29 September 2015

[290915.ID.BIZ] Kereta Api Kaltim: Ini Mimpi Megawati Tentang “Si Ular Besi”

Bisnis.com, SAMARINDA - Ketika masyarakat di Ibukota meributkan rencana pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung, penduduk di Kalimantan justru masih menganggap sarana transportasi tersebut seperti mimpi di siang bolong. 

Saya bertemu dengan Megawati, 22, dalam perjalanan bus Samarinda-Balikpapan di pengujung Agustus. Sore itu dia mengenakan seragam serba putih. Mega adalah mahasiswi tingkat akhir di sebuah sekolah tinggi keperawatan di Samarinda.

Gadis ini lahir di Balikpapan tetapi kini menetap di Penajam Paser Utara (PPU). Setiap akhir pekan, dia meninggalkan Samarinda untuk pulang ke rumah orang tuanya.

Seperti banyak penduduk Kalimantan lainya, keluarga Mega adalah pendatang dari Banyuwangi, Jawa Timur.

Selepas Idul Fitri lalu, Mega dan keluarganya mudik ke tanah leluhurnya tersebut. Mereka mengambil penerbangan Balikpapan-Surabaya sebelum melanjutkannya dengan mobil sewaan.

Bagi Mega, ini merupakan kesempatan langka. Tak heran jika dia menyimpan keinginan yang mustahil didapatkan di Kalimantan.

“Aku ingin lihat kereta api,” ujarnya singkat.

Ketika para pekerja di ibu kota harus berdesakan setiap hari di KRL, melihat kereta api beroperasi rupanya sudah cukup membuat seorang mahasiswi di Kalimantan Timur berbahagia.

Bagi telinga saya yang terbiasa melihat ‘ular besi’ berlalu lalang di Jakarta, keinginan sederhana Megawati terdengar absurd.

Namun, impian itu jelas mewakili angan-angan penduduk Kalimantan lainnya. Bagi mereka yang tidak pernah keluar dari pulaunya, kereta api hanya bisa dibanyangkan di kepala. Persis seperti impian penduduk ibu kota terhadap Shinkansen di Jepang.

Pemerintah bukan menutup mata. Beberapa kali wacana jalur kereta api Trans Kalimantan digulirkan. Faktanya, berkali-kali juga rencana tersebut diredam karena ketidakmampuan APBN untuk membiayai.

Tahun ini, pemerintah provinsi Kalimantan Timur kembali menebar harapan. Gubernur Kaltim Awang Faroek baru saja kembali dari Rusia membawa kabar gembira bagi masyarakat ‘Benua Etam’.

Pihaknya mengklaim berhasil merayu Russian Railways untuk menggelontorkan investasi membangun jalur kereta api di provinsi ini. Groundbreaking dijadwalkan dilakukan pada 17 November 2015.

“Kami menyadari keuangan negara tidak akan sanggup membangun kereta api di Kalimantan. Jadi kami menggandeng investor untuk merealisasikan rencana tersebut,” katanya, Kamis (24/9/2015) lalu.

Rencananya, jalur kereta api akan dibangun sepanjang 196 kilometer dari Kabupaten Kutai Barat hingga Balikpapan. Pihak Russian Railways juga akan bertanggungjawab membangun 23 jembatan di jalur tersebut.

Awang juga menjanjikan sarana tersebut tidak hanya ditujukan bagi angkutan barang semata. Kereta impian ini juga disiapkan agar bisa mengangkut penumpang dari pedalaman di Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Paser, PPU, dan Balikpapan.

Tentu masih terlalu dini untuk berpesta menyambut rencana tersebut. Sudah terlalu lama pasalnya pembangunan kereta api sekadar menjadi semacam janji kosong atau "pemberi harapan plasu alias ‘PHP’ bagi masyarakat Kalimantan.

Apalagi dana yang diperlukan juga tidak sedikit. Sebelumnya, sempat beredar kabar pembangunan jalur kereta ini membutuhkan hingga Rp17 triliun.

Kepala Dinas Perhubungan Kalimantan Timur Zairin Zain yang juga ikut dalam rombongan gubernur ke Rusia enggan mengonfirmasi besaran dana tersebut.

Meskipun groundbreaking akan dilakukan kurang dari dua bulan lagi, dia menuturkan pihak Russian Railways masih menghitung rencana investasi yang dbutuhkan.

“Desain dan survei lapangannya masih diselesaikan jadi nilai investasinya belum bisa diketahui,” katanya saat ditemui Bisnis, Kamis (24/9).

Zairin hanya menjelaskan proyek ini kemungkinan besar baru bisa diselesaikan pada 2020. Itupun dengan catatan jika groundbreaking dan pembangunannya berjalan lancar. Persoalan utama yang akan menghambat adalah soal pembebasan lahan.

Ini bukan persoalan sembarangan. Pemprov Kaltim sudah merasakan batunya dalam pembangunan jalan tol Balikpapan-Samarinda. Di beberapa ruas, pemerintah daerah kesulitan meyakinkan masyarakat agar mau merelakan tanahnya.

Awang pun meminta masyarakat mau bekerja sama untuk memuluskan rencana tersebut. Bagi perusahaan perkebunan dan pertambangan, dia bahkan mengultimatum akan mencabut izin usaha jika mereka enggan bekerja sama dalam hal penyediaan lahan. Menurut Awang, kemudahan pembebasan lahan memang menjadi syarat utama yang diminta pihak Russian Railways.

Pangkas ongkos logistik

Pelaku usaha memang pantas bertepuk tangan jika rencana ini terealisasi. Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim M. Slamet Brotosiswoyo menuturkan kereta api bakal menurunkan biaya logistik. Dia menceritakan selama ini distribusi barang ke sejumlah daerah memang terkendala jalur transportasi yang buruk.

Melalui jalur darat, pengusaha logistik dihadapkan pada jalan yang akan menjadi genangan lumpur saat musim penghujan.

Saiful Huda, seorang pengusaha logistik di Samarinda, menceritakan sudah menjadi hal yang lumrah bagi supir untuk bermalam di hutan saat jalan terputus karena longsor atau musim penghujan. Bahkan beberapa daerah nyaris terisolir karena belum ada transportasi darat yang memadai.

“Jalan lintas di Kalimantan memang sangat sulit diprediksi. Jalan yang biasanya bisa ditempuh 12 jam bisa jadi 3 hari 3 malam di musim hujan,” katanya belum lama ini.

Menggunakan jalur sungai juga sebelas duabelas. Slamet menuturkan sungai tidak bisa dilewati sepanjang waktu. Di musim hujan, arus air kadang terlalu besar sehingga membahayakan pengguna. Di musim kemarau, debit air sungai merosot tajam yang membuat kapal mustahil melintas.

Tidak heran jika Slamet menyambut gembira rencana pembangunan jalur kereta api ini. Di sisi lain, dia juga memperingatkan pemerintah provinsi terkait dengan pola kerja sama dengan pihak Rusia. Kendati sangat dibutuhkan, dia berharap kolaborasi tersebut justru tidak merugikan Kalimantan Timur di masa mendatang.

Di sisa masa jabatannya yang tinggal 3 tahun lagi, Gubernur Awang Faroek memang makin gemar menebar harapan. Soal terealisasi atau sekadar menjadi ‘PHP’ tentu masih butuh waktu. Namun, kita tentu berharap Mega dan generasi selanjutnya tidak perlu lagi menyeberang ke Pulau Jawa hanya untuk menonton kereta.


Sumber : Bisnis Indonesia, 27.09.15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar