08 Juni 2016

[080616.ID.BIZ] Infrastruktur Terbatas Bisa Picu Tingginya Biaya Logistik Bahan Pangan Pokok Ke Banten

Bisnis.com, TANGERANG — Pola pergerakan inflasi Provinsi Banten sejalan dengan nasional karena ketergantungan kawasan ini dengan daerah lain cukup tinggi, terutama dalam hal pasokan bahan pangan.

Sebagaimana diketahui, inflasi Banten lebih banyak dipengaruhi oleh komponen volatile foods dan administered price. Adapun, komponen volatile foods yang dimaksud adalah beras, cabai merah, bawang merah, daging sapi, dan daging ayam ras.

Sebaliknya, komponen administered price yang berkontribusi memacu inflasi adalah tarif listrik dan cukai rokok.

“Terutama Tangerang yang inflasinya terlihat fluktuatif terhadap volatile foods. Apalagi, kota ini memiliki bobot terbesar dalam penghitungan inflasi Banten, selain Cilegon dan Serang,” kata Mahdani, Kepala Biro Ekonomi dan Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Banten, Selasa (7/6).

Ketergantungan tersebut juga diperparah dengan kondisi infrastruktur yang terbatas sehingga berpeluang memacu biaya logistik bahan pokok yang dikirim ke Banten. Berdasarkan Kajian Ekonomi Regional yang dirilis Bank Indonesia Banten, biaya distribusi bahan pangan dari dan ke Pasar Induk Tanah Tinggi memiliki peranan hingga 14%-16% terhadap pembentukam harga produk.

Banten Selatan sebagai pusat produksi bahan pangan juga masih terhambat oleh mahalnya biaya logitik karena terbatasnya kondisi infrastruktur di kawasan ini. Mengutip laporan BI tersebut, truk masih menjadi moda angkutan bahan pangan utama.

Untuk meningkatkan efisiensi pengiriman bahan pangan, BI sendiri mengusulkan untuk menggunakan moda transportasi kereta api.Kendati demikian, hingga saat ini kereta api belum dapat melayani pengiriman logistik pangan (sayuran) karena membutuhkan gerbong khusus sebagai media penyimpanan saat tiba di stasiun.

“Persoalan infrastruktur dan transportasi menjadi krusial untuk menjaga harga bahan pangan sehingga kenailkannya masih dalam taraf stabil dan tak memicu inflasi berlebihan,” jelasnya.

Dalam jangka pendek, Pemprov Banten dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Banten telah menggelar Warung TPID untuk pertama kalinya. Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu instrumen dalam menjaga fluktuasi inflasi Banten. Tak hanya itu, Pemprov Banten akan menyosialisasikan Gerakan Terpadu Menanam di Pekarangan (Gardu Pangan).

Sementara itu, Bank Indonesia Banten merekomendasikan sejumlah hal untuk meningkatkan kinerja TPID yakni memanfaatkan lahan tidur milik pemerintah, warung tani, gerakan tanaman pangan di pekarangan rumah, dan mengembangkan early warning system dari sistem informasi Provinsi Banten.


Sumber : Bisnis Indonesia, 07.06.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar