05 Desember 2015

[051215.ID.BIZ] BI : Renminbi Akan Menambah Cadangan Devisa Kantor Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia memperkirakan penetapan penggunaan mata uang China renminbi atau yuan sebagai mata uang special drawing rights (SDR) oleh International Monetary Fund (IMF) akan menambah komposisi mata uang tersebut dalam cadangan devisa.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan pemerintah China harus membuka aliran lalu lintas modalnya setelah renminbi ditetapkan sebagai SDR.

Pasalnya, renminbi ini merupakan bagian dari SDR akan digunakan dalam perdagangan internasional oleh berbagai negara.

Hal ini berdampak pada peningkatan komposisi mata uang renminbi dalam cadangan devisa di sejumlah negara.

"Kalau China currency-nya sudah semakin bisa tradeable, maka suatu hal yang logis kalau negara-negara menambah komposisi cadangan devisanya sedikit demi sedikit dengan yuan. Ini konsekuensi logis saja," ujarnya di Kompleks BI, Kamis (3/12/2015).

Saat ini, penggunaan renminbi sebagai cadangan devisa masih sangat minim yakni hanya 1% dari total cadangan devisa dunia.

Namun, Mirza memperkirakan dalam jangka menengah, penggunaan renminbi sebagai cadangan devisa akan lebih meningkat.

"Saat ini mungkin renminbi baru 1% dari cadangan devisa. Dalam jangka menengah mungkin bisa ke arah 4% dari total seluruh cadangan devisa dunia," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo menuturkan selama ini renminbi sudah menjadi bagian dari cadangan devisa Indonesia.

"Renminbi jadi mata uang resmi bagian dari SDR itu justru lebih baik karena tentu akan menjadi mata uang yang dipakai dalam perdagangan internasional ekspor impor dan mata uang yang free usable currency. Jadi, banyak digunakan untuk bertransaksi untuk investasi ataupun lainnya," tuturnya.

Menurut Agus, penetapan renminbi menjadi bagian SDR ini berdampak positif bagi Indonesia.

Pasalnya, volume perdagangan Indonesia dengan China sekitar US$30 miliar dolar untuk impor dari China, sedangkan untuk ekspor ke China sekitar US$15 miliar.

"Kegiatan ekspor dan impor akan dapat menggunakan mata uang tersebut, dan stabilitas rupiah akan semakin dapat diwujudkan," ucap Agus.


Sumber : Bisnis Indonesia, 04.12.15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar