13 Januari 2016

[130116.ID.BIZ] Harga Minyak Sentuh US$ 31 per Barel Terendah dalam 12 Tahun

Liputan6.com, New York - Harga minyak berjangka Amerika Serikat (AS) berada di bawah level US$ 32 per barel di awal pekan ini untuk pertama kali sejak Desember 2003.

Harga minyak makin tertekan dipicu permintaan energi dari China melambat. Di sisi lain Iran akan menambahkan pasokan minyak dunia sehingga mendorong harga minyak terus tertekan.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 5,3 persen atau US$ 1,75 menjadi US$ 31,41 per barel di New York Mercantile Exchange. Pelemahan harga minyak mencapai lebih dari 10 persen pada pekan lalu. Harga minyak tertekan itu mendorong ke level terendah sejak 5 Desember 2003.

Direktur Long Leaf Trading Group, Tim Evans menuturkan harga minyak berada di bawah US$ 32 untuk WTI merupakan level kunci support penting.

"Pelaku pasar akan mengikuti perkembangan berita dari China untuk mengubah arah investasinya. Pelaku pasar juga melihat data ekonomi AS pada pekan ini. Pasar membutuhkan sentimen kuat agar mengatasi pelemahan Asia," ujar Evans seperti dikutip dari laman Marketwatch, Selasa (12/1/2016).

Sementara itu, harga minyak Brent untuk pengiriman Februari melemah enam persen menjadi US$ 31,55 per barel di London's ICE Future Exchange. Level itu terendah sejak 6 April 2004. Ada pun kondisi ekonomi China terus menjadi sentimen yang membebani pasar termasuk minyak.

"Sentimen yang terjadi beragam mulai dari kondisi ekonomi China dan kebijakan moneter lainnya di luar Amerika Serikat (AS) membebani pasar, dan kelihatannya datang bersamaan," ujar Kirk McDonald, Analis Senior Argent Capital Management.

Ia menambahkan, penguatan dolar AS dan kenaikan suku bunga bank sentral AS juga memberikan sentimen negatif ke harga minyak.

Namun, Tyler Richey Editor The 7:00 Report menyatakan kalau pendorong tekanan harga minyak lebih kepada produksi minyak global berlebih. "Kelihatannya harga minyak jenis WTI mendekati US$ 20 dapat mungkin terjadi," kata dia.

Pada pekan ini, pelaku pasar akan mengamati data produksi minyak mentah AS dan neraca perdagangan China. (Ahm/Igw)

Sumber : Liputan6, 12.01.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar