31 Agustus 2016

[310816.ID.BIZ] Pelajaran Penting Dari Kalimantan

Kabar buruk memang telah lama datang dari bisnis pertambangan dan penggalian, yang terpukul hebat oleh penurunan harga sejak tahun lalu. Efek ikutan secara perlahan merembet ke perbankan, dimana cicilan kredit di sektor ini perlahan seret, yang berujung pada meningkatknya kredit bermasalah.

Industri yang terpuruk, juga berakibat alergi perbankan untuk menyalurkan kredit tersebut. Sektor pertambangan dan penggalian, misalnya, turun signifikan dari Rp140,25 triliun pada Juni tahun lalu menjadi hanya Rp119,95 triliun atau anjlok 14,47%.

Penurunan ini pada akhirnya menghambat pertumbuhan kredit hingga paruh pertama tahun ini. Simak data Otoritas Jasa Keuangan yang menyebutkan secara industri, penyaluran kredit hingga Juni 2016 tumbuh terendah dalam lima tahun terakhir sebesar 8,88%. Sejumlah sektor memang mencatat pertumbuhan sangat tinggi di atas 20% seperti kelistrikan dan sektor pertanian.

Namun,ekspansi tersebut gagal menopang laju pertumbuhan secara industri. Sejumlah bank besar, bahkan kelimpungan menangani kredit bermasalah –yang salah satunya bersumber dari sektor bertambangan—memaksa manajemen menyisihkan pencadangan sehingga laba tergerus hebat, bahkan ada bank sampai merugi.

Bila merujuk pada wilayah, Pulau Kalimantan mengalami penderitaan paling hebat dari longsornya bisnis pertambangan dan penggalian. Kita semua tahu, pulau bebas patahan ini merupakan penghasil utama pertambangan khususnya batu-bara. Saat booming harga komoditas, bermunculan orang kaya baru dari wilayah ini.

Saat harga komoditas ambruk, serta merta rasio kredit bermasalah sektor pertambangan di Kalimantan meningkat. Bahkan, NPL sektor pertambangan dan penggalian di Kalimantan Timur mencapai 43,25% per Juni 2016. Ini sebuah angka yang fantastis, karena dari total kredit sektor ini di Kaltim sebesar Rp3,73 triliun, Rp1,6 triliun diantaranya bermasalah.

Pertumbuhan ekonomi Kalimantan tahun lalu juga memprihatinkan, kendati secara spasial hanya berkontribusi 8,15% terhadap produk domestik bruto Indonesia. Tahun lalu wilayah ini mencatat pertumbuhan minus, dan pada semester pertama 2016, khusus Kalimantan Timur tercatat minus 1,15%. Kalimantan adalah contoh bagaimana rentannya perekonomian yang ditopang oleh salah satu sektor utama.

Ibarat meletakkan telur dalam satu keranjang, potensi risikonya pasti jauh lebih besar. Ini prinsip alamiah dalam bisnis. Namun, mitigasi risiko yang lebih baik rasanya patut menjadi perhatian semua pihak. Bagi perbankan,Kalimantan adalah pelajaran yang berharga, betapa geliat perekonomian bisa bersifat semu.

Bisnis yang tiba-tiba maju, adalah bentuk deviasi lain yang bisa mengecoh para analis kredit mereka di lapangan. Akibatnya, bank salah melakukan analisa prudent atas setiap rupiah kredit yang mereka kucurkan.

Oleh karena itu, tak mengherankan bila hal yang di luar dugaan terjadi di Kalimantan Timur. Lagi-lagi bagi perbankan, nasi telah menjadi bubur, kredit yang mereka kucurkan bermasalah, dan memaksa mereka melakukan restrukturisasi, energi yang seharusnya tidak perlu dikeluarkan bila lebih hati-hati dalam melakukan analisa usaha dari para calon debitur.

Kerugian yang dialami pelaku bisnis pertambangan dan perbankan, belum menghitung kerusakan alam yang dialami wilayah tersebut. Sebagaimana diakui oleh Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, para pengusaha batu bara yang bangkrut, kini meninggalkan kolam-kolam raksasa hasil penggalian yang tidak direklamasi.

Belajar dari Kalimantan, sudah selayaknya jika para pemangku kepentingan kembali menata bisnis dan memitigasi risiko secara lebih baik. Khusus bagi perbankan, jatuhnya harga komoditas terasa akibatnya sekarang, sehingga mereka bisa kembali mengelola risiko secara lebih baik. Harian ini melihat, langkah sejumlah bank melakukan restrukturisasi kredit dan menyediakan pencadangan kerugian memadai atas kredit bermasalah mereka perlu diapresiasi.

Langkah ini memang tergolong konservatif, tetapi sekali lagi ini adalah sebuah langkah kehati-hatian untuk melokalisasi persoalan.


Sumber : Bisnis Indonesia, 31.08.16.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar