01 Juni 2016

[010616.ID.BIZ] Pasar Semen Tahun Ini Masih Rapuh

JAKARTA. Besar pasokan ketimbang permintaan masih menjadi kendala industri semen pada tahun ini. Selain ekspansi produksi gede-gedean, lonjakan pasokan semen adalah efek domino dari perlambatan ekonomi sejak tahun lalu.

Volume produksi semen nasional sepanjang tahun 2015 mencapai 78 juta ton sedangkan permintaan semen 61 juta ton semen. Nah pada tahun ini, pelaku industri semen memprediksi selisih pasokan dan permintaan semen bakal makin lebar.

Oleh karena itu, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pun memilih selektif mengoperasikan pabrik.

"Yang beroperasi, tentu yang paling efisien, yang paling tidak efisien, maka akan diistirahatkan," ujar Pigo Pramusakti Kusdiharjo, Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk kepada KONTAN, Minggu (29/5).

Asal tahu saja, Indocement memiliki 13 pabrik. Perusahaan berkode INTP di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut memiliki pabrik yang tersebar di Citeureup Jawa Barat, Palimanan Jawa Barat dan Tarjun Kalimantan Selatan.

Selain mengerem produksi, Indocement juga mengerem hasrat mengantongi penjualan tinggi. Dalam kondisi banjir pasokan dan tren harga semen tak bisa mendaki, tantangan perusahaan itu adalah merebut perhatian konsumen. Dus, mereka menerapkan strategi menurunkan harga jual.

Namun, Indocement tak asal banting harga jual semen. Mereka rela pasang harga jual sekitar 10% lebih rendah ketimbang harga jual semen kompetitor, di daerah yang pangsa pasarnya dikuasai oleh kompetitor tersebut. Banderol harga jual lebih rendah tak ayal membikin potensi cuilan margin Indocement turut mengecil.

Sebagai gambaran, Pigo mengklaim Indocement lewat merk Tiga Roda, menguasai pangsa pasar semen Jakarta. Sementara kompetitor mereka PT Semen Indonesia (Persero) Tbk lewat merk Semen Gresik, menguasai pasar semen di Jawa Timur.

"Di Jatim supaya orang beli Tiga Roda, kami harus pasang harga lebih rendah, karena orang Jatim mau bayar Semen Gresik dengan harga lebih mahal," ungkap Pigo.

Semen Indonesia juga tak menutup peluang penurunan harga jual semen. Sebelumnya, Agung Wiharto, Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Tbk mengatakan, Semen Indonesia berpotensi mengkaji penurunan harga jual jika pasar menghendaki demikian.

Fokus di Sumbagsel

Produsen semen lain, yakni PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tak menampik adanya kompetisi untuk menguasai pasar semen di setiap daerah.

Namun alih-alih beradu pasar dengan menurunkan harga jual, produsen semen pelat merah itu memilih bermain aman di pasar Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Lampung dan Bangka Belitung alias Sumbagsel. Patut ducatat, ini adalah pangsa pasar utama mereka.

Semen Baturaja punya alasan kuat masih berkutat di Sumbagsel.

"Kapasitas kami 2 juta ton per tahun sedangkan demand untuk wilayah Sumbagsel masih berkisar 4 juta ton - 5 juta ton per tahun," beber Zulfikri Subli, Sekretaris Perusahaan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk.

Sembari memperkuat cengkraman pasar di Sumbagsel, Semen Baturaja mengawal pembangunan pabrik Baturaja II. Pabrik dengan rancangan kapasitas produksi 1,85 juta ton per tahun tersebut mereka targetkan beroperasi pada semester I-2017.

Indocement bakal lebih dahulu mendapatkan tambahan kapasitas produksi. Pada Juli atau Agustus 2016 nanti, mereka menjadwalkan pabrik P14 beroperasi.

Pabrik anyar itu akan menambah kapasitas produksi semen sebanyak 4,4 juta ton per tahun.

Dengan begitu total kapasitas produksi mereka akan menjadi 25 juta ton per tahun.

Indocement menganggarkan dana belanja modal Rp 2 triliun-Rp 3 triliun tahun ini. Alokasi dana belanja modal itu lebih rendah ketimbang tahun lalu.   
                           
Sumber : Kontan, 30.05.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar