskan pembentukan holding BUMN jasa kepelabuhanan tersebut.

“Penggabungan Pelindo I s/d IV sudah ada kesepakatan antar direksi sejak setahun lalu. Kalau itu digabungkan, bisa menekan cost logistik karena perusahaan pelayaran hanya perlu ke Jakarta dalam urusan penyelesaian bisnisnya,” paparnya.

Dia juga mengatakan, pengembangan/pembangunan pelabuhan di Indonesia mesti fokus pada satu titik yang terkonsentrasi dengan sistem logistik nasional. Karena itulah, ujar dia, wacana menghadirkan pelabuhan Cilamaya Jawa Barat justru akan membuyarkan konsentrasi menjadi pelabuhan Indonesia sebagai pengumpul atau Hub yang ideal.

“Untuk mewujudkan pelabuhan yang besar kita sedang fokus menyiapkan pelabuhan baru New Priok, jadi kalau ada yang bicara soal Cilamaya itu saya kira itu ngawur. Kenapa saya bilang ngawur soal Cilamaya, sebab kalau kita bangun 2 sampai 3 pelabuhan di pulau Jawa ini maka tidak ada konsentrasi besar di Priok”paparnya.

Lino mengatakan,kehadiran New Priok akan diarahkan sebagai kompetitor terminal peti kemas yang sudah ada saat ini. “New Priok itu nantinya bisa jadi kompetitor JICT dan TPK Koja sehingga pengguna jasa punya pilihan layanan,”ucapnya.

Pengurus  DPP ALFI Anwar Satta mengatakan, pemerintah semestinya juga memfokuskan pengembangan akses darat dan buffer area/penyangga pelabuhan Tanjung Priok. “Sekarang ini akses darat ke pelabuhan Priok itu krodit sekali, dulu terucking bisa bolak balik tiga kali dari Wilayah Cibitung ke Priok, tetapi sekarang ini satu kali saja sulit,” ujarnya.


Sumber : Bisnis Indonesia, 29.12.14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar