03 Mei 2015

[030515.ID.BIZ] Ekonomi Jepang Masih Rapuh

Kabar24.com, TOKYO--Produksi industri Jepang sepanjang Februari anjlok, menambah tekanan terhadap konsumsi dan inflasi, serta memperkuat dugaan rapuhnya perekonomian domestik.

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan produksi melembam 3,4% dari posisi Januari, saat angka produksi melejit hingga 3,7%. Capaian Februari itu lebih rendah dibandingkan dengan konsensus ekonom yang mengestimasi penurunan produksi hanya mencapai 1,9%.

Angka itu sekaligus menjadi yang terendah sejak Juni 2014 dan kian menegaskan perbaikan ekonomi Jepang yang masih saja rapuh sejak resesi tahun lalu. Tim ekonomi dari Mizuho Securities Co. juga memprediksi musim liburan selama bulan lalu turut memangkas permintaan ekspor yang berujung pada kontraksi produksi.

Perbaikan pada pengeluaran konsumen melambat sejak kenaikan pajak penjualan pada April dan ekspor juga belum kuat. Masih terlalu dini untuk optimistis terhadap ekonomi, kata Direktur Riset Ekonomi NLI Research Institute Taro Saito, Senin (30/2).

Secara lebih rinci, produksi tercatat turun pada 12 subkelompok industri dari total 15 subkelompok. Produksi di sektor komputer dan perlengkapan teknologi informasi lainnya anjlok 7,6% sedangkan produksi elektronik turun 7,4%. Adapun, pasokan meningkat 0,5% seiring dengan melemahnya produksi dan ekspor.

Secara terpisah, ekonom dari Citigroup Inc. Kiichi Murashima menilai aktivitas produksi sedang kehilangan momentumnya. Dia bahkan memproyeksikan angka produksi kuartal I/2015 hanya akan bertumbuh 1,1% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Sementara itu indeks harga konsumendi luar makanantak bergerak selama Februari, dipicu oleh ambruknya harga minyak yang mendorong tren deflasi. Pada rentang waktu yang sama data penjualan rumah pun turut anjlok 2,9% secara yoy sekaligus menandai depresiasi selama 11 bulan beruntun. Di sisi lain, penjualan ritel pun melembam 1,8%.

Data Bank of Japan (BoJ) menunjukkan nilai pengiriman barang ke luar negeri sepanjang Februari terkontraksi 7% dari posisi bulan sebelumnya yang mencatatkan kenaikan 2%. Sementara itu ekspor riil, yang menyertakan perubahan harga, tergerus hingga 8,6%.

Upaya Jepang untuk bangkit dari resesi dinilai tak sesignifikan estimasi analis. Serangkaian data perekonomian masih mensinyalkan perlambatan, termasuk perusahaan yang kompak memutuskan untuk memangkas investasinya.

Pemerintah bahkan mengancam akan mengenakan pajak yang lebih besar jika perusahaan menahan belanjanya karena hal itu dipastikan berimbas buruk pada perekonomian.


Sumber : Bisnis Indonesia, 30.03.15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar