09 Agustus 2016

[090816.ID.BIZ] Jepang Periksa Aksi Curang Amazon

TOKYO. Masalah menerpa bisnis ritel Amazon di Jepang. Perusahaan e-commerce yang bermarkas di Seattle, Amerika Serikat tersebut, dituding telah melancarkan aksi perdagangan yang tidak sehat.

Seperti diberitakan asia.nikkei.com, Senin (8/8), kantor Amazon di Jepang, digerebek Japan's Fair Trade Commission alias lembaga pengawas anti monopoli Jepang karena tudingan berlaku tidak adil terhadap pemasok.

Salah seorang sumber asia.nikkei.com mengatakan, Amazon diduga telah melakukan tekanan terhadap para pemasok agar menjual barang lebih murah dari para pesaing Amazon. Tindakan tersebut diduga dilakukan Amazon untuk memenangkan persaingan dengan perusahaan e-commerce lain, yang menjadi kompetitornya.

Padahal, beleid anti monopoli di Jepang melarang suatu pihak membatasi kegiatan pihak lain dalam kaitan hubungan bisnis.

Seorang jurubicara Amazon.com yang coba dikonfirmasi asia.nikkei.com terkait peristiwa tersebut menolak berkomentar. Sementara seorang jurubicara lembaga pengawas anti monopoli Jepang menyatakan tidak membantah apa yang ditanyakan kepadanya.

"Saya tidak mau berkomentar. Tapi saya juga tidak menyatakan bahwa isi pertanyaan itu tidak benar," tutur sumber Reuters saat dikonfirmasi soal pemeriksaan Amazon, kemarin.

Asal tahu saja, Amazon memulai debutnya di Jepang sejak tahun 2000. Ini sekaligus juga menjadi langkah awal ekspansi Amazon di pasar Asia. Selain Jepang, Amazon menilai India merupakan pasar yang sangat menjanjikan.

Secara umum, pendapatan dari ekspansi pada perdagangan internasional menyumbang 33% dari total pendapatan Amazon. Undang konsumen China Sejauh ini, Amazon memang telah berupaya memikat konsumen tidak hanya dari Jepang saja.

Konsumen China pun menjadi target pasar mereka dengan menyediakan pilihan bahasa China sejak 30 Juni lalu, di Amazon.co.jp Jepang. Langkah ini ditempuh manajemen Amazon untuk menangkap tren belanja masyarakat China yang cukup tinggi terhadap produk-produk asal Jepang.

Diperkirakan, pada tahun 2019 mendatang nilai transaksi e-commerce produk asal Jepang ke China lewat belanja online mencapai ¥ 2,34 triliun atau setara dengan US$ 22,5 miliar.

Adapun di China sendiri, Amazon kurang mendapat pasar yang bagus karena kalah bersaing dengan raksasa e-commerce asal China, yakni Alibaba Group Holding Ltd.

Beberapa waktu sebelumnya, Jasper Cheung, Presiden Amazon Jepang menyatakan, potensi bisnis Amazon di Jepang begitu besar.

Hal tersebut diamini oleh Departemen Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang yang menyebut, iklan produk-produk menarik asal Jepang telah menggiring wisatawan asal China. Tercatat tahun lalu 3,08 juta wisatawan China datang ke Jepang, naik 41% dari tahun sebelumnya.


Sumber : Kontan, 09.08.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar