28 Desember 2013

[281213.ID.BIZ] Akhir Tahun Suram Bagi Transaksi Bisnis

Indonesia pada bulan-bulan awal 2013 menjadi ladang subur bagi korporasi untuk melakukan transaksi bisnis seperti pelepasan saham atau merger dan akuisisi. Namun dalam kancah ini, suasana akhir tahun begitu mengecewakan. Dengan bayangan pemilihan umum dan ancaman penarikan modal keluar dari negara berkembang tahun depan, situasi ini kemungkinan tidak akan membaik dalam waktu dekat.

Pada Maret, perusahaan private equity CVC Capital Partners sukses menggalang $1,3 miliar dengan menjual sahamnya di PT Matahari Department Stores ke bursa saham. Nilai transaksi itu 27 kali lebih besar dari proyeksi pendapatan Matahari tahun 2013, dan hampir lima kali lipat diminta lebih banyak dari jumlah saham yang ditawarkan atauoversubscribed. Hal ini pun memicu optimisme di pasar.

Dalam hitungan bulan, akuisisi terbesar tahun ini di Indonesia tercatat saat firma private equity TPG Inc sepakat menjual 40% saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional ke perusahaan Jepang, Sumitomo Mitsui Financial Group Inc, seharga sekitar $1,56 miliar, menurut penyedia data Dealogic.

Meski demikian, sentimen positif ini luntur pada pertengahan tahun saat bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve alias Fed, mengangkat kemungkinan mengurangi program pembelian obligasinya. Rencana ini mendorong investor menarik modalnya dari negara berkembang. Tetapi sebelum kekhawatiran soal usainya kebijakan easy money Fed, transaksi pasar modal di Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.

“Tantangannya dimulai saat kondisi ekonomi masih baik. Terdengar kecemasan soal batasan kepemilikan asing, soal sentimen nasionalis,” ujar Haryanto Budiman, direktur J.P. Morgan Indonesia. Menurut Haryanto, tren ini dipicu oleh kepercayaan diri pemerintah yang berlebihan atas ekonomi Indonesia.

Akuisisi terbesar sepanjang sejarah Indonesia pun gagal pada Juli, saat DBS Group Holdings asal Singapura batal membeli 67,4% saham PT Bank Danamon Indonesia. Keputusan diambil setelah pemerintah menerapkan aturan kepemilikan yang mempersulit akuisisi: DBS hanya diizinkan membeli 40% saham. Pemerintah mengatakan DBS dapat memborong keseluruhan saham Bank Danamon jika Singapura menunjukkan “balas budi” dengan mengizinkan bank-bank Indonesia membuka lebih banyak cabang di negara-kota itu.

“Kami semua yakin bahwa secara fundamental Indonesia cukup kuat,” ujar Haryanto. Ia mengatakan ekonomi Indonesia didorong oleh besarnya populasi (250 juta orang), meningkatnya daya beli kelas menengah, dan kekayaan sumber daya alam. “Semua elemen untuk menjadi negara berekonomi besar dunia sebenarnya dimiliki Indonesia. Meski demikian, Indonesia tengah dihadapkan pada tantangan jangka pendek dalam 12 sampai 18 bulan ke depan.”

Pemilihan umum legislatif dijadwalkan akan berlangsung April dan pemilu presiden akan digelar Juni. Dengan habisnya periode kepresidenan kedua dan terakhir Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pergantian kepemimpinan adalah hal niscaya. Namun, ketidakpastian mengenai calon penggantinya membuat para investor ragu. Mereka enggan menanamkan modal di industri yang kemungkinan akan menjadi objek perubahan regulasi. Pemerintah baru-baru ini memang mengindikasikan pelonggaran dalam regulasi kepemilikan pelabuhan laut dan udara, serta jalan kereta api. Namun, hingga pemerintahan baru terpilih, sulit merasa nyaman dengan regulasi baru.

“Dalam jangka pendek, aktivitas merger dan akuisisi sepertinya akan terkena dampak pemilu mendatang,” ujar Ruben Bhagobati, kepala urusan merger dan akuisisi Goldman Sachs Asia Tenggara.

Indonesia dapat sedikit bernapas lega pada pertengahan September, saat Fed menunda pengurangan stimulus dana. Namun, membaiknya indikator perekonomian AS memicu spekulasi bahwa Fed dapat mengumumkan pemangkasan pembelian obligasi pekan ini. Hal tersebut dapat menjungkalkan nilai rupiah, yang telah terdepresiasi 20% sejak awal Mei dan menjadi mata uang berkinerja terburuk di Asia tahun ini. Situasi itu akan mempersulit valuasi terhadap perusahaan Indonesia.

Gelombang optimisme dan keraguan yang silih berganti telah membuat bursa saham bergejolak. Indeks harga saham gabungan di Bursa Efek Indonesia naik 22% dari awal tahun hingga mencapai puncaknya pada Mei. Namun, pada akhir Agustus, indeks memasuki teritori merah. Sejak itu, indeks bergejolak dan turun 4,4% year-to-date. Keadaan demikian membuat para investor berupaya mendapatkan penawaran murah di pasar modal dan penawaran saham perdana (IPO).

Oktober lalu, keluarga Salim menunda rencana menggalang $300 juta dari penjualan saham PT Dyviacom Intrabumi, perusahaan yang bergerak di sejumlah sektor seperti makanan cepat saji hingga toko kelontong. Pasalnya, valuasi investor tidak memenuhi harapan keluarga.

Sinarmas Land Juli lalu berencana menggalang $270 juta dari IPO PT Puradelta Lestari, pengembang kawasan industri. Namun, melihat kondisi pasar, perusahaan menangguhkan tawaran tak lama kemudian, demikian keterangan sumber. Pada Juni 2013, perusahaan private equity Saratoga Capital memangkas sepertiga volume IPO menyusul derasnya arus dana keluar dari pasar berkembang.


Sumber : Indo WSJ, 17.12.13.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar