14 Juni 2016

[140616.ID.BIZ] Puncak Pertumbuhan Industri Mamin Pada Mei-Juli

JAKARTA. Pertumbuhan industri makanan dan minuman (mamin) akan mencapai puncaknya pada periode Mei hingga Juli tahun ini. Pada periode ini, industri mamin mendapat sentimen positif dari momen besar umat Islam, puasa dan lebaran.

Bahkan, Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) memprediksi, pertumbuhan bisnis mamin pada Mei sampai Juli rerata naik 30% dari bulan biasanya.

"Tahun ini lebih optimis. Sudah terlihat sejak puasa permintaan meningkat drastis," kata Adhi, Selasa (14/6).

Adhi juga bilang, para pengusaha mamin pun langsung berlomba-lomba untuk meningkatkan stok dan penjualan. Dia pun yakin, sampai akhir tahun ini, pertumbuhan industri mamin bisa berada pada kisaran 8%.

PT Siantar Top Tbk misalnya. Sudah mempersiapkan stok penjualan sejak dua-tiga bulan lalu. Menurut Armin, Direktur Operasional Siantar Top, stok penjualan yang disiapkan lebih untuk menjelang lebaran nanti. "Karena trennya, kadang mau puasa turun terus nanti lebaran naik," katanya.

Armin menilai, penjualan Siantar Top selama puasa dan lebaran ini bakal tumbuh 20% dari bulan biasanya. Dia pun berharap, tren penjualan selama puasa dan lebaran bisa berlanjut ke semester dua, sehingga perseroan bisa mencapai target penjualan 20%-30%.

Selain permintaan yang tinggi, Adhi melihat ada potensi pertumbuhan melalui usulan penurunan harga gas bagi industri mamin.

"Kami sudah usulkan itu, terutama bagi industri yang masih pakai oven maupun boiler," ujarnya.

Adhi menyampaikan, Gapmmi berharap harga gas untuk industri mamin juga bisa berkisar US$ 6 per MMBTU dari posisi saat ini sekitar US$ 9-12 per MMBTU (tergantung areanya). Jika akhirnya disetujui, Adhi yakin, pertumbuhan industri mamin bisa lebih tinggi sekaligus menekan biaya produksi.

Sementara itu, Adhi juga bilang, sekitar 10 pabrik mamin yang besar sedang mengalami kekurangan gula. "Ini bukan karena kuota. Tapi masalah kapasitas," ungkap Adhi.

Tahun ini, Adhi memperkirakan, kebutuhan gula industri mamin Indonesia mencapai 3,2 juta ton. Sementara sudah ada alokasi gula 2,6 juta sampai Oktober mendatang.

Di sisi lain, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk sekaligus Komite Tetap Ketahanan Pangan Kadin Franciscus Welirang mengungkapkan, pasokan tepung terigu selama puasa dan lebaran tahun ini mencapai 450 ribu-500 ribu ton. Franciscus bilang, angka itu tidak melonjak pesat hanya berkisar 10%-15%.

"Kalau lima tahun lalu bisa sampai 20%-30% peningkatannya. Tahun ini, sudah banyak produksi modern menyiapkan tepung terigu sejak April-Mei. Nanti untuk yang UKM baru akan naik dua minggu jelang lebaran," terang Franciscus.

Artinya, stok tepung terigu sampai lebaran terbilang aman. Franciscus juga menegaskan, harga tepung terigu pada periode ini akan dijaga stabil.

Sumber : Kontan, 14.06.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar