31 Maret 2014

[310314.ID.BIZ] Riset Bertelsmann, Jerman: Globalisasi Lebih Untungkan Negara Maju

Bisnis.com, BERLIN - Negara-negara maju lebih diuntungkan oleh globalisasi dibandingkan negara-negara berkembang. Hal tersebut diungkap suatu studi baru-baru ini terhadap 42 negara oleh Bertelsmann Foundation, lembaga riset Jerman, Senin (23/3/2014).

Semua negara yang diteliti mendapat manfaat dari globalisasi, karena mereka semua mengalami peningkatan pertumbuhan akibat proses saling ketergantungan. Namun, pertumbuhan mereka meningkat pada kecepatan yang berbeda, kata lembaga yang berbasis Guetersloh itu.

Produk domestik bruto (PDB) per kapita di 20 negara industri utama rata-rata meningkat sekitar 1.000 euro (sekitar 1.377 dolar AS) per tahun akibat globalisasi.  Sebaliknya, kenaikan itu kurang dari 100 euro di negara-negara berkembang seperti Meksiko, China, dan India.

Jerman adalah salah satu pemenang terbesar globalisasi, studi ini menemukan, berperingkat tepat di belakang Finlandia, Denmark dan Jepang.

Pada 1990 - 2011, PDB riil Jerman tumbuh rata-rata sebesar 100 miliar euro per tahun akibat globalisasi, memberikan kontribusi sekitar 20% dari pertumbuhan ekonomi di ekonomi terbesar Eropa itu. PDB per kapita naik dengan rata-rata 1.240 euro.

"Hal ini membuat jelas bahwa globalisasi cenderung memperlebar kesenjangan antara kaya dan miskin. Negara-negara dunia pertama adalah yang paling diuntungkan dari globalisasi," kata Aart De Geus, ketua dan CEO Bertelsmann Foundation. "Kerja sama pembangunan lebih proaktif diperlukan," katanya.

Para ahli dari lembaga riset itu mengatakan bahwa negara-negara maju harus menawarkan bantuan lebih lanjut kepada rekan-rekan mereka negara berkembang dalam rangka untuk menutup kesenjangan kemakmuran.

Negara-negara industri harus membuka pasar mereka bagi produk dari negara-negara kurang berkembang, selain mengurangi subsidi untuk produk-produk pertanian di dalam negeri, mendanai program-program pendidikan, serta perluasan infrastruktur, fasilitas produksi dan teknologi yang relevan di negara berkembang.

Sumber : Bisnis Indonesia, 25.03.14.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar