17 Agustus 2016

[170816.ID.OTH] HUT Ke-71 RI: Berbagi Pengalaman Dari India Dan Afrika Selatan

Bisnis.com, JAKARTA-Sebagian kalangan menilai dewasa ini gaung peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sudah tidak sesemarak dulu. Antusiasme masyarakat di Tanah Air dianggap mulai memudar saat menjelang momentum Agustusan.

Namun, di saat gemuruh perayaan Agustusan di dalam negeri mulai memudar, para Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di luar negeri justru merindukan momen-momen HUT RI. Sebab, itu adalah saat di mana kerinduan mereka akan Tanah Air terobati.

Apalagi, bagi WNI yang sudah sangat lama menetap di luar negeri, dan kerap berpindah-pindah negara. Itulah yang dirasakan oleh Widy Dinarti. Pengalamannya sebagai Country Managing Director AIESEC Thailand membawanya melanglangbuana ke banyak negara.

Perempuan asal Malang itu telah merasakan bekerja di Kamboja, Ethiopia, Jerman, India, Kenya, Madagascar, Malaysia, Mauritius, Nigeria, Taiwan, Tanzania, Thailand, Afrika Selatan, Swaziland, dan Uganda.

Lama hidup di negeri orang, Widy selalu merindukan momen-momen perayaan Agustusan di mana dia bisa kembali berkumpul dengan saudara-saudara sebangsa dan se-Tanah Air. Perayaan Agustuan yang berkesan baginya adalah saat dirinya tinggal di New Delhi dan Pretoria.

Bagaimana pengalaman Widy dalam merayakan Agustusan di negeri orang? Berikut penuturannya:

Mana perayaan Agustusan di luar negeri yang paling berkesan bagi Anda?

Di New Delhi pada 2012 dan di Pretoria pada 2014.

Di New Delhi, waktu itu saat saya sedang menjalani fellowship programme di NOIDA untuk belajar kewirausahaan sosial secara langsung. Sedangkan di Pretoria, saat itu saya sedang melakukan management traineeship di DHL Africa di Johannesburg.

Bisa digambarkan bagaimana suasana Agustusan di masing-masing kota tersebut?

Suasana perayaan Agustusannya cukup meriah. Terlebih lagi, suasana kekeluargaan antarwarga negara Indonesia di sana terasa sekali. Seolah-olah kami sedang merayakan acara 17-an di RT/RW.

Kebetulan saat itu saya mengikuti acara yang digelar Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk India dan Afrika Selatan, dengan disambut langsung oleh Duta Besar.

Banyak kegiatan yang dilakukan, mulai dari upacara bendera mengenakan pakaian daerah atau batik, makan-makanan khas Indonesia, hingga berbagai macam lomba untuk anak-anak. Ada juga menari poco-poco bersama, dan lomba karaoke.

Mana yang lebih semarak di antara kedua kota tersebut?

Perayaan Agustusan yang lebih semarak waktu itu di KBRI Pretoria. Sebab, di sana WNI yang datang benar-benar lebih membaur satu sama lain. Waktu di Pretoria, malah mengundang langsung kelompok tari dari Kalimantan untuk menyuguhkan tarian adat.

Anda sendiri berpartisipasi atas inisiatif sendiri atau ajakan?

Saya sikut berpartisipasi karena inisiatif. Sebab saya merasa sebagai seorang WNI wajib menghadiri peringatan hari jadi negara saya. Selain itu, saya juga rajin mencari informasi dari KBRI setempat seputar kegiatan-kegiatan mereka.

Bagaimana respons warga lokal terhadap perayaan Agustusan di negara mereka?

Saya merasa mereka tertarik dan bahkan antusias untuk ikut berpartisipasi. Kalau acara perayaan yang digelar di dalam KBRI sendiri, saya tidak tahu pasti karena memang acaranya tidak dibuka untuk umum.

Acara tersebut khusus internal untuk WNI dan karyawan KBRI, dan kami tidak dianjurkan untuk mengajak WNA atau warga lokal. Bahkan di Pretoria, kami para WNI dilarang keras mengajak orang asing. WNA yang datang harus dengan undangan KBRI.

Namun, menariknya, saat di Pretoria banyak warga lokal yang mencuri-curi lihat atau berusaha mengintip dari balik tembok untuk menonton acara-acara Agustusan yang kami rayakan.

Apakah orang-orang di New Delhi dan Pretoria cukup familiar dengan budaya Indonesia?

Kalau di New Delhi saya kurang tahu, tapi di Pretoria sepertinya tidak. Sebab, Indonesia adalah negara yang kurang populer di Benua Afrika.

Menurut Anda apa manfaat dari ikut merayakan Agustusan ketika sedang di negeri orang?

Saya merasa senang saja. Saya sangat bahagia bisa mengenang suasana yang biasa saya rasakan ketika saya masih kecil di kampung halaman. Menurut saya, perayaan seperti ini cukup mengobati rasa rindu saya terhadap Tanah Air.

Apa yang paling Anda rindukan dari momentum Agustusan?

Semangat anak-anak kecil yang antusias mengikuti perlombaan khas Agustusan, serta para pemuda-pemudi karang taruna yang semangat menjadi panitia 17 Agustus, dan semangat mempersiapkan perayaan yang semarak di kampung-kampungnya.

Sumber : Bisnis Indonesia, 17.08.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar